Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keajaiban Di Sungai
Tuan Waisen Lee, yang otaknya sudah dicuci oleh narasi palsu yang dibangun dengan sangat rapi oleh Zaskia dan Nena, mulai termakan oleh tipu daya tersebut. Sebagai seorang pengusaha sukses yang hidup dalam logika bisnis, gagasan tentang 'guna-guna' mungkin terdengar tidak masuk akal secara ilmiah, namun perubahan drastis pada sikap putranya yang begitu membabi buta membela Rafa membuatnya mulai meragukan kewarasan Sean.
"Sean..." suara Tuan Waisen melemah, namun terdengar sangat kecewa. Ia menatap putranya dengan pandangan nanar. "Apakah benar... apa yang mereka katakan? Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu karena wanita itu?"
"Ayah! Jangan percaya pada mereka!" seru Sean dengan putus asa, air mata penyesalan dan kemarahan menetes di sudut matanya. "Buka mata Ayah! Mereka adalah penipu! Mereka sudah menghancurkan hidup Rafa, membunuh ibunya, dan sekarang mereka ingin menghancurkanku juga!"
Margaret menangis semakin histeris, memeluk suaminya dengan erat. "Sayang... bawa anak kita pergi dari sini malam ini juga! Aku tidak peduli dengan penolakannya! Jika kita tetap di sini, wanita itu dan ilmu hitamnya benar-benar akan merenggut nyawa putra kita!"
Mendengar keputusan Margaret, Zaskia Mulandari merasa kemenangan sudah berada di dalam genggamannya. Ia membuang jauh-jauh topeng kepedihannya, lalu perlahan-lahan, sebuah senyuman miring yang sangat lebar terukir di bibirnya.
Seringai itu bukan lagi seringai biasa; itu adalah seringai sadis, senyuman seorang tokoh antagonis sejati dalam sebuah drama murahan yang menikmati penderitaan korbannya hingga ke akar-akar jiwa. Matanya melirik ke arah Sean dengan tatapan penuh kemenangan mutlak, seolah ia ingin mengatakan: ‘Kamu bisa berteriak sekuat tenaga, Sean, tapi pada akhirnya, akulah yang memegang kendali atas segalanya.’
Zaskia bahkan tidak berusaha menyembunyikan tawa kecil yang lolos dari bibirnya—sebuah tawa mengejek yang sangat pelan namun terdengar begitu nyaring di telinga Sean yang sedang meradang.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Waisen dan Nyonya Margaret," ucap Zaskia dengan nada suara yang kembali berubah menjadi manis, namun kali ini sarat akan racun yang mematikan. "Kami akan membantu proses administrasi kepulangan Tuan Sean agar beliau bisa segera mendapatkan pengobatan medis dan spiritual yang layak di Singapura. Biarkan hukum di negeri ini yang mengurus Rafa Sasmita. Wanita itu tidak akan pernah bisa keluar dari penjara untuk menemui Sean lagi."
****
Sean menatap Zaskia yang sedang menyeringai padanya. Di dalam dadanya, api kemarahan membakar begitu hebat hingga ia merasa seluruh organ tubuhnya mendidih. Ia tahu, ia telah dikalahkan untuk sementara waktu oleh kebohongan dan sandiwara busuk ini. Orang tuanya telah dibutakan oleh rasa takut dan manipulasi tingkat tinggi.
"Zaskia..." bisik Sean dengan suara yang sangat pelan namun penuh dengan sumpah serapah yang mengerikan. "Kalian mungkin bisa membawaku pergi dari sini... kalian mungkin bisa memenjarakan Rafa... tapi ingat sumpahku: kebusukan kalian tidak akan bisa ditutupi selamanya. Aku akan kembali, dan saat itu terjadi, aku akan memastikan neraka adalah tempat paling nyaman yang kalian miliki."
Zaskia hanya tertawa kecil, melambaikan tangannya dengan anggun kepada Sean seolah ia sedang melepas kepergian seorang teman lama yang kalah telak dalam sebuah permainan anak-anak. "Hati-hati di jalan, Tuan Sean. Semoga lekas sembuh dari 'penyakit' cinta mu itu."
Nena dan Evan tersenyum puas di samping Zaskia. Mereka merasa bahwa benteng pertahanan terakhir Rafa Sasmita telah berhasil dirubuhkan sepenuhnya. Tidak ada lagi yang tersisa untuk Rafa. Tidak ada lagi pelindung, tidak ada lagi harta, tidak ada lagi keluarga.
