Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa aku tampan seperti ayah?
"Sepatu itu menjadi barang pertama yang di lelang, waktunya akan segera habis. Tuan, apa yang harus saya lakukan?"
"Hubungi Harly, katakan padanya, seberapa pun nominalnya dia harus mendapatkan sepatu itu. Juga cari tahu pemiliknya, aku akan segera kesana."
Mrs. Y, nama samaran yang Mocca gunakan di acara itu. Begitu barang dibawa ke hadapan para pelelang langsung melakukan penawaran yang sangat fantastis. Nilai jual tertinggi bahkan mencapai 10 milyar.
15 milyar..
20 milyar..
50 milyar..
Terdengar sangat merdu di telinga Mocca namun sedikit membuatnya bergidik. Dengan uang sebanyak itu, dia bukan hanya bisa menyekolahkan si kembar, membeli rumah, membangun usaha bahkan akan menyisakan sisanya.
Betapa berharganya benda itu walaupun hanya tinggal sebelah saja, sangat di sayangkan harus berakhir di tangan orang lain.
"Baik, 100 milyar apa masih ada penawaran lebih tinggi?" ucap seorang MC.
Seorang pria mengangkat papan di tangannya "Aku beli, 10 triliun."
"Waaaaah, fantastis ... 10 triliun satu ... 10 triliun dua ... 10 triliun tiga ... Selamat Tuan dengan nomor 19, benda ini akan menjadi milik Anda."
Seisi ruangan langsung bergemuruh hebat, tidak tahu siapa Tuan muda baik hati ini. Hanya untuk sebuah sepatu dia mengeluarkan uang yang cukup banyak. Setelahnya Mocca akan bertemu dengan pria itu untuk menyerahkan benda itu, tentu saja mereka akan bertemu.
Di sebuah ruangan, menuju kesepakatan.
Mocca telah menunggu kedatangan pria itu disana. Tak lama diapun datang.
"Mrs. Y, maaf membuatmu menunggu lama. Perkenalkan, namaku Harly Johnson, pemilik JS group." Harly mengulurkan tangannya dan meneliti dengan sangat detil, menebak nebak bentuk wajah cantik dibalik topeng itu. Namun dia dikejutkan dengan tangan kasar milik Mocca yang tengah bersalaman dengannya itu.
"Senang bertemu dengan anda, Tuan Harly Johnson."
Harly tersenyum, mereka duduk berbincang sebelum mencapai kesepakatan. Sebisa mungkin harus mengulur waktu sampai Leon datang.
"Tidak disangka acara seperti ini memakan waktu yang sangat banyak. Anak anak pasti mengkhawatirkanku. Aku harus pulang secepatnya," batinnya.
"T-tuan, sebenarnya aku tidak memiliki banyak waktu, jadi, bisakah segera dipercepat."
Harly tertegun, dia menggaruk kepala tidak gatalnya menandakan bahwa dia sedikit gugup. Tapi si pria itu sangat lambat, dia tidak mungkin bisa menahan Mocca lebih lama lagi.
"A-asistenku sedang menyiapkan cheknya."
"Itu ... Apa bisa langsung uangnya saja?"
"Nona, uang 10 triliun itu sangat banyak. Bukan apa apa, diluar sana banyak orang jahat yang berkeliaran. Lebih baik melalui cek saja."
"Benar, Kalau pun malam ini Leon tidak bertemu dengannya. Tapi ketika dia mencairkan uang itu maka dengan mudah kami akan menemukannya lagi. Huh, aku memang briliant."
10 menit kemudian Asistennya Harly datang, menulis nominal sebesar 10 triliun pada sebuah kertas kemudian menandatanganinya, "Ini, selamat untukmu." Harly memberikan chek itu.
Langsung beranjak, "T-terima kasih Tuan Harly, k-kalau begitu aku pergi dulu. Senang bertemu dengan anda, sampai jumpa." Dengan tergesa Mocca meninggalkan tempat itu.
Harly duduk menyandarkan tubuhnya, dia tersenyum menyeringai, "Dia wanita yang Leon cari? Ahahah, menarik sekali. Dia disuguhi banyak wanita kelas atas, tapi malah sibuk mencari wanita seperti itu."
Sementara itu Leon tiba di gedung XX, segera dia pergi mencari Harly. Ditengah tergesanya dia berjalan, ketika berpapasan dengan seorang wanita bertopeng entah mengapa perasaannya menjadi tak karuan.
Leon menghentikan langkahnya ketika dia melewatinya begitu saja, "Apa ini? Perasaan apa ini?" Leon memegangi dadanya, merasakan rasa yang tak pernah sekalipun singgah di hatinya itu. Tapi kali ini lain lagi.
