NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dukungan

Kamera dan kilatan blitz kembali menjadi momok bagi keluarga kerajaan.

Di dalam ruang konferensi pers khusus, para wartawan duduk rapi dengan tatapan penuh antusias. Kamera siaran langsung menyala dari berbagai sudut ruangan, menangkap setiap detail yang terjadi hari ini.

Penerangan putih terang memantul pada dinding yang dicat serupa, membuat suasana ruangan terlihat jauh lebih terang. Di bagian depan, sebuah meja panjang tertata rapi menghadap deretan kamera. Mikrofon berjajar di atasnya.

Namun perhatian utama bukan berada di sana.

Melainkan pada dua lambang besar yang berdiri berdampingan di sisi podium.

Lambang kerajaan Vardoria.

Dan lambang House d'Orvain.

Setelah sekian lama, simbol keluarga d'Orvain muncul dalam konferensi pers resmi kerajaan. Sebuah tanda yang cukup untuk membuat para bangsawan memahami satu hal.

House d'Orvain yang terkenal tak terlalu banyak tersorot dalam kerajaan akhirnya ikut bergerak.

Sebagai salah satu dari tiga pilar pendiri pertama Vardoria, keluarga itu bukan sekadar bangsawan tua biasa. Nama mereka membawa pengaruh yang bahkan mampu mengguncang keseimbangan politik kerajaan. Apalagi tentang kekuasaan bisnis mereka yang hampir menempati separuh Vardoria.

Tak lama kemudian, seorang pria dengan jas hitam rapi memasuki ruangan. Sebuah pin perak tersemat di kerah kirinya. Kilatan kamera langsung menyambar ke arahnya tanpa henti.

Sang juru bicara kerajaan tetap berjalan tenang seolah telah terbiasa menghadapi semua perhatian itu. Tatapannya lurus dan stabil, tanpa menunjukkan kegugupan sedikit pun.

"Selamat sore."

Suara jepretan kamera kembali memenuhi ruangan.

"Hari ini pihak kerajaan dengan bangga mengumumkan pertunangan resmi antara Yang Mulia Putra Mahkota dan Lady Lillyane."

Ia membuka lembar dokumen di tangannya perlahan sebelum kembali melanjutkan.

"Keputusan ini dibuat melalui pertimbangan penuh keluarga kerajaan dan mendapat dukungan resmi dari House d'Orvain sebagai salah satu tetua sekaligus pilar utama Vardoria."

Suasana ruangan langsung berubah semakin riuh.

Kilatan kamera menyambar tanpa henti.

"Maka dari itu, pihak kerajaan berharap masyarakat Vardoria dapat memberikan dukungan terbaik bagi pasangan ini demi masa depan monarki yang lebih stabil dan harmonis."

Nada bicara sang juru bicara tetap formal dan tenang. Wajahnya tersusun rapi tanpa emosi yang dapat dibaca.

Seorang wartawan segera mengangkat tangan.

"Apakah pihak kerajaan memiliki tanggapan terhadap rumor yang beredar tentang Lady Lillyane?"

Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.

Sang juru bicara mengangkat pandangannya perlahan.

"Pihak kerajaan tidak memiliki kepentingan untuk memberikan tanggapan terhadap spekulasi yang tidak memiliki dasar resmi."

Jawaban itu terdengar tenang.

Namun cukup tajam untuk membuat beberapa wartawan terdiam.

"Kami percaya masyarakat Vardoria mampu membedakan antara informasi resmi kerajaan dan opini yang sengaja dibentuk demi kepentingan tertentu."

Ketegangan perlahan memenuhi ruangan konferensi pers. Sang juru bicara kembali membuka lembar dokumennya sebelum berbicara untuk terakhir kali.

"Hari ini pihak kerajaan juga ingin menyampaikan satu hal penting."

Ia berhenti sesaat.

"Lady Lillyane kini berada di bawah perlindungan resmi Kerajaan Vardoria dan House d'Orvain."

Tatapannya lurus mengarah pada deretan kamera di depan.

"Sebagai calon Putri Mahkota, segala bentuk penghinaan, fitnah, maupun tindakan yang mengancam kehormatan dan stabilitas kerajaan akan ditindak sesuai hukum serta protokol kerajaan yang berlaku.".

Beberapa detik ruangan itu benar-benar kehilangan suara.

Hanya kilatan kamera yang masih terus menyala. Tanpa banyak jepretan yang diambil.

Tanpa memberikan kesempatan untuk pertanyaan tambahan, sang juru bicara segera meninggalkan ruangan konferensi pers.

Dan pada saat yang sama—

Seseorang tengah menyaksikan seluruh siaran itu dari layar televisi apartemen mewahnya.

Tangan pria itu menggenggam secangkir kopi hitam pekat. Senyum kecil tersungging tipis di sudut bibirnya.

Tuan Albert menikmati seluruh kekacauan politik yang baru saja dimulai.

