NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perusahaan Hantu

​​Bunyi keramik beradu keras dengan permukaan meja baja menembus keheningan. Ronan meninggalkan dapurnya detik itu juga. Langkah kakinya terdengar berat dan sangat cepat melintasi lantai marmer. Wajah pria yang biasanya setenang air dan sedingin es itu kini menegang sempurna. Rahangnya mengeras.

​Dalam tiga langkah lebar, Ronan sudah berdiri tepat di depan Cala. Tanpa meminta izin, pria tinggi besar itu mencondongkan tubuhnya, mengulurkan kedua tangannya, dan langsung menggeser laptop di atas meja kaca itu ke arahnya.

​"Hei! Apa yang kamu lakukan? Aku belum menyimpan datanya!" protes Cala kaget. Tubuhnya refleks mundur merapat ke sandaran sofa kulit.

​"Ulangi apa yang baru saja kamu sebutkan," tuntut Ronan mengabaikan protes Cala. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan mengintimidasi. Mata tajamnya menatap lurus ke dalam mata Cala, mencari kebohongan atau keraguan di sana. Namun Cala balas menatapnya tanpa gentar.

​"Zeta Katering," ulang Cala dengan suara lantang dan jelas. "Nama vendor yang membuat jadwal logistik berantakan hari itu adalah Zeta Katering."

​Ronan menunduk menatap layar laptop yang menyala terang. Jari-jarinya yang besar dan terbiasa memegang pisau bedah kini menari cepat di atas papan ketik. Ia menggulirkan halaman data itu ke atas dan ke bawah, membaca setiap baris angka dan catatan waktu yang Cala tandai dengan warna merah.

​"Tunjukkan padaku kejanggalan yang kamu maksud," perintah Ronan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

​Cala mencondongkan tubuhnya kembali ke depan. Ia menunjuk deretan angka di kolom jadwal bongkar muat.

​"Lihat ini. Jadwal masuk mereka seharusnya pukul empat sore. Truk mereka seharusnya menempati jalur pintu belakang selama tiga puluh menit untuk menurunkan pendingin makanan," jelas Cala dengan nada profesionalnya yang biasa ia gunakan saat memarahi staf lapangan. "Tapi mereka memalsukan laporan kerusakan mesin truk dan baru datang pukul lima lewat lima belas menit. Saat itu, tamu VIP sudah mulai berdatangan di lobi utama. Pintu depan ditutup untuk vendor."

​Ronan menyipitkan matanya. Otak jenius pria itu memproses informasi dengan kecepatan luar biasa. "Lalu apa dampaknya pada rute lorong servis?"

​"Dampaknya sangat fatal," jawab Cala cepat. "Petugas keamanan hotel terpaksa mengalihkan seluruh vendor lain, termasuk asistenku yang membawa bunga lili, untuk menggunakan lift pengunjung di sayap kiri gedung. Pengalihan rute secara dadakan itu membuat lorong servis di sayap kanan menjadi zona mati. Lorong itu benar-benar kosong melompong. Tidak ada satupun staf atau pekerja hotel yang lewat di sana."

​Ronan menegakkan punggungnya. Pria itu melepaskan tangannya dari laptop. Ia menatap Cala dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kilat kekaguman kecil yang langsung tertutup oleh kabut ketegangan.

​"Berapa banyak staf Zeta Katering yang terdaftar masuk ke dalam hotel hari itu?" tanya Ronan. Pertanyaannya terdengar sangat spesifik.

​Cala mengingat-ingat kembali daftar absensi vendor yang ia pegang. "Dua belas orang. Sesuai dengan kontrak kerja mereka."

​"Lalu berapa orang yang benar-benar kamu lihat bekerja menyajikan makanan di stan mereka saat acara berlangsung?" kejar Ronan lagi.

​Mata Cala sedikit melebar. Ingatan hari itu kembali berputar di kepalanya. "Hanya lima orang. Aku sangat yakin. Aku bahkan sempat mencari manajer mereka untuk protes karena kekurangan tenaga pelayan membuat antrean makanan terlalu panjang."

​"Tujuh orang lainnya tidak pernah ada," gumam Ronan dingin. Pria itu menyilangkan kedua lengannya di dada. "Atau lebih tepatnya, tujuh orang itu menggunakan seragam Zeta Katering sebagai kedok untuk menyusup ke berbagai titik buta di hotel tanpa dicurigai."

​"Apa maksudmu tidak ada?" sanggah Cala bingung. "Mereka punya kartu akses resmi. Perusahaan katering itu nyata. Mereka punya kantor pemasaran, punya brosur mewah, bahkan klienku di telepon kemarin juga mengeluhkan pesanan dari mereka."

​"Zeta Katering bukan perusahaan penyedia makanan sungguhan, Cala," potong Ronan dengan nada suara yang membekukan ruangan.

​Cala terdiam kaku. Ia menatap pria itu dengan dahi berkerut rapat. "Bukan perusahaan sungguhan? Lalu apa? Mereka memasak makanan fiktif?"

