Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Paviliun
Malam itu, langit di atas kediaman Wiragata tertutup awan hitam yang pekat, seolah mencerminkan kekacauan yang sedang berlangsung di dalam paviliun belakang. Halra baru saja menutup pintu kayu besar paviliun dengan suara debuman keras, mengunci dunia luar agar tidak bisa menyentuhnya. Namun, di dalam, ia merasa begitu kecil dan hancur. Gaun sutra hitam yang tadi membuatnya tampak seperti ratu, kini terasa seperti baju zirah yang menyesakkan.
Ia berjalan tertatih menuju sofa beludru di ruang tengah, lalu terduduk lemas. Air mata yang ia tahan sejak berada di ballroom akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Isak tangis yang tertahan selama berjam-jam pecah menjadi raungan kecil yang menyakitkan. Halra, sang pewaris yang selalu dituntut untuk kuat dan berwibawa, kini benar-benar kehilangan pegangannya.
Tazam, yang baru saja memastikan seluruh sistem keamanan paviliun terkunci rapat, berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak segera mendekat. Ia tahu batasan, namun ia juga tahu kapan harus menjadi sandaran. Dengan langkah kaki yang hampir tak bersuara, ia mendekati Halra dan berlutut di depannya, menundukkan kepala dalam posisi yang sangat rendah dan penuh hormat.
"Nyonya," suara Tazam rendah, tenang, dan memiliki kedalaman yang mampu meredam riuh di kepala Halra.
Halra mendongak, matanya yang basah menatap Tazam. Di saat-saat seperti ini, ia tidak melihat Tazam sebagai pengawal, melainkan satu-satunya manusia yang tidak memiliki agenda tersembunyi terhadapnya. Tanpa kata, Halra mencondongkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di bahu Tazam yang kokoh. Tazam membiarkannya. Ia membiarkan Nyonya-nya menumpahkan segala duka, pengkhianatan, dan kebencian yang ia simpan terhadap Sano.
"Mengapa dia harus melakukan itu, Tazam?" isak Halra, suaranya parau. "Mengapa dia membiarkanku merasa begitu berharga jika akhirnya dia akan membuangku ? dia pikir dia siapa bisa mempermainkanku sesuka hatinya!"
Tazam tidak menjawab. Ia tetap diam, membiarkan bahunya menjadi tempat Halra membasahi kain jasnya. Di luar paviliun, di kegelapan taman yang memisahkan bangunan utama dengan paviliun, Sano berdiri di balkon kamarnya. Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam, namun ia bisa merasakan.
Sano memperhatikan paviliun itu dengan gelisah. Ia telah mondar-mandir di balkonnya selama lebih dari satu jam. Ia melihat Tazam yang masuk ke dalam, ia melihat lampu paviliun yang redup, dan ia melihat Halra yang sejak tadi tidak sudi melirik ke arah gedung utama. Sano mencengkeram pembatas balkon begitu erat hingga jemarinya memutih.
"Apa yang terjadi padamu, Halra?" gumam Sano pada angin malam.
Ada keinginan yang menggebu-gebu di dalam hatinya untuk berlari ke sana, mendobrak pintu itu, dan menuntut penjelasan. Ia ingin menarik Halra keluar dari kesedihannya, namun ia sadar—ia sendiri yang menciptakan jarak ini. Ia menyimpan rahasia tentang misi dengan Nenek Daisa, ia terlibat dalam permainan berbahaya dengan Savhelicha, dan kini ia menanggung akibatnya.
Halra membencinya. Kebencian itu tampak jelas bahkan dari kejauhan. Halra tidak lagi memberinya tatapan tajam yang menantang; kali ini, Halra memberinya tatapan dingin yang seolah menganggap Sano tidak ada. Itu adalah bentuk pengabaian yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Tuan," suara Abinawa memecah lamunan Sano. Asisten itu berdiri di belakangnya dengan ragu. "Perlu saya siapkan kendaraan untuk menyusul ke paviliun?"
