"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 8
Happy reading!
Gaosah vote ya😊, sayang2 ama poin kalian 'kan tetep aja ga bisa masok rank. Kemaren pen kasih info si, tapi lupa😁.
Makasih buat yg udh vote, tapi aku harap kalian tulis komen next aja yg bakal nambah semangat aku utk nulis.
.
***
Akhir pekan menjadi hari membahagiakan bagi perfect partner itu. Tidur-tiduran di kamar sambil menghabiskan stok snack yang ada di lemari.
Tugas sekolah yang menumpuk tidak dihiraukan Alita, sementara Diego jangan dipikirin lagi. Semua nilainya tetap yang terbaik, terbaik dari belakang maksudnya.
Sambil menggeser layar ponselnya, Alita melihat-lihat postingan instagram berbagai orang yang diikutinya juga seleb yang sedang naik daun.
"Astaga, Justin semakin tampan saja," ujar Alita tatkala melihat wajah tampan seseorang di postingan. "Seandainya waktu itu akan menurut kata Daddy untuk pergi Valencia, pasti si tampan ini sudah menjadi kekasih gelapku."
Membuat Diego mengerutkan keningnya. "Justin anaknya Uncle Greg?" tanyanya memastikan.
Alita mengangguk. "Lihatlah, dia sekarang terlihat lebih tampan," ucap Alita dengan mata penuh binar. Menunjukkan postingan pemuda tampan yangsedang tersenyum manis.
Melihat itu, Diego terkekeh tidak percaya. "Apa kamu ingin menjadi kekasih dari saudara sepupumu sendiri?"
Alita mengangkat bahu acuh. "Bukan masalah besar. Tinggal kawin lari langsung selesai," tukasnya asal dan mendapaat lemparan di kepalanya oleh snack.
"Di otakmu hanya ada kawin lari, Begoo," umpat Doego sinis. "Apa kamu tidak berpikir untuk sekolah dulu sebelum menikah?"
"Tidak." Alita menggeleng. "Yang sekolah tinggi tetap akan kalah sama yang punya banyak uang, rumah dan mobil," ujarnya menjelaskan tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel dan membuat Diego kembali melemparnya.
"Auww, kamu sungguh ingin membunuhku dengan lemparan ajaibmu itu, Diego?" Alita melotot kesal lalu balas melempar Diego. Tanpa sadar kamarnya sudah menjadi seperti kandang ayam, banyak makanan berserakan.
"Kamu harus tahu kalau yang berduit itu akan kalah sama ber-otak super. Disaat yang berduit kehilangan uangnya, yang punya otak super tetap akan memiliki jalan keluar untuk itu."
Alita mengangguk-angguk. Entah paham atau tidak pada maksud Diego, Alita lebih memilih melihat ponselnya.
"Wowowowow ..., penyanyi muda asal Kanada itu kembali mendapatkan piala. Aku makin mencintainya," tukas Alita berapi-api sambil terus menatap wajah pemuda di layar ponsel yang sudah dua kali berturut-turut memenangkan piala MTV Europe Music Awards nominasi Best Canada Act.
Kegilaannya terhadap pria tampan dimulai sejak melihat video klip pemuda itu sedang bernyanyi, paras rupawan pemuda bertalenta menjadikan hidupnya berwarna. Penuh khayalan dan imajinasi.
"Aku ingin sekali menjadi kekasihnya," ujar Alita lagi membuat pemuda yang tidur-tiduran sambil mengunyah snack menatap tajam.
"Apa kamu melupakan kekasihmu ini?" tanya Diego.
Alita tertawa kemudian melemparkan Diego dengan snack yang hampir dimasukkan ke mulutnya. "Biarkan aku bermimpi sekali saja, lagipula kita masih punya hutang sama si Rubah Tua itu. 'Kan kamu sendiri yang bilang kalau yang berkomitmen harus berjalan di jalan yang benar."
"Tapi kamu juga harus ingat pacar kamu yang sangat banyak itu," sungut Diego yang merasa tidak terima dengan ucapan Alita.
Gadis cantik yang berbaring itu tertawa lagi. Memang tidak ada rahasia di antara dia dan Diego, perasaan yang mungkin saja sama. Tapi Alita sungguh tidak peduli dengan perasaan Diego padanya. Karena terkadang pemuda itu sangat plin plan.
"Iya juga sih, pacar aku banyak. Tapi semuanya brengsekkk, disaat seperti ini tidak ada yang mau mengajak shopping," ucap Alita kesal dan melempari Diego dengan berbagi benda yang ada di sekitarnya yang sigap ditangkap pemuda itu.
"Makanya cari pacar yang becus, ada di depan mata tapi sibuk berlari-larian mengejar yang kelakukannya ugal-ugalan."
Sebuah notif di ponselnya segera menutup mulut Alita yang hendak protes. Dan Diego terkejut tatkala Alita bangkit dan berteriak.
"Yeah, akhirnya ada satu orang yang mengajak kencan," sahutnya dan berlari dari sana. "Hari yang indah di musim panas segera dimulai," girang Alita yang masih di dengar Diego padahal gadis itu sudah berada di kamar mandi.