​"Tim siber forensik kepolisian sudah mencurigai nama itu sejak enam bulan lalu," jelas Ronan panjang lebar. Ia mulai berjalan perlahan, mengitari meja kaca. "Zeta Katering adalah perusahaan hantu. Sebuah cangkang bisnis kosong yang sengaja diciptakan dan dioperasikan oleh sindikat kejahatan terorganisir."

​"Sindikat Valera Group?" tebak Cala dengan suara bergetar pelan.

​Ronan mengangguk tegas. "Tepat sekali. Sindikat itu menggunakan Zeta Katering untuk mencuci uang hasil kejahatan pasar gelap mereka. Caranya sangat rapi. Mereka membuat tagihan fiktif miliaran rupiah setiap bulannya untuk biaya logistik palsu, pembelian bahan makanan impor yang tidak pernah ada, dan pembayaran gaji untuk ratusan karyawan bayangan."

​Cala menutup mulutnya dengan telapak tangan. Otaknya berusaha keras mencerna skala kejahatan yang tidak sengaja ia sentuh.

​"Uang kotor dari transaksi ilegal masuk ke rekening Zeta," lanjut Ronan membeberkan fakta rahasia kepolisian. "Lalu uang itu dicuci, diputar melalui pembukuan palsu, dan keluar sebagai keuntungan sah perusahaan katering. Polisi selalu kesulitan melacak jejak mereka karena pembukuan mereka terlihat sangat sempurna di atas kertas."

​"Pantas saja," desis Cala pelan, menyambungkan teka-teki itu. "Pantas saja klienku kemarin sangat marah. Zeta membatalkan pesanan secara sepihak. Mereka memang tidak pernah berniat melayani pesanan katering sungguhan. Mereka hanya butuh nama klien untuk memalsukan faktur pajak pencucian uang mereka."

​"Dan ketika mereka menerima kontrak untuk pesta pernikahan di Hotel Grand Valera, mereka melihat peluang emas," tambah Ronan. Pria itu berhenti berjalan dan berdiri kokoh di depan Cala.

​"Peluang untuk membunuh CEO mereka sendiri?" tanya Cala ragu.

​"Konflik internal di dunia kejahatan selalu berujung pada pertumpahan darah. Mungkin CEO Valera itu berniat membocorkan rahasia sindikat, atau ada perebutan kekuasaan di tingkat petinggi. Motifnya bisa apa saja," urai Ronan rasional. "Yang jelas, pembunuh berjaket hitam yang mengejarmu malam itu bukanlah penyusup dari luar. Dia masuk ke dalam hotel menggunakan jalur resmi. Dia menyamar sebagai salah satu dari dua belas staf Zeta Katering."

​Cala menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ingatan tentang mata pembunuh yang menatap lurus ke arahnya di lorong hotel kembali menghantui pikirannya.

​"Dia menggunakan seragam katering, berjalan melewati alat pemindai logam tanpa dicurigai karena membawa pisau daging besar yang diklaim sebagai alat masak," ucap Cala dengan suara parau. Logikanya sebagai perencana acara membuat semuanya terlihat sangat masuk akal sekarang.

​"Dan dia menggunakan otoritas vendor katering untuk memanipulasi jadwal logistikmu," sambung Ronan. Nada suara pria itu terdengar semakin berat dan penuh penekanan.

​Cala meremas kedua tangannya yang terasa dingin di atas pangkuan. Ia menunduk menatap layar laptopnya yang masih menyala. Deretan angka merah itu kini terlihat seperti garis darah yang menghubungkan satu kematian dengan ancaman kematian lainnya.

​"Jadi, semua kekacauan vendor hari itu bukan kebetulan," bisik Cala pelan. "Tenda yang salah warna, bunga lili yang terlambat turun, semuanya bukan kecerobohan biasa."

​Ruang tamu apartemen itu terasa sangat sunyi. Suara dengung mesin pendingin ruangan bahkan terasa menyakitkan telinga. Fakta bahwa hidup Cala dimanipulasi sedemikian rupa oleh sindikat pembunuh bayaran membuat perutnya mual.

​Ronan mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas sandaran sofa, mengurung tubuh Cala. Wajah tampan yang biasanya kaku tanpa emosi itu kini memancarkan aura ketegangan dan bahaya yang sangat pekat.

​Mata tajam ahli forensik itu mengunci pandangan Cala, tidak membiarkan wanita itu memalingkan wajah sedikit pun.

​Ronan menatap Cala tajam, "Sekali lagi aku apkui, kau benar. Keterlambatan katering itu bukan kebetulan. Mereka sengaja mengosongkan lorong servis. Dan kau... masuk ke sana di waktu yang salah."

1
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
Fariedha Rahman Khan
suka bngett
berasa nonton adegan action
Fariedha Rahman Khan: mesame kak
semngt trus up nya ya
total 2 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai lg dramanya 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!