NovelToon NovelToon
Wasiat Iblis

Wasiat Iblis

Status: tamat
Genre:Petualangan / Pendekar / Iblis / Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Kutukan / Barat / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.6
Nama Author: Fariz Pradipta

Penyerbuan gabungan pasukan Demak, Banten dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahilah terhadap kerajaan Padjadjaran di bawah pimpinan Prabu Surawisesa berujung kegagalan. Padahal, Prabu Surawisesa mendapat bantuan dari pasukan Portugis dan Pasukan Mega Mendung, yang merupakan negeri bawahan Padjadjaran.
Negeri Mega Mendung di bawah kekuasaan Prabu Kertapati ingin merdeka, bebas dari pengaruh Padjadjaran dan menjadi negeri yang menguasai seluruh tanah Pasundan. Demi mencapai tujuannya, Prabu Kertapati rela melakukan segala cara. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui perjanjian Wasiat Iblis dengan seorang petapa sesat bernama Topeng Setan. Akan tetapi Prabu Kertapati tiada sanggup melaksanakan perjanjian yang meminta tumbal putra sulungnya.
Kisah Wasiat Iblis pun berkembang…

Kisah ini mengambil berbagai kejadian sejarah, seperti gagalnya penyerbuan gabungan Islam ke Pajajaran, Penyerbuan Pasukan Banten ke Pajajaran yang akhirnya berhasil menguasai Kota Pakuan. #FiksiSejarah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 - Dharmadipa (2)

“Diam kau! Seatttt!!!” Dharmadipa melompat mengirimkan satu tendangan pada Jaka, Jaka pun segera menghindarinya, Dharmadipa lalu mengirimkan beberapa serangan beruntun, Jaka tidak melawannya hanya terus menghindarinya “Jaka apa kau Cuma becus menghindar memarkan ilmu meringankan tubuhmu?” ejek Dharmadipa yang memperhebat serangan-serangannya yang mengarah ke titik-titik berbahaya di tubuh Jaka, Jaka pun mulai kelabakan hingga ia terpaksa meladeni serangan-serangan Kakangnya dengan balas menyerang dan sesekali menangkisnya.

Beberapa belas jurus berlalu dengan cepat, kaki dan tangan mereka berdua menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar ditangkap oleh mata, semua murid-murid yang berada di sana berdecak kagum melihat pertarungan dua saudara seperguruan itu, jika dilihat dari gerakan-gerakan silatnya tentulah mereka berdua telah memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan termasuk murid-murid yang paling unggul di padepokan sirna raga, hal tersebut dapat dimaklumi sebab mereka berdua adalah murid kesayangan dari Kyai Pamenang.

Memasuki jurus kedua puluh, Dharmadipa melompat kebelakang, dia mulai mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua tangannya lalu memasang kuda-kudanya, setiap gerakan yang ditimbulkannya menimbulkan angin yang sangat deras laksana topan serta setiap langkahnya menggetarkan bumi di sekitar padepokan! Jaka terkejut melihat kuda-kuda yang dipasang oleh Dharmadipa “Kakang, mengapa engkau sampai mengeluarkan ajian Liman Sewu? Apakah engkau ingin mencelakaiku?”

Dharmadipa menyeringai “Tentu saja! Ini bukan latihan dungu!” makinya, maka dengan terpaksa Jaka pun mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Ajian Liman Sewu adalah ajian yang dapat membuat pemiliknya memiliki tenaga seperti seekor gajah dan mempunyai daya hancur yang dahsyat, maka tak ayal ia mengeluarkan ajian yang sama yakni ajian Liman Sewu untuk melindungi dirinya.

“Bagaimanapun tenaga dalam Kakang Dharmadipa unggul satu tingkat dariku, sebisa mungkin aku harus menghindari bentrokan tenaga dalam dengannya!” pikir Jaka.

Dengan teriakan dahsyat Dharmadipa melompat menyerang Jaka dengan sebuah pukulan… Bruakkk! Pohon besar yang berada di belakang roboh terkena pukulan Dharmadipa. Dharmadipa menggeram marah karena Jaka berhasil menghindari pukulannya, kemudian dengan secepat kilat ia memutarkan tubuhnya, kedua tangannya dipukulkan ke muka, dua rangkum angin topan prahara menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Jaka Lelana!

