6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. SUMUR ITU MENGIKUTI
Aku tidak salah lihat.
Sumur itu ada di halaman balai desa. Jelas sekali. Padahal sore tadi sumur itu masih ada di belakang rumah Mbok Darmi. Jaraknya 200 meter. Tidak mungkin sumur batu bata sebesar itu bisa pindah sendiri dalam beberapa jam tanpa ada yang mendengar.
Tapi inilah kenyataannya. Sumur itu sekarang ada tepat di depan jendela balai desa, hanya berjarak 5 meter dari tempat kami tidur. Air hitam di dalamnya berkilau terkena cahaya bulan, dan bau anyir serta melatinya semakin kuat, sampai masuk ke dalam balai desa.
"Gak mungkin... gak mungkin sumur bisa jalan..." Sinta berbisik, tubuhnya gemetar hebat sampai giginya bergemeletuk. Dia memeluk tas KKN nya erat-erat seperti boneka.
Bima, yang paling berani di antara kami, mencoba membuka pintu balai desa dengan senter di tangan. "Aku mau lihat dari dekat. Kalian di sini aja."
"Jangan, Bim!" Aku menarik tangannya. "Kamu lupa cerita pemuda tadi siang? Sumur itu gak ada dasarnya! Dan Mbok Darmi ada di bawah sana gendong bayi!"
Tapi Bima sudah terlanjur membuka pintu. Angin malam langsung menerobos masuk, membawa kabut tipis yang keluar dari dalam sumur itu. Kabutnya dingin, berbau kemenyan.
Kami bertiga melangkah keluar pelan-pelan, berpegangan tangan. Tanah di sekitar sumur itu becek, penuh lumpur hitam yang sama seperti jejak kaki Mbok Darmi tadi pagi. Lumpur itu masih segar, masih hangat jika diinjak.
Saat kami sampai di bibir sumur, kami melihat sesuatu yang membuat kami bertiga langsung ingin pingsan.
Di batu bata sumur itu, ada tulisan baru. Tulisan yang digores dengan kuku, masih basah oleh darah.
Tulisannya: SELPI + SELVI
Dua nama itu digabungkan dengan tanda tambah, seperti tulisan di pohon jaman anak SMP pacaran.
Dan di bawah tulisan itu, ada ukiran baru lagi, lebih dalam: 7 - 1 \= 6. 6 + 1 \= 7
"Kamu penggantinya..." bisik Sinta, mengingat perkataan Pak Lurah. "Kamu harus gantiin Selvi, Sel..."
Tiba-tiba dari dalam sumur, terdengar suara.
Bukan suara bayi menangis lagi. Tapi suara perempuan bernyanyi. Suara nina bobo. Lagu Jawa yang biasa dinyanyikan ibu-ibu untuk menidurkan anaknya.
Lelo lelo lelo ledung...
Suara itu adalah suara Mbok Darmi. Aku hafal sekali suara Mbok Darmi kalau sedang bersenandung di dapur sambil masak.
"Mbok Darmi?" Aku memberanikan diri memanggil ke dalam sumur, suaraku bergetar. "Mbok... Mbok Darmi ada di bawah?"
Nyanyian itu berhenti.
Lalu terdengar suara Mbok Darmi menjawab dari dalam kegelapan sumur. Suaranya terdengar jauh, menggema, seperti dari kedalaman ratusan meter.
"Selpi... tolong... tolong Mbok... Mbok kedinginan... di sini gelap... Selvi nangis terus... dia lapar..."
"Mbok di bawah sana ngapain? Biar kami turunin tali!" Bima berteriak sambil mencari tali tambang di balai desa.
"Jangan turun!" Suara Mbok Darmi tiba-tiba berubah menjadi panik dan keras. "Jangan turun! Jangan kasih dia nama ketujuh! Kalau kamu turun, kamu gak akan bisa naik lagi! Dia butuh tubuhmu, Selpi! Dia mau tubuhmu biar dia bisa lahir lagi!"
Tubuhku? Lahir lagi?
Belum sempat kami mencerna perkataan Mbok Darmi, air hitam di dalam sumur itu mulai bergejolak. Blubuk... blubuk... seperti air mendidih. Gelembung-gelembung besar naik ke permukaan.
Dan dari dalam air hitam itu, muncul sebuah tangan.
Tangan pucat, kurus, dengan kuku panjang hitam penuh tanah. Tangan itu meraih bibir sumur, mencoba naik.
Lalu tangan kedua muncul. Lalu kepala.
Kepala perempuan muda dengan rambut panjang basah menutupi wajah. Kebaya hitam sobek-sobek.
Sosok yang sama seperti di balai desa kemarin. Tapi kali ini lebih jelas. Wajahnya tidak lagi bolong. Wajahnya cantik, pucat, dengan mata sayu yang menangis darah. Dia cantik sekali, mirip Mbok Darmi saat muda.
Itu Selvi.
Dia menatapku. Tepat ke mataku. Dan dia tersenyum.
Senyumnya bukan senyum jahat. Senyumnya senyum sedih, senyum meminta tolong.
"Selpi... bantu aku... aku kangen ibu... aku mau keluar... tapi aku butuh wadah... tubuhmu hangat..."
Aku mundur selangkah. "Jangan... jangan aku..."
Sinta langsung berdiri di depanku, melindungiku. "Jangan ambil teman kami! Ambil aja kami! Jangan dia!"
