Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Satu drama bersama musuh
"Apa kamu sudah menghubungi sutradara?" Nathan mendongakkan kepalanya saat asistennya, Jordi tiba di hadapannya.
Mendengar pertanyaan itu, Jordi mengangguk. Ia segera menyodorkan tab yang ia genggam kepada bosnya.
"Saya sudah memberitahu kepada tuan Rangga, perusahaan kita juga sudha berinvestasi untuk film yang akan dibintangi Nyonya Laluna," jelasnya.
Nathan menatap ke arah tablet itu, hingga bola matanya membesar saat ia menatap ke arah pemain dari drama terbaru istri kontraknya.
" Kevin Mahesa? Kenapa harus dia yang menjadi pemeran utama prianya? " Nathan mengangkat alisnya.
Jordi segera mengambil tablet itu, ia segera membaca seluruh detail drama itu. Hingga ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Itu kesalahan saya pak, karena tidak berkata untuk menghilangkan Kevin dna selingkuh nya itu. Kalau begitu saya akan menghubungi tuan Rangga untuk mengganti pemeran utama pria."
Nathan hanya mengangguk, ia menggerakkan tangannya mencoba memberi isyarat agar Jordi segera keluar dan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah Jordi menghilang dari balik pintu, ia segera bangkit dari duduknya menatap ke arah jendela besar yang menampilkan suasana kota.
"Laluna, biarkan aku yang melindungimu kali ini," gumamnya.
....
Laluna akhirnya sampai di apartemen miliknya sendiri, ia segera menekan tombol pin dan setelah pintu terbuka ia segera masuk bersama Rina dibelakangnya. Ia mendudukkan pantatnya di sofa yang tak jauh dari arah pintu.
"Tadi kamu berbicara apa dengan pasangan gila itu?" tanya Rina, setelah meletakkan barang barang milik Laluna.
Rina berjalan ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di samping Laluna yang masih memainkan ponselnya.
"Seperti biasa, mereka membuatku kesal," ujarnya, santai.
Rina menghela napas panjang mendengar jawaban itu. Ia sudah cukup mengenal Laluna untuk tahu bahwa kalimat sederhana seperti itu biasanya menyimpan banyak hal.
"Kali ini mereka melakukan apa lagi?" tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Laluna meletakkan ponselnya di atas meja. Wajahnya yang sejak tadi terlihat tenang perlahan berubah menjadi kesal.
"Mereka masih membahas kejadian itu. Ya, mereka tidak suka kalau aku telah kembali ke industri ini dan membuat rencana mereka untuk menjatuhkan ku gagal."
Rina menatap Laluna dengan tatapan prihatin. Ia tahu bagaimana kerasnya tekanan yang diterima Laluna sejak video pertengkarannya tersebar. Banyak orang hanya melihat bagian ketika Laluna kehilangan kendali, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dan mereka tidak meminta maaf sama sekali?" tanya Rina.
Laluna tertawa kecil, tetapi terdengar hambar. "Kamu berharap apa dari orang seperti mereka?"
Ia mengambil botol air yang berada di meja dan meminumnya perlahan.
"Pria itu bahkan masih berani menyalahkanku karena membuat kariernya terganggu. Sedangkan jalang satu itu masih memanas manasiku, apalagi sekarang di mau debut jadi artis."
Rina terdiam sejenak. Ia tahu siapa yang dimaksud Laluna. Mantan kekasihnya yang dulu selalu terlihat sempurna di depan publik, tetapi ternyata diam-diam mengkhianatinya.
"Aku masih tidak percaya dia bisa melakukan itu setelah bertahun-tahun bersama kamu," ujar Rina lirih.
Laluna tersenyum tipis, namun sorot matanya menyimpan luka. "Aku juga tidak menyangka. Padahal, aku sudah membantunya hingga menjadi aktor terkanal. Tetapi semua itu hanya sia sia, dia bahkan berani mengkhianatiku."
