Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASIHAT PAK DARWIS
"Selamat pagi semua!"
Seorang guru bermarga Siahaan melangkah masuk ke dalam kelas. Suara sepatunya berketuk tegas di lantai, berpadu dengan intonasi suaranya yang lantang khas anak Medan—bertenaga, cepat, dan langsung menusuk perhatian. Ia pun meletakkan buku tebal di atas meja guru dengan sekali sentakan, lalu bersedekap sambil mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
"Sudah siap semuanya?" Tanyanya, matanya membaur ke segala penjuru ruangan sebesar tujuh meter itu.
"Siap apa, Pa?" Celetuk seorang lelaki yang duduknya sejajar di belakang Naya. "Berkemas pulang, Pak? Ayo!"
Itu Tian. Batin Naya sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
Pak Darwis mendengus pendek, tapi sudut bibirnya justru terangkat, menahan tawa melihat kekompakan murid-muridnya yang malah jadi ajang bercanda. Ia menepuk papan tulis dengan penghapus, menciptakan kepulan debu kapur tipis yang menari di udara.
"Bah, kau ini Tian! Otakmu itu isinya cuma mau pulang aja nampaknya ya?" Pak Darwis melirik tajam ke arah bangku belakang, meski nada suaranya terdengar jenaka. "Belum lagi keringat Bapak masuk ke kelas ini, udah kau suruh Bapak berkemas. Mau jadi apa kau nanti?
"Ya mau jadi orang sukses lah, Pak! Makanya saya harus latihan pulang cepat dari sekarang. Biar pas sukses nanti, saya nggak perlu lembur-lembur lagi macam Bapak. Langsung cus jemput masa depan!"
Seketika, kelas meledak dalam tawa yang lebih pecah dari sebelumnya. Beberapa anak di barisan depan bahkan sampai memukul-mukul meja karena geli mendengar jawaban ngawur bin percaya diri dari Tian.
Sementara, Naya hanya terkekeh pelan dari bangkunya, merasa geli mendengar pernyataan Tian yang berani dan humoris itu.
Pak Darwis tertegun sejenak, lalu mendengus sambil menggelengkan kepala. Ia tidak marah, justru tertawa kecil sampai bahunya berguncang. "Bah, hebat kali kau ya! Logika macam apa itu?"
"Katanya, cowok humoris itu biasanya punya sisi romantis yang kuat." Bisik Hana menyenggol sikut Naya menggoda. "Cieee... rasa suka kamu sama Tian pasti makin gak karuan. Iya, kan?"
Naya tersentak, wajahnya seketika terasa panas menjalar hingga ke telinga. Ia buru-buru menepis tangan Hana dengan gerakan kikuk, matanya melirik was-was ke arah Pak Darwis yang mulai sibuk menggores papan tulis.
"Apaan sih, Han! Ngawur kali mulutmu itu," bisik Naya tertahan, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir pecah di balik buku paketnya. "Aku cuma... ya, dia emang lucu, tapi bukan berarti—"
"Bukan berarti apa?" Hana menaikkan sebelah alisnya, seringai jahil tak lepas dari wajahnya. "Nggak usah bohong sama aku. Tiap Tian bikin ulah, matamu itu loh, nggak bisa bohong. Selalu ngikutin dia terus."
Naya terdiam, giginya menggigit bibir bawah. Memang benar, meski Tian sering membuat guru kesal, ada sesuatu pada caranya memandang dunia dengan santai dan bagaimana dia selalu bisa mencairkan suasana di saat-saat kaku yang diam-diam membuat detak jantung Naya berdegup sedikit lebih cepat. Sisi humoris Tian itu seperti magnet; tidak terlihat mewah, tapi punya tarikan yang kuat dan hangat.
"Oke semuanya. Buka buku paket kalian di bab tiga. Cinta tanah air..." lugas Pak Darwis. "... itu tema kita hari ini. Cinta itu tidak hanya dirasakan kepada pasangan. Tapi ingat, cinta pada tanah air itu penting."
Pak Darwis mulai berkeliling kelas, langkahnya yang mantap sesekali berhenti di samping meja murid. Suasana yang tadinya penuh tawa kini perlahan berubah menjadi lebih serius, namun tetap tidak kaku.
"Cinta tanah air itu," Pak Darwis kembali bersuara, kali ini nadanya lebih rendah dan dalam, "bukan cuma soal pasang bendera tujuh belasan di depan rumah. Bukan juga cuma soal hafal lagu nasional. Cinta tanah air itu, bagaimana kalian bisa bangga dengan identitas kalian di tengah dunia yang makin 'global' ini."
Lagi-lagi, Tian melambaikan tangan ke udara. "Kalau cinta terhadap pasangan, itu gimana Pak?" celetuknya tanpa ragu.
"Bah... kau lagi, Tian." Pak Darwis menggelengkan kepala, namun kali ini ada guratan getir yang terselip di balik sorot matanya yang bijak. Ia berjalan perlahan ke tengah ruangan, menatap murid-muridnya satu per satu dengan pandangan yang dalam.
"Dengar, anak-anak Bapak. Kalau cinta itu pada manusia, jangan kau berikan seratus persen. Sisakan ruang untuk kecewa. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kalau kau kasih semua cintamu tanpa sisa, pas dia pergi atau menyakitimu, hancur lebur lah kau tak bersisa."
Suasana kelas yang tadinya riuh, mendadak hening. Kata-kata itu seolah memiliki beban berat yang menghujam tepat ke jantung setiap murid. Bahkan, deru napas pun seakan tertahan. Naya tertegun, kepalanya mengangguk pelan, seirama dengan teman-teman lainnya yang tampak meresapi petuah tak terduga itu.
Pak Darwis menyeringai tipis, mencoba memecah suasana sendu dengan gaya khasnya. "Soal begini saja kalian cepat paham ya? Kalau soal rumus matematika, tengoklah, berkerut dahi kalian semua!"
Satu kelas tertawa kecil, meski sorot mata mereka masih menyisakan renungan.
Di bangku sebelah, Hana kembali menyenggol sikut Naya. Kali ini lebih keras, membuat Naya sedikit tersentak dari lamunannya. Hana berbisik, suaranya sangat lirih namun terasa seperti tusukan jarum di telinga Naya. "Tuh, dengerin, Nay. Jangan sampai kamu mencintai Tian seratus persen. Sisain rasa kecewa buat jaga-jaga. Apalagi kamu sendiri tahu, kan? Tian itu sudah punya pacar. Jangan sampai kamu yang hancur sendirian sementara dia sudah punya tempat pulang yang lain."
Naya terdiam. Kalimat Hana bak menarik paksa hatinya, menyeretnya jatuh ke dalam realita yang selama ini ia coba sangkal. Ya, Tian punya pacar. Kenyataan itu seperti duri yang tertanam di balik rasa sukanya.
Namun, mengabaikan Tian? Itu hal yang mustahil. Tiga tahun mengagumi punggung cowok itu di depan kelas, menghafal caranya tertawa, dan terbiasa dengan guyonannya, bukanlah perkara yang bisa dihapus hanya dengan satu nasihat bijak. Bagi Naya, perasaan itu bukan lagi sekadar suka yang dangkal, melainkan sebuah rutinitas emosional yang sudah mendarah daging.
Naya menunduk, menatap buku di mejanya. Ia tahu ia sedang berenang di arus yang salah, tapi ia masih belum punya tenaga untuk menepi. Ia hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba menyesakkan dadanya, sementara di depan sana, Pak Darwis kembali mengoceh tentang hakikat tanah air yang justru terasa lebih mudah dicintai daripada seorang Tian.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri