Menceritakan perjuangan seorang gadis bernama Lissa dalam mencari kebahagiaan, dari segala masalah yang dialaminya sejak ia masih kecil.
Hingga takdir mempertemukannya pada pemuda tampan bernama Vino, yang membawa sejuta harapan padanya.
Keduanya saling mencintai meski harus melewati rintangan yang tak mudah.
Membuat mereka terkadang harus menyerah pada keadaan.
Sementara tanpa Lissa sadari ada pemuda lain bernama Rio yang selalu menaruh perhatian padanya.
Meski memiliki sikap acuh dan dingin, hal itu tak mengurangi pesona yang Rio miliki sejak lahir.
Walau terkadang sikapnya membuat Lissa semakin membencinya.
Bagaimanakah kisah hidup Lissa diantara kedua pria tampan ini?
Simak ceritanya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan yang memilukan
Suara ponsel terus berdering di dalam tas sekolahku, dan kulihat ada pesan masuk dari Vino.
-Tunggu aku di gerbang belakang sekolah Lissa, aku mau kita pulang bareng hari ini..., tulisnya.
-Enggak perlu Vino, aku bisa pulang naik angkot bareng Rina sama Melly..., balasku.
-Beneran kamu enggak mau pulang bareng? ntar aku bareng sama yang lain loh..., tulisnya lagi menggodaku.
-Awas aja kalau kamu berani! aku pun melotot ke arahnya, sambil terus membalas pesan di ponselku.
Rina dan Melly yang memperhatikan tingkahku pun hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengulum tawa.
"Ayo Mell kita duluan aja, kayaknya teman kita yang satu ini nggak bisa pulang bareng kita hari ini."
Rina menarik tangan Melly yang masih bingung tapi mulai paham dengan situasi yang baru saja ia lihat.
"Eh tunggu Rinaa, Melly, aku pulang bareng kalian aja."
Aku mencoba mengejar meraka, namun langkah ku tertahan karena Vino menghadangku di depan pintu kelas.
Untungnya saat itu ruangan kelasku sudah sepi, dan tinggal kami berdua saja yang ada di sini.
"Aku nggak bisa pulang sama kamu Vin, kamu mau ada yang lihat dan tau kalau kita udah jadian." aku mencoba memberinya penjelasan.
"Biarin aja, lagian sampai kapan kita harus pacaran diam2 kayak gini Lissa, jujur aku masih nggak ngerti alasan kamu." ucapnya.
"Vino aku harus pulang sekarang, kalau nggak aku bisa telat datang ke restauran."
Vino Langsung menarik tanganku.
"Vino banyak orang yang lagi ngelihat ke arah kita vin." aku mengikuti langkahnya seraya menarik ujung lengan bajunya.
Tapi seperti biasanya Vino tetap tidak peduli, saat sampai diparkiran belakang sekolah, Vino langsung memakaikan helm di kepalaku dan aku hanya bisa menuruti semua kemauannya.
"Ayo cepetan naik ke motorku Lissa, aku bakal antar kamu ke kosan." ujarnya sambil menarikku naik ke atas motornya.
Sebenarnya aku masih sedikit ragu, aku takut kalau sampai mamanya Vino tau kalau aku masih berhubungan dengan anaknya.
Bahkan aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, benar2 menakutkan hanya dengan memikirkannya.
Tapi aku semakin tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku mencintai Vino, aku ingin slalu ada di sisinya, menghabiskan banyak waktu seperti saat ini.
Kupeluk erat punggungnya yang hangat di atas motor ini seolah tidak ingin kulepas.
Bisa kulihat Vino melihatku dari salah satu kaca spion yang diarahkan ke wajahku, Vino memberikan senyuman manisnya dan membuatku semakin mengeratkan pelukan.
"Ya Tuhan, andai saja waktu bisa berhenti saat ini juga, betapa bahagianya aku saat ini" batinku bersorak menahan letupan bahagia dalam hati.
"Terima kasih Vino." ucapku sesampainya kami di kos2an.
