Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Rumah Persembunyian
Mobil hitam yang membawa Adrian dan Nadira melaju meninggalkan Rumah Sakit, semantara hujan masih turun deras. Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Nadira duduk di samping Adrian, sementara Gunawan berada di kursi depan bersama salah satu pengawalnya.
Nadira beberapa kali melirik Adrian, wajah pria itu terlihat pucat. Sesekali tangannya menyentuh bagian punggung yang terluka.
"Kamu masih sakit?" tanya Nadira pelan.
Adrian menggeleng. "Tidak."
Nadira langsung mengernyit. "Tidak apanya? Luka itu baru saja dipukul." Ia mengambil kotak P3K yang tersedia di dalam mobil. "Sebaiknya kamu duduk diam."
Adrian langsung menurut.
Nadira membuka perban yang menutupi punggungnya. Luka bekas hantaman tongkat terlihat memerah. "Ini bisa infeksi kalau tidak di obati."
Adrian menatap wajah Nadira melalui pantulan kaca. "Kamu masih memikirkan pekerjaanmu?"
Nadira berhenti mengoleskan obat. "Maksudmu?"
"Kamu bisa kehilangan pekerjaan karena aku."
Nadira menggeleng. "Aku tidak peduli." Nadira kembali fokus mengobati lukanya. "Yang penting kamu selamat."
Kalimat itu membuat dada Adrian terasa hangat. Gunawan yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Ponsel pengawal yang berada di kursi depan tiba-tiba berdering.
"Tuan..." Pengawal itu menatap layar. "Ada masalah."
Gunawan mengulurkan tangan. "Masalah apa?"
"Kita sedang diikuti."
Suasana mobil seketika berubah.
Nadira menoleh ke belakang. "Diikuti?"
Gunawan melihat melalui kaca spion, dua mobil hitam terlihat beberapa puluh meter di belakang mereka.
"Sejak kapan?"
"Kurang lebih lima menit."
Gunawan langsung mengambil keputusan. "Kita jangan pulang ke rumah. Belok ke jalur alternatif."
"Baik, Tuan."
Mobil segera berbelok tajam, namun dua mobil di belakang mereka ikut berbelok.
Adrian yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Sepertinya mereka orang suruhan Miranda."
Gunawan menatapnya. "Apa kamu yakin?"
Adrian mengangguk. "Iya, Miranda sangat licik. Dia tidak akan tinggal diam melihat aku selamat."
Gunawan menyipitkan mata. "Astaga, keterlaluan."
Adrian menatap ke belakang. "Berapa banyak pengawal kita?"
"Enam orang," jawab pengawal
"Dan mereka?" tanya Adrian dengan serius.
Pengawal menjawab. "Sepertinya delapan orang."
Gunawan terdiam sesaat, lalu berkata, "kalau begitu kita jangan membawa mereka menuju rumah." Mobil kembali berbelok.
Beberapa menit kemudian...
Salah satu mobil pengejar mempercepat laju. "Jangan sampai kehilangan jejak mereka!"
Sopir menekan pedal gas, mobil hitam itu melaju semakin dekat.
Tiba-tiba...
Dari persimpangan lain, dua mobil milik Gunawan muncul dan memblokir jalan.
"Berhenti!"
Mobil pengejar mengerem mendadak, ban berdecit keras. Namun sebelum mereka sempat mundur, beberapa pengawal Gunawan telah turun dari mobil.
Pertarungan singkat pun terjadi.
Gunawan sengaja membiarkan para pengawal menghadapi mereka sementara mobil utama melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil, Nadira menggenggam erat sisi kursi.
"Om..."
"Tenang." Gunawan tetap tenang. "Mereka tidak akan mengejar kita lagi."
Namun Adrian justru menatap Gunawan dengan serius "Jangan terlalu yakin."
Gunawan menoleh. "Maksudmu?"
"Miranda bukan orang bodoh. Kalau dia berani menyuap rumah sakit dan mengirim orang untuk membunuhku... dia pasti sudah menyiapkan rencana cadangan."
Gunawan terdiam sesaat, "semoga kali ini kamu salah menduga."
Satu jam kemudian...
Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah besar yang berada jauh dari pusat kota. Rumah itu terlihat sederhana dari luar, tetapi memiliki pagar tinggi dan sistem keamanan yang ketat.
Gunawan turun lebih dulu. "Mulai malam ini, tempat ini menjadi rumah sementara untuk kalian."
Nadira memandang sekeliling. "Om punya rumah seperti ini?"
Gunawan tersenyum. "Om punya banyak rahasia yang belum pernah kamu ketahui."
Gunawan membuka pintu utama rumah itu. Begitu mereka masuk, Nadira langsung terdiam. Bagian dalam rumah ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Ruang tamu besar dengan sofa berwarna gelap memenuhi bagian tengah ruangan. Lampu-lampu dinding memberikan cahaya hangat, sementara beberapa lukisan dan perabotan klasik menghiasi setiap sudut.
Beberapa pelayan yang sejak tadi menunggu segera berdiri. "Selamat datang, Tuan."
Gunawan mengangguk. "Siapkan semuanya."
"Baik, Tuan."
Nadira masih memandangi sekeliling dengan heran. "Om..."
Gunawan langsung menoleh.
"Rumah ini seperti hotel."
Gunawan tertawa kecil. "Memang sengaja dibuat seperti itu."
