NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 09 : Tiba di Kerajaan Durasec

Sudah sepuluh hari sejak Lacus dan Yula melakukan perjalanan dari Desa Hijau. Banyak hal yang mereka temui dalam perjalanan dan tentu juga berbagai kendala dan masalah, namun semua itu mereka berdua lewati dengan baik. Tentu mereka tak mau mengulur waktu dalam perjalanan dan tetap terus berjalan ke tujuan mereka menuju Kerajaan Durasec.

Yula menelangkupkan telapak tangan kanannya di depan dahi, dari kejauhan mata memandang gerbang Kerajaan Durasec akhirnya terlihat. Tinggal beberapa meter lagi mereka akan sampai pada perbatasan wilayah Durasec, namun sebelum itu mereka harus menyeberangi sebuah jembatan sepanjang sembilan meter.

.

.

.

Seorang penjaga gerbang kerajaan melihat kedatangan kereta kuda asing ke wilayah mereka. Ia melihat melalui teropong, tampak dua gadis yang mengendarai kereta kuda tersebut. Ia langsung melaporkannya pada Ketua Penjaga Gerbang. Mendapat laporan tersebut sang ketua langsung ke menara untuk melihat lebih jelas kedua gadis tersebut lewat teropongnya. Ia melihat tanda Kerajaan Hearthose pada badan kereta.

Tiba-tiba gadis yang lebih kecil—sepertinya ia tahu bahwa kehadiran mereka telah diketahui—melambaikan tangan ke arahnya. Gadis yang satunya pun ikut mengalihkan pandangan padanya, memberikan senyuman ramah dan memerlihatkan kalung yang ia kenakan, bandul dengan lambang Kerajaan Woerlt.

“Itu mereka! Utusan dari Kerjaan Woerlt. Cepat buka gerbangnya, dan sambut Tuan Putri Woerlt! Sampaikan berita ini ke istana! Langsung kepada raja kita!”

Ketua itu langsung memberi perintah hingga membuat semua anak buahnya panik. Empat penjaga langsung menaikkan tuas agar gerbang terbuka, dan seorang penjaga mengendarai kuda menuju istana untuk memberi tahu hal tersebut kepada Raja Durasec.

.

.

.

Gerbang pun terbuka tepat saat kereta kuda tersebut tiba di depan gerbang. Para penjaga gerbang langsung memberi salam pada Lacus dan Yula, terutama sang ketua penjaga gerbang.

“Selamat datang di Kerajaan Durasec, Yang Mulia Putri Woerlt. Kami telah menanti kedatangan Anda. Maaf, tidak banyak yang bisa kami perbuat saat Anda tiba, karena kami tak dapat informasi yang jelas akan perjalanan Anda menuju kerajaan kami,” salam Ketua Penjaga Gerbang dengan penuh rasa hormat.

“Saya merasa senang jika kedatangan saya membuat seluruh orang di Kerajaan Durasec terkejut. Itu, menarik, bukan?” jawab Lacus dengan senyum ramahnya seperti biasa.

Meski begitu, hanya Yula yang tahu dibalik senyuman yang diperlihatkan Lacus kepada Ketua Penjaga Gerbang. Yula menyebutnya sebagai senyuman terpaksa keadaan. Ia ingat Lacus pernah mengatakan ketidaksukaannya akan orang-orang kerajaan ini, tapi alasannya tak diberitahu kenapa. Hal itu membuat Yula semakin penasaran akan sifat-sifat masyakarat Durasec maupun keluarga kerajaan yang memerintah kerajaan ini.

Ketua Penjaga Gerbang tersebut langsung menawarkan diri untuk menuntun kereta Lacus dan Yula menuju istana. Ia pun menaiki kudanya, mengendarainya di samping kereta kuda Hearthose. Dan ada tiga penjaga gerbang yang mengikuti mereka di belakang sebagai pengawal. Mereka pun pergi bersama menuju istana Durasec sambil bercakap-cakap santai. Dan gerbang kerajaan pun ditutup.

