[ Gendre: Fantasy, Petualang, Sci Fi, Petualang, Romance, Slide Life, Mafia, Militery, Fanfic dan Isekai.]
[ #Arc 1: Crazy Deluxe Hotel Dungeon.
Bab 01 - Bab 33.
# Arc 2: Dungeon Master jadi petualang.
Bab 34 - Bab 53.
**
Dungeon adalah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan menakutkan juga berbagai monster – monster kuat yang didalamnya.
Tapi, tidak dengan Bagas Wijaya, dia pada awalnya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa namun, dia mengalami kecelakan dan jiwa dipanggil oleh seorang Dewi Keharmonisan, Arathena.
Pada saat Bagas bertemu dengan Arathena dirinya di tawarkan untuk bekerja di dunia lain dan Bagas memilih untuk perkerjaan yang santai dan tenang yaitu Dungeon Master.
Tidak hanya itu, Bagas pun mendapatkan bonus poin yang berlimpah hingga dia menciptakan Dungeonnya menjadi sebuah tempat yang nyaman dan mewah dengan berbagai fasilitas didalamnya.
Akan tetapi, permasalahan dan peperangan terus terjadi di dunia tempat yang dihuninya tersebut.
Bagaimanakah cara Bagas untuk mempertahankan hidup mewah dan santainya?
Selamat membaca, guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Pandai besi Colt
Seusai cerita Bagas pun kepada pria itu sama seperti Reiz, dia memberikan namanya Colt. Kebosanan Bagas pun menjadi hilang pada saat dirinya memiliki perencanaan untuk mengembangkan senjata para goblin miliknya. Namun, cedera yang dialami Colt belum sembuh sehingga dirinya tidak bisa memproduksi senjata lagi.
Bagas pun menanyakan hal itu kepada Alice dan Alice pun menjawab sihir milik Max bisa di gunakan untuk menyembuhkan tangannya yang sudah putus.
“Max, gunakan sihir generasi!” perintah Bagas.
“Dimengerti!” jawab Max.
Max pun menghampiri Colt dan dia memegang tangan Colt yang terputus tersebut.
“Regeneration,” rapal Max.
Setelah merapalkan itu, cahaya hijau dengan butiran-butiran melayang menyelimuti tangan Colt yang terputus dan tumbuhlah tangannya dalam ukuran yang sangat kecil seperti bayi.
“Lucunya!” ucap Bagas yang melihat tangan Colt yang mungil.
“Terima kasih, Master!” ujar Colt.
“Yosh, bagaimana kalo kita makan dahulu?” ajak Bagas kepada semuanya.
“Baik, Master!” jawab serempak Reiz dan Colt.
Bagas dan lainnya pun kembali ke Penthouse sedangkan Max juga kembali ke kolosium.
Di penthouse, Bagas menyajikan berbagai makanan dan minuman. Pada saat Colt keluar dari kamar mandi, dia pergi ke ruang makan dan terkejut saat melihat makanan diatas meja.
“Master, tidak perlu repot-repot,” ucap Colt.
“Colt, tidak perlu sungkan. Mari kita makan!” seru Bagas.
Colt pun makan dengan lahapnya karena dia mengatakan bahwa sudah lama dirinya tidak makan enak.
“Terima kasih, Master. Makanan ini sangatlah lezat!” seru senang Colt yang sedang menyantap makanannya.
Setelah itu, Colt kembali ke lantai 6 dan melakukan aktifitasnya.
Pada malamnya, Bagas membuat perencanaan dalam pembuatan senjatanya dan pergi kepada Colt keesokan harinya.
Setibanya di ruang tempa, Bagas terkejut senang saat melihat Colt yang sudah membuat senjata dengan bahan yang ada.
“Ohh, aku senang. Kamu bisa menempa lagi,” ucap Bagas.
Colt pun menghentikan pekerjaannya dan berjalan menghadap Bagas.
“Terima kasih, Master karena sudah menyembuhkan tangan saya,” ujar Colt yang menundukan kepalanya.
“Tidak perlu sungkan, sekarang kita adalah keluarga,” ucap Bagas yang memegang bahu Colt.
“Iya, Master!” jawab Colt yang meneteskan air matanya.
Colt sudah lama sekali tidak mendengar istilah itu hingga membuat dirinya menangis haru karena ada yang menganggap dirinya keluarga.
“Sekarang, Colt bantu aku untuk membuat Magic Core Crystal,” ucap Bagas.
“Magic Core?” ujar kaget Colt.
“Ada apa memang Colt?” tanya Bagas.
“Benda itu adalah mimpiku, karena para unitnya bisa mengunakan sihir berbayar dan bisa menciptakan bahan apapun yang kita inginkan dengan tingkatan biasa sampai bahan yang langka,” ucap Colt.
Sihir berbayar adalah sihir yang digunakan oleh para penguna DMP baik seorang Master ataupun mantan Master yang sudah bergabung dengan Master lain.
“Maka dari itu, ikut denganku!” ujar senyum Bagas.
“Baik, Master!” jawab Colt.
Bagas dan Colt pun memulai pembuatan lantai.