Diego bersungut kesal. Dia melemparkan sebungkus snack yang baru dibukanya hingga semua isi berceceran di lantai.
"Dia benar-benar plin plan. Beberapa menit yang lalu katanya suka sama Justin, lalu si Pemenang Piala itu, dan sekarang siapa?"
"Bajiingan yang mana lagi itu," ucapnya kesal. Setahu Diego, dia sudah memberi Valent tugas penting dalam mengurusi masalah ini.
Diego mengambil ponselnya dan menelpon Valent.
"Aku menyuruhmu menumpas semuanya, Valent, kenapa masih ada yang tersisa?" tanyanya kesal langsung menyemprot sang asisten.
"Maaf, Signore. Sepertinya pemuda itu tidak mudah menyerah," jawab Valent dari seberang yang sudah memahami kekesalan sang majikan muda.
Diego menghembuskan napas dan langsung mematikan ponselnya. "Aku memang harus menyelesaikannya sendiri," gumamnya kemudian.
"Aku, Diego D'antonio adalah pria tampan yang tidak mudah menyerah. Berkomitmen dan penuh tanggung jawab, akan menjaga calon pengantinku dari kejaran hewan buas," ucapnya penuh percaya diri dan beranjak dari sana, meninggalkan bungkusan snack dan segala macam kekacauan yang dibuat keduanya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua berkencan dengan tenang," tukasnya. Senyuman iblis tercetak di bibirnya dengan jutaan rencana licik sudah tersusun di otak.
***
"Shauuuuuunnnnnnnnn .... Apa yang kamu lakukan pada kamarku?????!!!!!"
Teriakan Alita menggema, memaksa Diego menutup telinganya yang sedang berusaha menguping apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Sialan!!!! Brengsekkk!!! Aku akan membunuhmu!!!"
Diego tergelak kencang. Dia tahu Alita akan marah kalau kamarnya dijadikan tempat sampah. Dan Diego sengaja meninggalkan banyak bungkusan snack yang kosong. Akal-akalan pertama agar gadis itu tidak meninggalkan apartemen.
Nyatanya, Alita keluar setelah beberapa menit tidak terdengar suara. Diego mengintip, melihat pemilik rambut blonde itu membawa sekantong besar sampah dengan pakaian yang lengkap dan rapi. Siap berangkat.
"Kamu tidak akan menghentikanku hari ini, Sayang," cibir Alita sinis dan melirik Diego yang berpura-pura tidak tahu apa-apa sambil meneguk segelas susu. "Karena yang berhenti setelah cobaan pertama bukan petarung sejati."
Diego balas melirik, Alita sudah siap memakai sepatunya.
"Aaawwwww ... apa ini?" Alita histeris menemukan sepatu kesayangannya berlumuran kecap dan saus, penuh sesak di semua bagiannya dan tidak bisa dipakai.
"Shauuunnn!!!! Bajiingan tersayang, apa kamu masih berusaha menghentikanku? Tidak semudah itu," ucap Alita lagi.
Dia mengambil sepatu Diego kemudian melemparnya ke luar dan lari dari sana. Kantong sampah itu Alita pegang erat-erat membuat Diego tertawa lucu.
"Tunggu kejutan selanjutnya, Sayang," ucap Diego menatap malang pintu yang ditutup kasar oleh Alita. Diego terkekeh, Alita sedikit keras kepala tapi masih bisa diatasi.
Bukannya Diego tidak cemburu melihat gadis yang dicintainya bersama pria lain, tapi perjanjian dengan seseorang membuat akal sehatnya sedikit bekerja.
"Uncle Sil, aku ingin sekali membunuhmu disaat-saat seperti ini," umpat Diego sambil menantang kamera yang terpasang di setiap sudut apartemen.
"Aku tahu kau suka balas dendam, tapi aku juga bukan orang bodoh. Aku akan membalaskan apa yang aku rasakan ini beribu kali lipat," ucapnya dengan raut lemas, masih memandang kamera yang tidak henti berkedip.
"Aku akan membawanya pergi dan tidak akan membiarkanmu menemuinya, seperti janjiku dulu."
Diego bangkit, mencuci gelas bekas minumannya dan memasuki kamar. Memang tidak ada seorang pelayan pun, karena Duo Mistletoe itu suka saling bahu-membahu dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
Lagi pula, keduanya tidak punya uang untuk menyewa pembantu. Untuk bayar sewa apartemen saja harus meledakkan mesin-mesin atm yang menyimpan uang para koruptor.
Lengkap dengan kemeja juga jas yang menutupi, Diego siap berangkat. Dia menelpon Valent yang selalu bersembunyi di sebuah tempat yang lebih mewah darinya.
"Tunggu kejutan dariku, Kucing Manis," ucap Diego sambil memadang gambar Alita beberapa tahun yang silam.
.
---
Buat manas-manasin si Diego😁
---
***
Jan lupa komen😊