“Maaf Yang Mulia Putri, siapa gadis kecil ini? Apa ia rekan pertama Anda?” terka Ketua Penjaga Gerbang.

“Iya. Namanya Yula Athhra dari Kerajaan Hearthose,” jawab Lacus.

Dengan sikap riang Yula memperkenalkan dirinya. “Namaku Yula Athhra, anak ketiga dari Raja dan Ratu Hearthose. Salam kenal, Pak~.”

Ketua Penjaga Gerbang itu senang melihat wajah cerianya Yula. “Hoho.... Jadi Anda Tuan Putri Hearthose? Pantas, terlihat wajah ceria orang Hearthose ada pada Anda, Tuan Putri Yula.” Laki-laki itu membungkukkan badan sedikit memberi salam hormat pada perkenalannya dengan Yula.

“Panggil Yula saja, Pak.” Yula mengatakan itu karena ia masih risih dengan panggilan Tuan Putri meski ia memang seorang putri kerajaan.

“Ohhoo, tidak, tidak. Saya merasa sangat lancang jika memanggil Tuan Putri dengan sebutan nama saja,” elak Ketua Penjaga Gerbang sopan.

Mereka menyusuri jalan, di mana sebelah kanan mereka ada sawah yang masih hijau, dan sebelah kiri ada perkebunan apel, dengan selingan rumah dari pemilik kebun dan para pekerja. Beberapa dari mereka yang tengah bekerja melihat ke arah kereta kuda yang melewati mereka dengan perasaan heran dan satu pertanyaan dalam hati, siapa gerangan yang tiba di kerjaan mereka.

Yula sangat menikmati pemandangan hijau menuju istana, pemandangan yang asri dan tenang. Ia jadi teringat tujuan lainnya setiba di Kerajaan Durasec.

“Bapak Ketua Pengawas Gerbang,” panggil Yula kemudian.

“Panggil saja hamba Luweis, Tuan Putri Yula,” pinta Ketua Penjaga Gerbang. “Ada apa, Tuan Putri? Ada yang ingin Anda tanyakan?”

Yula mengangguk. “Apa jarak istana ke pemukiman penduduk jauh?” tanyanya.

Luweis memberikan ekspresi heran. “Hmm... tidak terlalu jauh, Tuan Putri. Sekitar dua kilometer dari gerbang istana. Memangnya ada apa, Tuan Putri?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan,” jawab Yula ringan.

“Yula!” Lacus terperanjat mendengar keinginan rekan pertamanya itu. “Kita baru saja sampai di Durasec, jangan pergi sebelum kita menyapa Raja Durasec terlebih dahulu!” ingat Lacus berbisik pada Yula. Lacus tak habis pikir dengan keinginan Yula, tapi tak begitu terkejut mengingat keingintahuan anak itu tinggi akan segala hal.

“Eeh, gak boleh, ya?” Yula cemberut kecewa.

Lacus tak tega melihat raut wajah kecewa itu, ia pun memutar akalnya.

“Baiklah,” ucapnya kemudian. Jari telunjuknya berdiri mengisyaratkan Yula untuk tidak memotong perkataannya. “Dengan syarat kita harus bertemu dengan Raja Durasec terlebih dahulu!”

“Oke~, Yula tahu kok, Kak. Kakak tak usah cemas, bahkan mengatakan hal yang sama dua kali. Sebadung apapun Yula tahu sopan-santun sebagai tamu dan putri kerajaan, kok. Tenang saja~,” balas Yula berbisik. “Dan lagi...,” ia semakin memperkecil suara, “aku akan mencari informasi sebanyak mungkin yang ingin Kak Lacus ketahui.” Yula mengedipkan satu mata, lalu membuat bulatan dengan sambungan jari telunjuk ke ibu jari.

Bibir Lacus membulat dan ikut membuat bulatan jari.

“Tapi tambahin modal, ya,” canda Yula.

