"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Tak ada nama Tempat yang kau sebutkan itu
Dinda menatap punggung ringkih Mbok Ginem yang perlahan menjauh. Ia lalu merunduk, mengambil tiga piring tanah liat, dan menyusunnya dengan rapi di atas tikar tempat mereka biasa makan.
Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki terdengar mendekat secara bersamaan. Dinda mendongak, bersiap menyambut mereka dengan senyuman lebar. Namun, senyum itu mendadak kaku dan berubah canggung kala sosok Wira muncul pertama kali di ambang pintu.
Dinda mengangguk kecil, mencoba menyapa dengan sopan. Sementara itu, Wira hanya menatapnya datar. Wajah pria itu terlihat teramat lempeng, sama sekali tidak berniat membalas senyuman manis Dinda.
Mereka bertiga akhirnya duduk melingkar, bersiap untuk sarapan. Dinda berinisiatif menjadi yang pertama mengambil sepotong singkong rebus hangat. Ia meletakkannya di piring Mbok Ginem terlebih dahulu, lalu mengambil potongan lain dan menyodorkannya ke piring Wira.
"Cobalah, Wir. Singkong rebus ini sangat enak. Dinda sangat pandai memasaknya dengan bubuk ajaib yang dia punya," puji Mbok Ginem, langsung mempromosikan keahlian Dinda.
Wira mengernyitkan dahi. Pria itu menatap singkong yang mengepulkan asap tipis di piringnya, lalu mencubit potongan besar dengan jarinya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Seketika itu juga, rasa legit dari pulennya singkong yang berpadu sempurna dengan rasa asin serta gurihnya kaldu ayam langsung menyebar, memenuhi seluruh rongga mulut si pemburu. Wira bahkan sampai refleks memejamkan mata, menikmati ledakan rasa yang belum pernah ia kecap seumur hidupnya.
"Enak!" cetus Wira singkat namun tegas. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyuapkan kembali potongan singkong berikutnya ke dalam mulut.
Dinda bertukar pandang dengan Mbok Ginem, lalu keduanya tersenyum geli melihat Wira yang lahap. Dinda dan Mbok Ginem pun lantas ikut menyantap sarapan pagi itu.
Di tengah-tengah makannya, gerakan tangan Wira mendadak tersendat saat matanya menangkap gundukan bumbu berwarna merah terang di dalam piring tanah liat milik Dinda.
"Apa ini?" tanya Wira kebingungan.
"Oh, ini namanya sambal. Cobalah cocol singkongnya ke sini, rasanya akan berkali-kali lipat lebih nikmat," ujar Dinda dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Wira menurut. Ia mencolek sambal tomat merah itu dengan singkongnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia mengunyah beberapa kali, lalu menelannya. Sedetik kemudian, ekspresi Wira langsung berubah drastis. Alisnya bertaut rapat.
"Kenapa rasanya seperti membakar dan terasa panas?" tanya Wira, benar-benar heran dengan sensasi asing tersebut.
Dinda tidak bisa menahan tawa kecilnya melihat wajah bingung sang pemburu tampan. "Itu bukan panas karena api, Wira... itu namanya pedas," jelas Dinda geli.
Wira mengangguk-angguk, meski otaknya masih kurang paham dengan istilah 'pedas'. Namun, tangannya justru kembali bergerak mengambil singkong dan mencocolnya lagi ke sambal Dinda.
"Tapi lama-lama rasanya enak. Membuatku ingin menambah lagi," aku Wira jujur, membuat Dinda makin melebarkan senyumnya.
Pagi itu, mereka bertiga menikmati sarapan bersama. Menunya memang sama seperti malam-malam sebelumnya, tetapi hari ini, rasa yang tertinggal di lidah mereka benar-benar berbeda.
Seusai sarapan dan merapikan dapur, Dinda kini terduduk berhadapan dengan Wira tepat di bawah keteduhan rumah pohon. Dinda memanfaatkan momen sepi ini untuk menatap lekat wajah tampan Wira yang tampak tegas disorot matahari pagi.
"Aku sudah bertanya pada beberapa orang di sekitar hutan tentang tempat tinggalmu. Namun, semua orang yang kutemui tidak ada yang tahu tempat bernama Kota C atau Provinsi S," kata Wira memecah keheningan dengan suara beratnya.
Dinda menghela napas panjang, mencoba berdamai dengan kenyataan. "Jika memang begitu, tidak apa-apa. Mungkin sudah takdirku terdampar di sini. Terima kasih banyak ya, Wira, karena kamu sudah bersedia menolongku kemarin," jawab Dinda pasrah.
Dinda sempat terdiam beberapa saat. Otaknya berputar keras memikirkan masa depannya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Apakah ia harus menetap di tempat asing ini? Mau pulang pun ia sama sekali tidak tahu jalan dan metodenya.
Tak lama, sebuah ide langsung muncul di kepalanya. Daripada terlunta-lunta, mending aku cari aman saja dulu, pikirnya.
"Ah, Wira... aku benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi setelah ini," kata Dinda, langsung to the point. "Apakah aku boleh tinggal di sini? Maksudku... bisakah kamu membantuku? Aku ingin mendaftar menjadi penduduk desa ini dan tinggal di sini."
Wira tidak langsung menjawab. Pria itu menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Dinda, seolah sedang menakar kesungguhan dari gadis di depannya.
"Aku akan membantumu. Sore nanti kita datang ke rumah Pak Lurah," ucap Wira akhirnya, memberi kepastian.
Dinda bernapas lega, ia mengangguk cepat. "Terima kasih, Wira!"
"Sekarang kau naiklah ke atas rumah. Aku harus pergi ke hutan lagi untuk memeriksa beberapa perangkap dan melihat hasil buruanku," instruksi Wira sembari bangkit berdiri.
Dinda kembali mengangguk patuh. Kali ini, sebuah senyuman yang teramat tulus terukir di wajah cantiknya. Mata Dinda terus bergerak, melepas pergi dan menatap kagum pada punggung kokoh nan kekar milik Wira yang berjalan menjauh tanpa sehelai benang pun yang menutupi dada bidangnya.
Buset, pemandangan pagi-pagi begini segar bener... batin Dinda nakal, sebelum akhirnya ia berbalik untuk naik ke rumah pohon.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