NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C009: Bertemu Pengacara

...Selamat Baca...

Di saat yang sama, Alexander yang berdiri tak jauh darinya tiba-tiba mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari saku jasnya.

Ia tidak berniat merokok saat itu juga, namun saat ia menyalakan korek apinya hanya untuk sekadar mengecek nyala api, Liana bergerak cepat.

Ia mengulurkan tangan kanannya yang memegang foto itu tepat ke arah nyala api kecil yang menyala itu.

"Liana..." gumam Alexander pelan, namun ia membiarkan apinya tetap menyala, mengerti sepenuhnya apa yang ingin dilakukan wanita itu.

Kertas foto itu perlahan terkena api, sudutnya mulai menghitam, lalu perlahan nyala api menjalar memakan seluruh gambar wajah mereka berdua.

Liana menatapnya tenang, tanpa emosi, membiarkan kenangan itu terbakar habis di tangannya sendiri.

Saat api sudah hampir sampai ke ujung jari-jarinya, ia menjatuhkan sisa abu foto itu ke dalam asbak kaca di meja samping, membiarkannya menjadi debu hitam tak berharga.

Semua rasa sakit, semua kenangan pahit, semua ikatan masa lalu... habis sudah, lenyap terbakar bersama foto itu.

Liana mendongak, menatap Alexander, dan keduanya saling bertukar pandang, lalu tersenyum.

Sebuah senyum pengertian, senyum lega, dan senyum tentang masa depan yang kini sudah bersih dari masa lalu buruk itu.

"Mari kita sarapan," ajak Alexander lembut, mengulurkan lengannya.

Mereka berdua turun ke ruang makan besar di lantai bawah. Di sana, meja panjang sudah tertata rapi oleh pelayan dan koki pribadi Alexander.

Aroma makanan yang lezat dan hangat menguar memenuhi ruangan. Sarapan pagi itu sangat lengkap dan menggugah selera:

Ada nasi goreng spesial dengan potongan daging asap dan telur mata sapi yang matang sempurna, ada roti tawar hangat dengan selai buah dan mentega,

Ada sepiring besar buah-buahan segar potong seperti mangga, anggur, dan apel, serta dua cangkir besar susu hangat dan teh manis yang masih mengepulkan asap.

Mereka duduk berhadapan, makan dengan tenang dan damai, mengobrolkan hal-hal ringan sambil menikmati momen pagi yang indah itu. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi rasa takut.

Setelah perut terisi penuh dan waktu semakin mendekati pukul delapan pagi, mereka bersiap berangkat.

Mobil besar sudah terparkir di depan pintu. Sopir yang sama dengan kemarin sudah siap menunggu.

"Aku akan mengantarmu langsung ke lokasi pertemuan itu dulu," jelas Alexander saat mereka masuk ke dalam mobil.

"Setelah menurunkanmu, sopir akan mengantarkanku ke kantor pusat perusahaan, lalu setelah selesai mengantarkanku,"

"Dia akan langsung kembali ke Kafe Peace untuk menjemputmu nanti. Jadi kau tidak perlu khawatir soal pulang, kau aman sepenuhnya."

Liana mengangguk mengerti, merasa sangat tenang karena semuanya sudah diaturkan dengan sempurna oleh Alexander.

Perjalanan tidak memakan waktu lama. Mobil berbelok masuk ke kawasan yang tenang, lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan bergaya rumah jaman dulu yang asri, bertuliskan "Kafe Peace".

Tempatnya memang sangat pas, suasananya hening, rimbun pepohonan, dan jauh dari hiruk-pikuk jalan raya.

Alexander turun bersamanya, membukakan pintu, dan mengantarnya sampai ke depan pintu masuk kafe itu.

"Semangat, Ratu kecilku," bisik Alexander pelan di telinganya sebelum berpisah, matanya penuh dukungan.

"Ingat, apa pun yang terjadi, apa pun yang ditanyakan, kau punya hak penuh untuk memutuskan hidupmu sendiri. Dan aku ada di sini, menunggumu."

Liana tersenyum mantap, mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kafe itu.

Di sudut ruangan, di meja yang paling privat dan tersembunyi, sudah ada seorang pria setengah baya, sekitar 40 tahunan berpenampilan rapi dan ramah yang sedang menunggunya.

Pria itu mengenakan kemeja biru dongker dan celana bahan, wajahnya tampak cerdas namun hangat. Itu pasti Tuan Ardian.

Pria itu langsung berdiri saat melihat Liana masuk, lalu tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan.

"Selamat pagi, Nona Liana. Saya Ardian. Silakan duduk."

Liana duduk di kursi hadapannya, jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, tapi karena ini adalah langkah nyata pertamanya menuju kebebasan mutlak.

"Baiklah, Nona Liana," ucap Ardian membuka pembicaraan sambil membuka berkas catatannya.

Suaranya rendah namun jelas, agar tidak terdengar oleh pengunjung lain. "Kita langsung saja ke pokok permasalahannya. Sebagai pengacara yang akan mewakili Anda,"

"Saya perlu tahu semua hal mendasar agar proses ini berjalan lancar, cepat, dan menguntungkan Anda sepenuhnya."

"Ada beberapa hal penting yang harus kita bahas dan sepakati terlebih dahulu sebelum surat gugatan ini saya siapkan."

Ia menatap Liana lekat-lekat, lalu mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar namun krusial yang biasa menjadi hambatan atau poin penting dalam perceraian pasangan suami istri.

"Pertama, dan yang paling utama: Apa alasan resmi yang akan kita cantumkan dalam surat gugatan perceraian ini? Apakah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus?"

"Atau ada alasan lain seperti penelantaran, perselingkuhan, atau ketidakharmonisan yang sudah tidak bisa diperbaiki?"

"Ingat, alasan ini akan menjadi dasar hakim memutuskan sah atau tidaknya perceraian ini."

Liana menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara tegas dan jelas.

"Alasannya, Tuan Ardian... saya sudah tidak mendapatkan hak saya sebagai istri, baik secara lahir maupun batin."

"Saya telah ditelantarkan, dianggap tidak ada, dan posisi saya sebagai istri sah telah digantikan sepenuhnya oleh wanita lain yang hidup bersama suami saya."

"Saya tidak bahagia, dan rumah tangga ini sudah mati sejak lama."

Ardian mengangguk paham, mencatat poin itu dengan rapi. "Baik, itu alasan yang sangat kuat dan sah secara hukum."

Ia melanjutkan lagi, pertanyaan kedua yang biasanya paling alot dibahas.

"Kedua, masalah Harta Bersama. Selama pernikahan Anda berlangsung, apakah ada aset, uang, tanah, atau properti yang Anda berdua miliki bersama dan ingin Anda tuntut hak pembagiannya?"

"Atau Anda memutuskan untuk melepaskan semuanya dan pergi membawa diri saja?"

Pertanyaan itu menggantung. Biasanya, ini adalah bagian di mana pasangan bertengkar hebat karena harta kekayaan.

Tapi jawaban Liana keluar begitu saja tanpa ragu sedikit pun.

"Saya tidak menginginkan sepeser pun uang, tidak sebidang tanah, dan tidak selembar aset apa pun yang bernama keluarga Sterling atau Alistair," jawab Liana tegas.

"Saya pergi hanya membawa diri saya sendiri dan barang-barang pribadi saya seperti yang ada di daftar ini." Ia menyodorkan selembar kertas catatan daftar barang bawaannya kemarin.

"Saya hanya ingin satu hal saja dari perceraian ini: Kebebasan nama saya. Saya ingin nama saya bersih kembali, dan ikatan itu putus sepenuhnya. Itu saja."

Mata Ardian sedikit membelalak takjub. Jarang sekali ada klien wanita yang mau melepaskan harta kekayaan sebesar milik keluarga Sterling demi kebebasan semata.

'Alex... Kau benar benar menemukan wanita hebat...' batin Ardian, saat mendengar jawaban Liana.

Namun ia segera tersenyum hormat, mengagumi ketegasan wanita di hadapannya ini.

"Baik, poin harta sudah jelas. Itu akan sangat mempermudah proses kita, Nona Liana." Ardian kembali mencatat, lalu menatap Liana dengan pertanyaan terakhir, yang paling krusial namun dalam kasus ini unik.

"Dan yang terakhir, masalah Hak Asuh Anak. Saya perlu bertanya... apakah selama pernikahan ini Anda dan Tuan Alistair memiliki anak?"

"Jika ada, maka kita harus membahas siapa yang mengasuh, biaya hidup, hak bertemu, dan sebagainya."

Liana tersenyum tipis, senyum yang getir namun penuh kemenangan karena kini tuduhan itu sudah tidak ada artinya lagi.

"Tidak ada, Tuan Ardian," jawab Liana tenang.

"Selama lima tahun, kami tidak dikaruniai anak. Dan justru karena itulah saya dituduh mandul, difitnah, dan disakiti."

"Tapi sekarang, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Tidak ada anak, tidak ada ikatan darah. Semuanya bersih untuk diputus."

Ardian menutup bukunya perlahan, menatap Liana dengan pandangan penuh hormat dan senyum melebar.

"Sempurna, Nona Liana. Semua syarat terpenuhi, semua poin jelas, dan posisi hukum Anda sangat kuat."

"Berbekal alasan penelantaran dan perselingkuhan yang nyata, ditambah Anda tidak menuntut harta, perceraian ini akan sangat cepat dan pasti dikabulkan."

"Saya akan siapkan semua berkasnya hari ini juga. Sebentar lagi, nama Anda akan benar-benar milik Anda sendiri lagi."

Liana menghembuskan napas panjang, rasa lega yang luar biasa memenuhi seluruh dadanya.

Di luar jendela kafe, matahari pagi bersinar semakin terang, seolah merayakan keputusan besar yang baru saja ia buat.

Langkah ini sudah diambil. Tidak ada jalan kembali. Dan Liana pun tidak ingin kembali.

'Aku sudah bebas, dan kembali lagi untuk membalas mereka...' batin Liana, saat menatap jalanan di luar kaca kafe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!