Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintip Rahasia Ilahi
Hari semakin malam, pasar tradisional semakin ramai pengunjung. Beberapa orang silih berganti mendatangi peramal tua dan bertanya tentang nasib, jodoh, kematian, kekayaan, hingga bertanya tentang masa depan anak-anak mereka.
Dien masih berdiri di samping peramal tua dan diam-diam menyimak interaksi dan aktivitas sang peramal dan pelanggan. Dien mengerti beberapa hal tentang ilmu ramalan hanya dengan menyimak cara peramal tua meramalkan nasib pengunjung. Dien bahkan beberapa kali diam-diam meramal nasib pengunjung sebagai latihan, meskipun pada akhirnya mengalami kegagalan.
“Anak muda kamu sudah berdiri di situ selama empat jam. Apa yang kamu dapatkan sebagai hasilnya? Apakah kamu sudah memahami ilmu ramalan?” Peramal tua tiba-tiba bertanya dengan penuh minat.
Dien menggeleng kepala, menandakan bahwa dia belum mengerti sama sekali.
“Aku sudah menduganya, kamu tidak akan memahami apapun. Ilmu ramalan berhubungan dengan rahasia ilahi. Kamu tidak akan memahaminya hanya dengan melihat dan meniru saja, meskipun kamu melakukannya selama seumur hidupmu. Untuk memahami ilmu ramalan, kamu harus mengerti dasar-dasar ramalan itu sendiri, dan mengalami bagaimana caranya mengintip rahasia ilahi secara langsung.” Peramal tua menjelaskan.
Dien mengangguk saja.
“Anak muda, kamu tidak bisa mempelajari ilmu ramalan hanya dengan modal tekad dan tanpa arah yang jelas, jika memaksa kamu mungkin akan mengalami kegilaan. Sebaiknya kamu berhenti mempelajari ilmu ramalan jika tidak memiliki guru yang sesuai.” Ujar peramal tua menasehati Dien.
Dien tersenyum kecil.
“Kalau begitu ajari aku ilmu ramalan.” Pinta Dien penuh harap.
“Haha. Anak muda sebelum meminta sesuatu kepada orang lain, kamu harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu. Itu bentuk kesopanan yang paling dasar.” Ujar peramal tua tertawa kecil.
“Apakah anak zaman sekarang tidak memiliki sopan santun lagi?” Keluh peramal tua menggeleng kepala tanpa daya.
Dien tertegun sesaat, karena kebiasaan membuatnya lupa untuk memperkenalkan diri kepada orang lain.
Dien meletakkan tangan kanan ke dada kirinya, sedikit menundukkan kepala dan berkata dengan sopan.
“Maafkan aku karena belum memperkenalkan diri. Namaku Dien Moretz. Seorang sarjana pengangguran dan beban keluarga. Aku ingin menjadi muridmu dan mempelajari ilmu ramalan. Aku harap nenek bersedia menerimaku sebagai murid.” Dien memperkenalkan dirinya sendiri dengan sopan.
“Nak Dien, kamu bisa memanggilku nenek Rose. Aku hanyalah wanita tua yang mencari nafkah dengan melakukan ramalan dan tipuan.” Ujar peramal tua memperkenalkan dirinya sebagai nenek Rose.
Nenek Rose mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dari tas usangnya.
“Aku tidak bisa menjadi gurumu. Tapi aku bisa memberimu buku yang sesuai tentang ilmu ramalan. Kamu bisa mempelajarinya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak dimengerti, kamu bisa bertanya dengan roh yang berkeliaran di alam roh. Bagaimana caranya? Kamu cari tahu sendiri di dalam buku ini.” Ujar nenek Rose memberikan buku bersampul hitam tersebut.
Dien kecewa karena nenek Rose menolak menjadi gurunya, namun dia senang karena mendapatkan buku yang sesuai.
“Terimakasih, guru!” Meskipun ditolak Dien sudah menganggap nenek Rose sebagai gurunya.
“Harganya 5 juta kertas emas. Mau bayar cash atau transfer?” Nenek Rose tersenyum licik dan penuh tipu daya.
Dien tertegun, rasa hormatnya kepada nenek Rose langsung turun. Dia melihat buku bersampul hitam dengan teliti, takut nenek Rose menipunya.
“Aku kira gratis.” Dien tidak percaya.