"Kenapa?" tanya Nadira bingung.
"Karena rumah ini bukan sekadar tempat tinggal." Gunawan berjalan menuju ruang keluarga. "Ini rumah persembunyian."
Adrian yang sejak tadi diam langsung memperhatikan sekeliling. "Keamanannya bagus."
Gunawan tersenyum. "Kamu memperhatikannya?"
"Jendela lantai satu menggunakan kaca khusus. Pintu belakang punya akses ganda. Ada kamera di hampir setiap sudut." Adrian melirik salah satu kamera. "Dan ada ruang keamanan di lantai bawah."
Gunawan tertawa kecil. "Sepertinya aku tidak salah membawa orang kesini"
Nadira menghela napas. "Kalian berdua sama-sama aneh."
Adrian hanya tersenyum tipis. Kali ini suasana terasa sedikit lebih ringan.
Seorang pelayan menghampiri mereka. "Tuan Gunawan, kamar sudah disiapkan."
Gunawan mengangguk. "Bagus." Ia kemudian menoleh kepada Nadira dan Adrian. "Kalian berdua istirahat dulu. Semua kebutuhan sudah disiapkan di kamar masing-masing."
Nadira mengernyit. "Kamar masing-masing?"
"Iya" Gunawan tersenyum. "Om tidak mungkin membiarkan kalian tidur di ruang tamu."
Nadira tertawa kecil. "Terima kasih, Om."
Seorang pelayan mengantar Nadira menuju salah satu kamar di lantai dua. Sementara Adrian diarahkan menuju kamar lain yang berada tidak jauh dari sana.
Begitu pintu kamar dibuka, Nadira kembali terkejut. Di atas tempat tidur telah tersedia beberapa set pakaian wanita. Ada piyama, pakaian santai, bahkan pakaian untuk keperluan sehari-hari dan semuanya masih baru.
Di meja samping tempat tidur terdapat perlengkapan mandi, handuk, sandal, dan berbagai kebutuhan pribadi.
Nadira memandang pelayan dengan bingung. "Semua ini..."
"Semuanya sudah disiapkan oleh Tuan Gunawan." Pelayan itu tersenyum. "Tuan selalu menyediakan pakaian dalam berbagai ukuran untuk tamu yang datang ke rumah ini."
Nadira tersenyum. "Om memang selalu seperti itu."
Ia kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Nadira keluar dengan rambut masih sedikit basah. Ia duduk di depan meja rias, namun pikirannya kembali tertuju kepada Adrian.
"Kalau Om tidak datang, entah bagaimana keadaannya sekarang..."
***
Di kamar lain...
Adrian baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan pakaian sederhana yang telah disiapkan Gunawan. Kemeja putih dan celana panjang hitam.Di depan cermin, Adrian memperhatikan dirinya sendiri.
Sudah lama, ia tidak mengenakan pakaian seperti itu. Selama berberapa bulan terakhir, ia hanya memakai pakaian berwarna abu-abu. Ia kembali terlihat seperti dirinya yang dulu. Seorang pria yang memiliki kehidupan.
Bukan pasie dengan gangguan jiwa, melainkan Adrian Mahendra. Ia menyentuh wajahnya sendiri, kemudian memandang pantulan dirinya di cermin.
"Aku akan kembali..." gumamnya. "Aku akan mengambil kembali semua yang menjadi milikku."
Namun sebelum keluar kamar, Adrian melihat sebuah foto yang terletak di atas meja. Foto lama, seorang pria muda berdiri bersama seorang wanita dan seorang anak kecil.
Adrian mengernyit. "Ini..."
Di lantai bawah, Nadira sedang duduk bersama Gunawan di ruang keluarga. "Om..."
"Hm?"
"Kenapa Om punya rumah seperti ini?"
Gunawan terdiam beberapa saat, tatapannya beralih ke sebuah lukisan tua di dinding. "Karena dulu Om sangat membutuhkannya."
Nadira menatap wajah pamannya. "Maksudnya?"
Gunawan menarik napas panjang. "Dulu... Om pernah tinggal di rumah ini bersama istri dan anak Om."
Nadira terdiam, ia tahu bahwa istri dan anak Gunawan telah lama meninggal. Namun pamannya jarang sekali membicarakan mereka.
"Jadi rumah ini, yang dulu Om gunakan bersama mereka?"
Gunawan mengangguk. "Ya." Senyumnya terlihat tipis, tetapi matanya menyimpan kesedihan. "Saat itu bisnis Om belum sebesar sekarang. Lama kelamaan bisnis Om mulai berkembang. Semakin besar, semakin banyak pula orang yang ingin menjatuhkannya. Karena itu Om membangun rumah ini. Tempat untuk bersembunyi ketika keadaan menjadi berbahaya."
Nadira terdiam mendengarkan.
"Setelah istri dan anak Om meninggal..." Gunawan berhenti sejenak. "Om tetap mempertahankan rumah ini. Karena di sini masih tersimpan banyak kenangan."
Nadira menggenggam tangan pamannya. "Maaf, Om."
Gunawan tersenyum. "Tidak apa-apa." Ia kemudian menatap ke arah tangga. "Dan sekarang rumah ini kembali memiliki penghuni."
Tanpa mereka sadari... di lantai dua, Adrian berdiri di dekat tangga. Ia mendengar percakapan mereka.