Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran di Hati Sang Ketua
Sisa-sisa ketegangan yang sempat mencekam pondok bambu itu menguap sepenuhnya seiring dengan ditutupnya mushaf Al-Qur'an di pangkuan Anisa. Keheningan yang kini merayap di dalam ruangan bukan lagi keheningan yang menakutkan, melainkan sebuah kedamaian yang mendalam, yang meresap hingga ke pori-pori kulit. Cahaya lampu minyak yang sempat bergoyang liar kini kembali menyala dengan tenang, memantulkan pendar kuning keemasan yang hangat di atas tikar pandan.
Di sudut ruangan, Susan dan Sasti perlahan melepaskan pelukan erat mereka pada lengan kekasih masing-masing. Napas mereka yang tadinya memburu kini mulai teratur. Keajaiban lantunan ayat suci yang dibawakan dengan tilawatil Qur'an oleh Anisa benar-benar bekerja seperti penawar racun bagi jiwa mereka yang sempat terguncang oleh teror Hutan Sangker.
Namun, di antara kelima mahasiswa kota itu, sosok yang paling merasakan dampak luar biasa dari suara Anisa adalah Zenix.
Ketua geng yang terkenal dengan julukan "Pangeran Es" di kampusnya itu masih terduduk kaku di posisinya. Tangan kanannya yang semula mencengkeram erat kapak kayu di dekat pintu kini telah rileks, bertumpu di atas lututnya yang bersila. Matanya yang tajam, yang biasanya selalu memancarkan tatapan dingin, waspada, dan tak tersentuh, kini tampak terpaku lurus pada sosok gadis berhijab di depannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Zenix, ia merasakan dadanya bergemuruh oleh suatu rasa yang sangat asing, namun terasa begitu menghanyutkan. Selama Anisa mengaji tadi, Zenix seolah ditarik keluar dari dunia nyata yang penuh dengan kekacauan dan bahaya. Setiap untaian huruf makhorijul huruf yang keluar dari bibir Anisa, setiap lekuk nada tinggi rendah yang merdu itu, mengalir masuk ke dalam telinganya dan langsung mengetuk pintu hatinya yang paling dalam. Rasa pegal di tubuhnya, rasa cemas akan hari esok, dan benteng pertahanan emosional yang selalu ia bangun dengan kokoh, runtuh seketika. Jiwanya mendadak terasa sangat tenang sebuah ketenangan murni yang belum pernah ia dapatkan di mana pun, bahkan di tempat termewah di kota sekalipun.
Jujur saja, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Zenix menyadari satu hal ia mengagumi gadis berhijab ini.
Pikiran Zenix mendadak melayang kembali ke kehidupan lamanya di kampus kota metropolitan. Di sana, Zenix adalah sosok idola. Dengan modal wajah tampan yang tegas, postur tubuh tinggi atletis, gaya berpakaian yang cool dengan jaket denim hitam serta anting minimalisnya, ia adalah magnet bagi kaum hawa. Mulai dari mahasiswi populer, anak orang kaya yang modis, hingga jajaran pencinta tren di kampus bersusah payah melakukan berbagai cara untuk menarik perhatiannya. Ada yang sengaja menjatuhkan buku di depannya, mengirimkan hadiah-hadiah mahal, hingga secara terang-terangan menggoda dan menyatakan perasaan padanya.
Namun, semua usaha itu tidak pernah mempan pada Zenix. Baginya, gadis-gadis di kampusnya rata-rata sama saja manja, dipenuhi kepalsuan visual, dan terlalu bergantung pada kemewahan orang tua. Zenix selalu memandang mereka dengan tatapan dingin dan mengabaikan mereka tanpa perasaan, hingga teman-temannya sering menjulukinya sebagai cowok yang tidak punya hati.
Tapi malam ini, di sebuah pondok bambu sederhana di tepi hutan paling angker, dogma itu patah. Anisa benar-benar berbeda dari semua gadis yang pernah Zenix temui. Gadis berhijab ini tidak memiliki pakaian bermerek, tidak memakai riasan wajah yang tebal, dan hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem. Namun, auranya begitu bersih dan bersahaja.
