NovelToon NovelToon
Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintapertama / Supernatural / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:137.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isnasari Sulfia Handriyani

Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.

Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.

Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.

Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.

Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.

Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detektif Gadungan

Dua perempuan muda itu berjalan di lorong kampus yang tidak biasa mereka datangi. Kali ini mereka mengunjungi kampus jurusan matematika. Ada sesuatu yang ingin mereka lakukan. Baju yang mereka pakai pun tidak seperti biasanya. Keduanya dibalut dengan kaos hitam, celana hitam dan ada topi hitam yang bertengger di kepala.

“Kita ngapain pakai baju hitam-hitam begini sih San?”

“Dengerin aku ya Dhis, yang namanya lagi jadi detektif buat mengikuti seseorang itu harus pakai hitam-hitam, biar nggak kelihatan mencolok.”

“Nggak mencolok gimana, kalau begini ya malah kelihatan mencolok banget, karena kita beda sama yang lain oon. Lihat itu, yang lain bajunya warna-warni, nah kita…hitam-hitam San. Hitam…hitam, kayak orang mau ke pemakaman saja.”

“Sudah diam dulu, dari tadi ngomel terus kamu,” Santi melancarkan aksinya sambil lihat kanan-kiri, mencari orang yang sedang membuat mereka penasaran, “Ayo ikut aku,” Santi menarik tangan Gadhis untuk mengikutinya.

Gadhis yang bersikap seperti kerbau dicocok hidungnya hanya mengikuti Santi dari belakang sambil sekali-sekali mengangkat topinya karena merasa pandangannya terganggu, “jangan diangkati terus itu topi, nanti ketahuan.”

“Gerah Santet…kamu ini ngapain sih aneh-aneh begini, tinggal datang saja ke jurusan matematika, terus kita tinggal tanya, tahu nggak anak yang ciri-cirinya begini…begini…begini sudah beres. Kenapa kita pakai mengendap-ngendap kaya maling. Makin mencurigakan tahu. Lihat itu, dari tadi kita jadi bahan lirikan anak-anak jurusan matemati__,”belum selesai Gadhis bicara, Santi sudah membekap mulutnya dengan kasar.

Karena sebal Gadhis sengaja menjilat tangan Santi, “Idih jijik tahu, kenapa kamu ngejilat tangan aku dhis…,” Santi mengusapkan telapak tangannya yang kena jilat ke baju Gadhis. Gadhis hanya meringis melihat tingkah Santi. Tak urung semalas apapun dirinya, tetap saja dia mengikuti semua rencana Santi.

Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di salah satu sudut kampus yang jauh dari perhatian orang. Sambil membuka bekal minuman dan jajanan yang tadi sudah disiapkan, mereka menunggu kemunculan laki-laki ganteng yang suka mengikuti Gadhis.

“Enak tahu isinya, lain kali kalau kita melakukan pengintaian lagi jangan lupakan ini ya,” sambil bicara Santi terus memasukkan tahu isi itu gigitan demi gigitan ke mulutnya, “omong-omong…dhis kalau misalnya Mas Aldo tahu, kamu nguntit ini cowok kira-kira marah nggak sih orangnya.”

“Kalau ketahuan, ya aku tinggal bilang saja kalau kamu yang ngajakin,” jawab Gadhis dengan wajah tidak bersalah. Matanya masih mengawasi pergerakan lalu lalang mahasiswa di depannya, “Santet kamu jangan makan terus kenapa? Yang tahu anaknya kan kamu, kenapa jadi aku yang dari tadi melotot terus sih,” runtuk gadhis yang melihat Santi hanya memamah biak memenuhi perutnya.

“Heh jangan berani-berani bilang begitu ke Mas Aldo ya, bisa-bisa dompet duafaku tertutup nanti. Siapa yang gantiin buat nraktir aku kalau aku pas gak punya uang.”

“Lah emang itu urusan aku, kan kamu yang nggak punya uang, kenapa jadi calon suami aku yang repot.”

“Eh Dhis, itu…itu cowoknya. Itu sedang berjalan ke arah jurusan Bahasa. Ayo kita ikuti.”

“kamu yakin itu dia?”tanya Gadhis memastikan.

“Iya lah…yakin seratus persen.”

“Ngapain dia bejalan ke arah jurusan kita?”

“sshh, jangan ribut dhis lagi konsentrasi mengintai,” Santi mengibas-kibaskan tangannya ke belakang untuk meminta Gadhis diam.

