Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 8|
"Kalau begitu selamat tinggal. Selamat tinggal. Sampai ketemu besok!" Yasmine melambaikan tangannya pada beberapa karyawan dan teman-teman sekantornya. Rasanya lelah sekali. Ia sudah selesai menyusun semua jadwal Abiyasha untuk besok sampai seminggu ke depan. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Beberapa karyawan sudah mengosongkan meja dan bergegas pulang. Termasuk Yasmine. Rasa letih membuatnya ingin segera pulang dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu meringkuk di dalam sana, dan tidur hingga esok hari.
Namun sayangnya bayangan membahagiakan itu tidak berlangsung lama ketika Yasmine melihat Abiyasha berjalan ke arahnya bersama dengan seorang pria berkepala plontos yang menakutkan saat berada di lobi.
Jantung Yasmine berdegup kencang, ia menelan ludah. Mendadak berjalan ke arah pria itu atau berbalik arah terasa membingungkan. Keduanya tidak dapat ia lakukan. Kakinya kaku.
Menggunakan waktu sepersekian detik untuk mengamati Abiyasha dari kejauhan, Yasmine tersenyum kecil. Sejak dulu pria itu memang tidak banyak berubah. Abiyasha memang setinggi itu. Terlalu tinggi malahan. Perbedaan yang kentara adalah sorot mata pria itu yang lebih tajam, mematikan, dan mengintimidasi siapa saja yang melihatnya.
Abiyasha berubah dari pria yang manis menjadi pria dewasa tanpa menyisakan sedikitpun hal yang mampu Yasmine ingat. Pria itu seperti terlahir kembali, menjadi manusia baru yang jauh dari yang Yasmine kenal. Lebih dari itu semua... Abiyasha telah melupakannya. Memendamnya dalam ingatan yang kini hilang entah ke mana.
"Kau harus berjanji padaku untuk tetap hidup bagaimanapun caranya. Berjanjilah kalau kau akan hidup dengan baik tanpaku... Berjanjilah, atau aku akan sangat membencimu."
Yasmine tersenyum miris. Semuanya sudah terjadi.
Tapi asalkan pria itu hidup dan baik-baik saja, Yasmine surah cukup senang. Setidaknya meskipun Abiyasha tidak mengenalinya sedikitpun, asalkan pria itu bahagia, Yasmine tidak pernah mempermasalahkannya. Yang Yasmine pikirkan adalah bagaimana mungkin takdir mempertemukannya kembali dengan keadaan semacam ini? Bagaimana mungkin mereka kembali bertemu setelah sekian lama padahal semuanya terasa mustahil?
Apakah jika kita tidak bertemu? Mungkinkah kita akan sama-sama bahagia dengan pilihan masing-masing?
Sadar kalau Abiyasha berjalan semakin mendekatinya. Yasmine menjadi kikuk. Tidak ada pilihan saat pria itu benar-benar berhenti di hadapannya. Tanpa senyum, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, sorot mata Abiyasha terlihat angkuh. Pria itu menatap Yasmine.
Yasmine memasang senyum tipis. "Selamat sore, Pak!" sapanya ringan. Suaranya seperti tercekat. Mirip tikus yang bercicit malam-malam.
"Mm..." gumam pria itu. Tatapannya lekat ke arah Yasmine.
Tidak mau berlama-lama ditatap Abiyasha, Yasmine berkata, "Saya sudah mengatur jadwal Pak...Biyash sampai seminggu ke depan."
"Bagus!" jawab Abiyasha singkat.
"Kalau begitu... Saya permisi!" Yasmine membungkukkan badan. Berniat pergi, tapi urung saat Abiyasha mencegahnya.
"Tunggu!"
Yasmine menghentikan langkahnya. Kembali menoleh ke arah pria itu. Dadanya berdebar-debar.
"Kau..." Abiyasha maju selangkah. Tubuh pria itu membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Yasmine. Yasmine kaku di tempatnya saat pria itu berada begitu dekat dengan wajahnya. "Siapa kau? Kenapa wajahmu... tidak asing untukku?
Yasmine menahan napas.
...***...
"Kau lihat bagaimana Abiyasha yang tetap tidak berpengaruh pendiriannya untuk menikahaimu?" tanya Bramantyo Wijaya pada Amara yang duduk di kursi penumpang depan.
Amara menoleh ke belakang tepat ayahnya duduk. "Tapi aku tetap menginginkannya, Papi. Dia adalah orang yang aku inginkan selama ini."
"Meskipun kau sudah ditolak ribuan kali olehnya?"
"Ya!" Amara berkata yakin. "Aku sudah sejauh ini untuk menunggunya membuka hati untukku. Jadi bagaimana bisa aku meninggalkan apa yang menjadi tujuanku?" Amara tersenyum sendu.
