NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Jiwa yang Sepadan

Pintu mobil Rayhan tertutup, tetapi dada Keira justru berdegup lebih keras daripada suara klakson di luar sana.

Pagi itu Jakarta sedang sibuk seperti biasa. Jalanan menuju SCBD padat, motor-motor menyelip di sela mobil, dan cahaya pucat memantul di kaca gedung.

Di dalam, suasananya terlalu rapi.

Terlalu tenang.

Terlalu Rayhan.

Keira duduk di kursi belakang, menjaga jarak sekadarnya dari pria di sampingnya. Tas kerjanya dipeluk di pangkuan. Ujung jarinya masih menyimpan hangat tangan kecil Genki yang tadi menggenggamnya di depan gerbang TK Internasional.

"Kak Kei pulangnya jangan telat, ya."

"Genki masuk kelas dulu, nanti Kak Kei jemput."

"Janji?"

"Janji."

Setelah kelingking kecil itu lepas, Keira kira hari akan berjalan seperti biasa. Ia akan naik mobil yang disiapkan Gio, turun di dekat kantor D.N, lalu pura-pura tidak melihat tatapan orang.

Namun pagi ini, bukan sopir yang menunggunya.

Rayhan berdiri di samping mobil, kemeja putihnya rapi, jas gelap tersampir di lengan. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, seolah menjemput seorang perempuan ke kantor adalah agenda yang sama datarnya dengan rapat direksi.

"Sopir sedang saya pindahkan untuk urusan Genki," katanya tadi, sebelum Keira sempat bertanya. "Saya lewat SCBD."

Keira tahu alasan itu terlalu halus untuk disebut kebetulan.

Tetapi ia juga tidak punya alasan cukup kuat untuk menolak tanpa terdengar kekanak-kanakan.

Mobil melaju pelan. Gio tidak ikut di dalam. Hanya mereka berdua, ditambah pengemudi di depan yang sejak tadi menatap jalan tanpa sedikit pun menoleh.

Rayhan membuka percakapan lebih dulu.

"Genki tidur lebih cepat semalam."

Keira menoleh sedikit. "Syukurlah."

"Biasanya dia masih keluar kamar dua atau tiga kali."

"Mungkin karena kemarin dia capek. Di TK banyak kegiatan."

"Bukan hanya itu."

Keira diam.

Rayhan menatap ke depan, tetapi suaranya lebih rendah daripada biasanya. "Dia merasa ada yang menunggu."

Kalimat itu sederhana. Tidak manis. Tidak berlebihan. Justru karena begitu datar, Keira merasakan sesuatu bergerak pelan di dalam dadanya.

Ia menurunkan pandangan pada tasnya. "Saya hanya membantu sebisanya, Pak Rayhan."

"Kei."

Satu kata itu membuat napasnya tertahan.

Rayhan akhirnya menoleh. Tatapannya tidak tajam seperti saat ia memberi perintah kepada Gio. Tidak juga dingin seperti pertama kali Keira melihatnya di depan gerbang Vila Biru. Pagi ini, mata itu tenang, tetapi terlalu langsung.

"Kalau di luar urusan pekerjaan, kamu tidak perlu selalu memanggil saya Pak."

Keira menggenggam tali tasnya. "Kebiasaan."

"Saya bisa menunggu."

Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti bicara tentang hal lain.

Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Dari trotoar, seorang penjual kopi keliling lewat sambil memanggul termos. Di layar ponsel Keira, Salma mengirim stiker orang mengantuk.

Sekarang ia bahkan lupa membuka pesannya.

Keira memalingkan wajah ke jendela. Pantulan dirinya muncul di kaca, tenang di luar, kacau di dalam.

"Saya tidak merasa masuk terlalu jauh," katanya akhirnya. "Genki yang menarik saya masuk."

"Dan kamu tidak mendorongnya keluar."

Keira tidak bisa membantah.

Bagaimana ia bisa mendorong anak itu keluar? Genki datang dengan mata basah, buntalan kecil, dan keyakinan polos bahwa Keira adalah tempat aman. Setiap kali anak itu mengangkat tangan minta digandeng, ada bagian di dalam dirinya yang langsung menyerah.

"Dia anak yang baik," ucap Keira pelan.

"Dia keras kepala."

Keira hampir tertawa. "Sepertinya itu turun dari papanya."

