NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH SINGGAH

Dengan jari-jari yang sedikit kaku, Kirana membuka segel berkas tersebut. Di lembar pertama, langsung terlihat sebuah logo yang sangat ia kenal: Yayasan Kanker Anak Nalini. Di bawah logo tersebut, tertulis kalimat tebal: LAPORAN PERALIHAN DAN PENGELOLAAN ASET HIBAH MUTLAK.

​Mata Kirana menyusuri setiap baris ketikan dalam dokumen legal tersebut. Air mukanya yang semula tegang perlahan-lahan melembut, digantikan oleh rasa tidak percaya yang bercampur dengan keharuan yang membuncah.

​"Seluruh harta gono-gini itu... rumah kita di Pondok Indah, ruko di Mangga Dua, dan sisa rekening bersama yang berhasil kita selamatkan dari blokir bank... semuanya sudah resmi?" suara Kirana tercekat di tenggorokan.

​"Sudah resmi, Na. Semuanya sudah seratus persen berpindah tangan menjadi milik yayasan," jawab Bimo, matanya berbinar bangga. "Aku sendiri yang mengawal proses akta notarisnya hingga ketukan palu terakhir di pengadilan.

Pengacara Aris sempat mencoba banding, menuntut agar setengah dari nilai rumah Pondok Indah itu dikembalikan kepada Aris untuk membayar utang-utang pribadinya. Tapi aku menggunakan kartu as kita: bukti transfer penggelapan dana yang dia lakukan dari rekening perusahaan mendiang ayahmu. Mereka tidak punya pilihan selain mundur atau menghadapi tambahan hukuman sepuluh tahun penjara."

​Kirana membalik halaman dokumen itu. Di sana terlampir beberapa lembar foto berwarna. Jantung Kirana berdegup kencang, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa takjub yang luar biasa.

​Foto-foto itu menampilkan rumah mewah dua lantai di kawasan elite Pondok Indah—rumah yang dulu ia desain bersama Aris selama dua tahun, rumah yang di setiap sudutnya dulu dipenuhi oleh barang-barang antik mahal dan kemunafikan sebuah pernikahan yang tampak sempurna dari luar namun busuk di dalam.

​Namun kini, rumah itu telah berubah total. Pagar besi hitam yang tinggi dan angkuh itu telah dicat ulang dengan warna biru langit yang cerah. Di halaman depan yang dulunya merupakan taman rumput minimalis yang kaku, kini berdiri sebuah area bermain anak-anak dengan perosotan plastik berwarna-warni, ayunan, dan sebuah bak pasir besar.

​Papan nama besar di depan rumah itu kini bertuliskan: RUMAH SINGGAH NALINI: Tempat Berteduh dan Belajar Anak-Anak Pejuang Kanker.

​"Kamar utama kalian, Na..." Bimo berbicara dengan nada yang sangat hati-hati, tahu betapa traumatisnya ruangan itu bagi Kirana—tempat di mana ia pertama kali menemukan bukti-bukti pengkhianatan Aris di atas ranjang mereka sendiri. "Sekarang sudah dirombak total. Dindingnya dicat warna kuning pastel dengan gambar-gambar karakter kartun hewan. Yayasan menjadikannya ruang bangsal bermain dan perpustakaan kecil.

Saat aku berkunjung ke sana dua minggu lalu untuk menyerahkan kunci terakhir, ada sekitar lima belas anak dari luar kota anak-anak nelayan dari Pantura, anak-anak petani dari Sumatera yang sedang menginap di sana selama menjalani jadwal kemoterapi di RSCM.

Mereka bermain kapur di lantai marmer yang dulu sangat kamu jaga itu."

​Air mata Kirana akhirnya luruh juga, menetes pelan mengenai permukaan kertas dokumen yang licin. Namun, itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata pembersihan.

​Selama setahun ini, ia selalu merasa bahwa rumah itu adalah monumen kegagalannya sebagai seorang wanita, sebuah kuburan bagi impian-impian masa mudanya.

Mendengar bahwa rumah yang sama kini dipenuhi oleh tawa anak-anak yang sedang berjuang melawan maut, memberikan sebuah kepuasan spiritual yang tidak bisa dinilai dengan angka materi apa pun.

​"Lantai marmer itu... dulu aku sering bertengkar dengan Aris kalau pembantu kami lupa memolesnya seminggu sekali," kata Kirana sambil menyeka air matanya dengan tisu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.

"Aris bisa sangat marah kalau ada goresan sekecil apa pun di lantai itu. Sekarang, lantai itu digambari dengan kapur warna-warni... itu sangat puitis, Bim."

​"Tepat sekali," sahut Bimo.

"Uang dan aset yang sempat menjadi sumber kutukan dalam hidupmu, sekarang bertransformasi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Kamu tidak membiarkan Aris memilikinya, dan kamu juga tidak menggunakannya untuk dirimu sendiri karena kamu tahu uang itu berlumur darah dan kebohongan. Kamu memberikannya pada anak-anak itu. Itu adalah keputusan paling elegan yang pernah kulihat dari seorang klien sepanjang karier hukumku."

1
Dinarta Firdaus
good
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!