Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VERMAK
"Serius, kamu mau?" tanya lagi Luna.
"I ya, Non. Adit mau banget." Adit memanggut mangggut.
"Baik, besok bawa lamaran kerja kamu ke alamat ini." Luna memberi kartu namanya.
Adit yang fokus dalam mengemudikan mobilnya, tanpa melihat lagi, ia langsung memasukan ke dalam saku bajunya.
"O ya, Dit. Kita mampir dulu ke mall ya, ada sesuatu yang harus aku beli." ucap Luna di sela sela perjalanannya.
"I ya, Non." Adit mengangguk.
Adit mengurangi kecepatan mobil, dan ia membelokan kemudinya menuju mall yang di pinta Luna sebelumnya.
Sesampai di parkiran, Adit keluar dan berlari kecil membukakan pintu untuk Luna.
"Terima kasih, Dit." Luna keluar dari mobilnya dan Adit menutup kembali pintu mobil dan berdiri menunggu.
"Dit, kok malah berdiri di situ, sini!" titah Luna.
"Apakah, saya ikut masuk ke dalam, Non?" tanya lagi Adit dengan segan.
"I ya," Luna kembali melanjutkan langkah, dan Adit mengikuti dari sampingnya.
Tak banyak pertanyaan yang di lontarkan Adit pada Luna, ia hanya mengikuti kemana kaki Luna melangkah.
"Masuk, Dit. Aku mau cari sesuatu dulu." ucap Luna seraya meninggalkan Adit sendiri.
"I ya, Non." Adit mengangguk paham.
Sambil menunggu Luna menemukan apa yang di carinya. Adit terlihat iseng melihat satu persatu pakaian yang terpajang di mall tersebut.
"Wah, ini bagus. Tapi.... " Adit mengeleng setelah tahu harga yang tertera.
Gila bener, harga gak kira kira. Masa baju gini doank 2 juta.
Sementara, Luna terlihat sedang berbicang dengan salah satu pelayan toko tersebut.
" Tolong, siapkan satu style baju hitam putih ya!" titah Luna pada pelayan tersebut.
"I ya, nona." jawab pelayan tersebut. Seraya berlalu mencari apa yang di titahkan padanya.
Luna kembali ke tempat dimana Adit menunggunya.
Dari kejauhan, Luna tersenyum memperhatikan Adit yang selalu menggeleng ketika sudah melihat bandrolnya.
"Cari apa, Dit?" Luna yang kini telah berada di samping Adit.
"Non, Luna. Sudah?, mana belanjaanya?" Adit yang melihat Luna dengan tangan Kosong.
Belum sempat menjawab, salah satu pelayan toko datang menghampiri Luna dan Adit.
"Maaf, ini Non." pelayan tersebut memberikan paperbag pada Luna.
"Terima kasih ya," jawab Luna pada pelayan tersebut.
Kenapa pelayan toko tersebut memanggil Luna sama dengan panggilanku?, ah, sudahlah. Itu semua bukan urusanku.
"Dit, kok melamun?" tanya luna sambil mengguncang pelan tangan Adit.
"Maaf, Non. Ayo kita kemana lagi?" tanya Adit yang sudah kembali dalam fokusnya.
"Kita ke salon sebentar ya." pinta Luna.
"i ya, Non." Adit mengangguk dan mengikuti kembali Luna dari belakang.
Sesampai di salon, Adit ikut masuk ke dalam dan duduk di ruang tunggu. Sedangkan Luna, menemui teman sekaligus pemilik salon ternama tersebut.
"Hi, Helen." sapa Luna yang baru masuk ke dalam ruangan Helen.
"Eh, ada Nona cantik ternyata. Ada apa tumben?" tanya Helen.
"Di luar, ada seorang pria tampan bernama Aditya, tolong kau urus dan vermak habis dia!. Tunjukkan skill dan kemampuanmu, jika jelek, aku tidak akan segan untuk menutup dan mencabut sahm dari lapak usahamu." Luna dengan mode dinginnya.
"I ya, Ekeu paham. Tenang saja, serahkan semua sama Ekeu." jawab Helen. Seraya keluar dari ruanganya mencari keberadaan Adit.
Pasti laki laki yang sedang duduk disana.
Helen melangkah menghampiri Aditya yang terlihat sedang asik dengan majalahnya.
"Tuan, Aditya." Helen memanggil Adit.
Adit berdiri menutup majalah dan berdiri dari duduknya.
"I ya, nama saya Aditya. Tapi gak pake Tuan." Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Helen hanya tersenyum melihat kepolosan lelaki di hadapanya.
