NovelToon NovelToon
My Posesif Brothers And Husband

My Posesif Brothers And Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyyah Ramadhani

Halo guys! ini karya pertama aku, jadi jika masih banyak typo mohon di maklumi yah😄




Bagaimana jadinya jika kalian mempunyai saudara-saudara yang sangat menyayangi juga memanjakanmu tapi juga sangat posesif padamu. Tentu saja kalian pasti sangat senang karena selalu di sayangi dan di perhatikan tapi kalian juga pasti agak kesal karena keposesifan mereka bukan?

Itulah yang di rasakan oleh Seorang gadis cantik bernama AQUEENA PUTRI REVANO di adalah putri satu-satunya di keluarga REVANO. Dia memiliki Tiga orang Abang yang sangat menyayangi tapi juga posesif padanya. Di tambah lagi dia menikahi seorang pria tampan yang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, dia juga sangat mencintai dan menyayangi Queen tapi jangan lupakan keposesifannya pada Queen. Dia adalah ALVIANO DAVID DANENDRA.

Penasaran dengan ceritanya?
Silahkan buka dan baca ceritanya
Jangan lupa like dan komen yah 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyyah Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Balasan

Malam hari Di Kediaman Revano

Queen merebahkan tubuhnya ke kasur. Rambutnya tergerai, matanya masih terpaku pada layar ponsel yang diam di sampingnya.

Pesan terakhir dari Alviano belum ia balas.

Dan ia... sengaja tidak membalas.

“Aneh banget sih,” gumam Queen pelan, menatap langit-langit kamarnya.

“Dia tuh Alviano David Danendra... pengusaha sukses, CEO muda paling tajir di negeri ini. Semua orang tahu dia dingin, bahkan kayak gak peduli sama perempuan.”

Queen duduk, memeluk bantalnya.

“Tapi kenapa gue?” bisiknya.

“Kenapa dia bisa tahu semua tentang gue? Dari nomor gue, tempat gue berada, bahkan hal-hal kecil tentang gue sekalipun.”

Queen menatap ponsel dengan ragu. Jarinya sempat menyentuh ikon pesan, tapi tak ia buka.

Gue gak bisa asal percaya...

Ia memejamkan mata.

Tapi bayangan wajah Alviano, tatapan matanya, nada suaranya yang tenang, terus terbayang-bayang.

Dan di balik rasa penasarannya... terselip rasa risih.

Rasa... diawasi.

 

Di Mobil Alviano

Alviano masih duduk di kursi belakang mobil hitamnya. Dia melajukan mobilnya ke mansion mewah milik pribadinya. Jalanan kota mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, tapi pikirannya tak benar-benar ada di sana.

Ponselnya kembali dia buka. Matanya menatap layar.

Pesan terakhirnya…

Masih centang biru.

Tanpa balasan.

Riko melirik dari kaca spion, tapi memilih diam.

Alviano menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel di pahanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk lutut, seolah menahan gelisah.

"Beda," gumamnya pelan.

"Cewek lain biasanya bereaksi cepat, sangat cepat." Matanya menatap kosong ke depan.

“Tapi kenapa justru dia yang gak peduli?”

Ia bersandar, menutup mata sejenak.

Queen…

Untuk pertama kalinya, seorang wanita tidak mengagumi statusnya. Tidak mengejarnya. Tidak tertarik menunjukkan dirinya di depan publik.

Dan itu yang... justru membuatnya makin penasaran.

 

Kembali ke Kamar Queen

Sudah tengah Malam Queen belum juga tidur. Ia duduk bersandar di dinding, lampu kamar hanya menyala temaram. Ponselnya kini terbalik di meja. Ia tak ingin lihat notifikasi.

Tapi pikirannya tetap mengarah ke satu nama.

Alviano David Danendra.

Beberapa Menit Kemudian

Queen akhirnya bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke depan cermin. Rambutnya diikat asal. Tatapannya kosong.

“Kenapa gue harus kepikiran cowok yang bahkan... gue gak ngerti maksudnya apa,” gumamnya lirih.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

Alviano bukan cowok biasa.

Bukan mahasiswa kampus sebelah yang iseng ngajak kenalan.

Dia CEO muda. Dingin. Jauh dari kata ramah.

Terkenal di mana-mana.

“Semua orang tahu dia susah didekati, cuek setengah mati... dan bahkan kabarnya gak pernah pacaran.” Queen menggeleng cepat. “Tapi kenapa... kenapa dia bisa tahu semua hal tentang gue? Dari nomor HP, sampe tahu gue ada di rooftop?”

Queen berjalan ke jendela, menarik gorden dan menatap langit malam.

Ada rasa tak nyaman.

Bukan takut... tapi risih.

Seolah dia sedang diawasi diam-diam.

Dan bukan cuma soal itu. Yang lebih mengganggu...

Kenapa pria seperti Alviano, yang bisa memilih siapa pun di dunia ini, malah menghabiskan waktunya untuk menghubungi dia?

“Gue bukan siapa-siapa buat lo,” gumamnya pelan.

Ia memejamkan mata. Lalu menarik napas panjang.

Akhirnya Queen kembali ke tempat tidur, menarik selimut hingga leher. Ponselnya masih di meja, tak disentuh.

 

Pagi Hari di Kediaman Revano

Queen turun dengan wajah agak kusut, kaus longgar dan celana pendek diatas lutut. Di meja, Mommy sedang menyusun buah, sementara Abang Alvaro sibuk di depan laptop sambil ngopi.