Ruangan itu menjadi hening beberapa saat. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar memenuhi apartemen. Rina kemudian menatap Laluna yang kini kembali fokus dengan ponselnya.
" Apa? " teriaknya, yang membuat suasana kembali gaduh.
Rina segera menatap ke arahnya yang tengah melototi ponselnya.
"Kenapa? Ada apa?" tanyanya, bingung.
Laluna memberikan ponselnya kepadanya, yang membuat Rina tak kalah terkejutnya.
"Bagaimana bisa? Kenapa harus mereka yang satu drama denganmu?"
Laluna memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sebelum menjawab pertanyaan dari Rina.
"Aku ga tahu, baru saja pak Rangga mengabarkan kalau Kevin dan Selena akan gabung menjadi ke drama yang akan aku bintangi." Laluna menghela nafas sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. "Sialnya, Kevin yang akan menjadi pemeran utama pria," ujarnya, kesal.
Laluna memijat pelipisnya perlahan. Ia sudah bisa membayangkan masalah baru yang akan muncul setelah berita itu tersebar.
"Sepertinya ini rencana mereka, untuk mengumbar kemesraanya di hadapanku," jawabnya dingin.
Rina mengerutkan kening sambil kembali melihat layar ponsel di tangannya. Berita tentang proyek drama terbaru Laluna sudah memenuhi berbagai media hiburan. Nama pemeran utama yang tertera di sana membuatnya ikut merasa kesal.
"Ini gila. Setelah semua yang terjadi, mereka masih bisa mendapatkan proyek sebesar ini?"
Laluna merebut kembali ponselnya dan menatap layar dengan tatapan tajam. Di sana terpampang foto mantan kekasihnya bersama wanita yang dulu menjadi selingkuhannya. Keduanya terlihat tersenyum di depan kamera, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana mereka bisa lolos seleksi," gumam Laluna.
Rina menyilangkan tangannya di dada. "Kamu yakin ini bukan ulah mereka?"
Laluna tidak langsung menjawab. Ia tahu dunia hiburan bukan hanya tentang bakat. Ada banyak kepentingan, koneksi, dan orang-orang yang bisa mengubah sesuatu hanya dengan satu keputusan.
"Entahlah," jawabnya akhirnya. "Tapi aku yakin mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membuatku terlihat buruk dan menggiring opini untuk kembali menjatuhkanku."
Rina menatap wajah Laluna yang mulai kembali tenang. Justru ketenangan itu yang membuatnya khawatir. Ia tahu Laluna. Jika gadis itu sudah berhenti marah, artinya ia sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya.
"Kamu mau membatalkan drama itu?" tanya Rina.
Laluna menggeleng pelan. "Tidak. Enak saja aku yang harus membatalkan drama sebagus ini."
Jawaban itu membuat Rina terkejut. "Kamu serius? Kamu akan tetap bermain bersama mereka? Dan sudah dipastikan mereka akan membuatmu kesal saat dislokasi syuting."
Laluna meletakkan ponselnya di meja dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kalau aku mundur sekarang, mereka akan merasa menang."
"Tapi kamu harus bekerja bersama orang yang sudah menghancurkan hidupmu," jelas Rina.
Laluna tersenyum tipis. "Justru itu alasannya aku harus tetap di sana."
Rina menatapnya dengan bingung.
"Aku ingin melihat sampai sejauh mana mereka bisa berpura-pura menjadi orang baik di depanku." Tatapan Laluna berubah dingin. "Dan aku ingin semua orang tahu siapa mereka sebenarnya."
Rina terdiam mendengar perkataan itu. Ia tahu Laluna bukan lagi gadis yang mudah percaya seperti dulu. Pengkhianatan yang dialaminya telah mengubah banyak hal.
Namun, sebelum Rina sempat menjawab, ponsel Laluna kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Laluna membuka pesan itu dengan ragu. Namun, hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah.
"Luna, ini saya, Nathan. Bisa turun dulu, saya tahu kamu ada di apartemen. Kita harus berbincang."