Wangi harum wanita itu, membuat Leon tertegun dan diam memaku, perasaan yang begitu akrab menyapanya. "Tuan Leon, Tuan muda Harly ada di ruangan VIP."
Brak!
Leon mendobrak pintu dengan sangat keras, di dalam terduduk Harly yang tengah duduk santai dengan kaki menumpang pada kaki lainnya, di tangan satunya segelas minuman, tangan lainnya rokok yang sesekali dia hisap.
"Dimana?!"
"Dia sudah pergi," balasnya dengan begitu santai.
Leon merasa kesal pada sikap Harly itu, sudah tahu Leon memintanya menahan gadis itu tapi dia malah membiarkannya pergi tanpa mengejarnya. Dia menghampiri Harly, mengangkat kerah bajunya hendak memukulnya.
"Tunggu ... Tunggu dulu! Dengarkan penjelasanku."
Leon terdiam, melempar tatapan sinis pada Harly kemudian melepaskan tangannya "Cari dia! Kali ini harus dapat!" ia berteriak lantang memberi perintah pada bawahannya, merekapun bergegas.
"Katakan!" Leon duduk di samping Harly.
Alih alih langsung memberikan penjelasan, Harly menuangkan minuman pada gelas dan memberikannya pada Leon, meminta untuk dirinya tenang terlebih dahulu.
"Begini ... Pertama, kau harus mengganti 10 triliunku terlebih dahulu."
"Jangan mengatakan hal itu seolah hartamu hanya sebatas 10 triliun saja, tidak mengatakannya pun aku akan menggantinya. Sekarang beri aku penjelasan, atau ...," ancamnya dengan tatapan dingin.
"Ah haha, baiklah ... Begini ...."
Dia menceritakan semua rencananya tanpa terlewat satu katapun. Mereka hanya tinggal duduk manis menunggu sampai Mocca mencairkan uang itu, barulah mereka bergerak.
Beberapa hari kemudian.
Mocca ragu untuk menggunakan chek itu yang akhirnya dia malah meminjam uang pada Niki dan memberikan chek itu sebagai jaminan. Saat ini keinginannya memang tidak banyak, soal rumah dia akan membelinya nanti menggunakan uang itu.
Pagi itu, tepatnya jam 9 Niki berkunjung ke toko dengan membawa bayi kecilnya yang sangat lucu. Ini pertama kalinya dia membawanya sehingga para karyawan toko langsung menyambutnya dengan hangat.
"Waaaah, ini bayi bibi Niki?" Candy terkagum melihat makhluk imut nan lucu itu. Dia mengulurkan jarinya yang langsung di genggam oleh bayi tersebut.
"Candy sayang, saat kecil kau juga seperti itu. Sangat lucu, tapi saat itu Candy sangat rewel," Mocca terkekeh mengingat masa lalu itu.
"Mama ... Aku Ma, aku saat kecil seperti apa?" Jean tidak kalah penasaran, dia mengangkat jari telunjuknya ke atas dan melompat lompat seraya mengajukan pertanyaan tersebut.
Mocca menyentuh dagunya dengan hari telunjuk, kepalanya menengadah dan bola matanya berputar kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jean itu ... Tampan."
"Benarkah? Apa sangat tampan? Mama apa aku tampan seperti ayah?"
Mocca tertegun, mendapat pertanyaan itu seperti dia tersambar oleh halilintar. Niki pun ikut terkejut, dia memang tidak pernah menanyakan tentang siapa ayah si kembar karna takut melukai hati Mocca.
Niki mendekati Jean dan membelai rambutnya, "Tentu saja Jean tampan, tampan seperti ayah. Ayo, sekarang temani bayi kecil bermain. Ada yang harus bibi bicarakan dengan Mama."
Jean mengangguk, sebenarnya merasa bersalah karna bukan sengaja dia menanyakan hal itu. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi pun Mama tetap tidak mengatakan apapun tentang pria berstatus ayah mereka itu.
Niki menyentuh bahu Mocca. "Jangan di pikirkan, mereka akan mengerti saat sudah besar nanti." Mocca menganggukkan kepala.
Tak lama setelah itu seorang karyawan datang, ditangannya digenggam sebuah telpon, dia mengatakan kalau ada seseorang yang memesan kue di toko namun menggunakan sistem delivery.
"Katakan padanya, toko kami tidak ada sistem delivery."
"B-bu, itu ... Masalahnya, yang memesannya itu ... Tuan muda dari keluarga Domino."
"Apa?"