Jaka segera menjejakan dirinya keatas tanah, dia lalu melompat kesamping, kedua tangannya mencabut sebuah pohon besar, dia lalu melemparkan pohon itu ke arah angin pukulan Dharmadipa dengan diiringi tenaga dalamnya, bila angin-angin topan pukulan itu beserta pohon besar sama bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang menyenging liang telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan! Seluruh Padepokan bergetar. Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu!

Jaka Lelana melihat bagaimana kedua kaki saudaranya amblas ke dalam tanah sedalam sepuluh senti. Muka pemuda itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun bila ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke dalam tanah sampai sebatas betis, sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu terasa masih bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi! Jantungnya berdebar kecang dan mulutnya terasa asin, itulah pertanda tenaga dalamnya masih kalah oleh Dharmadipa!

"Bagus Jaka, bagus sekali! Kau berani menangkis pukulanku dengan tenaga dalammu!" terdengar Dharmadia. Meski memuji namun dari mukanya bukan menunjukkan pujian, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu semakin memancarkan kengerian.

"Sekarang aku tidak akan bermain-main lagi!”, tubuh Dharmadipa bergetar hebat, ia melipat gandakan tenaga dalamnya, lalu dengan teriakan setinggi langit ia kembali menerjang Jaka dengan jurus “Burung Elang Menerjang Mangsa”!

Jaka tahu ia akan terluka parah kalau berani mengadu tenaga dalam lagi, maka ia tidak menggunakan ajian Liman Sewu lagi, ia pun membuka jurus simpanannya, jurus paling hebat yang diturunkan Kyai Pamenang pada dirinya yang tidak diturunkan pada Dharmadipa sehingga membuat Dharmadipa iri pada Jaka, dengan mengerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya, Jaka membuka jurus “Menggocang Langit, Menjungkir Awan”!

Tangan dan kaki Jaka berkelebat kian kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Dharmadipa. Angin deras ini bukan sembarang angin karena bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet! Dalam sekejap saja Dharmadipa segera terbungkus sambaran-sambaran serangan Jaka Lelana!

Dharmadipa menggeram marah melihat kehebatan jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan milik Jaka. Dalam sekejap saja pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit saja pastilah pinggang, atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar serangan Jaka yang menyambar-nyambar secepat kilat itu. Berkali-kali Dharmadipa melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam yang dahsyat. Namun angin pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari serangan Jaka!

"Jurus edan!" maki Dharmadipa.

Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah. Serentak dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah sambungan siku Jaka, Jaka segera menghindar ke samping lalu balas mengirimkan satu tendangan dahsyat ke arah kepala Dharmadipa, Dharmadipa melompat mundur, Jaka memutarkan kakinya kini ganti kaki kirinya menderu dahsyat yang bersarang tepat di pelipis Dharmadipa! Dharmadipa jatuh sempoyongan, kepalanya pusing dan mulutnya terasa asin, ternyata darah telah mengucur dari mulutnya yang sobek, “Kakang sebaiknya kita hentikan sampai disini!” ucap Jaka.

“Setan! Jangan sombong karena guru mewariskan jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan! Kini kau akan mampus dengan ini!” Dharmadipa merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu menngangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang juga merupakan pukulan pamungkas padepokan ini, yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Kini Jaka terkejut setengah mati dan merasa panik melihat kuda-kuda yang dipasang Kakaknya, pukulan pamungkas itu memang sangat berbahaya dan sangat dahsyat, tidak semua murid di padepokan ini mendapatkannya, pukulan itu hanya diberikan kepada murid-murid tertentu saja seperti Handaka murid pertama Kyai Pamenang yang kini menjadi Adipati di Kuningan, Kadir murid kedua di padepokan ini yang kini menjadi murid tertua, dan Dharmadipa yang merupakan anak angkat Kyai Pamenang. Jaka sendiri tidak mewarisi pukulan sakti ini, sebagai gantinya Jaka mendapat jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan yang merupakan jurus silat terhebat Kyai Pamenang, maka tak heran kalau Jaka menjadi gentar dan panik melihat Kakangnya yang pemarah itu mengeluarkan pukulan sakti pamungkas ini “Kakang kau hendak membunuhku dengan pukulan Sirna Raga itu?” teriaknya.