Selvi yang setengah badannya sudah keluar dari sumur itu menatap Sinta, lalu tertawa pelan. Tertawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kalian semua akan jadi milik sumur ini. Satu persatu. Tujuh harus genap. Mbok Darmi sudah kembali ke pelukanku. Sekarang giliran kalian. Tapi Selpi dulu... karena dia mirip aku..."
Saat itu juga, lumpur hitam di sekitar sumur bergerak sendiri. Lumpur itu naik seperti tangan-tangan kecil dan melilit kaki kami. Kaki Sinta, kaki Bima, dan kakiku. Lengket, dingin, dan menarik kami pelan-pelan ke arah bibir sumur.
Kami berjuang melepaskan diri, tapi lumpur itu semakin kuat. Semakin kami berontak, semakin dalam kaki kami terperosok.
"SELPI! PEJAMKAN MATA! JANGAN LIHAT MATANYA!" Tiba-tiba terdengar teriakan Pak Lurah dari kejauhan. Pak Lurah datang berlari dengan membawa obor dan garam kasar.
Pak Lurah menaburkan garam kasar itu ke arah lumpur hitam yang melilit kaki kami sambil membaca doa-doa Jawa yang tidak kami mengerti.
"Sirno! Sirno! Balio neng panggonmu!"
Ajaibnya, lumpur itu menjerit. Iya, lumpur itu menjerit seperti manusia kesakitan dan melepaskan lilitannya. Kami bertiga jatuh terduduk di tanah.
Selvi yang ada di dalam sumur menjerit marah melihat Pak Lurah. Jeritannya melengking tinggi.
"Pak Lurah! Kenapa kamu halangi aku lagi! Dulu kamu juga halangi aku! Kamu yang buang aku ke sumur ini!"
Pak Lurah terdiam, obor di tangannya gemetar. Wajahnya pucat.
"Jadi benar... Pak Lurah yang..." Bima tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Pak Lurah menangis. "Maafkan Bapak, Selvi... Bapak terpaksa... warga desa yang minta... untuk tumbal panen..."
Selvi tertawa semakin keras. Air di dalam sumur naik drastis, hampir meluap. Dari dalam air itu, muncul bukan hanya Selvi, tapi juga 6 sosok lain. 6 sosok dengan kain kafan yang sama seperti yang kami temukan. Wajah mereka semua hancur, pucat.
Itu adalah 6 nama di kain. Rukiyah, Sarmi, Tohari, Lestari, Wagiman, Siti. Mereka semua berdiri di belakang Selvi, di dalam sumur, menatap kami.
Pak Lurah menarik kami bertiga menjauh dari sumur. "Lari! Masuk balai desa! Kunci pintunya!"
Kami berlari masuk ke balai desa dan mengunci pintu dan jendela dengan meja dan kursi. Dari luar, kami mendengar suara sumur itu bergetar, batu batanya berderak, dan suara 7 sosok itu menangis, tertawa, dan memanggil-manggil nama kami bergantian.
"Selpi... Sinta... Bima... sini..."
Sepanjang malam, sumur itu tidak pergi. Sumur itu tetap di halaman balai desa, menatap kami dari jendela. Kadang airnya meluap sampai masuk ke dalam balai desa berupa rembesan lumpur hitam.
Pagi harinya, saat matahari terbit, suara-suara itu hilang. Kami memberanikan diri membuka pintu.
Halaman balai desa kosong. Tanah kering. Tidak ada sumur. Tidak ada lumpur. Seolah kejadian semalam hanya mimpi.
Tapi saat aku melihat ke kakiku, kaki ku masih penuh lumpur hitam yang belum kering. Dan di telapak tanganku, tulisan SELPI yang kemarin sempat hilang setelah kain dibakar, sekarang muncul kembali. Bukan tulisan tinta, tapi seperti urat darah yang membentuk tulisan SELPI di bawah kulitku.
Sinta melihatnya dan langsung menangis. "Sel, tanganmu..."
Bima menatap ke arah rumah Mbok Darmi yang jauh di sana. "Kita harus akhiri ini, Sel. Kalau tidak, sumur itu akan terus ngikutin kamu kemanapun kamu pergi. Bahkan sampai ke kota."
Aku mengangguk. Aku tahu apa yang harus dilakukan.
Malam ini adalah malam Jumat Kliwon. Malam yang dikatakan Pak Lurah adalah malam dimana gerbang sumur itu terbuka lebar.
Kami harus melakukan ritual terakhir. Ritual yang dulu gagal dilakukan warga untuk menutup sumur itu.
Ritual yang membutuhkan tumbal pengganti.
Pertanyaan Horor Buat Pembaca Setia!
GILA! SUMURNYA BISA PINDAH! BENER-BENER NGIKUTIN SELPI! 😭
Ternyata Pak Lurah terlibat buang Selvi ke sumur buat tumbal! Pantas dia ketakutan!
Menurut kalian, apa ritual terakhir yang harus dilakukan Selpi biar sumur itu berhenti ngikutin? Apakah Selpi harus mengorbankan dirinya sendiri?
Dan menurut kalian, siapa 6 sosok di belakang Selvi itu? Apakah mereka mau balas dendam ke Pak Lurah juga?
Tulis di komen ya! Tim #RitualTerakhir atau Tim #SelpiJanganMati ?
Bab besok BAB 25. RITUAL TERAKHIR bakal super mencekam! Selpi bakal masuk ke dalam sumur yang gak ada dasarnya itu! Jangan sampai ketinggalan! Vote & Follow biar gak hilang!
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