Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Jahat adalah Si Baik Yang Tersakiti
Jam menunjukkan pukul 15.45 sore, Bayu memarkirkan mobilnya tepat di depan kafe favorit Andin.
Sepanjang perjalanan, lelaki itu tak sekalipun melepas genggaman tangan istrinya. Aura posesifnya menguar sangat kuat.
“Mas, tolong jaga sikap ya,” pinta Andin lembut sebelum turun.
“Aku cuma mau menyelesaikan hubungan kami hari ini.”
Bayu menatapnya dalam, lalu mengangguk pelan. “Aku ikut.”
“T-tapi mas….”
“Sayang…..” Bayu memberikan tatapan peringatan pada sang istri.
Andij yang malas berdebat, akhirnya mengangguk patuh.
Mereka lalu masuk bersama. Bian ternyata sudah menunggu, ia duduk di meja pojok dekat jendela—spot favorit keduanya.
Senyum Bian langsung merekaj saat melihat Andin. Namun seketika lenyap saat melihat seorang lelaki tak dikenal yang berdiri tepat di samping kekasihnya. Tangan besar lelaki itu melingkar posesif di pinggang Andin.
“Andin…” Bian berdiri, suaranya kaku. “Kamu bawa…. Teman?”
Bayu menarik kursi untuk Andin, lalu duduk di sebelahnya.
“Suami.” Jawabnya tanpa ditanya. Begitu dingin dengan tatapan tajam.
Bian terbelalak. “Suami?!”
Andin menarik napas dalam. Tangan Bayu di bawah meja menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan. Pelayan datang, mereka memesan minuman, tapi suasana sudah sangat tegang.
“Bi…… aku minta maaf harus bilang ini di sini.” Mulai Andin dengan suara pelan tapi tegas.
“Hal penting yang ingin aku sampaikan itu adalah….. kita harus mengakhiri hubungan ini.”
Bian terdiam beberapa detik, wajahnya memucat. Kemudian
“J-jadi… kamu selingkuh, Din?!“
Andin terbelalak kaget atas kata-kata Bian.
“B-bukan begitu, bi—”
“Kamu bilang mencintaiku, Din. Kamu bilang hanya aku satu-satunya. K-kamu—” suara Bian naik, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
Bayu langsung menegang, rahangnya mengeras. Andin cepat meremas lengannya agar tetap tenang.
“Bi, dengarkan dulu penjelasanku.” Ucap Andin tegas.
“Aku memang sudah menikah dengan Bayu. Tapi ini bukan perselingkuhan seperti yang kamu pikirkan.”
Andin menatap Bian langsung di matanya.
“Mas Bayu….. adalah calon suami kak Annisa.”
Bian membeku. Wajahnya pucat pasi. “Kak Nisa? Kakakmu yang…?”
Andin mengangguk pelan, suaranya agak bergetar. “Iya. Kak Annisa meninggal sehari sebelum pernikahannya dengan Mas Bayu. H-1. Kecelakaan itu… mengubah segalanya.”
Ruangan seolah hening. Bian bersandar ke kursi, tangannya gemetar saat menyentuh gelas iced americano-nya.
“Jadi… kamu menggantikan kakakmu? Kamu menikah dengan pacar kakakmu sendiri?”
Andin mengangguk lagi. “Benar. Aku menggantikan posisi Kak Annisa. Pernikahan tetap dilangsungkan karena banyak alasan keluarga dan… takdir yang rumit.”
Bian mengusap wajahnya kasar, ekspresinya campur aduk antara terkejut, tidak percaya, dan kasihan. “Kenapa, Din? Kenapa kamu mau melakukan itu? Menggantikan kakakmu sendiri? Menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparmu? Bagaimana bisa Din?”
Andin menunduk sebentar, mencari kata-kata. Bayu mengelus punggung tangannya dengan ibu jari, memberi dukungan tanpa suara.
“Awalnya… memang karena permintaan keluarga besar dan situasi yang sangat mendesak,” jawab Andin jujur.
“Tapi seiring waktu, aku jatuh cinta pada Mas Bayu. Sungguh. Bukan karena kewajiban lagi, tapi karena dia… suamiku.”
Bian tertawa pahit, matanya berkaca-kaca. “Hahaha….” Tawa Bian mengudara. Dingin dan gersang.
“Kamu mencintainya, Din? Secepat itu? Padahal beberapa bulan sebelumnya kamu bilang hanya mencintaiku!”
Andin menundukkan kepala dalam. Merasa malu dengan dirinya sendiri.
“A-aku benar-benar minta maaf, Bi. Semua ini salahku. Aku berhak kamu benci.”
“Hahaha.” Bian tertawa lagi, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Aku? Membenci kamu, Din?! Mustahil!” Bian membentak, mulai hilang kesabaran.
“Aku cinta sama kamu, Andin!! D-dan kamu…. K-kamu malah menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuan aku, pacar kamu!!”
Andin menggeleng keras, tanpa suara.