Baginya, opini publik adalah senjata paling murah sekaligus ancaman paling beracun dalam dunia politik.

Masyarakat selalu menyukai berita tentang keluarga kerajaan.

Kemewahan.

Kekuasaan.

Dan kehidupan para bangsawan yang terasa jauh dari jangkauan mereka. Namun di atas semua itu, satu hal yang paling disukai publik adalah skandal. Terlebih jika skandal tersebut melibatkan keluarga kerajaan.

Dan Albert dengan senang hati memberikannya.

Opini yang sengaja ia giring selama beberapa jam terakhir kini menghilang tanpa jejak. Artikel-artikel lama lenyap dari headline media seolah tak pernah ada sebelumnya.

Jika sebelumnya seluruh berita dipenuhi rumor tentang Lillyane dan skandal cinta satu malam, kini semuanya berubah total.

Pertunangan kerajaan.

Dukungan House d'Orvain.

Calon Putri Mahkota baru Vardoria.

Media dan opini masyarakat bergerak ke arah yang sama hanya dalam satu malam.

Senyum Albert semakin tipis di balik kumis rapinya. Dalam ruang kerja yang gelap dan sunyi, pria itu nyaris terkekeh melihat perubahan situasi yang begitu cepat.

Ia kembali menyesap kopinya perlahan. Seolah semua kekacauan politik itu hanyalah permainan biasa baginya.

Beberapa detik kemudian, Albert meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.

Klik.

Layar televisi berubah gelap.

Pantulan cahaya dari tablet di atas meja kini menjadi satu-satunya penerangan di dalam ruangan itu. Puluhan pesan masuk terus berdatangan tanpa henti.

Albert menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Ternyata kau memilih ikut bermain, Duke d'Orvain."

Ia terdiam sesaat.

"Baiklah... harus kuakui pertunjukan yang kau buat cukup memukau."

Nada suaranya terdengar tenang.

Namun matanya perlahan berubah dingin.

"Aku sampai kewalahan dibuatnya."

Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya. Jas hitam yang dikenakannya bergerak rapi saat ia berjalan meninggalkan meja kerja.

Tablet yang terus dipenuhi notifikasi itu tetap menyala di belakangnya.

Di tempat lain, sosok yang tengah dipuji dan dielu-elukan media sebagai Cinderella Vardoria berdiri tegak di tengah ruang latihan etiket yang luas.

Sebuah korset ketat membelit pinggangnya hingga sulit bernapas. Sepatu hak tinggi memaksanya berdiri berjinjit sempurna selama berjam-jam.

Ruangan itu terasa terlalu terang bagi Lillyane.

"Tahan sedikit lebih lama, Lady."

Suara Madam Elish terdengar lembut di tengah kesunyian ruangan. Tongkat tipis di tangannya mengetuk pelan bagian punggung Lilly yang dianggap kurang tegak.

"Saya memahami hal seperti ini tentu sulit bagi seseorang yang terbiasa hidup bebas."

Lilly memilih diam.

Tatapan hazelnya memperhatikan wanita paruh baya di hadapannya yang sejak tadi terus mengoreksi setiap gerak tubuhnya tanpa henti.

"Berjalanlah pelan."

Madam Elish mendekat lalu meletakkan dua buku tebal di atas kepala Lilly.

"Dan jangan lupa tersenyum."

Lilly mulai melangkah perlahan.

Punggung tegak.

Dagu sedikit terangkat.

Langkah kecil yang dipaksakan terlihat anggun.

Namun senyumnya tampak lelah.

Dinding cermin besar di hadapannya memantulkan seluruh penampilannya dengan sempurna. Rambut yang pagi tadi tertata rapi kini mulai berantakan. Beberapa helai rambut kecil jatuh di sekitar wajahnya yang dipenuhi peluh.

Bruk.

Tubuh Lilly kehilangan keseimbangan dan kembali jatuh ke lantai. Buku-buku itu terhempas.

Madam Elish menghela napas lirih.

"Anda tidak boleh terlihat lelah."

Wanita itu berjalan mendekat dengan senyum tipis yang masih terlihat sopan.

"Calon Putri Mahkota harus selalu tersenyum hangat di depan publik."

Lilly memejamkan matanya sesaat. Korset di tubuhnya terasa semakin sesak.

"Senyumlah dengan lebih anggun, Lady," bisik Madam Elish pelan. "Para bangsawan tidak membutuhkan wajah kelelahan Anda."

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding bentakan apa pun.

Madam Elish melirik jam kecil di pergelangan tangannya sebelum akhirnya mundur beberapa langkah.

"Hari sudah sore. Pelatihan etiket akan dilanjutkan besok pagi."

Wanita itu pergi meninggalkan ruangan.

Tubuh gadis itu perlahan ambruk di atas lantai marmer dingin. Napasnya terasa berat.

Etiket kerajaan jelas bukan dunianya.

****

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!