Lebih dari itu, hal yang paling membuat Zenix bertekuk lutut dalam kekaguman adalah ketangguhan mental Anisa. Di usia yang masih sangat muda, setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya dan hidup sebatang kara, Anisa memilih untuk tidak menyerah pada takdir. Ia tidak mengemis belas kasihan orang lain. Dengan hanya ijazah SMP, ia mandiri bekerja keras menjadi buruh cuci baju warga, merawat tanaman obat warisan kakeknya, dan bahkan masih sempat mendedikasikan dirinya untuk mengobati orang-orang desa yang sakit. Jika orang lain termasuk gadis-gadis manja di kota diletakkan di posisi Anisa yang harus tinggal sendirian di tepi Hutan Sangker yang penuh teror mistis, Zenix yakin mereka sudah tidak akan kuat dan mungkin sudah kehilangan warasnya.
Anisa adalah kombinasi langka antara kelembutan seorang wanita, kesucian iman, dan keberanian seorang pejuang. Dan hal itu sukses meluluhkan hati dingin sang ketua geng.
Zenix masih menatap Anisa tanpa berkedip, memperhatikan bagaimana gadis itu dengan telaten merapikan kembali kain pembatas Al-Qur'an dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sebagai tanda syukur. Pancaran ketulusan di wajah Anisa malam itu benar-benar terlihat sangat cantik di mata Zenix sebuah kecantikan yang tidak berasal dari kosmetik, melainkan memancar dari dalam hati.
Di barisan belakang, dua sahabat karib Zenix, Deandra dan Jovanka, ternyata tidak melewatkan momen langka tersebut.
Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Zenix dan mendirikan geng bersama di kampus, Deandra dan Jovanka sangat hafal dengan setiap gerak-gerik ketua mereka. Mereka tahu persis bagaimana pandangan mata Zenix jika sedang tidak tertarik pada sesuatu biasanya tatapannya akan kosong, malas, atau bergeser ke arah lain dengan cepat.
Namun malam ini, tatapan mata Zenix yang terkunci pada Anisa membawa kilat yang sangat berbeda. Ada binar kehangatan, rasa hormat yang mendalam, dan ketertarikan emosional yang tidak bisa disembunyikan lagi dari balik matanya yang tajam. Sinar mata itu adalah sinar mata seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Jovanka yang duduk di samping Sasti menyenggol pelan lengan Deandra menggunakan siku lengannya. Ia kemudian menunjuk ke arah Zenix menggunakan dagunya, sambil menahan senyum lebar di sudut bibirnya.
Deandra membetulkan letak kacamatanya, menatap arah pandangan Zenix, lalu ikut tersenyum simpul. Kedua cowok itu saling berpandangan dan mengangguk kecil, memberikan kode batin yang hanya dimengerti oleh sesama sahabat laki-laki. Di dalam hati, Jovanka dan Deandra merasa sangat lega sekaligus geli. Akhirnya, setelah sekian lama mengira ketua geng mereka adalah patung es yang aseksual dan tidak akan pernah menyukai wanita, malam ini mereka menjadi saksi sejarah bahwa seorang Zenix akhirnya tak berkutik di hadapan seorang gadis desa berhijab.
"Ehem..." Jovanka sengaja berdeham agak keras untuk memecah keheningan sekaligus menggoda sahabatnya itu. "Luar biasa memang aura pondok ini. Hawa dinginnya langsung hilang, digantikan rasa hangat. Ya nggak, Zen?"
Mendengar dehaman dan sindiran halus dari Jovanka, Zenix langsung tersentak dari lamunannya. Ia menarik kembali pandangannya dari Anisa dengan cepat, berputar sedikit ke arah samping. Meskipun wajahnya mencoba kembali dipasang sedatar dan sedingin mungkin, rona merah tipis yang sempat muncul di sekitar telinganya yang mengenakan anting hitam tidak bisa berbohong. Zenix memutar cincin perak di jari tengahnya dengan agak cepat sebuah gestur salah tingkah yang sangat jarang ia lakukan.
Deandra yang tidak ingin Zenix merasa terlalu tersudut, segera mengalihkan pembicaraan dengan bijak, meskipun senyumnya masih tertahan. "Anisa, suara mengajimu benar-benar sangat bagus. Kami yang tidak paham banyak tentang hal ini pun bisa merasakan dampaknya langsung. Terima kasih sekali lagi karena sudah menenangkan kami."
