Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7 : Rutinitas yang tak pernah berubah
(PV ARGA)
Jarum jam di dinding kamar Arga tepat menunjukkan pukul 22.40 WIB.
Suara kucuran air dari arah kamar mandi akhirnya mereda. Beberapa saat kemudian, pintunya terbuka, membiarkan uap dingin menyelinap keluar. Rambut hitam Arga masih basah, meninggalkan beberapa tetes air yang jatuh menyerap ke kaus oblong putih yang baru saja ia kenakan.
Dengan handuk kecil yang melingkar santai di lehernya, Arga berjalan menuju meja belajar.
Kamarnya tidak terlalu luas, namun terasa sangat hidup. Di dinding kamar berwarna abu-abu muda itu, terpajang beberapa poster gedung-gedung berarsitektur modern, lembaran sketsa maket bangunan hasil tangannya sendiri, serta deretan medali kejuaraan basket yang menggantung di sisi lemari kayu.
Arga menarik kursi, lalu mendaratkan tubuhnya di sana. "Besok..." gumamnya pelan pada sunyinya malam.
Jemari Arga mulai menyusun dan merapikan buku-buku pelajaran satu per satu ke dalam tas ranselnya sesuai jadwal hari Senin—Matematika, Fisika, Kimia, hingga Bahasa Indonesia. Setelah memastikan tidak ada lembaran tugas yang tertinggal, Arga mengambil sebuah buku catatan kecil berpenampilan kusam berukuran saku.
Di halaman pertama, tertera tulisan tebal menggunakan spidol hitam CATATAN HARIAN BANTUAN TUGAS.
Arga mencabut tutup pulpennya, lalu mulai menggoreskan poin demi poin agenda penting untuk esok hari
• Bawa proposal latihan rutinitas tim basket.
• Cetak formulir pendaftaran anggota baru.
• Minta tanda tangan persetujuan Pak Damar.
• Cek persediaan bola di gudang olahraga.
• Rapat singkat pengurus inti basket.
• Bantu OSIS arahkan anak-anak kelas sepuluh.
Arga menghentikan ketukan pulpennya di udara. "Apalagi, ya?" gumamnya merenung.
Seketika teringat satu hal, jemarinya kembali menari di atas kertas.
• Print minimal 30 lembar formulir.
• Bawa map cokelat, lakban, plus spidol ekstra.
Arga tersenyum tipis. Sejak awal semester lalu, ia resmi dipercaya menjadi Kapten Tim Basket sekaligus ditugasi pelatih untuk mengawal penerimaan anggota baru. Setiap awal tahun ajaran, euforia anak-anak kelas sepuluh untuk bergabung ke tim basket memang selalu tinggi. Sebab itu, esok pagi Arga harus datang jauh lebih awal dari biasanya untuk menyiapkan meja pendaftaran di depan lapangan.
Arga memeriksa ulang catatannya. "Oke, aman."
Ia menutup buku saku itu, lalu meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak pasrah di sudut meja. Layar tipis itu menyala, menunjukkan waktu tepat pukul 22.55 WIB.
Arga membuka barisan pesan singkatnya. Seperti biasa, nama yang bercokol paling atas di daftar percakapan adalah nama yang paling tidak asing di hidupnya—Nadira.
Senyum tipis mengukir bibir Arga tanpa sadar. Tanpa banyak pertimbangan, ia mulai mengetik pesan singkat untuk gadis sebelah rumahnya itu.
"Besok pergi jam berapa, Nad?" kirim Arga.
Tak butuh waktu sampai satu menit, ponsel di genggaman Arga bergetar pelan balasan masuk.
"Aku setengah empat subuh udah bangun. Kamu mau berangkat setengah tujuh, nggak?" jawab Nadira di seberang sana.
Arga terkekeh pelan membaca balasan itu. Setengah empat subuh? Rajin sekali. Padahal Arga tahu betul, yang paling berjasa membangunkan gadis itu kemungkinan besar adalah suara gesekan gorden yang ditarik Pak Hadi.
Jemari Arga bergerak cepat membalas pesan itu. "Oke. Besok Arga panggil dari depan pagar ya. Kita berangkat lebih awal."
Belum ada satu menit, terlihat status di bawah nama Nadira menandakan gadis itu sedang mengetik, sebelum balasan baru muncul.
"Eh, nggak apa-apa nih, Ga? Nggak ngerepotin kamu?"
Arga menggeleng-gelengkan kepala membaca kepolosan gadis itu. Nadira memang selalu begitu—terlalu segan dan takut membebani orang lain.
Padahal bagi Arga, berangkat dan pulang sekolah bersama Nadira adalah hal paling alami yang sudah bergulir bertahun-tahun tanpa perlu dipertanyakan lagi.
"Lah, biasanya kan kamu pergi sama pulang sekolah juga bareng Arga terus, Nad. Jadi nggak masalah lah, santai aja," jawab Arga cepat.
Tiga detik kemudian, pesan pamungkas dari Nadira masuk. "Hehe. Yaudah deh, makasih banyak ya, Ga!"
"Tidur sana. Besok jangan sampai kesiangan lagi," balas Arga menasihati.
"Iya, Pak Kapten Basket!" timpal Nadira cepat diiringi tawa.
Arga spontan tertawa renyah sendirian di kamarnya. "Dasar," bisiknya menggelengkan kepala.
Ia membalas sengit namun bercanda, "Iya, Bu Ketua OSIS."
Sebuah emoji tertawa geli menjadi penutup dari percakapan singkat malam itu.
Komunikasi di antara Arga dan Nadira memang kerap kali sesederhana itu. Tanpa topik-topik berat, tanpa basa-basi romantis yang berlebihan. Namun entah mengapa, percakapan singkat saban malam itu selalu berhasil menuntaskan lelah Arga setelah seharian beraktivitas.
Arga meletakkan ponselnya kembali di atas meja, lalu bangkit dan melangkah mendekati jendela kaca di sudut kamar. Ia menyibak kain gorden kremnya pelan.
Dari lantai dua rumahnya, pemandangan ke arah jendela kamar Nadira di rumah sebelah terlihat sangat jelas. Di sana, lampu kamar Nadira masih memancarkan cahaya terang.
"Mungkin masih riweh ngerapiin buku juga," gumam Arga seraya menyandarkan bahunya di bingkai jendela.
Tak lama kemudian, pendar cahaya terang dari jendela kamar di seberang itu mendadak padam, berganti gelap.
Arga tersenyum hangat di balik temaram kamarnya.
"Yaudah. Selamat tidur, Nad," bisik Arga pelan pada angin malam, sebelum akhirnya menutup kembali tirai gordennya rapat-rapat.