“Haha. Anak muda, tidak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi sebuah ilmu. Untuk pintar kau harus membayar mahal.” Ujar nenek Rose masih tersenyum licik.
“Baiklah. Aku akan membayar cash.” Balas Dien mengerti.
Perumahan Nusa, blok A, kota Selabatu.
Dien langsung pulang setelah membayar harga buku pemberian nenek Rose. Dien sampai di depan pintu rumahnya dan mengangkat tangan berniat mengetuk pintu. Dien tampak ragu untuk mengetuk pintu rumah. Ada rasa bersalah di hatinya, karena menghilang selama dua hari. Pemuda itu beberapa kali menghela nafas dan menguatkan dirinya untuk bertemu dengan orang tua dan kedua adiknya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, memperlihatkan seorang wanita muda berkacamata.
Helena tertegun dan tidak percaya melihat Dien diambang pintu rumah.
“Halo! Selamat malam adik, aku pulang.” Dien tersenyum canggung, mengangkat tangan kanannya yang membawa sekantong buah-buahan.
“Kakak?” Helena mundur tidak percaya.
“Kakak kamu kemana saja? Ibu dan ayah sangat mengkhawatirkanmu.” Ucap Helena menahan kesedihannya, mencoba tegar di hadapan Dien.
“Maaf… kakak… tidak bermaksud…” Dien tidak tahu harus mengatakan apa.
“IBU, AYAH, kakak pulang!” Pekik Helena memanggil kedua orang tuanya.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berlari dari dalam rumah dengan tergesa-gesa dan menciptakan keheningan di ambang pintu rumah. Setelah beberapa saat seorang wanita paruh baya dengan kerutan di wajahnya yang terlihat sangat lelah dan sedih muncul dengan tatapan penuh harap.
“Dien… Dien, anakku pulang? Helena kakakmu pulang?” Tanya ibu menahan kesedihan, lalu terdiam menatap Dien yang berdiri di ambang pintu.
“Ibu… aku pulang.” Ucap Dien dengan bibir gemetar.
Olivia Moretz tampak kehilangan beban di pundaknya melihat Dien yang berada di ambang pintu. Wanita tua itu sesaat tidak bisa mengatakan apapun, tangannya gemetar mencoba menggapai wajah Dien yang terlihat remang-remang. Air matanya mengalir tanpa sadar, lalu menangis. Olivia menangis haru karena apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.
“Dien… anakku… kamu pulang! Kamu pulang! Kamu akhirnya pulang!” Ucap Olivia dengan bibir gemetar, memeluk erat Dien seakan-akan tidak ingin membiarkannya pergi lagi.
Edward Moretz terlihat datar tanpa ekspresi, namun ada rasa lega dari raut wajahnya yang dipenuhi kerutan. Helena tersenyum bahagia, sementara Leon hanya diam tanpa suara, namun orang dapat merasakan kelegaan dari raut wajahnya.
Edward tersenyum dan memeluk Olivia mencoba menenangkan sang istri yang menangis lega dan penuh haru.
“Ibu maaf… maaf... aku…” Dien hendak mengucapkan beberapa kata.
“Kau masih hidup? Aku kira kamu menghilang sama seperti orang-orang yang ada di dalam berita TV dan koran. Membuat orang khawatir saja.” Potong ayah dengan suara serak dan berat.
Dien tersenyum, merasa bersalah karena tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
“Maaf, aku membuat kalian khawatir.” Dien menundukkan kepala dan meminta maaf.
“Masuk dulu, diluar sangat dingin.” Ibu menarik Dien masuk ke dalam rumah.
Dien langsung diinterogasi.
Setelah interogasi yang melelahkan, Dien akhirnya dapat kembali ke kamarnya dan beristirahat. Dien yang penasaran memilih membaca buku bersampul hitam pemberian nenek Rose alih-alih langsung tidur mengistirahatkan diri.
Setelah membaca beberapa halaman, Dien sedikit memahami beberapa hal dasar tentang ilmu ramalan. Dien mengerti sedikit bagaimana caranya membaca nasib dan takdir melalui kartu, menafsirkan mimpi, berbicara dengan roh untuk mendapatkan informasi tentang beberapa rahasia ilahi, menggunakan intuisi dan simbol-simbol rumit, hingga melakukan ritual tertentu untuk mengintip rahasia ilahi secara langsung.