Sesaat setelah kalimat itu keluar, ia menyesal. Terlalu akrab. Terlalu ringan. Terlalu seperti mereka memang punya hak untuk saling menggoda.

Namun Rayhan tidak marah.

Sudut bibirnya bergerak tipis. "Mungkin."

Keira menunduk, pura-pura merapikan ujung lengan blousenya.

Diam kembali turun, tetapi kali ini tidak sepenuhnya canggung. Ada sesuatu yang hangat, pelan, dan berbahaya di antaranya. Keira sudah terlalu lama hidup dengan batas yang jelas. Rumah Yanto mengajarinya satu hal: jangan berharap terlalu banyak, jangan percaya terlalu cepat, jangan mengambil tempat yang tidak pernah disediakan untukmu.

Rayhan Harto adalah tempat yang terlalu besar untuk ia datangi tanpa takut tersesat.

"Setelah beberapa minggu ini," Rayhan berkata, "apa kamu masih merasa hanya membantu?"

Keira mengangkat wajah.

Pertanyaannya tidak keras, tetapi langsung mengenai bagian yang selama ini ia hindari.

"Saya..." Ia berhenti, mencari jawaban yang aman. "Saya sayang Genki."

"Aku tahu."

"Tapi rasa sayang kepada Genki tidak berarti saya bisa..."

Ia tidak melanjutkan.

Rayhan menunggu. Tidak memotong. Tidak mendesak. Hanya duduk di sana dengan kesabaran yang anehnya lebih menekan daripada pertanyaan.

Mobil kembali berjalan.

Keira menelan ludah. "Pak Rayhan, saya tahu keluarga Anda baik. Saya juga tahu Genki nyaman dengan saya. Tapi saya tidak ingin salah paham dengan kebaikan kalian."

"Kebaikan kami?"

"Ya."

"Kalau hanya baik, aku tidak akan mengantar kamu sendiri pagi ini."

Keira membeku.

Kali ini Rayhan benar-benar menoleh sepenuhnya. Cahaya dari luar jatuh di sisi wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Justru karena itu Keira tahu, pria ini sedang mengatakan sesuatu yang tidak biasa ia katakan kepada orang lain.

"Kei," ucapnya, lebih pelan, "aku tertarik padamu."

Jalanan di luar masih bising.

Namun bagi Keira, semua suara seperti mundur beberapa langkah.

Ia mendengar detak jantungnya sendiri. Terlalu cepat, terlalu jelas. Tangan yang memegang tas mendadak dingin. Ia membuka bibir, tetapi tidak ada kata yang langsung keluar.

Rayhan tetap tenang. "Aku tidak mengatakannya karena Genki dekat denganmu. Aku mengatakannya karena setelah melihat kamu berdiri di samping Genki, bicara dengan guru, menolak belas kasihan, dan tetap memilih lembut saat bisa saja pergi, aku sadar aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Keira memejamkan mata sebentar. Rayhan tidak memuji wajahnya, tidak menjanjikan dongeng. Ia menyebut cara Keira bertahan, cara ia memilih, hal-hal yang jarang dilihat orang.

"Saya tidak tahu harus menjawab apa," bisik Keira.

"Kamu tidak harus menjawab sekarang."

"Tapi saya harus jujur."

"Silakan."

Keira menatapnya. Ada rasa hangat yang naik ke tenggorokan, tetapi di belakangnya berdiri ketakutan lama yang tidak mau kalah.

"Kita terlalu berbeda, Pak Rayhan."

Panggilan itu keluar lagi sebagai perisai.

Rayhan mendengarnya. Ia tidak mengoreksi.

Keira melanjutkan sebelum keberaniannya habis. "Anda Rayhan Harto. Semua orang tahu nama itu. Saya hanya Keira Yanto, desainer biasa di D.N, bahkan di rumah sendiri pun..." Ia menahan diri sebelum terlalu banyak membuka luka. "Saya bukan perempuan yang sepadan untuk Anda."

Kalimat terakhir terasa pahit di lidah.

Seumur hidup, Keira terlalu sering diukur. Dari nilai, penampilan, sikap, sampai hak untuk duduk di meja makan saat ada tamu penting. Dan hampir selalu, hasilnya sama: ia cukup berguna untuk dipakai, tetapi tidak cukup berharga untuk dipilih.

Rayhan tidak langsung menjawab.