“Kau memang harus mampus agar tidak sombong lagi Jaka!” balas Dharmadipa yang tersinggung ketika ia terkena tendangan Jaka dalam jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan tadi. Jaka yang tidak punya pukulan sakti yang mumpuni untuk meladeni Pukulan Sirna Raga itu segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.

“Hiaaatttt!!!” Dharmadipa berteriak mendorongkan tangan kanannya ke muka, lidah api disertai gelombang angin panas menggebu mengarah Jaka! Jaka segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, ia melompat keatas! Blarrr!!! Tanah yang dipijak Jaka meledak dan terbakar oleh kobaran api dahsyat, Jaka melompat-lompat keatas seolah melayang di udara.

“Setan! Pengecut! Cuma becus menghindar! Rasakan ini!” maki Dharmadipa, kembali ia menembakan lidah api yang disertai gelombang angin panas ke atas pada Jaka! Tubuh Jaka berputar menghindari pukulan sakti itu, Jaka berhasil menghindari pukulan maut itu namun lidah api yang disertai gelombang angin panas itu membeset pinggangnya! Blarr!!! Pohon dibelakang Jaka terkena pukulan maut itu hancur berantakan! Jaka pun jatuh ke tanah dengan luka parah di pinggangnya!

Jaka muntah darah lalu mengerang-ngerang kesakitan dan akhirnya pingsan, semua murid-murid padepokan yang berada di sana segera menolong Jaka, Kadir segera menotok daerah sekitar luka dan peredaran darah Jaka agar racun jahat pukulan Sirna Raga tidak merembes merasuki jantungnya! Dharmadipa yang melihat Jaka terluka parah itu hanya mendengus lalu melompat menaiki kudanya dan memacunya meninggalkan padepokan.

 

 

***

 

 

Satu minggu kemudian, Kyai Pamenang dan Nyai Mantili pulang ke padepokan, ketika mendapati Jaka yang masih terluka parah akibat pukulan Sirna Raga, kedua orang tua itu pun terkejut bukan main! “Siapa yang melakukan ini pada Jaka?!” Tanya Kyai Pamenang pada Kadir.

“Adi Dharmadipa yang melakukannya Guru,” jawab Kadir.

“Apa?! Dharmadipa?! Kenapa ia bisa melakukan ini pada Jaka?!” tanya lagi Kyai Pamenang, Kadir pun lalu menceritakan peristiwa bertarungnya Jaka dengan Dharmadipa, dari mulai Jaka mencegah Dharmadipa untuk pergi sampai Jaka terluka parah akibat pukulan Sirna Raga.

“Kenapa harmadipa sampai ingin pergi dari padepokan ini dan melukaimu Jaka?!” Tanya Kyai Pamenang pada Jaka.

“Kakang Dharmadipa telah lama menaruh hati pada Mega Sari, ia sangat tergila-gila pada Gadis itu sampai setiap malam selalu memimpikannya sejak kepergiannya, karena tidak kuat menahan siksaan asmara dan kerinduannya pada Mega Sari, ia ingin pergi menyusul Mega Sari ke Gunung Patuha, saya melarangnya pergi sesuai pesan guru, tapi ia malah menyerang saya, dan akhirnya kami bertarung sampai Kakang Dharmadipa menggunakan jurus pukulan Sirna Raga yang tak sanggup saya hadapi” jelas Jaka.

Raut kekecewaan tampak jelas pada Kyai Pamenang dan NYai Mantili, Kyai Pamenang mengerang menahan marah membayangkan perbuatan Dharmadia “Dharmadipa… Ia memang memiliki sifat mudah marah dan kurang terpuji, tapi aku tidak menyangka kalau ia sampai tega melukai Jaka, adik seperguruannya sendiri yang juga sahabat baiknya!”.

