NovelToon NovelToon
Pewaris Makam Para Raja 2

Pewaris Makam Para Raja 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.

Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.

Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Rombongan kecil itu terus berjalan menembus lebatnya pepohonan Hutan Awan Hitam selama beberapa jam tanpa istirahat.

Hutan yang awalnya gelap gulita kini mulai disinari oleh semburat cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam.

Jalan setapak yang mereka lalui berakhir secara tiba-tiba di depan sebuah ngarai batu raksasa yang tertutup kabut tebal.

"Apakah jalan buntu ini adalah tempat yang kau sebut sebagai pintu masuk, Nona Yue?" tanya Xue Mingyue melihat tebing batu di depannya.

"Ini terlihat lebih seperti tempat yang cocok untuk mengubur mayat daripada pintu menuju reruntuhan kuno." lanjut gadis es itu dengan ketus.

"Matamu terlalu terpaku pada apa yang bisa dilihat oleh dunia fisik, Nona Es." balas Nona Yue dengan nada lembut namun merendahkan.

"Reruntuhan tingkat kaisar tidak akan pernah diletakkan di tempat yang bisa disentuh oleh tangan orang biasa."

Nona Yue melangkah mendekati dinding tebing yang dipenuhi oleh lumut dan tanaman rambat beracun.

Gadis bercadar itu merogoh lipatan gaunnya dan mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang memancarkan pendaran cahaya keemasan.

"Setengah peta ini adalah kunci resonansi untuk membuka pintu dimensi yang tertidur." jelas Nona Yue mengangkat perkamen tersebut.

"Mundur beberapa langkah, Tuan Lin Xiao, proses pembukaan gerbang ini mungkin akan sedikit bergejolak."

"Lakukan saja tugasmu, jangan khawatirkan kemampuanku menahan sedikit guncangan angin." jawab Lin Xiao melipat kedua lengannya di dada.

Wush.

Nona Yue mengalirkan energi spiritualnya yang murni ke dalam gulungan perkamen tersebut.

Cahaya keemasan meledak dari perkamen itu, membentuk pilar cahaya yang menghantam lurus ke dinding tebing ngarai.

Kriet. Krak.

Suara robekan yang sangat mengerikan bergema saat ruang dimensi di depan mereka mulai terbelah secara paksa.

Sebuah pusaran energi berwarna ungu gelap terbentuk di tengah dinding tebing, memancarkan hawa hisapan yang sangat kuat.

"Pintu masuknya sudah terbuka!" teriak Nona Yue menahan tubuhnya agar tidak tersedot pusaran tersebut.

"Kita harus melompat masuk sekarang sebelum resonansi peta ini kehabisan energinya!"

"Meng Shan, masuk lebih dulu dan jadilah perisai daging jika ada jebakan di balik sana." perintah Lin Xiao dengan sangat pragmatis.

"Siap laksanakan, Tuan!" raung Meng Shan tanpa ragu sedikit pun.

Wush.

Pemuda raksasa itu langsung melompat menembus pusaran ungu tersebut dan menghilang dari pandangan.

Xue Mingyue menyusul di belakangnya, diikuti oleh Nona Yue yang melangkah anggun menembus tirai dimensi tersebut.

Lin Xiao menjadi orang terakhir yang melompat masuk, membiarkan pusaran ungu itu tertutup rapat tepat di belakang tumit sepatunya.

Bruk.

Begitu kaki Lin Xiao menyentuh tanah di sisi lain portal, sebuah tekanan raksasa langsung menghantam seluruh tubuhnya tanpa peringatan.

Tekanan itu terasa seperti ada sebuah gunung batu yang tiba-tiba dijatuhkan tepat ke atas kedua bahunya.

"Sialan, gravitasi di tempat ini benar-benar tidak masuk akal." umpat Lin Xiao dengan gigi terkatup rapat.

"Jubah Sutra Gravitasi yang kita beli kemarin benar-benar menyelamatkan tulang rusuk kita hari ini."

Lin Xiao melihat Meng Shan sedang berdiri dengan lutut sedikit menekuk, menahan beban yang luar biasa berat.

Xue Mingyue bahkan harus bertumpu pada pedang esnya agar tidak jatuh tengkurap ke atas lantai batu kuno.

"Kalian semua baik-baik saja?" tanya Lin Xiao berjalan mendekati kedua bawahannya dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya.

"Tubuh saya terasa ratusan kali lebih berat, Tuan, tapi organ dalam saya masih utuh." lapor Meng Shan dengan napas tersengal.

"Aku benci mengakuinya, tapi uang yang kau peras dari wanita itu memang sangat berguna." desis Xue Mingyue mencoba berdiri tegak.

Nona Yue yang berdiri tidak jauh dari mereka terlihat paling tidak terpengaruh oleh tekanan tersebut.