Ia mengangkat tangan sedikit. Pengemudi di depan mengerti, lalu menaikkan sekat kaca perlahan. Setelah suara kecil mesin sekat berhenti, ruang belakang mobil menjadi lebih sunyi.

Keira merasakan telinganya panas.

"Aku tidak suka orang mendefinisikan nilai seseorang dari nama belakangnya," kata Rayhan.

Keira menatapnya.

"Terutama kalau orang itu kamu."

Dadanya seperti ditekan dari dalam.

Rayhan berbicara dengan suara sama rendah, sama terkendali, tetapi setiap kata jatuh jelas.

"'Sepadan' bagiku bukan soal harta atau nama keluarga. Tapi kesepadanan jiwa dan cara berpikir."

Keira lupa berkedip.

"Aku tidak mencari seseorang yang bisa menambah nilai keluarga Harto di mata orang luar," lanjut Rayhan. "Aku tidak kekurangan itu. Aku mencari seseorang yang ketika berdiri di sampingku, tidak perlu pura-pura menjadi orang lain. Seseorang yang melihat Genki sebagai anak kecil yang perlu dipeluk, bukan akses menuju keluargaku."

Ia berhenti sebentar.

"Dan sejauh ini, orang itu kamu."

Keira merasa tenggorokannya mengering. Ia ingin berkata bahwa dunia mereka tidak sesederhana itu, tetapi semua jawaban tersangkut ketika ia melihat cara Rayhan menatapnya.

Tidak menuntut. Tidak memojokkan.

"Kalau saya menolak?" tanya Keira pelan.

"Aku akan tetap menghormati keputusanmu."

"Genki?"

"Genki tidak akan dijadikan alasan untuk memaksamu." Rahang Rayhan bergerak sedikit, seolah kalimat itu adalah prinsip yang sudah ia putuskan sebelum pagi ini. "Aku ayahnya. Aku bertanggung jawab menjaga perasaannya. Bukan menyerahkan beban itu kepadamu."

Mata Keira terasa panas.

Ia cepat-cepat menoleh ke jendela.

Di rumah Yanto, Keira terbiasa mengalah sebelum diminta dan merasa bersalah bahkan untuk hal yang bukan salahnya. Rayhan justru mengambil satu langkah mundur agar ia bisa bernapas.

"Saya belum siap," kata Keira.

"Aku tahu."

"Saya mungkin butuh waktu lama."

"Aku tidak sedang mengejar jadwal rapat."

Keira menoleh tanpa sadar. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum Rayhan muncul sedikit lebih jelas.

"Saya serius," katanya, hampir kesal karena wajahnya mulai panas.

"Aku juga."

"Kalau saya akhirnya tetap tidak bisa?"

"Maka aku berhenti."

Jawaban itu terlalu cepat, tetapi wajah Rayhan tetap tenang.

"Tapi sebelum itu," katanya, "beri aku kesempatan untuk mengejarmu dengan cara yang tidak membuatmu takut."

Keira menahan napas.

Mobil berbelok memasuki kawasan gedung D.N. Lobi kaca yang tinggi mulai terlihat. Beberapa karyawan berjalan cepat sambil membawa tumbler dan tas laptop. Dunia nyata mendadak kembali terlalu dekat, sementara percakapan di dalam mobil belum punya tempat untuk mendarat.

"Kamu boleh menolak makan malam," Rayhan berkata. "Boleh menolak hadiah. Boleh memintaku tidak datang kalau kamu tidak nyaman. Tapi izinkan aku menunjukkan bahwa ketertarikanku bukan keputusan sesaat."

Keira menurunkan pandangan.

"Kenapa saya?" tanyanya lirih.

Rayhan menjawab tanpa jeda. "Karena kamu membuat rumahku terdengar seperti rumah."

Kali ini Keira benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

Mobil berhenti di depan lobi D.N.

Pengemudi keluar untuk membuka pintu, tetapi Rayhan mengangkat tangan, memberi isyarat agar pria itu tetap di tempat. Ia sendiri turun lebih dulu, memutar ke sisi Keira, lalu membukakan pintu.

Angin pagi menyentuh wajah Keira. Suara kota masuk sekaligus, menyelamatkannya dari sunyi yang terlalu penuh.

Ia turun dengan hati-hati. Hak sepatunya menyentuh lantai marmer area drop-off. Beberapa orang di dekat lobi menoleh. Keira bisa merasakan tatapan mereka, tetapi pagi ini anehnya ia tidak langsung ingin bersembunyi.

Rayhan berdiri di depannya, cukup dekat untuk melindungi, cukup jauh untuk tidak membuatnya merasa dikurung.

"Bekerjalah dengan tenang," katanya.

Keira mengangguk. "Terima kasih sudah mengantar."

"Kei."

Ia berhenti.

"Aku tidak butuh jawaban hari ini."

Keira menatapnya.

"Tapi kalau suatu hari kamu punya jawaban, apa pun itu, katakan langsung kepadaku. Jangan biarkan rasa takut menjawab untukmu."

Kalimat itu tinggal di udara lebih lama daripada seharusnya.

Keira akhirnya mengangguk sekali. "Baik."

Rayhan menatapnya beberapa detik lagi, lalu mundur. Tidak menyentuh. Tidak menahan. Tidak membuat adegan yang bisa menjadi bahan gosip murahan di depan lobi.

Justru karena itu, Keira merasa langkahnya menuju pintu kaca menjadi tidak stabil.

Ia masuk ke gedung D.N dengan wajah setenang mungkin. Satpam menyapanya. Dua karyawan dari divisi lain berbisik kecil setelah melihat mobil Rayhan pergi, tetapi Keira hanya menunduk sopan dan terus berjalan ke lift.

Di dalam lift, ia baru berani menempelkan punggung ke dinding. Tangannya naik ke dada.

Jantungnya masih berlari.

Begitu tiba di lantai kantornya, Keira langsung menuju mejanya. Salma belum datang. Naomi juga belum terlihat. Ruangan desain masih setengah kosong.

Keira menyalakan komputer, memasukkan kata sandi, lalu membuka folder kerja.

Ia menatap layar kosong beberapa detik. Kursor berkedip, tetapi pikirannya kembali pada satu kalimat.

Karena kamu membuat rumahku terdengar seperti rumah.

Keira menutup wajah dengan kedua tangan. Tidak. Ia harus bekerja. Ia punya revisi motif, mood board, dan laporan konsep untuk Naomi.

Lima menit kemudian, ia membuka mesin pencari.

Di kotak pencarian, jarinya mengetik perlahan.

Rayhan Harto.

Begitu hasil muncul, Keira menahan napas dengan rasa malu yang tidak ada saksi.

Halaman pertama dipenuhi berita bisnis. Akuisisi Harto Group. Ekspansi properti. Foto Rayhan di konferensi ekonomi, wajah dingin, jas gelap, ekspresi seolah kamera adalah gangguan yang harus ditoleransi.

Keira menggulir lebih jauh.

Tidak ada skandal pesta.

Tidak ada foto mesra dengan selebritas.

Tidak ada rumor pertunangan diam-diam.

Yang muncul justru satu artikel infotainment lama dengan judul yang membuat Keira terdiam.

Rayhan Harto, Pria Setia yang Langka di Kalangan Konglomerat Muda.

Keira menggigit bibir bawahnya.

Ia tahu seharusnya tidak mengeklik.

Ia mengeklik.

Artikel itu tidak banyak isinya. Lebih mirip rangkuman tentang Rayhan yang hampir tidak pernah terlihat berganti pasangan, jarang hadir di pesta sosial tanpa urusan bisnis, dan pernah menjawab wartawan dengan satu kalimat pendek: "Kesetiaan bukan bahan promosi."

Keira membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Di bagian komentar, beberapa orang menulis dengan gaya bercanda bahwa pria seperti Rayhan sebaiknya tidak dilepas.

Keira cepat-cepat menutup tab komentar ketika pipinya mulai panas.

Namun jari telunjuknya tidak langsung bergerak dari mouse. Di layar masih tersisa foto Rayhan di sebuah acara amal, berdiri sedikit menjauh dari kerumunan, ekspresinya datar seperti biasa.

Pagi tadi, wajah yang sama membuka pintu mobil untuknya, berkata akan berhenti kalau ia menolak, dan meminta kesempatan, bukan kepastian.

Keira menunduk, mencoba menyembunyikan senyum yang tiba-tiba muncul tanpa izin.

Di ruangan desain D.N yang masih sepi, ia menatap hasil pencarian itu sekali lagi.

Lalu senyumnya sulit ditahan.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!