ketika keluarga belum dikaruniai keturunan dan memilih poligami sebagai solusi, bagaimana kisah keluarganya? Bagaimana sekitar bisa memahami kondisinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#chapter 9, awal mula
Lima tahun kemudian.....
Santi dan Atikah sudah menamatkan SMA nya di Ciloto. Santi menyusul kakaknya yang tinggal di Jakarta, tepatnya dibelakang kampus Perbanas dan dekat Rumah Sakit Mata Aini.
Sekarang Kakaknya Santi punya warung makan sendiri walaupun masih kecil-kecilan dan berada di teras rumah sewa mereka, masakannya juga makanan rumahan pada umumnya. Sasaran utama pembelinya adalah pekerja di wilayah sana dan para mahasiswa. Tadinya Atikah mau ikut Santi ke Jakarta, tapi Ibunya Atikah lagi sakit, jadinya keberangkatan Atikah ditunda sementara waktu.
Santi mau ikut tes wawancara kerja di Kampus Perbanas sebagai tea lady (yang menyiapkan minuman dan makanan jika ada tamu yang datang ke kampus serta minuman dan snack untuk para dosen pengajar).
💠
Wedding anniversary Maulana dan Nayara yang keempat belas tahun, dirayakan bersama keluarga besar di rumah mereka di Bogor. Nayara memesan katering buat makan dan minum para tamu yang hadir. Selepas acara, keluarga yang sudah dewasa kumpul bersama di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang ada.
Nayara masuk ke kamarnya sebentar kemudian kembali ke ruang keluarga, ikut bergabung dengan semua keluarga. Nayara duduk disamping Maulana dan menyerahkan kotak yang ga terlalu besar. Maulana membuka kado yang diberikan istrinya, tipe Nayara yang ga seromantis dirinya menjadikan Maulana penasaran.
Dibuka perlahan kotak tersebut, ternyata isinya dua buah frame foto, yang satu terisi sama foto saat ijab kabul mereka dulu, tapi yang satu frame lagi kosong.
"Frame ini kenapa kosong? apa punya kejutan yang Aa' ga tau?" selidik Maulana.
Keluarga saling berpandangan dan saling melemparkan senyuman.
"Kamu hamil ya Nay?" kata Ibunya Nayara antusias. "Bener Nay?" Maulana dengan wajah yang sudah terharu kembali bertanya.
"hayu atuh Nay, umumin aja" timpal Ambu sama antusiasnya.
"Maksud kamu frame itu kosong buat foto anak kalian kan? Alhamdulilah Nay ... akhirnya do'a-do'a kita terjawab juga" ucap Bapaknya Nayara sambil menangis haru. "Nay..." panggil Maulana pelan kemudian memeluknya.
Nayara masih diam membisu, tapi dalam pelukan Maulana dia akhirnya menumpahkan air matanya. Nayara perlahan melepaskan pelukan Maulana, dia duduk menghadap ke semua keluarga. Kemudian Nayara memalingkan wajahnya kearah Maulana.
"Frame yang kosong ini, sudah saatnya Aa' isi dengan foto akad nikah Aa' lagi" buka Nayara dengan suara bergetar. "Maksudnya?" tanya Maulana bingung. "Menikahlah dengan wanita lain A' ... Nay ijinkan Aa' poligami, usia kita udah ga muda lagi A' ... Nay udah tiga puluh sembilan tahun dan Aa' udah empat puluh satu tahun. Kalo kita menunggu kehadiran buah hati, mau sampai kapan A'?" ucap Nayara yang tampak terlihat berusaha menahan air matanya yang bertambah deras, namun sia-sia dia menahannya, air mata mengalir seperti air bah yang menerjang dinding ketabahannya.
"Jangan punya ide gila Nay" kata Abah dengan nada marah. "Abah ... ini yang terbaik buat Aa' .. Nay ikhlas, tapi dengan syarat jangan ceraikan Nay dan kami tinggal dalam satu atap yang sama" lanjut Nayara lagi. "Banyak cara lain Nay, kalian kan bisa aja ikut bayi tabung, toh uang kalian sudah cukup untuk ikut program itu, atau kalian bisa angkat anak dari keluarga yang kurang mampu, Rumah Sakit atau panti asuhan sebagai pancingan. Kamu kan bilang kalo kalian berdua sehat dan bisa punya anak" Kakaknya Nayara ikut angkat bicara.
"Nay ... baiknya kamu istirahat aja dulu, ga usah mikir yang macam-macam. Bapak tau kalo Maulana ga ada pikiran seperti itu, dia ga ingin mendua" tengah Bapaknya Nayara.
.
Para tamu pulang satu persatu, bahkan orang tua yang semula mau menginap, jadinya malah ikut pamit pulang juga.