Gadhis memutar matanya keatas,”dasar aneh kamu San.”

“Ahhh…kamu ganggu aja dari tadi, aku kehilangan cowok gantengnya tahu,” Santi tiba-tiba teriak sambil memukul pundak Gadhis keras.

“Santet…sakit tahu, main pukul saja kamu,” balas Gadhis sambil memukul balik punggung santi keras.

“Sedang mencari saya mbak?” tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang lelaki berwajah tampan menghampiri sambil mengembangkan senyum yang pasti akan meruntuhkan iman perempuan manapun yang melihatnya.

Santi yang terkejut melonjakkan tubuhnya sambil mengeluarkan mantra yang biasanya dia simpan rapat dalam hati,”Eh…copot…copot…copot…copot,”reflek Santi sambil memutar badannya. Melihat ada makhluk setengah dewa bercahaya didepannya, dia langsung tersenyum sambil mengedipkan matanya.

Belum sempat mengeluarkan satu kalimatpun tiba-tiba Gadhis menariknya dan membawa tubuhnya kebelakang, ”jangan endel, ingat misi kita…,” bisik Gadhis tepat ditelinga Santi.

Bisikan Gadhis seperti mengembalikan nyawa Santi yang tadi sempat melayang menghampiri dada bidang laki-laki di depannya, “ekhmmm…he kamu, cowok ganteng, kamu suka mengikuti teman saya ini ya,” lagaknya sudah seperti polisi menangkap penjahat sambil menunjuk-nujukkan jarinya tepat di muka laki-laki itu.

Pria hanya tersenyum mendengar kalimat Santi, dia memiringkan kepalanya melongok melihat Gadhis yang berdiri tersembunyi dibelakang, “Hai,” hanya satu kata hai, tetapi bagi Pria itu seperti sebuah cahaya matahari yang menghangatkan hatinya setelah bertahun-tahun mendingin layaknya gunung es.

“Hai,” hanya satu kata pula jawaban yang diberikan Gadhis, tetapi bagi Pria kata-kata itu bagai air yang menyiram gersang hatinya. Perpaduan rasa yang luar biasa. Berbalut rindu, cinta, kasih dan sayang yang selama ini dia simpan rapat dihatinya meleleh menjadi satu. Hatinya merasakan kehangatan dan kesejukan sekaligus.

“Eh mas…mas, dengarkan ya…teman saya ini sudah punya calon suami. Jangan diikuti lagi, di jidatnya tuh ada tulisan nggak terlihat yang bunyinya ‘sudah laku’, jadi ingat…jangan dekat-dekat lagi.”

Pria sama sekali tidak mempedulikan ocehan Santi, dialihkannya pandangan matanya dari Gadhis berganti menatap Santi dengan senyum merekah, taklukan dulu temannya, “boleh kenalan nggak,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, “Namaku Petir,” kata Pria selanjutnya.

Gadhis seperti tersengat listrik mendengar nama yang disuarakan Pria. Tanpa sadar pandangannya beralih menatap Pria, pandangan yang sebelumnya selalu melihat ke arah lain. “Si…siapa namamu?”

“Petir,” pria mengulang ucapannya, “kenapa…namaku aneh ya?”

“Ah nggak kok, namanya bagus mas hehehehe…,” sahut Santi sambil mengulurkan tangannya, “namaku Santi,” ucapnya sambil tersenyum.

“Kita boleh berteman kan,” lanjut Pria lagi.

Kalau sudah menaklukkan sahabatnya,

Gadhis pasti akan bersikap lebih lunak dengannya.

“Boleh…boleh,” masih tetap Santi yang menjawab semua pertanyaan Pria

Karena kesal, Gadhis akhirnya mengeluarkan suara, “Santet ah…katanya kita mau interogasi kenapa dia suka ngikutin aku, terus ngapain sekarang kamu mau diajak berteman?” katanya berbisik.

“Sudah percaya sama aku, laki-laki itu harus dijadikan teman dulu supaya mau terbuka sama kita.”

Santi memutar bola mata indahnya,”kamu aneh, sudah ayo…waktunya aku pulang. Mas Aldo pasti sudah menunggu di tempat biasa.”

Mendengar nama Aldo disebut Gadhis, Pria langsung kehilangan senyumnya.

Ah iya tunangannya, calon suaminya. Aku hampir melupakan laki-laki itu.

“Silahkan…pasti calon suaminya sudah menunggu di tempat parkir seperti biasanya, saya mau ke tempat lain dulu,” tanpa menunggu jawaban dari dua perempuan cantik itu Pria langsung melangkah pergi.

