Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Kereta Api
Stasiun Cirebon penuh orang yang membawa kardus, tas plastik, dan wajah lelah.
Bu Yati menggenggam tas kainnya erat. Di dalamnya ada uang, kartu gaji Pak Tono, syal Tari, dan surat yang sejak semalam terasa seperti bara. Bagus berjalan di sampingnya dengan ransel kecil, wajahnya sudah kusut sebelum kereta datang.
"Bu, ekonomi begini sempit banget," keluh Bagus saat mereka menemukan kursi. "Kalau naik travel mungkin lebih enak."
"Kalau kamu mau enak, bayar sendiri."
Bagus langsung diam.
Kereta bergerak menjelang pagi. Suara roda menghantam rel membuat badan tua Bu Yati ikut bergetar. Di seberang mereka, seorang ibu menyusui bayi. Di lorong, pedagang membawa kopi sachet dan nasi bungkus. Bagus membeli gorengan dua ribu rupiah, lalu mengeluh karena dingin.
Bu Yati tidak mendengarkan. Matanya menatap sawah yang lewat di luar jendela. Setiap hamparan hijau membuatnya membayangkan Tari membungkuk di bawah matahari, tangan kasar, wajah menghitam, dan mulut masih berkata tidak apa-apa.
Menjelang siang, kereta makin penuh. Seorang gadis muda berdiri di dekat pintu sambungan karena tidak mendapat tempat duduk. Ia membawa tas kain besar dan terus bergeser menjauh dari seorang laki-laki berkemeja kusut di belakangnya.
Awalnya orang-orang pura-pura tidak melihat.
Lalu gadis itu tersentak.
"Jangan!" suaranya kecil, tapi tajam.
Laki-laki itu tertawa. "Apa sih? Kereta penuh. Kesenggol biasa."
Gadis itu memeluk tasnya ke dada. Wajahnya pucat. "Bapak sengaja."
"Fitnah kamu."
Bu Yati berdiri.
Bagus menahan lengannya. "Bu, jangan ikut-ikut. Kita mau jemput Tari."
"Justru karena mau jemput Tari."
Bu Yati berjalan ke lorong. "Pak, kalau penuh, tanganmu bisa ditaruh di dadamu sendiri. Kenapa nyasar ke tubuh anak orang?"
Beberapa penumpang langsung menoleh. Laki-laki itu mendelik. "Ibu siapa? Jangan sok tahu."
"Aku ibu dari anak perempuan."
"Kalau anak Ibu nggak bisa jaga diri, jangan salahkan laki-laki."
Plak!
Tamparan itu membuat lorong kereta hening.
Bagus menutup wajah dengan telapak tangan. "Ya Allah, mulai lagi."
Bu Yati menunjuk laki-laki itu. "Kalau tanganmu gatal, garuk tembok. Jangan sentuh perempuan."
Laki-laki itu hendak membalas, tapi gadis muda tadi tiba-tiba berseru, "Dia memang pegang saya! Saya berani jadi saksi."
Seorang bapak di kursi dekat pintu ikut berdiri. "Saya juga lihat dari tadi dia mepet-mepet."
Petugas keamanan kereta datang setelah keributan menyebar. Laki-laki itu masih mengumpat, namun dua petugas menggiringnya ke gerbong depan. Saat ia lewat, beberapa ibu-ibu sengaja menyindir keras.
"Tangan murahan."
"Sudah tua masih kurang ajar."
Gadis muda itu menunduk ke Bu Yati. "Terima kasih, Bu."
"Namamu siapa?"
"Endang."
Nama itu biasa, tetapi di telinga Bu Yati terdengar seperti pintu kecil yang terbuka.
Endang duduk di kursi kosong yang diberikan seorang penumpang. Setelah air minum dibagikan, ia bercerita bahwa ia pulang ke kampung dekat Karanganyar. Ia bekerja di warung makan di kota, tapi ibunya sakit.
"Karanganyar?" Bu Yati langsung menegang. "Kamu tahu keluarga Kuncoro?"
Wajah Endang berubah. "Kuncoro anak Bu Sarinem?"
Bagus melirik ibunya.
"Tahu?" tanya Bu Yati.
Endang menggigit bibir. "Semua orang tahu. Dia sering main judi. Kalau kalah, marah-marah. Ada beberapa perempuan dari luar kampung yang pernah dijanjikan nikah, lalu disuruh kerja di sawah keluarganya."