“Kau ini! Kecil-kecil sudah bisa memanfaatkan orang dengan uang,” kesal Lacus. Ia pun mencubit pinggangnya Yula.

“Sakiiiit!” erang Yula.

Luweis tertawa melihat keakraban dua putri kerajaan di sampingnya. Mendengar tawa Luweis beserta pengawal di belakang mereka, Lacus dan Yula menghentikan candaan mereka dan mengambil sikap diam layaknya seorang putri kerajaan.

Yang terlihat malu ialah Lacus, sedangkan Yula bersikap biasa saja dan sedikit tertawa kecil melihat wajah Lacus yang memerah. Lacus mencubit lengan Yula dengan cepat dan tangannya kembali memegang tali kekang kuda. Yula hanya bisa mengaduh kecil, tak berniat membalas.

Tak lama mereka pun sampai di istana Kerajaan Durasec. Kedua mata Yula terkagum melihat istana Durasec. Ini pertama kali baginya berada di istana kerajaan lain selain Kerajaan Woerlt yang pernah ia kunjungi saat usianya lima tahun bersama dengan ayahandanya menghadiri sebuah pertemuan. Ia jadi teringat saat itulah pertama kalinya ia bertemu dengan Lacus, meski sebenarnya ia telah bertemu dengan Lacus saat ia masih dalam timangan.

Kereta kuda berhenti di depan beranda menuju pintu utama istana. Lacus dan Yula pun turun dari kereta, begitu pula Luweis dan kedua anak buahnya turun dari tunggangan mereka. Kedatangan mereka disambut oleh lima pengawal, salah seorang berdiri paling depan memberi salam hormat pada Lacus.

Pengawal istana tersebut memberikan pengawalan kepada mereka berdua menuju ruang singgahsana Raja. Mereka pun memasuki istana diiringi para pengawal tersebut. Sedangkan Luweis dan dua anak buahnya mengundurkan diri sesaat sebelum Lacus dan Yula masuk ke istana.

Istana Kerajaan Durasec memiliki relief duragon di setiap tiang yang berdiri di sisi-sisi koridor istana. Sosok makhluk buas yang sangat besar dan ditakuti manusia, yang dapat menghembuskan api dari mulut mereka, membakar apa saja yang ada di hadapannya, terpahat dengan berbagai bentuk dan ekspresi.

Yula terkesima dengan sebuah lukisan besar yang terletak di ruang tengah istana—ruang menuju singgahsana raja—yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan duragon. Yula tidak begitu yakin apa gambar itu menceritakan hubungan kedekatan antara manusia dengan duragon atau malah sebaliknya. Ekspresi dua makhluk itu sangat membara di kelilingi oleh api. Jika tak disadarkan oleh Lacus, mungkin Yula akan terpaku di depan lukisan itu dan bisa tertinggal.

Sejarah umum yang diketahui, Kerajaan Durasec merupakan keturunan dari sekelompok manusia yang dapat mengendalikan duragon di masanya. Namun bagaimana cara mereka menakhlukan makhluk buas tersebut tak ada yang tahu pasti. Dan ada dua sejarah yang bertolak belakang tentang para pengendali duragon tersebut.

Ada sejarah yang mengatakan bahwa para pengendali duragon tersebut ialah manusia pilihan yang kekuatan maupun magica melebihi apapun hingga dapat menguasai sekumpulan duragon untuk mengendalikan dunia. Ada juga sejarah yang mengatakan bahwa para pengendali duragon sebenarnya merupakan duragon yang dapat berubah wujud menjadi manusia dan bekerjasama dengan Seven Knights untuk menciptakan kedamaian di atas tanah Crymane.

Lacus dan Yula pun tiba di singgahsana Raja Durasec. Raja telah menunggu mereka, ia langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Putri Kerajaan Woerlt dan seorang gadis kecil di sampingnya. Para pengawal Lacus dan Yula menjaga jarak dari mereka, menunduk untuk memberi hormat kepada Raja mereka lalu berdiri menepi. Lacus dan Yula juga langsung memberikan salam hormat kepada Raja Durasec.