“Pagi, Queen,” sapa Mommy lembut. “Kamu tidur larut lagi, ya?”

Queen tersenyum tipis. “Iya, Mom.”

Alvaro menatap Queen dari balik layar laptop.

Alvaro menyipitkan mata. “Tumben banget lo lama banget di rooftop kemarin, biasanya paling sejam udah turun.”

Queen melirik cepat. “Namanya juga lagi banyak yang diceritain.”

Alvaro diam sejenak. Tapi pandangannya mengikuti gerak-gerik adik kesayangannya.

“Queen...” ucapnya tiba-tiba. “Kamu lagi deket sama seseorang, ya?”

Roti di tangan Queen nyaris jatuh.

“Ha?! Enggak! kenapa abang mikir ke situ?!”

Alvaro mengangkat alis. “Aku cuma nanya, kok panik?”

Queen mendengus. “Karena pertanyaan bang Varo aneh! Dan enggak, aku gak deket sama siapa-siapa.”

Tapi Alvaro hanya mengangguk pelan.

Dan dalam hati Queen, suara Alvaro seperti mengusik logika yang semalam coba dia redam.

Di sisi lain

Mansion Pribadi Alviano

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar yang menjulang dari lantai ke langit-langit mansion modern itu. Dinding putih bersih, desain minimalis, dan suasana sunyi, begitu tenang hingga suara langkah terdengar jelas di lantai marmer.

Alviano duduk di meja makan panjang berlapis kaca. Kemeja hitamnya belum sepenuhnya dikancingkan, rambut masih sedikit acak, tapi wajahnya tetap menunjukkan wibawa dan dinginnya yang khas.

Seorang pelayan menyajikan secangkir kopi di depannya.

“Ini kopinya, Tuan.” Ucap pelayan itu, dia tau kalau Alviano, jarang sarapan pagi jika di Mansion ini, dan pagi ini dia tidak meminta di buatkan makanan hanya kopi

Alviano hanya mengangguk. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Selebihnya, meja makan itu kosong. Hanya dia.

Mansion ini memang luas, ada delapan kamar tidur, ruang kerja besar, gym pribadi, kolam renang, dan taman belakang. Tapi semuanya terasa... hampa. Hanya ada suara para pelayan yang berlalu-lalang, menyiapkan sarapan, membersihkan ruangan, menjaga ketertiban.

Dan Alviano, seperti biasa tidak terlalu peduli.

Namun pagi ini, ada satu hal yang berbeda.

Ponselnya tergeletak di meja, layar menyala karena baru saja ia buka.

Bukan untuk membaca berita ekonomi.

Bukan untuk mengecek laporan bisnis.

Tapi...

Melihat ulang pesan yang ia kirim semalam.

Pesan yang dikirim untuk seorang gadis bernama Aqueena Putri Revano.

Masih centang biru. Belum dibalas.

Alviano menatap layar itu lama. Jari-jarinya sempat menyentuh ponsel, ingin mengetik lagi... tapi ia urungkan.

“Dia sengaja gak bales?”gumamnya pelan.

Wajahnya tetap datar, tapi jemarinya sedikit mengepal di bawah meja. Ekspresi itu, tak satu pun pelayannya berani mengomentari. Karena semua tahu, sang tuan rumah bukan pria yang suka ditanya apalagi diselidiki.

Tiba-tiba, suara langkah mendekat.

Riko, asisten pribadinya, masuk dengan iPad di tangan.

“Maaf Tuan, laporan tentang aset cabang Eropa sudah dikirim tim legal. Saya sudah siapkan presentasinya.”

Alviano mengangguk sekilas. “Taruh saja.”

Riko, yang sudah cukup lama bekerja dengannya, memperhatikan raut wajah bosnya.

Biasanya, pagi seperti ini Alviano sudah fokus dengan berita saham, angka-angka, atau meeting schedule.

Tapi kali ini... dia justru beberapa kali menatap ponsel.

Riko membuka suara hati-hati.

“Apakah... ada sesuatu yang mengganggu, Tuan?”

Alviano mendongak. Mata tajamnya menusuk. Tapi bukan marah lebih seperti enggan mengaku.

“Tidak. Fokus saja ke jadwal hari ini.”

Riko mengangguk. Tapi sebelum ia pergi, ia sempat melirik sekilas ke layar ponsel Alviano yang masih menyala.

Dan hanya satu nama yang muncul di sana.

Aqueena.

 

1
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjutttt kaaaa
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjutttt kaaa gregett bangetttt sumpahh
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔: wkwk ok ka
total 2 replies
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjuttt kaaa apa sii niatnya Elvira sumpah kek ga tau malu pen rebut suami orang
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔: wkwkwk emang ka
total 2 replies
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjuttttt kaaaa
Shofiyyah: okeii author lgi proses nulis ini
total 1 replies
Anonim
sangat bagus dan luar biasa, mulai dari penggunaan kosakatanya yang teratur dan jalan ceritanya yang tidak berbelit-belit😍
F_NL
liat tokoh2nya berasa halu kuadrat...oppa2 ganteng 🤩
Yeojax Swag
next, semangat
sooya
next smngt
Shofiyyah: balikk kakk, ini sudah aku lanjut lagii
total 1 replies
soyaaa__
Lanjut..
Shofiyyah: Oke nnti aku next👌😊
total 1 replies
soyaaa__
aku mampir😊
Shofiyyah: Terimakasih sudah mampir di novel author 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!