"Mari ikut saya." ajak Helen pada Adit.
Adit mengangguk dan mengikuti Helen dari belakang.
"Duduk," titah Helen.
Adit mengangguk dan duduk di tempat pemangkas rambut.
Dengan cepat Helen mengambil gunting sasak, ia langsung beraksi memvermak rambut Adit habis habisan.
Setelah selesai, potongan rambut Adit kini menjadi spike matching, dan terlihat lebih macho dari sebelumnya.
Adit bercermin dan berdecak kagum melihat hasil akhirnya.
"Bagus, saya suka." Adit tersenyum lebih tampan dari sebelumnya.
Pantas saja Luna ke semsem. Ini orang emang dasarnya udah tampan dan macho.
Tak berselang lama, Luna keluar dari ruangan Helen.
"Bagaimana?" tanya Helen pada Luna.
WoW ganteng banget, UwuW banget deh pokoknya.
"Luna, kok malah melamun sih?" Helen membuyarkan lamuna sesaat Luna.
"I ya, bagus. Tampan, aku suka." ucapan itu lolos dari mulut Luna tanpa di sadari.
"Cie.. Cie.." Helen menggoda Luna.
"Ok, pembayaranya gua bayar lewat transfer ya." ucap Luna dengan riang dan menarik Adit keluar dari salonya.
Helen hanya menggeleng melihat Luna yang terlihat kasmaran.
Syukurlah Lun, akhirnya kamu bisa melupakan cowo bajingan yang selama ini udah nipu kamu.
Helen mencuci tangan dan kembali masuk ke ruangan khususnya.
"Adit, makan yuk, aku lapar nih." ajak luna.
Adi merogoh saku dan menghitung uangnya di depan Luna.
"Kita makan di warteg aja ya, Non." ucap Adit yang telah menghitung uangnya.
"Adit, yang minta di bayarin kamu siapa?" jawab Luna sambil tersenyum lucu memandang Adit.
"Ouwh, Maaf." Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, yuk." ajak Luna.
Mereka berdua menuju restoran, dan mengisi perutnya masing masing. Dan setelah selesai mereka berdua memutuskan kembali ke tempat di mana Adit menitipkan daganya.
Sepanjang perjalanan menuju terminal, tak henti hentinya, Luna terus memandangi Adit yang kini terlihat semakin tampan dan macho.
"Sudah sampai, non." Adit memberitahukan pada Luna.
Luna tersadar dari lamunannya.
"Ouwh, sudah sampai." tanya lagi Luna yang mendapat anggukan dari Adit.
"Makasih banyak ya Dit, hari ini kamu sudah mau nemenin aku jalan." ucap Luna.
Adit menggeleng dan memberikan senyuman maut tampanya pada Luna.
Tuhan tampan banget.
"Non, yang seharusnya berterima kasih disini itu saya. Non Luna selain cantik ternyata baik," puji Adit yang sukses membuat Luna berbunga.
"O ya, ambil dan pakai ini," Luna memberikan paperbag pada Adit.
"Ini apalagi Non?" tanya Adit yang masih terlihat bingung.
"Bukan apa apa kok, katanya besok mo melamar kerja, jangan lupa di pakai ya." ucap Luna.
"Terima kasih, Non. Semoga tuhan membalas semua kebaikan Non luna." ucap Adit yang di aminkan langsung oleh Luna.
Adit keluar dari mobil Luna, ia masih berdiri sampai mobil Luna berlalu meninggalkanya.
Dan setelah mobil Luna tak terlihat lagi, Adit bergegas menuju tempat ia menitipkan sepedanya.
"Kang, Maaf ya kelamaan." Adit yang merasa tidak enak.
"Ia, gak apa apa, Dit. Emang kamu habis dari mana Dit?" tanya temanya Adit.
"Biasa, nganter teman kang." jawab Adit.
"O ya, Dit. Ini uang hasil dagangan kopi kamu. Kopi kopi habis di borong seseorang tadi siang." ungkap teman Adit.
Adit menerima uang dagangan dan menghitungnya.
Kok banyak amat sih?
"kang, Ini buat beli rokok." Adit memberikan selembar uang seratus ribuan pada temanya.
"Makasih Dit, moga berkah." ucap tulus temanya.
"Amin, ya sudah kang, Adit pamit pulang dulu. Gak enak udah jam 7." Adit berpamitan. Seraya mengayuh sepedanya menuju pulang ke rumah.
semanhat bang😊😊😊