“Selamat datang di kerajaan kami, Tuan Putri Woerlt. Kami sangat senang atas kedatangan Anda,” sambut Raja Durasec dengan sopan.

“Terima kasih atas sambutan Yang Mulia Raja,” balas Lacus menunduk hormat.

“Perjalanan Anda pasti sangat melelahkan. Bagaimana kalau kita bicara sambil duduk?” saran Raja Durasec.

Tangan kirinya terbuka diarahkan pada sebuah set meja dengan lima kursi mengelilinginya tak jauh dari singgahsana. Raja pun turun dan berjalan lebih selangkah dari Lacus dan Yula menuju meja tersebut. Raja pun duduk dan mempersilahkan kedua putri duduk, berselang beberapa detik para dayang hadir membawakan beberapa piring kudapan dan minuman.

“Silakan makanan dan minumannya, tak perlu sungkan,” tawar Raja.

“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab Lacus.

Namun Lacus enggan untuk mencicipi satu pun makanan maupun sedeguk minuman. Sedangkan Yula menahan dahaga menunggu Lacus terlebih dahulu mengambil gelasnya, tapi itu tidak terjadi. Lacus lebih memilih bicara dengan Raja daripada menikmati hidangan lezat di depan mereka. Yula memajukan bibirnya sedikit, ia merasa sangat bosan dengan keformalan kerajaan.

“Membahas perwakilan yang akan diutus untuk menemani perjalanan Anda, Tuan Putri, apa Anda memiliki syarat khusus yang akan diajukan?” tanya Raja. “Mengingat hal ini pertama kalinya bagi kerajaan kami terpilih untuk mengutus seseorang dalam perjalanan mencari Batu Kristal Kehidupan.”

“Jikalau saya boleh bicara jujur, hal tersebut tentu ada. Tapi saya tidak bisa mengatakannya secara terbuka. Jika ada yang memenuhi syarat, saya akan langsung menentukannya sebagai rekan dalam perjalanan saya,” jawab Lacus tanpa menghilangkan rasa hormat pada Raja Durasec.

Ia menolak untuk memberitahu yang sebenarnya bagaimana ia bisa menentukan seorang pengendali, karena hal itu hanya boleh diketahui oleh para pengendali Batu Kristal Air, juga keturunan dari sang pemimpin Seven Knights, the Tranquillity Aqua. Semua itu demi keamanan informasi agar kekuatan batu kristal tidak dapat dimanipulasi oleh orang-orang jahat.

“Saya tidak mengerti. Mengapa Anda merahasiakan persyaratan perwakilan sebagai rekan dalam perjalanan Anda.” Raja agak kecewa dengan jawaban Lacus. Ia ingin tahu syarat khusus itu agar ia lebih mudah memilih salah seorang anaknya sebagai perwakilan dalam perjalanan menemani Putri Woerlt. Raja melihat ke arah Yula. “Bagaimana dengan gadis kecil ini? Tidakkah ia masih sangat muda untuk dijadikan rekan dalam perjalanan Anda?” herannya.

Yula selalu merasa kesal setiap orang dewasa yang selalu meremehkan dirinya, siapa pun itu termasuk ayahandanya sekaligus. Tapi ia hanya bisa diam, menahan emosi. Jika ia menjawab hal tersebut sangat tidak sopan, dan lagi itu bisa membuat Lacus malu.

Lacus memiliki perasaan yang sama dengan Yula. Geram. Namun ia tetap tersenyum.

“Yula telah memenuhi syarat khusus dari saya, Yang Mulia. Ia sangat cocok menjadi rekan dalam perjalanan saya. Saya tak pernah salah dalam memilih,” jawab Lacus membela Yula.

Yula menatap Lacus, lalu tersenyum. Ia sangat senang mendengar jawaban Lacus, ia merasa seseorang yang paling beruntung dapat terpilih menjadi salah satu pengendali batu kristal di usianya yang terbilang sangat muda.