Bayangan betapa kasarnya Abiyasha padanya membuat Amara sedih. Terkadang ia berpikir bagaimana mungkin hati Abiyasha tidak terombang ambing sedikitpun saat Amara mampu memiliki apa yang wanita lain tidak miliki. Kekayaan, kecantikan, dan kecerdasannya tidak bisa dikatakan biasa saja. Namun, tidak ada satupun yang mampu membuat Abiyasha berpaling untuk menatapnya. Tidak peduli berapa lama Amara menunggu pria itu untuk membuka hatinya.
Ada banyak pria yang mencoba mendekatinya namun Amara tidak pernah mengizinkan orang lain untuk menjamah batas teriorial yang ia buat. Pria-pria itu hanya datang, lalu pergi karena keinginan Amara. Tidak ada yang benar-benar tinggal dalam hatinya kecuali Abiyasha.
Dan lagi-lagi ia harus tertampar oleh fakta kalau pria yang ia cintai sejak dulu tidak pernah membalas cintanya.
"Aku akan membuatnya terus berada di sampingku, Papi. Aku akan terus membuatnya tidak bisa lari dariku" katanya yakin. Ya, Amara tidak akan melepaskan Abiyasha dengan mudah.
Ia akan berusaha sampai pria itu melihat ke arahnya. Sampai tidak ada yang dilihat oleh Abiyasha kecuali Amara.
...***...
"Siapa kau? Kenapa wajahmu... Tidak asing untukku?"
Yasmine membuka mulutnya untuk bicara. Tapi tidak ada satupun suara yang keluar dari bibirnya. Pandangan Abiyasha mengunci dirinya, membuatnya bingung harus melakukan apa. Apakah Yasmine harus mengatakan semuanya? Tapi bagaimana caranya?
"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?"
"Ke-kenapa anda berpikir be...begitu?"
Abiyasha membuka mulutnya. Tapi tertutup kembali setelah mendengar suara seseorang.
"Yash!"
Yasmine dan Abi sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Mereka berdua menatap seorang pria yang tampak dandy dengan sweater berwarna abu-abu. Pria itu melambaikan tangan pada Yasmine.
"Rio..." batin Yasmine. Kedatangan Rio yang tidak diduga membuat Yasmine memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan pergi dari sini. "Haloooo. Rio!" katanya melambaikan tangan pada pria itu dengan sangat ceria. Malahan terlalu berlebihan sampai Rio harus mengernyit dari kejauhan.
Rio mendekati Yasmine dan Abiyasha. Abi terlihat mengerutkan dahinya dalam ketika Rio datang dan merengkuh pundak Yasmine. "Hai, aku menunggumu di luar. Kupikir kau sudah pulang," kata pria itu.
Yasmine tersenyum lebar. "Belum, kok, Sayang. Aku sedang bicara dengan bosku," kata Yasmine. "Perkenalkan, ini Pak Biyash, dia Direktur Utama perusahaan ini."
Rio mengalihkan pandangannya menuju Abiyasha. Dan Abiyasha hanya mampu mengamati pria yang tiba-tiba datang di hadapannya ini dengan gusar ketika melihat parasnya yang rupawan.
"Ah, halo. Maaf saya tidak tahu kalau kalian sedang bicara." Rio menyapa Abiyasha dengan sopan. "Perkenalkan, saya Rio. Pacar Yasmine," pria itu mengulurkan tangan dengan tenang.
Pacar Yasmine...
Pacar Yasmine...
Tidak mau terlihat bodoh di hadapan dua orang didepannya, Abiyasha menjabat tangan pria itu. Sekilas. "Biyash," katanya tidak ingin memperlama obrolan.
"Ah, saya dan Yasmine pikir anda adalah atasan berusia tua. Saya tidak berpikir kalau Direktur Yasmine adalah pria semuda anda." Katanya riang. "Saya sangat berterima kasih karena sudah membiarkan pacar saya bekerja di sini..." dan kalimat basa-basi itu menguap di telinga Abiyasha.
"Mm, baiklah!" seru Abiyasha setelah pria bernama Rio ini mengatupkan mulutnya dan berhenti bicara. "Saya ada urusan penting. Kalau begitu permisi..." Abiyasha menganggukkan kepalanya. Pamit dari sana.
Sedangkan Yasmine hanya mampu bergetar ketakutan di sisi Rio. Begitu lega perasaannya ketika pria itu melangkahkan kakinya menjauhi dirinya dan Rio.
"Kau tidak apa-apa, Yash?"
Yasmine menatap Rio, lalu menggeleng. Sekuat tenaga ia berusaha tersenyum. "Aku baik-baik saja!"
"Apa bosmu mengganggumu?" Tanya Rio khawatir.
"Tidak, Rio. Dia tidak menggangguku. Aku hanya senang kau datang di saat yang tepat." Kata Yasmine lirih. "Ayo pulang!"
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu, seseorang yang berhasil membuatku begitu mencintaimu....
...IG :@_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