Anisa yang sama sekali tidak menyadari dinamika godaan antar cowok di depannya, mendongak dan tersenyum tulus. "Sama-sama, Mas Dean. Semua itu terjadi atas izin Nya. Suara saya biasa saja, yang hebat adalah mukjizat dari ayat-ayat suci Al-Qur'an itu sendiri. Alhamdulillah, mahluk-mahluk di luar sudah tenang dan kembali ke dalam hutan."
Gadis berhijab itu kemudian bangkit berdiri dari tikar pandan, membawa mushaf Al-Qur'an untuk dikembalikan ke atas rak kayu tua di sudut ruangan. "Malam sudah sangat larut, dan besok pagi-pagi sekali kita harus bersiap ke balai desa lagi untuk menunggu mobil angkutan kota. Sebaiknya kalian semua segera masuk ke kamar dan tidur agar besok tidak kesiangan."
"Baik, Anisa. Kamu juga harus istirahat, kamu pasti lelah setelah seharian mencuci dan memimpin doa tadi," ucap Sasti yang berdiri sambil meregangkan otot-otot badannya yang pegal.
Satu per satu dari mereka mulai bergerak menuju kamar masing-masing. Susan dan Sasti berjalan mengekor di belakang Anisa masuk ke kamar perempuan sebelah kanan. Sementara itu, Deandra dan Jovanka berjalan menuju kamar sebelah kiri.
Zenix menjadi orang terakhir yang bangkit dari tikar. Sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya, ia sempat berbalik sekali lagi, menatap punggung Anisa yang sedang mematikan salah satu lampu minyak di tiang bambu dekat rak buku. Di bawah sisa cahaya yang temaram, siluet anggun gadis itu kembali mencetak kesan yang mendalam di benak Zenix.
Begitu pintu kamar laki-laki ditutup, Jovanka langsung melompat ke atas kasur kapuk dan merebahkan diri sambil tertawa cekikikan tanpa suara agar tidak terdengar ke kamar sebelah.
"Wah, wah, wah... ada yang rekor pecah telur tampaknya malam ini," goda Jovanka setengah berbisik sambil menatap Zenix yang sedang menggantung jaket denim hitamnya di paku dinding bambu.
"Maksudmu apa?" tanya Zenix dingin, mencoba bersikap acuh tak acuh sembari membetulkan posisi tidurnya di bagian paling luar kasur.
Deandra ikut berbaring di tengah, melepas kacamatanya lalu menaruhnya di lantai bambu. "Jangan pura-pura tidak tahu, Zen. Tatapan matamu ke Anisa tadi itu sudah menjelaskan semuanya. Kami ini sudah bertahun-tahun berteman denganmu, tahu persis kapan kamu sedang melihat batu dan kapan kamu sedang melihat seseorang yang berharga."
Zenix terdiam sejenak mendengar ucapan Deandra yang selalu tepat sasaran. Ia menatap langit-langit pondok yang terbuat dari jalinan rumbia kering. Cincin perak di jarinya terasa pas di dadanya yang berombak pelan. Setelah keheningan beberapa detik, Zenix akhirnya mengembuskan napas panjang, melepaskan topeng esnya di depan kedua sahabat terbaiknya.
"Dia... memang berbeda," aku Zenix lirih, suaranya yang berat terdengar sangat jujur di kegelapan kamar. "Kalian tahu sendiri bagaimana gadis-gadis di kota. Tapi Anisa... melihat cara dia bertahan hidup sendiri di sini, dan bagaimana dia menghadapi teror luar biasa tadi dengan ketenangan seperti itu... aku belum pernah melihat orang sekuat dia."
Jovanka tersenyum lebar di kegelapan, menepuk pundak Zenix dengan bangga. "Nah, jujur begitu kan enak, Ketua! Kami dukung seratus persen. Anisa memang gadis yang luar biasa baik. Tapi ingat, besok kita sudah harus pulang ke kota kalau mobil angkutannya datang. Kamu harus memikirkan bagaimana cara agar tidak kehilangan kontak dengannya setelah kita pergi dari desa ini."
Kata-kata Jovanka barusan mendadak menjadi beban pikiran baru bagi Zenix sebelum ia memejamkan mata. Pulang ke kota berarti ia harus meninggalkan tepi Hutan Sangker ini, dan itu berarti ia juga harus berpisah dengan Anisa, sang gadis berhijab yang baru saja berhasil mencuri hatinya dalam waktu satu malam.