Telapak tangan Bu Yati terasa dingin.
"Ada perempuan bernama Lestari di sana?"
"Mbak Tari?" Endang mencondongkan badan. "Saya pernah lihat. Dia pendiam. Sering bantu di sawah Bu Sarinem. Orang kampung bilang dia calon menantu, tapi saya nggak pernah lihat dia senang."
Bu Yati memejamkan mata.
Bagus, untuk pertama kalinya sejak naik kereta, tidak mengeluh.
Endang melanjutkan dengan suara pelan. "Di sana, kalau perempuan sudah tinggal di rumah calon mertua, susah keluar, Bu. Apalagi kalau keluarga sendiri jauh. HP sering dipegang orang rumah. Kalau ada yang kabur, dibilang nggak tahu diri."
Endang juga bercerita tentang rumah Bu Sarinem yang berada di ujung kampung, dekat kandang kambing dan jalan ke sawah. Perempuan muda yang "dititipkan" di sana sering bangun sebelum subuh, memasak untuk buruh tani, lalu ikut menyiangi rumput sampai matahari tinggi.
"Kalau capek, dibilang manja," kata Endang. "Kalau nangis, dibilang kangen kota. Kalau minta pulang, ditanya sudah bayar makan berapa bulan."
Bagus berhenti mengunyah gorengan. "Itu kerja paksa."
"Di kampung, orang bilangnya bantu calon keluarga."
Kalimat bantu itu menusuk Bu Yati. Dulu ia juga suka memakai kata yang sama. Tari bantu keluarga. Tari bantu orang. Tari bantu calon mertua. Ternyata satu kata halus bisa menyembunyikan rantai.
Endang menatap Bu Yati ragu. "Bu, kalau nanti ketemu Mbak Tari, jangan langsung marah sama dia. Banyak perempuan kelihatan menurut bukan karena mau, tapi karena malu dan takut."
"Aku tidak datang untuk marah pada anakku."
"Bagus kalau begitu." Endang menghela napas. "Soalnya banyak ibu datang jauh-jauh, lalu pertama yang ditanya malah, kamu bikin malu keluarga atau tidak."
Bu Yati menelan sesuatu yang pahit. Ia tahu, kalau ini terjadi pada hidup lamanya, mungkin ia juga akan bertanya begitu.
Bagus menatap ibunya, lalu menatap lantai kereta. "Bu, kalau orang kampungnya banyak, kita berdua cukup?"
"Cukup atau tidak, tetap datang."
"Aku serius."
"Aku juga."
Bagus mengusap wajah. Untuk pertama kalinya, keluhannya tidak terdengar manja. Ia mulai menghitung bahaya, bukan kenyamanan. Bu Yati tahu anak ini takut, tetapi rasa takut yang dipakai untuk berjaga lebih berguna daripada keberanian kosong.
"Kalau harus lari sambil gendong adikmu, kamu kuat?" tanya Bu Yati.
Bagus menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Kuat."
Bu Yati menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan.
Ia bukan menangis karena lemah. Ia menangis karena kalimat Endang mengisi semua celah yang dulu tidak ia lihat. Tari bukan sekadar jauh. Tari sedang dikurung perlahan dengan adat, rasa malu, dan tangan orang-orang yang merasa berhak.
"Bu..." Bagus memanggil ragu.
Bu Yati mengusap wajah dengan ujung kerudung. "Aku tidak apa-apa."
Endang tampak iba. "Kalau Ibu mau, nanti saya tunjukkan jalan. Dari stasiun kecil masih naik angkot, lalu ojek. Rumah Bu Sarinem agak jauh dari jalan besar."
"Tunjukkan," kata Bu Yati. "Aku bayar ongkosmu."
"Nggak usah, Bu. Ibu tadi menolong saya."
Kereta terus melaju. Di luar, senja mulai turun. Bagus akhirnya membeli nasi bungkus untuk mereka bertiga. Endang makan pelan, sesekali menjelaskan nama jalan dan kepala dusun. Bu Yati menyimpan semua itu di kepala seperti menyimpan amunisi.
Malam merapat di jendela kereta.
Endang menatap Bu Yati lama, lalu berkata lirih, "Kalau ibunya nggak datang sekarang, mungkin sudah terlambat."
Bu Yati menggenggam syal biru di dalam tasnya.
Kali ini, ia tidak akan terlambat.