"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Mencoba bertahan
Bab 9 — Mencoba bertahan
•••
Sarapan pagi ini terasa begitu hening. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar memenuhi meja makan.
Varisha sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia terus memikirkan ucapan Zayn tadi pagi. Tentang bagaimana pria itu merasa dianaktirikan oleh kedua orang tuanya.
“Zayn, ajaklah Varisha bulan madu,” ujar tuan Faruq tiba-tiba.
“Itu benar. Kalian kan masih pengantin baru,” sambung nyonya Lestari dengan senyum hangat.
Varisha hanya menundukkan kepala pelan.
“Bulan depan aku ada balapan, Bu. Jadi gak bisa. Aku harus latihan,” balas Zayn datar.
“Kalau begitu ajak Varisha menonton balapanmu,” sahut tuan Faruq lagi.
“Bagaimana, Varisha?” tanya beliau lembut.
Varisha melirik sekilas ke arah Zayn. Tatapan tajam pria itu langsung membuatnya gugup.
“Tidak perlu, Ayah, Bu. Lagian hari ini aku mulai mengajar lagi. Minggu depan murid-muridku ujian,” jawab Varisha pelan.
“Yah, sayang sekali,” gumam nyonya Lestari kecewa.
Di sisi lain, Zayn justru menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.
•••
Varisha menaiki anak tangga perlahan dengan tongkat di sisi kirinya. Hal melelahkan yang harus ia lakukan setiap hari.
Sesampainya di depan kamar, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
Dan—
DEG!
Varisha langsung mematung.
Zayn berdiri di sana hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh tinggi dengan otot-otot tegas dan perut sixpack itu langsung membuat wajah Varisha memanas.
Bahkan Zayn sendiri tampak terkejut.
“Kalau masuk itu ketuk dulu!” omelnya kesal.
“M-maaf...” Varisha buru-buru menunduk lalu masuk ke kamar mandi.
Ia langsung membasuh wajahnya di wastafel.
“Aku kenapa sih...” lirihnya malu.
Bayangan tubuh Zayn tadi terus muncul di kepalanya.
Varisha memegang dada kirinya yang berdetak begitu cepat.
‘Perasaan yang dulu aku rasakan ke Adam... apa aku mulai jatuh cinta pada Zayn?’ batinnya bingung.
“Astaga... lebih baik aku mandi saja,” gumamnya cepat.
“Cinta tak mungkin secepat itu,”ujarnya lagi.
•••
Tak lama kemudian, Varisha keluar dari kamar mandi dengan tubuh dibalut handuk putih. Rambutnya digulung ke atas dengan sederhana.
Ia mengintip pelan.
‘Sepertinya dia sudah pergi,’ batinnya lega.
Varisha berjalan perlahan agar suara tongkatnya tidak terlalu terdengar.
Kulit putihnya tampak bersinar terkena cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela kamar.
“Eh, pincang! Mana jaket gue?”
Suara Zayn membuat Varisha langsung terkejut.
Pria itu ternyata masih ada di sana.
Varisha refleks memegang erat handuknya.
“Kau pikir gue bakal tergoda sama tubuh lo?” ejek Zayn dingin.
“Apa lagi lo udah jadi bekas orang lain. Tubuh Adinda jauh lebih menarik.”
Seketika wajah Varisha berubah murung.
Namun entah kenapa, mendengar nama wanita lain dari mulut Zayn membuat dadanya terasa sesak.
“Kamu... masih berhubungan sama dia?” tanya Varisha lirih.
Mendengar itu, Zayn langsung mendekat kasar.
Ia mencengkeram kedua pipi Varisha dengan satu tangan.
“Akh! Sakit, Zayn...” ringis Varisha.
“Kalau gue masih berhubungan sama dia, emang kenapa? Mau ngadu ke Ayah dan Ibu?” tantang Zayn tajam.
“Bukan begitu...” lirih Varisha menahan sakit.
“Lalu apa?”
“Kita sudah menikah, Zayn. Gak pantas kamu dekat dengan wanita lain lagi.”