Sano menoleh, matanya berkilat tajam. "Jangan berani-berani mendekati paviliun malam ini. Halra tidak ingin diganggu."
"Tapi Tuan, Anda terlihat... gelisah," ujar Abinawa hati-hati.
Sano berbalik, menatap ke arah paviliun lagi dengan tatapan yang penuh frustrasi. "Aku tidak gelisah. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara agar dia tidak membuat keputusan bodoh karena emosinya."
Namun, di dalam hatinya, Sano tahu ia berbohong. Ia merasa seolah-olah paviliun itu kini menjadi benteng yang tidak bisa ia tembus, dan pria bernama Tazam adalah tembok yang menjaga gerbang benteng tersebut. Ia merasa cemburu, bukan hanya karena Halra sedang bersedih, tapi karena ia melihat betapa mudahnya Halra memberikan kepercayaan pada pria itu—pria yang baru saja ia rekrut beberapa hari lalu, namun kini menjadi tempat Halra menumpahkan seluruh air matanya.
Kembali ke dalam paviliun, Halra akhirnya menjauhkan diri dari bahu Tazam. Ia menyeka wajahnya, mencoba memulihkan martabatnya. Tazam bangkit, kembali ke posisi tegak dengan wajah datar, seolah apa yang baru saja terjadi adalah rahasia yang terkubur selamanya.
"Terima kasih, Tazam," bisik Halra, suaranya kini sudah lebih stabil, meski masih menyisakan nada pahit. "Kau satu-satunya orang di rumah ini yang tidak membohongiku."
"Tugas saya adalah menjaga Anda, Nyonya. Apapun itu," jawab Tazam.
Halra menatap keluar jendela, ke arah bangunan utama yang megah namun terasa kosong. "Aku tidak akan membiarkan Sano menang. Dia pikir dia bisa mempermainkan perasaanku, menyembunyikan misi dengan Nenek Daisa, dan berselingkuh dengan Savhelicha di depan mataku. Dia salah besar."
Tazam menunduk, matanya menyembunyikan kilatan kegelapan yang tipis. "Mungkin sudah saatnya kita membalas, Nyonya. Bukan dengan kemarahan, tapi dengan tindakan nyata. Jika Sano punya misi dengan Nenek Anda, maka Anda juga harus memiliki akses ke sana."
Halra terdiam. Kata-kata itu terdengar logis. Ia sudah cukup menjadi boneka. Ia harus mulai bergerak untuk mencari kebenaran tentang perjanjian itu, bahkan jika ia harus membongkar arsip rahasia keluarga yang paling dalam.
Di gedung utama, Sano akhirnya berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, namun ia tidak bisa memejamkan mata. Ia tahu malam ini adalah titik balik. Halra yang ia kenal—yang penuh dengan api dan semangat—telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dan berbahaya. Dan ia tahu, di pagi hari, badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
Sano memukul meja kerjanya dengan keras, menyadari bahwa ia telah membiarkan orang lain mengisi celah yang ia buat sendiri di hati istrinya. Ia berdiri di ambang jendela, menatap paviliun itu sekali lagi. "Simpan dia untuk saat ini, Tazam," desisnya, "tapi jangan pernah lupa, ini adalah wilayahku."
Sano tidak sadar, bahwa di paviliun tersebut, Halra sudah tidak lagi menganggapnya sebagai penguasa wilayah tersebut. Bagi Halra, malam ini adalah malam ia melepaskan diri dari rantai yang selama ini mengikatnya. Paviliun itu bukan lagi sangkar, melainkan markas untuk sebuah pemberontakan.
Tensi antara Sano dan Halra semakin tajam. Halra kini telah membulatkan tekad untuk melawan Sano. Apa rencana pertama yang akan dilakukan Halra untuk mencari tahu isi perjanjian Sano dengan Nenek Daisa tanpa sepengetahuan Sano?