“Benarkah?” Raja merasa tak yakin. “Gadis kecil ini, apakah ia perwakilan dari Kerajaan Hearthose?” tebak Raja.

“Iya,” jawab Lacus singkat.

Yula berdiri, memberi hormat pada Raja untuk memperkenalkan diri. “Mohon maaf karena telat memperkenalkan diri. Saya Yula Athhra, anak ketiga dari Raja dan Ratu Athhra, perwakilan dari Hearthose, Yang Mulia Raja Durasec,” ucap Yula dengan mantap, ia tak melupakan nada bicara yang sopan seperti yang sering diajarkan oleh guru maupun ibundanya di istana.

Raja Durasec mengangguk sekali, lalu memegang janggut putihnya. “Sangat diherankan, kenapa kerajaan besar seperti Hearthose mengutus seorang anak kecil dalam perjalanan suci ini? Apa mereka tak serius akan hal ini?”

“Yula bukan anak kecil!” kesal Yula spontan. Sedetik kemudian ia sadar telah bicara dengan nada tinggi pada seorang raja, ia langsung menutup mulut. “Maaf, Yang Mulia Raja” sesalnya, ia kembali duduk.

“Justru Raja Hearthose sangat serius mengenai perjalanan suci ini, Yang Mulia,” Lacus kembali membela pilihannya dengan menekankan kata suci yang bermaksud menertawai kata tersebut, karena perjalanan mereka bukanlah sebuah ritual keagamaan. “Yula memiliki syarat yang saya inginkan dalam perjalanan ini. Selain kekuatan magica-nya yang setara dengan orang dewasa, ia memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas. Pasti tidak ada yang menyangka dengan kemampuan gadis kecil seperti Yula.”

“Benarkah?”

Raja masih tak percaya kenapa anak kecil, tidak, gadis kecil seperti Yula bisa ikut dalam perjalanan yang sangat tidak aman itu. Sangat tidak cocok dengan anak seusianya.

Seorang dayang masuk ke ruang singgahsana raja. Ia tampak terlihat tua namun sikap dan cara berjalannya terlihat sangat berwibawa. Dayang itu langsung memberi hormat pada Raja akan kedatangannya. “Yang Mulia Raja, ruang istirahat untuk Yang Mulia Putri Woerlt sudah kami siapkan,” lapornya sambil membungkukkan badan.

“Seperti yang dikatakan Damia, ruang istirahat Anda Putri telah disiapkan, lebih baik Anda beristirahat terlebih dahulu. Damia, kepala dayang ini yang akan menuntun Anda ke ruang istirahat. Kita tunda dulu percakapan ini untuk nanti,” usul Raja.

“Terima kasih, Yang Mulia. Kalau begitu, kami mohon permisi dulu.”

Lacus berdiri diikuti oleh Yula. Raja mempersilahkan mereka untuk pergi menuju kamar mereka yang dituntun oleh kepala dayang dan beberapa dayang lain yang telah menunggu di luar. Diselang itu, Raja memerintahkan tangan kanannya untuk membawa kabar darinya pada seluruh anaknya untuk berkumpul sebelum makan malam perihal membicarakan siapa yang akan mewakili Kerajaan Durasec dalam perjalanan menemani Putri Kerajaan Woerlt mengumpulkan kristal-kristal kehidupan.

Lacus dan Yula tiba di kamar mereka. Para dayang tengah menyiapkan air hangat untuk mereka mandi. Lalu yang lainnya menyediakan makan siang karena kedatangan mereka telah lewat dari makan siang.

“Kak Lacus~,” rengek Yula lagi.

Para dayang yang berada di dekat mereka terkejut mendengar Yula memanggil Lacus dengan sebutan kakak bukan tuan putri. Mereka hanya berhenti bekerja beberapa detik tanpa berkomentar. Yula tak menghiraukan reaksi para dayang, menghampiri Lacus.