Di tempat lain, di dalam sel tahanan sementara yang gelap dan dingin, Rafa Sasmita tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada ikatan yang terputus secara paksa di dalam hatinya. Ia memegang dadanya dengan tangan yang gemetar, air matanya menetes tanpa bisa ia cegah.
Sean... batin Rafa dengan isak tangis yang tertahan. Apa yang terjadi padamu...?
Malam itu, di antara rumah sakit yang penuh dengan kebohongan dan sel penjara yang dipenuhi air mata, malam seolah menjadi saksi bisu atas kejamnya dunia bagi mereka yang memperjuangkan kebenaran. Namun, di balik setiap tawa kemenangan Zaskia dan keluarga Wirya Negara, badai yang jauh lebih besar sedang bersiap untuk menghantam istana kesombongan mereka tanpa ampun.
****
Arus Sungai Citatih yang mengalir deras di wilayah pedalaman Sukabumi malam itu terkenal mematikan. Airnya yang dingin menusuk tulang membawa material lumpur, ranting pohon, dan bebatuan tajam yang siap meremukkan siapa saja yang terjatuh ke dalamnya. Tubuh renta Bu Armayani terombang-ambing di tengah kegelapan, dihantam gelombang air yang tak kenal ampun setelah ia tergelincir dari tebing curam di Puncak.
Namun, takdir rupanya belum gariskan akhir hayat bagi wanita tua itu. Di sebuah titik di mana arus sungai mulai melambat karena tersangkut bebatuan besar dekat perkampungan warga, seorang petani paruh baya bernama Pak Karta yang sedang memeriksa saluran irigasi melihat sesosok tubuh mengapung mengenaskan. Dengan menggunakan sebatang bambu panjang dan bantuan beberapa warga yang terbangun karena suara lolongan anjing malam, mereka berhasil menarik tubuh Bu Arma ke pinggir.
"Astaga! Masih bernapas! Cepat bawa ke puskesmas!" teriak Pak Karta di tengah guyuran hujan yang mulai mereda menjadi gerimis.
Dengan menggunakan gerobak dorong kayu yang biasa dipakai untuk mengangkut hasil bumi, Bu Arma dilarikan sejauh dua kilometer menuju Puskesmas pembantu terdekat. Kondisinya sangat kritis; sekujur tubuhnya dipenuhi luka lebam, pakaiannya robek, dan ia mengalami hipotermia parah. Dokter jaga malam itu langsung memasang selang oksigen dan infus cairan penunjang kehidupan. Selama berjam-jam, Bu Arma berada di ambang batas antara dunia dan akhirat. Namun, insting seorang ibu yang ingin melihat putrinya kembali tersenyum membuat denyut jantungnya terus berjuang mempertahankan hidup.
****
Puluhan kilometer dari puskesmas terpencil di Sukabumi, kontras yang begitu mencolok terpampang di sebuah apartemen mewah berlantai tinggi di pusat Jakarta. Ruangan itu dipenuhi dengan kotak-kotak gaun pengantin bermerek internasional, undangan berbalut emas, serta kelopak bunga mawar segar yang berserakan di atas karpet beludru.
Zaskia Mulandari berdiri di depan cermin rias berukuran besar, mengenakan jubah tidur sutra berwarna putih transparan. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang meluap-luap. Senyum lebarnya terus terkembang, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi, sementara matanya berbinar-binar penuh kemenangan. Pernikahannya dengan Evan Wirya Negara tinggal menghitung hari. Semua rencana jahat mereka berjalan mulus tanpa ada satu pun hambatan berarti.
Zaskia mendekati cermin, lalu tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang perlahan berubah menjadi tawa lepas yang menggema di seluruh ruangan kosong apartemen itu.
"Hahaha... lihat diriku sekarang, Rafa," bisik Zaskia pada bayangannya sendiri di cermin, nada suaranya dipenuhi oleh rasa jijik dan ejekan yang teramat sangat. "Kamu pikir dengan menempel pada Sean, kamu bisa menjadi nyonya besar? Kamu salah besar, wanita bodoh!"
Zaskia memutar tubuhnya anggun, menikmati kemewahan yang terpantul di sekelilingnya. "Kamu itu bukan siapa-siapa, Rafa! Kamu hanya seorang janda, miskin, mandul, dan sekarang... kamu mendekam di penjara kotor sebagai seorang kriminal! Tidak ada lagi orang yang akan menolongmu. Ibumu sudah lenyap ditelan sungai, ayahmu sekarat di rumah sakit, dan kekasih kayamu itu sebentar lagi akan diseret paksa keluar negeri oleh orang tuanya sendiri. Kamu benar-benar sebatang kara, hancur lebur tanpa sisa!"