Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadilah anak kucing yang penurut
"Aww... Sakit."
Terdengar rintihan kesakitan dari mulut Erika, kini Bima sedang melampiaskan kekesalannya pada Erika.
"Beraninya kau memeluk pria lain di hadapan ku."
Bima mencengkram dagu Erika sampai mengeluarkan darah, Erika hanya bisa menangis sambil menahan rasa sakit yang dia alami sekarang.
Lalu Bima langsung menarik kain putih yang menutupi dada t*lanjang milik Erika. Erika hanya bisa menutupi tubuhnya dengan kedua tangan miliknya.
"Ingat status, kau hanyalah penghangat ranjang ku. Dan kau tak boleh melirik pria lain selain diriku."
Ucapan Bima merupakan perintah yang harus Erika turuti, Erika hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan tangis.
Seumur hidup baru kali ini dia di permalukan oleh seorang pria, harga dirinya di injak-injak layaknya keset kaki.
Kemudian Bima langsung meninggalkan Erika, dengan penuh rasa marah Bima langsung membanting pintu kamar dengan keras.
....
Rasya berjalan tanpa melihat ke kanan-kiri, pikirannya masih terus melayang jauh pada suatu tempat.
Hatinya sakit seperti di iris-iris pisau, perlahan namun sakitnya luar biasa. Impiannya untuk bisa bersama Erika telah sirna, kini Erika sudah berada di tangan orang seperti Bima. Bukan hal mudah mengambil Erika kembali.
"Rasya.."
Terdengar suara seseorang memanggil namanya.
"Ada apa denganmu?"
Sang ibu menatap heran pada raut wajah putranya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang ibu, Rasya malah langsung berjalan tanpa menoleh kebelakang.
"Ada apa lagi dengan anak itu, pasti ulah si gadis miskin itu. Mau sampai kapan dia membuat putra ku jadi seperti ini."
...
Keesokan harinya.
Rasya yang sedang berjalan dengan tatapan marah, dia terus berjalan menyusuri lorong kampus, mengabaikan semua sapaan dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
Brak...
Terdengar suara gebrakan meja. Karin, Sintia dan Bella langsung di buat kaget.
"Kak Rasya, bikin kaget aja sih." Eluh Karin.
Rasya menatapnya dengan tatapan kesal dan juga marah, wanita di hadapannya adalah wanita yang sudah melemparkan kekasih kecilnya itu ke tempat laknat.
"Kau..."
Rasya menunjuk-nunjuk Karin dengan marah yang penuh amarah.
"Kak Rasya kenapa?"
Karin menatap takut pada pria di hadapannya itu.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu Karin. Apa salah Erika, apa salah dia."
Rasya berteriak membuat semua orang yang berada di kantin mendengar ucapannya itu.
"Apa maksudnya? A..ku tak mengerti." Karin berusaha pura-pura tidak tahu.
"Kau.. Kau menyuruh kakakmu Bima, untuk melecehkan Erika. Dan kini Erika menderita karena ulah mu, apa salah Erika. Kenapa kau buat hidupnya menderita seperti itu, apa Erika pernah berbuat salah kepada mu, Karin..."
Rasya sangat marah, dia tak sengan memaki Karin di depan banyak orang.
Karin menatap tak percaya pria di hadapannya, pria yang selalu dia kenal sebagai pria yang ramah dan juga sabar tapi sekarang karena seorang perempuan hina itu, dia sampai membentak dan juga memaki dirinya di depan orang banyak.
"Apa salah Erika, salahnya dia sudah merebut mu dari ku. Jika saja dia tidak melakukan hal itu, aku tak akan pernah mengusik hidupnya."
"Merebut ku dari mu, kau bercanda Karin. Aku dan Erika sudah pacaran lebih lama, bahkan sebelum kau mengenalku. Dari sudut pandang mana kau bisa bicara seperti itu."
Karin hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya, dia sangat malu dan juga sedih.