Nyai Mantili segera menenangkan suaminya “Mungkin itu juga kesalahan kita Kakang, kita tidak awas dengan perkembangan Dharmadipa yang sudah beranjak dewasa, selama ini juga hidupnya terkurung di padepokan ini, ia belum pernah melihat dunia luar”

 

 

Kyai Pamenang mengangguk “Kamu benar Nyai, kita kurang awas kalau Dharmadipa sudah dewasa dan sudah mengenal yang namanya cinta, itu juga yang membuat kita belum mendidiknya cara menata hati dalam persoalan nafsu syahwat dan juga cinta” keluh Kyai Pamenang.

Kyai itu lalu menoleh pada Kadir, “Kamu sudah memeberikan obat untuk luka bakar di pinggangnya?”

Kadir mengangguk “Sudah Guru, tapi sepertinya kami belum sanggup untuk mengobati luka dalamnya Jaka”.

Kyai Pamenang lalu dudk bertafakur, berdoa sejenak pada Allah SWT “Ya Allah hamba tidak berani mendahului kehendakmu, tak ada sesuatu di muka bumi ini terjadi tanpa kehendakMU, hamba tak pernah bisa menyembuhkan sakit seseorang tanpa kehendakMU, kalau memang Engkau izinkan Jaka Lelana pasti akan sembuh dari lukanya ini”.

Kyai Pamenang mendudukan Jaka “Duduklah, tahan aliran tenaga dalammu, aku akan mencoba mengalirkan tenaga dalamku untuk mengobati luka dalammu!”

Kyai lalu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Jaka lalu perlahan mengalirkan tenaga dalamnya selama kurang lebih satu jam. Setelah selesai Kyai Pamenang Nampak bermandikan keringat dia lalu menepuk punggung Jaka, “Jaka luka dalammu sudah agak mendingan, kau tinggal meminum obat ramuanku nanti dan beristirahat yang cukup, dan luka bakar itu Insyaallah akan segera hilang”.

Jaka pun kembali berbaring. “Terimakasih guru” ucap Jaka.

Setelah Jaka sembuh benar seminggu kemudian, karena Kyai Pamenang merasa bersalah pada Jaka, ia pun menurunkan ilmu Ajian Pukulan Sirna Raga pada Jaka dengan pesan ia hanya boleh mengeluarkan pukulan ini pada saat kepepet saja dan tidak boleh dipakai untuk berbuat kejahatan.

1
Thomas Andreas
mirip kisah surodipo sm retno jumini hampir kejadian di bukit, ada petir jg di bukit yg menggagalkan.
Thomas Andreas
gading dong bkn cula
Ulun Jhava
Wow keren sy pecinta sejarah dan cerita silat nusantara baru nemu cerita ni luar biasa
Ulun Jhava
Sultan banten cerdas dan cakap
Ulun Jhava
Luar biasa
Ulun Jhava
Saya kok suka sama megasari
Ulun Jhava
Kebablasan pendekar
Ulun Jhava
Hati2 jaka dia adik kndungmu
Ulun Jhava
Jaka jgn naif surat udah sampai ya udah tinggalin dan tempuh jalanmu sendiri mencari jatidirimu
Kang Mus
cerita apa saja itu Ki Adi ?
Esther M
galuh Parwati thor....mantabb
wahyu hidayat
baru baca di 2024.
keren banget thor.
btw, referensi sejarahnya apa aja thor?
penasaran dengan sumbernya
CADAS JALARAMBANG: keren luar biasa.. br baca thn 2026 ini
total 2 replies
jagadcell 31singkut
ini SDH melenceng dari cerita silat ini mah horor....
jagadcell 31singkut
jaman sejarah belum ada Istal Kuda yang ada Kandang kuda ( gedhokan)
jagadcell 31singkut
saran kpd Author...agr perbendaharaan katanya lebih pas pada alur ceritanya tolong belajarlah dari novel silat karya S MiINTARJA. nanti karya anda akan makin di gandrungi para penggemar cerita silat klasik sejarah indonesia.🙏
jagadcell 31singkut
bahasanya tolong di perhatikan Thor...klu cerita silat kerajaan jgn pakai istilah "Atribut" (Umbul"Pratanda)
jagadcell 31singkut
ini baru sejarah...mantap Thor Lanjut
Rusdi P Bangun
Luar biasa
Rusdi P Bangun
Lumayan
Mus Dalifah
ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!