Kondisi malam ini sudah tidak kondusif untuk berbincang panjang lebar. Pihak keluarga menginginkan Nayara dan Maulana saling berbicara dari hati ke hati tanpa ada campur tangan dari pihak manapun, sehingga semua pamit pulang.
🌷
Santi diterima sebagai tea lady di Kampus, kerjanya sistem shift (shift pagi dimulai dari jam 6.00 sampai jam 13.00 dan shift siang mulai jam 13.00 sampai jam 20.00). Tidak ada waktu istirahat khusus, jadi kalo mau ishoma harus pandai-pandai atur waktunya bergantian dengan yang lain.
Atikah dan Santi saling berkirim kabar, sampe dua bulan setelah lulus pun Atikah belum kunjung menyusul ke Jakarta karena masih merawat ibunya yang tiba-tiba tidak bisa gerakin kakinya, sudah berobat juga hasilnya sama, tidak ada indikasi medis apapun.
Hasil Rontgen dan Laboratorium semuanya normal. Kakinya pun masih ada respon jika dicubit, tapi dokter belum bisa memastikan jenis penyakitnya karena semua pemeriksaan hasilnya normal. Sudah juga dibawa ke pengobatan alternatif, hasilnya pun sama aja, tidak ada perubahan.
🌺
Sudah dua bulan terakhir ini hubungan antara Maulana dan Nayara menjadi dingin. Tidak bermusuhan, hanya jarang saling ngobrol panjang, masing-masing menyimpan diam dalam kesibukannya.
Maulana malas ngobrol karena nanti ujung-ujungnya dia disuruh segera menikah lagi dengan wanita lain. Nayara pun masih tetap dengan pendiriannya. Walaupun keluarga kedua belah pihak sudah mencoba berbicara dengan keduanya, tetap Nayara tidak bergeming. Bahkan Nayara pun sudah mencari calon istri buat Maulana. Dia rajin ikut ke kajian kembali, sambil meminta ke ustadzah untuk dicarikan pendamping buat suaminya.
💐
Tabungan orang tua Atikah mulai terkikis karena sakit Ibunya yang tidak kunjung sembuh atau mengarah keperbaikan. Bapaknya pun sudah mulai kewalahan dalam hal biaya pengobatan.
Kakaknya Atikah yang sudah menikah pun tidak bisa membantu banyak karena rata-rata hanya bekerja menjadi petani, ada satu yang kerja di Bandung, tapi anaknya banyak, jadi tidak bisa kirim uang dalam jumlah besar.
Saat kontrol ke Puskesmas, dokter meminta Ibunya Atikah untuk diperiksa ke Rumah Sakit besar yang lebih lengkap fasilitasnya agar diagnosa segera bisa ditegakkan.
Ketika gajian, Santi mengirim uang sekedarnya untuk Ibunya Atikah, karena Santi juga menganggap Ibunya Atikah seperti Ibunya sendiri.
🏠
Maulana mengajak Nayara ke Ciloto, panen mangga garifta merah buat pertama kalinya. Mangga varietas baru ini masih termasuk kedalam jenis mangga lokal, buah mangga kebanggaan warga Pasuruan Jawa Timur ini mempunyai kualitas yang tidak kalah dengan buah mangga import. Salah satu kelebihan mangga garifta merah terletak pada warna kulit buahnya yang eksotik, yakni perpaduan antara warna merah, kuning dan hijau yang membentuk sebuah gradasi warna sehingga tampak begitu cantik dan mampu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Citarasa yang ditawarkan juga sangat manis dan menyegarkan. Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa mangga garifta merah mempunyai rasa yang lebih manis jika dibandingkan dengan jenis mangga lainnya. Secara fisik, buah mangga ini berbentuk sedikit lonjong, panjangnya sekitar 14 – 17 cm dengan ujung buah yang membentuk paruh. Daging buahnya berwarna kuning kemerahan, memiliki tekstur yang lunak dan sedikit berserat dengan aroma khas buah mangga yang sangat tajam. Pohon mangga garifta merah juga memiliki tinggi hanya sekitar 2-3 meter saja. Hal ini menjadi sebuah keunggulan karena dapat memudahkan saat proses pemanenan atau pemetikan buah. Tanaman ini sebenarnya cocok untuk daerah dataran rendah dengan tanah humus yang subur, gembur dan banyak mengandung unsur hara. Tapi karena Maulana penasaran, dia datangkan bibit langsung dari Pasuruan dan ditanam di Ciloto.
membuka wawasan, tau gimana kita harus mengerti orang lain gak berkutat pada diri sendiri.
keluar dari zona nyaman itu berat
Alhamdulillah Zay banyak anak jadi penerus nya juga ada
mbokya sekali kali selesaikan masalah sendiri gitu