“Tuh kan, dia tahu tempat biasanya Mas Aldo jemput, kamu kenapa sih San? Katanya mau interogasi, kenapa kamu jadi nggak fokus sih,” gadhis sudah terlanjur kesal dengan sikap yang ditunjukkan Santi tadi.

“Tenang, lain kali kita tanya-tanya itu cowok. Lain kali…lain kali.”

“Nggak ada lain kali, cukup sekali ini saja,” sungut Gadhis sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Santi dibelakang.

Gadhis melangkahkan kakinya cepat. Mendekati spot parkir dia menangkap sosok Aldo sudah terlihat berdiri dekat mobil berwarna abu metalik miliknya. Dari jarak yang masih cukup jauh Gadhis melambaikan tangan, mendatangi Aldo dengan setengah berlari. Dia sudah tidak mempedulikan Santi yang berlari mengikutinya di belakang.

“Kurang ajar kamu, kalau sudah lihat Mas Aldo langsung lupa sama aku, belahan jiwamu,” cerca Santi ketika mereka bertiga sudah dekat.

“Ayo pulang,” Gadhis langsung menautkan tangannya ke tangan kekasihnya. Matanya hanya melirik Santi yang tidak menarik perhatiannya lagi,”Nggak usah pedulikan si Santet, dia kan datang nggak diundang pulang nunggu diusir.”

“Jangan begitu sayang. Kalian berdua kan seperti ketiak sama bulunya, mata sama alisnya, jari sama kukunya,” seloroh Aldo sambil tertawa keras.

“Mas jorok ih, bulu segala disebut-sebut.”

“Mas Aldo, calon suami temanku yang ngganteng, aku boleh ye nunut sampe kosan. Kan sayang itu mobil belakang bangkunya kosong, mubazir, biar yang punya dapat pahala,” sambil bicara, kaki Santi sudah melangkah mendekati mobil dan tangannya sudah menempel di pintu mobil, tak lama kemudian tubuhnya melenggang gemulai masuk dan duduk dengan nyaman dikursi belakang.

Aldo hanya tertawa melihat tingkah Gadhis dan Santi yang sering kali lucu, tapi dia tahu keduanya adalah sahabat karib yang saling loyal. Banyak waktu dimana Santi menggantikan posisinya untuk menemani Gadhis jika dia sedang sibuk (tanda kutip).

Dan seperti biasanya, ada sepasang mata yang memperhatikan semua adegan itu dalam diam. Kemudian dia akan melangkahkan kakinya pergi, jika mobil laki-laki itu mulai menjauh.

Aku tak pernah tahu Tuhan akan membawa garis hidupku kemana. Tetapi setelah hari ini, paling tidak aku ingin mendengar indah suaramu atau memandang redup matamu lagi dan lagi, sebelum kamu benar-benar terlarang untukku.

1
Yovianti Yudo
next
Ish_2021
ugh...
Sekar Milenia
ceritany bagus lohh...
Rini Farah
keren Thor
Rini Farah
👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Rini Farah
bagus ceritanya
Pangeran Matahari
hai kk aku mmpir ni ma.pir juga y kecucu manja oma
Mike
ngakak aku Thor bacanya 😂
Mike
Ini bener udah tamat KA?
Ish_2021: terimakasih sudah di apresiasi ❤️ ya...
total 2 replies
Rini Haryati
sukses
semangat
lanjut
Rina Avriliasunshine
tetap semangat berkarya author
Rina Avriliasunshine
aku juga setia kok thor meskipun nemunya pas udah end
Ish_2021
terimakasih doanya aamiin
Rina Avriliasunshine
aku doain mba othor novelmu ini nanti banyak yang baca..
aku suka ceritanya
Rina Avriliasunshine
aku masih setia
Pangeran Matahari: mmipir y kk kecucu manja oma
total 1 replies
Rina Avriliasunshine
ceritanya bagus tapi sayangnya kok sepi
Rina Avriliasunshine
cerita yang bagus pasti tidak banyak yang baca..
Pangeran Matahari: mmpir y kk ke cucu manja oma
total 3 replies
Ish_2021
ahhh...
Ish_2021
akhirnya perjuanganku usai
Pangeran Matahari: mmpir juga y kk ke cucu manja oma
total 1 replies
Ish_2021
ketika mendekati akhir rasanya tak ingin berpisah dengan Gadhis dan Pria
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!