“Ada apa?” tanya Lacus lembut.

“Tadi kan udah janji. Yula mau jalan-jalan~. Ayolah, plis, plis~.”

Yula bertambah merengek memohon untuk diberi waktu untuk berkeliling ke desa terdekat.

Lacus menghela napas, agak kesal. Ia tahu sifat Yula dan betapa kuatnya keinginan anak itu jika menginginkan sesuatu. Jika dilarang atau ditundapun anak itu akan terus merengek padanya, dan itu buruk di mata para penghuni istana. Tapi Yula pergi bukan untuk bersenang-senang belaka, anak itu berjanji akan mencari informasi apapun yang terjadi di dalam masyarakat Durasec.

Dengan keahlian Yula yang sudah terbiasa membaur dengan rakyat biasa, anak itu memiliki magica dan kecerdasan hingga tak perlu cemas bila anak itu hanya berjalan-jalan berkeliling desa.

Lacus pun menghela napas. “Baiklah. Tapi ingat!” Lacus menaikkan jari telunjuk sebagai syarat. “Kamu harus tiba lagi di kamar ini setengah jam sebelum makan malam! Kamu harus mandi dulu, mandi dengan bersih hingga aku tak mencium lagi bau keringat matahari. Mengerti?”

Yula tertawa mendengar nasihat Lacus yang seperti ibundanya. Ia mengangkat jempolnya. “Sip! Terimakasih, Kak Lacus~”

“Dan—”

Yula yang akan berlari ke luar ruangan terhenti. Ia kembali dan berdiri di depan Lacus, Lacus memegang kedua pundaknya, memberitahu suatu hal. “Cari informasi sebanyak-banyaknya,” bisik Lacus. Ia menyelipkan beberapa koin dalam kantong baju Yula.

Yula tertawa kecil, menyipitkan matanya, “Oke!” balasnya dengan suara berbisik juga.

Lacus melepaskannya, tapi ia masih cemas dengan apa yang akan anak itu perbuat di desa nantinya. Semoga bukan kerusuhan. Bukan anak itu yang mencari keributan, ia akan bertindak tanpa berpikir panjang jika ada kejahatan di depan matanya. Benar-benar anak yang baik, bukan?

Dan Yula pun berlari keluar kamar dengan riang. Para dayang hanya tercengang melihat tingkah Yula yang tak tampak seperti seorang putri kerajaan.

“Jangan berlarian di koridor!” kata Lacus yang sadar telat menasihati Yula akan hal itu karena anak itu sudah menghilang secepat angin. Kemungkinan besar ia telah berlari di koridor. “Ya, ampun, anak itu!” Lacus hanya bisa menggelengkan kepala. “Jangan dipikirkan tingkah anak itu. Ia... hanya hiperaktif. Ia tanggung jawabku,” jelas Lacus kemudian pada para dayang yang masih terheran dengan sikap Yula barusan.

Setiba di luar kamar, Yula sadar sendiri akan tingkahnya kekanankan. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri kalau ia tidak di istananya, ia ada di istana orang lain, dan ia harus menjaga sikapnya agar Lacus tak malu karenanya.

Ia berhenti berlari dan berjalan layaknya seorang putri kerajaan, tapi tetap dengan langkah tergesa-gesa. Ia sudah hapal jalan yang ia lalui, koridor-koridor istana sehingga ia tak sulit menemukan jalan keluar. Para penjaga gerbang istana heran akan kehadiran Yula yang seorang diri, tanpa kehadiran Putri Kerajaan Woerlt, tanpa pengawal sama sekali. Yula malah menyapa mereka dengan akrab seperti sudah kenal lama, menghiraukan keherenan para pengawal yang tak tahu apa harus senang disapa seorang putri kerajaan.

“Itu... bukannya yang bersama dengan Putri Kerajaan Woerlt?” tanya salah seorang penjaga setelah Yula melewati mereka.

“Benar. Kemana dia pergi seorang diri?”

Para pengawal itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!