“Kalau ini April Mop, aku mohon berhenti sekarang Din. Ini tidak lucu.” Pinta Bian, nadanya kian lemah.
“Aku serius, Bi.” Jawab Andin lagi.
Bayu yang sedari tadi hanya menyaksikan, sambil menenangkan sang istri. Kini akhirnya angkat bicara, suaranya rendah dan penuh otoritas.
“Andin sudah menjadi istri saya sekarang, Bian.” Bayu menegaskan.
Mata Bian menatap Bayu lama, lalu kembali ke Andin.
“Apa kamu bahagia, Din? Menikah dengan orang asing sepertinya?”
Andin tersenyum kecil, meski matanya sedikit berkaca. “Aku bahagia, Bi. Mas Bayu… dia mencintaiku dengan sepenuh hati.”
Jawaban yang keluar dari bibir Andin itu, kian memperparah luka di hatinya.
Gadis itu seharusnya tidak menjawab demikian, teriaknya dalam hati.
Bian menghela napas panjang. Ia lalu berdiri, tak lupa meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
“Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua. Ini… terlalu berat. Aku kira kamu akan bilang kita akan menikah, ternyata malah… ini.”
Ia melirik Andin sekali lagi. “Kalau suatu saat kamu butuh teman bicara… sebagai teman, aku masih ada. Tapi aku mengerti kalau kamu tidak akan menghubungiku lagi.”
“Terima kasih, Bi dan maafkan aku,” bisik Andin.
Setelah Bian pergi, Bayu langsung menarik Andin ke dalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala istrinya dalam-dalam.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Bayu lembut.
Andin mengangguk di dada suaminya.
“Lega, Mas. Akhirnya selesai juga.”
Bayu mengangkat dagu sang istri, menatapnya penuh cinta.
“Kamu hebat hari ini, sekarang saatnya pulang. Aku ingin menunjukkan betapa bangganya aku memiliki istri seperti kamu.”
Andin tersipu, wajahnya memerah saat melihat kilatan hangat di mata Bayu. Kedua berjalan beriringan menuju tempat mobil terparkir.
Didalam mobil, Andin tiba-tiba meminta Bayu untuk menuju makam kakaknya sebentar. Bayu mengangguk tanpa ragu. Mereka memang sudah lama tidak berkunjung. Keduanya juga sempat membeli buket bunga melati yang besar untuk dibawa.
Pukul 17.30 pasangan itu sudah berdiri di depan makam Annisa. Andin meletakkan buket bunga itu pelan, lalu mengelus nisan kakaknya lembut.
“Hai kak. Aku datang.” Andin menyapa makam itu, berharap kakaknya ikut mendengarkan.
“Saya juga datang, Nis.” Bayu ikut menyapa, nadanya riang.
“Aku harap, kakak bahagia disana. Dan maaf.” Andin menjeda kalimatnya, bernapas dalam. “Maaf karena menikah dengan mas Bayu.“ Andin menunduk dalam, air matanya jatuh.
Bayu di sampingnya hanya diam, tangannya membelai punggung sang istri yang bergetar pelan.
Ziarah itu berlangsung penuh haru. Air mata Andin tidak pernah kering hingga mereka pulang. Di mobil pun, ia masih tersedu-sedu.
“A-aku jahat kan mas? Aku adik paling jahat sedunia.” Katanya, disela-sela isakannya.
“Tidak sama sekali, sayang.” Bayu menjawab sembari menggeleng pelan. “Jangan menangis lagi yaa…. Aku mohon…” Pinta Bayu dengan nada memelas yang kentara.
Andin mengusap kasar air mata pada pipinya.
“K-kenapa?” Polos Andin, air mata berlinang di pelupuk matanya.
“Saya juga sakit, Din. Hati saya terasa seperti dicabik-cabik.” Jawab Bayu lembut.
Saat hendak melanjutkan kata-katanya, telpon genggamnya bergetar pelan. Ia segera meraih dan mengangkatnya.
“Halo, Rafa. Ada apa?”
“Apa maksud kamu, Raf?”
“Baiklah, saya segera ke sana.” Sambungan terputus.
“Ada apa mas?” Andin bertanya penasaran, tangisannya sudah berhenti.
“Anak laki-laki Rafa menghilang. Diculik.” Kata-kata itu meluncur dingin dari Bibir Bayu. Tatapannya mengeras.
Andin dapat ikut merasakannya.
“Ini sudah yang kesembilan kalinya.” Bayu berkata lagi tanpa perlu ditanya. Datar dan tanpa ekspresi.
“Ha?” Beo Andin.
“Penculikan ini.”
……
Sementara Bian di balik kemudi mobilnya, baru saja mematikan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Ia menyeringai puas.
“Jika kamu memilih siluman sialan itu, maka aku tidak punya pilihan lain lagi sayang. Aku tinggal membuat hidup kalian seperti di neraka saja.” Ujarnya dengan senyum mengerikan.
“Hahahahahahaha.” Bian tertawa keras, tampak sangat puas.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/