"Aku antar sampai restauran ya, biar aku tunggu kamu disini." ucapnya sambil turun dari atas motornya.
"Aku bisa berangkat sendiri Vino, lagipula Rina juga udah nunggu didalam." ujarku sambil mencubit hidungnya yang mancung, bahkan lebih mancung dari hidungku.
Ada raut kecewa di wajahnya.
Cup...
Kucium pipinya sekilas, aku berharap kecupan ini bisa mengobati rasa kecewanya.
Vino pun tersenyum sumringah sambil memegang pipinya.
"Kamu udah mulai nakal Lissa." di usapnya lembut rambutku.
"Ya udah kalau emang kamu gak mau, tapi lain kali boleh kan aku anterin sampai tempat kerja?" ucapnya sebelum pamit.
"Iya." jawabku singkat.
"Sampai ketemu lagi Lissa, jangan lupa telpon aku." Vino mengedipkan sebelah matanya.
Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Kamu hati hati di jalan ya Vino, jangan ngebut." aku mengingatkan dan melihat motornya semakin bergerak menjauh.
"Aduh jam berapa ini, aku harus siap2." ujarku sambil berlari kedalam rumah.
Hari ini aku bekerja seperti biasanya, tapi tiba2 Pak Lukman manager di restauran ini memanggilku dari dalam ruangannya.
"Lissa kemari sebentar." ujarnya memanggilku.
"Oh sebentar pak." akupun mengikutinya dari belakang.
"Lissa nanti malam sekitar pukul 19.30 kita akan kedatangan tamu yang harus kamu layani, mereka sudah memesan tempat di ruangan VIP, jadi tolong perhatikan penampilanmu dan berikan pelayanan terbaik pada mereka, kamu juga tidak sendirian, ajak Rina bersamamu." ucapnya panjang lebar.
Dengan seksama Pak Lukman memberikan arahan padaku.
"Baik pak." aku mengangguk memahami perintahnya.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, aku dan Rina bersiap melayani tamu penting kami yang sebentar lagi tiba di ruang VIP.
"Lissa itu bukannya Pak Bima?" Rina menyenggolku dengan sikunya.
Kulihat Pak Bima berjalan di iringi istri dan beberapa orang lainnya.
"Mungkin mereka adalah kerabat Pak Bima." pikirku.
Tapi di belakang mereka aku melihat Vino dan Cintya.
Meski sedikit kaget, tapi aku mencoba tetap fokus dan profesional pada pekerjaanku.
Vino berjalan dan menoleh kearahku, tapi aku mencoba menghindar agar tak mencuri perhatian yang lainnya.
Ku tuntun mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah kami siapkan.
Pak Bima yang melihatku sambil tersenyum tiba2 menanyakan kabarku.
Aku menjawab dengan ramah dan menyiapkan hidangan di atas meja makan.
Aku merasa gugup luar biasa dan tidak seperti biasanya, tapi aku harus tetap fokus pada pekerjaanku.
Kulihat istri Pak Bima menatapku dengan begitu tajam kearahku.
Sementara Cintya yang bersikap sok manja ke Vino tersenyum sinis kepadaku.
Aku tak ingin menghiraukannya, aku hanya ingin segera keluar dari ruangan ini, ruangan yang membuatku benar2 tidak nyaman.
Kini aku berdiri tepat di samping Vino, kuhidangkan makanan yang tersedia di depan mejanya.
Tapi betapa terkejutnya aku saat Vino meraih tanganku di bawah meja.
Aku yang kaget hampir saja menjatuhkan gelas dari tanganku.
"Vino apa apaan sih kamu, bagaimana kalau sampai tamu lain melihatnya." batinku.
Pak Bima memperhatikan sikapku.
"Kamu baik baik saja Lissa....? tanyanya mengagetkanku.
"Saya baik baik saja pak." aku menjawabnya sedikit gugup.
"Kalau memang kurang sehat sebaiknya kamu istirahat saja Lissa." ucap Pak Bima sambil terus memperhatikanku.
Kutarik tanganku dari genggaman Vino.