"Kau memang suka membully Erika. Tapi sekarang kau sudah tak punya perasaan lagi Karin. Hatimu itu telah di buta kan oleh Cinta kekanak-kanakanmu. Kau tak layak di sebut sebagai manusia... Bagiku kau adalah iblis yang sudah merusak wanita suci seperti Erika."
Setelah mengatakan hal itu Rasya langsung pergi meninggalkan Karin, banyak orang yang saling berbisik sambil melihat ke arah Karin.
"Arg..."
Karin yang malu dan juga kesal pun langsung pergi meninggalkan kantin, di susul oleh Bella dan juga Sintia yang mengekori nya dari belakang.
...
Erika yang baru bangun tidur hanya bisa diam sambil melihat sekelilingnya, di sampingnya sudah ada Bima dengan tangan melingkar di pinggang rampingnya.
Perlahan air matanya kembali menetes tapi tidak dengan isak tangisnya, air mata yang menetes dalam diam.
Perlahan Erika melepaskan tangan milik Bima dari pinggang rampingnya.
"Jangan melakukan hal gila lagi.."
Terdengar suara teguran dari Bima, rupanya dari tadi Bima sudah bangun dari tidur. Dan ucapannya barusan adalah teguran agar Erika tidak mencoba melakukan bunuh diri lagi.
"Iya."
Erika hanya menjawab singkat ucapan Bima, perlahan Erika berjalan ke kamar mandi dengan sebuah kain putih yang menutupi tubuh t*lanjang miliknya.
Di dalam makar mandi.
Erika kembali menatap tubuh penuh noda miliknya, dia sangat bingung harus melakukan apa lagi. Sudah berapa kali Erika mencoba untuk kabur dari tempat ini, tapi tetap saja tak bisa.
Untuk lebih menyegarkan dirinya, Erika pun berendam di bathtub. Saat sedang berendam, pikirannya langsung teringat kepada ibu dan juga kedua adiknya.
"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?"
Perlahan air mata Erika mengalir, dia sangat merindukan ibu dan juga kedua adik kembarnya.
Dan terlintas di pikirannya sosok Rasya yang selalu ada menemaninya setiap hari.
"Aku merindukan kalian semua..."
Sambil memeluk tubuhnya Erika kembali menangis, tangisannya tak bisa di bendung lagi. Rasa sedih dan juga sakitnya sudah tak bisa di tahan lagi, Erika langsung menangis sejadi-jadinya. Setidaknya hal inilah yang bisa dia lakukan sekarang, dengan ini mungkin beban di pikirannya bisa berkurang.
Bima yang berada di atas ranjang pun mengerutkan kening.
"Kenapa gadis itu lama sekali.."
Bima dengan cepat beranjak dari ranjang dengan menggunakan sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Erika..."
Erika yang sedang menangis pun langsung kaget saat mendengar suara Bima.
"Iya.."
"Sedang apa kau di dalam, kenapa lama sekali."
"Iya, sebentar lagi saya keluar."
Bima yang sangat kesal pun langsung membuka pintu kamar mandi, di lihatnya Erika yang sedang berendam di bathtub.
Dengan sebuah seringaian, Bima berjalan ke arah Erika. Erika hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menutupi tubuhnya.
"Kau sangat manis dan juga menggoda." Gumam Bima dengan sebuah senyuman mesum di wajahnya.
Bima perlahan membuka handuk yang menutupi tubuh bagian bawah miliknya, Erika yang melihat hal itu hanya bisa memalingkan wajahnya karena malu.
Perlahan Bima pun ikut masuk ke dalam bathtub, sambil memeluk Erika dari belakang. Di ciumnya wangi tubuh Erika, aroma tubuh yang sangat khas dan juga menggodaku. Aroma yang mampu menaikkan birahi miliknya.
"Hemmm..." Erika menggigit bibir bagian bawahnya saat Bima mencium leher miliknya.
"Kenapa kau sangat menggoda, Erika."
Bima terus mencium dan meremas buah dada Erika, Erika hanya bisa diam sambil memejamkan mata.
"Sepertinya kita belum pernah mencobanya di dalam kamar mandi."
Bima berbisik tepat di telinga Erika, Erika hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Bagus, jadilah anak kucing yang penurut."