Gadis itu memiliki artefak pelindung tubuh tingkat tinggi yang bersinar redup di balik gaunnya.

"Selamat datang di Domain Bintang Jatuh." ucap Nona Yue merentangkan kedua tangannya.

"Tempat di mana atas bisa menjadi bawah, dan langkah yang salah akan membuatmu tercabik-cabik oleh badai dimensi."

Lin Xiao mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling lingkungan baru tersebut.

Mereka tidak berada di dalam sebuah gua atau makam bawah tanah yang gelap seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Tempat ini lebih terlihat seperti ruang angkasa buatan yang dipenuhi oleh pulau-pulau batu melayang dengan ukuran raksasa.

"Pemandangan yang cukup dramatis untuk sebuah kuburan." komentar Lin Xiao dengan santai.

"Bagaimana cara kita mencapai pulau utama jika tidak ada jembatan yang menghubungkan bebatuan melayang ini?" tanya Xue Mingyue mengerutkan keningnya.

"Kita akan melompat." jawab Nona Yue menunjuk ke arah pulau terdekat yang berjarak belasan meter.

"Setiap pulau memiliki medan gravitasinya sendiri, kalian harus berhati-hati saat melayang di udara."

Di dalam Dantian Lin Xiao, roh Kaisar Bayangan tiba-tiba mendengung memberikan peringatan yang sangat serius.

'Hati-hati, bocah, ruang di antara pulau-pulau itu dipenuhi oleh retakan tak kasat mata.' peringat Kaisar Bayangan Pemakan Bulan.

'Satu sentuhan saja, dan tubuhmu akan terpotong menjadi dua lalu dibuang ke dimensi acak.'

'Terima kasih atas sarannya, aku akan membiarkan wanita bangsawan ini yang mencari jalan amannya.' batin Lin Xiao menyeringai licik.

"Karena kau yang memiliki petanya, Nona Yue, kau yang memimpin jalan melompati bebatuan ini." usul Lin Xiao menyilakan gadis itu maju.

"Jangan khawatir, jika kau salah melompat dan jatuh ke jurang tanpa dasar itu, aku akan menuliskan namamu di batu nisan yang bagus."

Nona Yue menoleh dan mendengus pelan mendengar ucapan yang sangat tidak romantis tersebut.

"Kuharap kemampuan melompatmu sama bagusnya dengan ketajaman mulutmu itu, Tuan Lin Xiao." balas gadis bercadar tersebut.

Tap. Wush.

Nona Yue melompat ringan menembus udara, mengabaikan tarikan gravitasi berat di pulau pertama ini.

Gadis itu mendarat dengan sangat mulus di atas pulau batu berikutnya, gaunnya berkibar indah tertiup angin dimensi.

Namun saat Nona Yue hendak melangkah maju untuk menstabilkan posisinya, lantai batu di depannya tiba-tiba beriak seperti air.

"Berhenti di sana!" teriak Lin Xiao dengan suara bariton yang meledak keras.

Sring.

Lin Xiao memicu kecepatan ilusinya hingga maksimal, menembus tarikan gravitasi dan melesat menyusul Nona Yue ke pulau tersebut.

Sebelum kaki gadis itu menginjak riakan ruang tersebut, Lin Xiao telah melingkarkan lengan kirinya ke pinggang ramping gadis itu dengan sangat kuat.

Brak.

Lin Xiao menarik tubuh Nona Yue dengan kasar ke belakang, membuat mereka berdua terjatuh bergulingan di atas lantai batu yang keras.

Tepat di tempat Nona Yue akan menginjakkan kakinya sedetik yang lalu, sebuah retakan dimensi berwarna hitam terbuka membelah udara.

Cras.

Angin kencang menyedot sebuah bongkahan batu besar di dekatnya ke dalam retakan hitam itu, memotong batu tersebut menjadi debu seketika.

1
VirgoRaurus 31Smile
cincin kan di pakai di jari... kenapa Meng Shan pakai peluk mayat segala, kalau cuma mau ambil cincin....
VirgoRaurus 31Smile
emangnya orang koma itu pasti tubuhnya kaku ya ..
Muh, Manan
mc lemah banyak ngomong..
VirgoRaurus 31Smile
menikah dg siapa... bukankah calon pengantin pria sudah mati...?
Salafudin
lanjut....
Hironimus Dachi
cadassss
aliff mocet
bagusssss
sutrimo trimo
semangat thir lanjut💪💪💪💪
Hironimus Dachi
mantaps
Bambang Hartono
lanjut Thor... semangat
VirgoRaurus 31Smile
mati aja belum kok terbaring kaku... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
mencabut pedang es nya ke arah leher MC... maksudnya gimana Thor...?
Ironside
Request tambahkan makam raja insect Kak /Smile/
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Busetttt, ditunggu insect nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!