Namun dia hanya tersenyum melihat ke arahku.
"Bisa bisanya kamu Vinoooo." batinku kesal.
Jantungku bahkan serasa mau copot saat ini.
Dan aku merasa kakiku tiba tiba terasa lemas.
"Kalau lagi sakit, harusnya kamu jangan kerja dulu dong, bisa saja kamu menularkan penyakit kamu ke para tamu dan itu akan merusak citra restauran ini." kudengar ucapan pedas dari mamanya Vino.
"Maaf bu, saya akan lebih berhati hati lagi." jawabku sopan.
"Bicara apa mamamu ini Vin, ayo silahkan dinikmati hidangannya." Pak Bima mempersilahkan tamu lain termasuk Cintya untuk segera menikmati makanan yang sudah ada di meja makan.
Vino terus menatap ke arahku, dia seperti paham perasaan tidak nyamanku saat ini.
Aku segera keluar dari ruangan, menunggu di depan sambil berjaga bila mereka membutuhkan sesuatu lagi.
Kulihat Vino ingin beranjak dari tempat duduknya mengejarku.
"Vino kamu mau kemana? duduk dan makan makananmu, keburu dingin nanti loh" mamanya mencoba menahan Vino agar tidak keluar dari ruang makan.
Vino akhirnya menuruti kemauan mamanya.
Sementara aku hanya bisa berdiri terpaku di luar ruangan.
Tak berapa lama kudengar seseorang memanggilku dari dalam.
"Tolong tuangkan minumannya." ucap Cintya dengan angkuh
"Baik mbak." akupun segera melakukan tugasku.
Vino masih terus menatapku.
"Lalu bagaimana kelanjutan rencana pertunangan anak anak kita bu ."
Dehhh..
Jantungku serasa berhenti saat ini, aku benar benar terkejut mendengar apa yang barusan di ucapkan mamanya Vino ke wanita yang aku rasa adalah mamanya Cintya.
Kurasakan panas di ujung mataku, hati ini terasa pedih, ingin rasanya menjerit tapi aku tak punya daya.
Aku sadar aku bukanlah seseorang yang pantas mengharapkan cinta dari seorang Vino.
Vino bagaikan matahari yang indah.
Setiap orang akan kagum melihatnya.
Sementara aku aku hanya gadis miskin yang tak punya apa apa.
Bagaimana mungkin aku berharap bisa memilikinya.
Melihat mereka yang begitu berbeda membuatku merasa sangat kecil.
"Vino permisi ke toilet sebentar pa." kulihat Vino beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Sambil jalan ia melirik ke arahku.
Aku masih diam menahan air mata .
"Jangan lama lama ya Vino." Ku dengar mamanya mengigatkan.
Rina yang sadar akan situasi pun segera mengambil peran menggantikanku.
Dia tau saat ini dengan sekuat tenaga aku sedang menahan air mataku tumpah di dalam ruangan ini.
Aku segera berlalu ke belakang untuk menata perasaanku yang campur aduk.
Kage, sedih, bingung dan tak percaya akan apa yang sedang terjadi.
Hatiku hancur...
"Ada apa denganku? kenapa aku bersikap begini." gumamku sambil menyapu wajahku.
Dari awal aku sadar bahwa tidak mungkin bagiku bisa memiliki Vino.
Aku hanya terbuai dan memaksakan perasaan cinta ini.
Aku juga tau konsekuensi apa yang harus aku tanggung untuk mencintai seorang Vino.
Aku menangis sejadi jadinya saat ini.
Kutahan bibirku rapat oleh kedua tanganku.
Berusaha agar tak ada yang mendengar tangisan piluku.
Aku meringkuk di sudut ruangan istirahat karyawan restauran.
Tidak ada satu orang pun disini, jadi aku bisa leluasa mengeluarkan airmataku yang tumpah tak tertahan.
jngan lama² dong klo ngilang😔😔kan kngen ma rioo😘😘
thoer kpn ni rencana up lgi,??
msak nunggu 3xpuasa ma 3x lebaran lgi😁😁✌️