Bagas menciptakan lantai yang ketujuh dengan tema ruangan hall yang sangat besar. Lalu, Bagas pun menempatkan Magic Core ditengahnya. Saat dirinya mengeluarkan benda Magic Core pada ruangan, dia terkejut bahwa Magic Core merupakan kristal kubus yang sangat besar berwarna merah dengan dikelilingi oleh cincin yang melingkarinya dan ada sebuah tugu dihadapan Bagas.
“Wow, aku tidak menyangka. Sihir ruang bisa menyimpan benda sebesar ini,” ucap kagum Bagas.
“Benar sekali, Master! Sihir ruang dalam dungeon tidak memiliki batasan massa berat dan waktu,” jawab Colt.
“Begitu, aku mengerti!” ucap Bagas.
Setelah pembuatan ruangan itu, Bagas melihat dan tersenyum kepada Colt.
“Ada apa, Master?” tanya Colt.
“Project pembuatan senjata dimulai!” ucap Bagas.
“Ehh … iya. Baik, Master!” jawab Colt.
Setelah itu Bagas pun memberikan sketsa project kepada Colt dan project itu diberikan untuk pembuatan senjata para goblin agar Bagas tidak harus mengeluarkan poin untuk mendapatkan senjata para goblin yang terus berkembang.
Pada hari itu juga Colt memulai pembuatan senjatanya dan Bagas memberikan modal kepadanya 100.000 DP
[sisa DP 16.121.613.902].
Beberapa hari kemudian, senjata beserta armor yang pesan oleh Bagas sudah terbuat. Bagas pun bersama dengan Colt ke lantai 3 –hutan Goblin untuk memakaikan mereka baju jirah.
Setibanya disana, Bagas dan Colt terkejut disaat mengumpulkan pasukan goblin yang sudah siap tempur berbaris rapih hingga ke belakang seperti pasukan milliter.
“Alice, berapakah jumlah mereka?” tanya Bagas.
“Master, sekarang …”
Alice pun menjelaskan bahwa Bagas sudah memiliki 6.000 pasukan goblin dengan berbagai kemampuan. Tidak hanya itu, bahkan baju armor dan senjata tidak terbuang meski sudah diganti oleh senjata buatan Colt.
Bagas dan Colt pun memikirkan sebuah rencana untuk menata pasukan Goblin. Bagas pun menata beberapa kelompok yaitu pasukan pedang, panah, penyihir, penyembuh, pasukan tombak, pasukan pengendara serigala, goblin mafia, dan Bomber. Para Goblin itu, dipimpin oleh satu Boss Goblin.
Sedangkan untuk senjatanya dibuat oleh Colt dengan beberapa monster kepercayaannya untuk menciptakan senjata dengan cepat dan kuat.
Bagas untuk mengisi waktu dia menempatkan dungeon selanjutnya yaitu Kimia Dungeon. Dia menempatkan di lantai 8.
Pada saat kesana Bagas seorang diri dan setibanya didalam, Bagas mencium aroma obat dimana-mana dan lorong yang rapih seperti layaknya laboratorium.
“Bau obat ini,” keluh Bagas yang menutup hidup dengan sisi tangannya.
Bagas pun terus menelusuri laboratorium dungeon itu bahkan dia pun nyasar dibeberapa ruangan dungeon tersebut.
Tibalah Bagas disalah satu ruangan dan terlihat disana, seorang wanita berambut biru pendek sedang memeriksa ramuan obat.
“Hei,” sapa Bagas.
Saat Bagas menegurnya, wanita itu pun menghentikan aktifitasnya dan berjalan menghampiri Bagas.
“Selamat datang, Master!” ucap wanita berambut biru dengan membungkukan badannya.
“Apa kamu Master sebelumnya?” tanya Bagas.
“Bukan, Master! Saya adalah Humanoid Smart Assistant,” jawab wanita berambut Biru.
“Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, antarkan aku kepada master terdahulu!” ujar Bagas.
“Dipahami! Silahkan Master ikut dengan saya!” ucap wanita berambut biru.
Bagas pun diantarkan ke sebuah ruangan yang merupakan tempat tinggal dari Master sebelumnya dan setibanya disana, terlihat seorang wanita berambut panjang berwarna hitam sedang rebahan dan melamun disana karena pengaruh obat-obatan.
“Kamu Master sebelumnya?” tanya Bagas kepada wanita yang rebahan.
Wanita itu pun dengan tatapan kosong melihat Bagas.
“Master baru kah,” gumam wanita berambut hitam yang memaksakan untuk bangun.
Bagas yang melihat dia kesulitan untuk bangun maka, Bagas pun membantunya untuk duduk dikasur.
“Terima kasih, Master!” ucap wanita berambut hitam.
Saat Bagas mengambil kursi kecil dan hendak duduk disamping wanita itu, Bagas terkejut saat melihat sebuah serbuk di meja dekat tempat tidurnya.
“Mungkin kah? Kamu berhasil membuat narkoba di dunia lain,” ujar kaget Bagas.
“Hehe …” tawa mabuk dari wanita berambut hitam.
“Ahuffuu, dasar kamu ini!” ujar Bagas yang menghela nafas panjang.
ilustrasi Colt dari Golden City.
jawab nya 👎
malah jadi ngawur thor ceritanya