“Artinya sebagai pemula, aku diharuskan mempersiapkan altar ritual untuk mengintip rahasia ilahi secara langsung. Ketika sudah mahir dan memahami ilmu ramalan, aku bisa mengintip rahasia ilahi hanya dengan bertanya? Menarik.” Gumam Dien menyimpulkan inti ilmu ramalan dari buku bersampul hitam tersebut.
Karena penasaran Dien langsung menyiapkan altar ritual untuk mengintip rahasia ilahi. Dien meletakkan dan menghidupkan tiga lilin di depannya, lalu menulis apa yang ingin diketahuinya di sebuah kertas. Setelah semua siap, Dien menutup mata dan memasuki alam bawah sadarnya yang berhubungan dengan jiwa atau roh.
Dien sontak tersadar di sebuah tempat yang berwarna putih. Dien melihat sekelilingnya dan hanya menemukan ruangan berwarna putih tanpa ujung, sebuah ruangan yang disebut alam bawah sadar murni.
Dien yang sedikit paham segera membayangkan perumahan, lebih spesifik adalah rumahnya sendiri. Alhasil beberapa bangunan muncul, membentuk perumahan dengan sendirinya. Tembok, meja, kursi, ranjang, bantal, dan berbagai foto muncul di sekitar Dien dan sangat identik dengan kamarnya.
Ruangan yang sebelumnya putih tanpa ujung berubah menjadi kamar Dien.
“Inikah alam bawah sadar?” Batin Dien melihat sekelilingnya dengan penuh kekaguman.
Dien melihat sebuah kertas di lantai kamarnya yang bertulis “Apakah aku bisa menjadi peramal?”
Melihat itu Dien mengangguk dan yakin sepenuhnya, bahwa dia sudah berada di alam bawah sadarnya sendiri.
“Untuk pergi ke alam roh, aku hanya perlu keluar dari alam bawah sadar dengan menciptakan pintu atau jalan.” Gumam Dien mengingat petunjuk buku bersampul hitam, lalu membayangkan pintu keluar dari alam bawah sadar dan masuk ke alam roh.
Sebuah pintu biasa segera muncul di depannya.
Dien segera membuka pintu, lalu menemukan sebuah tempat yang sangat suram, kuno, dan mencekam di balik pintu. Dien melihat beberapa rumah kuno yang menyatu dengan alam, beberapa rumah bertembok kayu tinggi yang dipenuhi rumput, dan beberapa rumah panggung berdinding jerami yang tak terurus dan terbengkalai.
Sekilas Dien tahu lingkungan ini sangat mirip dengan desa yang ditinggalkan.
Dien melihat ke atas dan mengingat isi buku bersampul hitam yang berbunyi “Rahasia ilahi berada di langit ketujuh alam roh. Pergilah dan intip rahasia ilahi secara langsung untuk mendapatkan sedikit kemampuan meramal nasib.”
Dien segera terbang memanfaatkan kebebasan jiwanya yang bisa mengembara bebas di alam jiwa atau alam roh. Dien langsung menerobos masuk langit berawan petir tersebut.
Dien berhasil menembus langit pertama, lalu menembus langit kedua, menembus langit ketiga,... dan sampai di langit ketujuh.
Ketika sampai di langit ketujuh Dien melihat bintik-bintik putih tersebar dimana-mana dan memancarkan cahaya seperti bintang di langit malam.
Tempat itu adalah perbatasan alam roh dan rahasia ilahi.
“Jawaban atas pertanyaanmu dapat kamu dapatkan dengan mengambil bintang yang paling terang!” Dien mengingat isi buku bersampul hitam sembari mencari-cari bintang paling terang.
Tidak butuh waktu lama bagi Dien menemukan bintang yang paling terang. Dien segera menuju dan menyentuh bintang paling terang tersebut.
Dien merasakan rohnya seperti dihantam palu besar saat menyentuh bintang tersebut.
Dien dipaksa sadar, muntah darah, jantungnya terasa begitu sakit, serta penglihatannya kabur dan samar-samar. Dien melihat tiga lilin yang hampir habis, lalu kertas putih yang bertulis “Apakah aku bisa menjadi peramal?” perlahan-lahan terbakar menjadi abu, lalu kata “Tidak.” mulai terbentuk dari susunan abu kertas tersebut.
Dien tertegun melihat samar-samar jawaban dari ramalannya, lalu jatuh pingsan.
Bersambung.