Zayn tersenyum miring penuh ejekan.
“Persetan sama pernikahan ini.”
Ia langsung menarik tangan Varisha kasar menuju meja rias.
“Lihat diri lo sendiri!”
Varisha menatap pantulan mereka di cermin.
Zayn tampak begitu sempurna di sampingnya.
Sedangkan dirinya...
“Cewek kayak lo gak pantas berdiri di samping gue,” ucap Zayn dingin.
“Dan lihat kaki lo itu. Berdiri tanpa tongkat aja gak bisa.”
BRAK!
Zayn menyepak tongkat Varisha hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
“Akh!”
Air mata Varisha langsung jatuh.
Zayn justru menatap puas penderitaannya.
Pria itu berjongkok di hadapan Varisha lalu kembali mencengkeram pipinya.
“Menyedihkan,” gumamnya sinis.
“Lebih baik akhiri aja pernikahan konyol ini.”
Ia lalu menghempaskan wajah Varisha sebelum berdiri membelakanginya.
Namun—
“Aku gak akan menyerah.”
Langkah Zayn terhenti.
“Sampai kapan pun aku akan mempertahankan rumah tangga ini,” ujar Varisha lirih namun tegas.
“Pernikahan itu sakral. Bukan cuma janji antara dua manusia, tapi juga janji di hadapan Allah.”
Dan ia juga tak ingin menyakiti hati tuan Faruq serta nyonya Lestari yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.
Zayn tertawa sinis.
“Hahaha... lo gak usah mimpi, pincang.”
“Akan aku buat kamu mencintaiku,” balas Varisha dengan mata berkaca-kaca.
Zayn kembali menatapnya remeh.
“Oh ya? Silakan aja.”
“Kecuali kalau lo mau mati sendirian dalam penderitaan.”
Setelah mengatakan itu, Zayn pergi meninggalkan kamar.
Pintu tertutup keras.
Varisha masih terduduk di lantai dingin sambil menyeka air matanya.
“Aku akan tetap bertahan...” gumamnya pelan.
“Meski harus terluka sekalipun.”
•••
Suasana bengkel milik Zayn sangat ramai hari ini.
Banyak pelanggan datang silih berganti. Bengkel itu memang terkenal karena dimiliki oleh Zayn Al-Kautsar pembalap yang sedang naik daun.
Zayn masuk ke ruang kerjanya lalu menjatuhkan tubuh ke kursi.
Cklek!
Pintu terbuka tanpa ketukan.
“Udah berapa kali gue bilang kalau masuk itu ketuk dulu!” kesal Zayn.
Dion hanya tertawa santai.
“Hentikan tatapan seram lo itu. Nanti istri lo bisa kabur ketakutan,” ejeknya sembari duduk di depan meja.
Dion memang sahabat lama Zayn sekaligus mekanik kepercayaannya.
“Nih, kotak bekal yang dibawa Varisha kemarin,” ujar Dion meletakkan kotak makan di atas meja.
Wajah Zayn langsung berubah tak suka.
“Singkirin.”
“Sebegitu bencinya lo sama dia?”
“Bukan urusan lo.”
“Tapi dia gak salah, Zayn.”
“Gue gak peduli.”
Zayn memalingkan wajah malas.
Cklek!
Pintu kembali terbuka.
Adinda masuk dengan rok mini dan tanktop ketatnya. Tubuh modelnya terlihat begitu menarik.
“Sayang~” panggil Adinda manja.
Ia langsung menghampiri Zayn lalu mengecup bibir pria itu.
Dion langsung berdiri malas.
“Gue cabut deh,” gumamnya sambil menggeleng.
Namun Zayn sudah fokus pada Adinda.
“Fokus sama aku,” rengek Adinda sembari menarik pipi Zayn manja.
Zayn tersenyum tipis lalu membalas kecupan wanita itu.
Tatapannya perlahan berubah hangat.
Tatapan yang hanya ia berikan pada Varisha saja.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya