Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Bab 16: Penyusupan Pukul 02.00
[Lantai 12, Gedung Wijaya Group – Jalur Servis AC]
Udara di lorong servis pengap dan dingin. Bau besi dan debu kering menusuk hidung.
Arka menatap jam tangannya. 01.58.
“30 detik lagi blind spot dimulai,” bisiknya pelan ke mic di telinganya.
Di telinga Liana, suara Reza terdengar pelan tapi jelas:
“Kamera koridor 12A mati dalam 3… 2… 1… Sekarang. Kalian punya 4 menit. Jangan sentuh apa-apa selain pintu ruang kerja.”
Liana mengangguk meski Reza tidak bisa lihat. Tangannya menggenggam handle pintu darurat. Dingin.
Arka di sebelahnya sudah memakai sarung tangan lateks hitam, senter kecil di mulutnya.
Arka:
“Siap?”
Suaranya hanya berbisik, tapi Liana dengar jelas lewat earpiece.
Liana:
“Siap. Kalau ketahuan, lari ke tangga darurat lantai 11. Jangan nengok ke belakang.”
Arka tersenyum tipis.
Arka:
“Gue nggak berencana ketahuan.”
Pintu didorong pelan. Engselnya berderit pelan, hampir tidak terdengar.
Mereka masuk.
---
[Koridor Servis Lantai 12]
Lampu emergency merah redup menyala di ujung lorong.
Langkah mereka pelan, menempel ke dinding.
Reza di earpiece:
“Kamera koridor 12B masih hidup. Jangan angkat kepala. Jalan merunduk.”
Liana merunduk, jantungnya berdebar sampai ke tenggorokan.
Setiap langkah terasa seperti menginjak bom waktu.
Liana:
“Arka… kalau gue ketahuan, janji satu hal.”
Arka:
“Apa?”
Liana:
“Jangan balik buat nyelamatin gue. Gue nggak mau lo ikut hancur.”
Arka berhenti sejenak, menoleh ke Liana.
Arka:
“Nggak ada skenario gue ninggalin lo sendirian, Lia. Nggak ada.”
Liana tidak jawab. Ia hanya mengangguk dan lanjut jalan.
Di ujung lorong, pintu kayu gelap dengan plat kuningan bertuliskan “H. Wijaya – Direktur Utama” terlihat.
Reza:
“Itu pintunya. Kunci digital. Kode lama 2407. Coba sekarang. 47 detik lagi blind spot habis.”
Arka mengeluarkan alat kecil dari sakunya, menempelkannya ke keypad.
Lampu merah berkedip… lalu hijau.
Klik.
Pintu terbuka.
---
[Ruang Kerja Hendra Wijaya]
Ruangan itu luas, gelap, dan dingin. Bau kulit mahal dan cerutu bercampur dengan AC.
Meja kerja besar dari kayu jati menghadap jendela kaca setinggi langit-langit. Di atasnya, foto Hendra bersalaman dengan menteri terpajang.
Liana:
“Bau uang.”
Bisiknya pelan.
Arka:
“Dan bau dosa.”
Mereka menyebar cepat. Arka ke arah lemari arsip di sisi kiri. Liana langsung ke lukisan kuda di dinding belakang meja.
Reza:
“Hati-hati. Sensor gerak ada di bawah meja. Jangan lewat depan meja kalau bisa.”
Liana merunduk, merayap ke belakang meja. Tangannya gemetar saat menyentuh bingkai lukisan.
Ia ingat kata Reza: “Tekan pojok kanan bawah. Pelan.”
Klik.
Lukisan bergeser sedikit, memperlihatkan brankas kecil tertanam di dinding.
Liana:
“Dapat. Brankasnya ada.”
Arka:
“Kode?”
Liana:
“2407.”
Arka memutar angka itu cepat.
Klik. Klik. Klik.
Brankas terbuka dengan suara pelan.
Di dalamnya ada flashdisk hitam, beberapa map tebal, dan amplop cokelat.
Liana:
“Itu… flashdisknya.”
Tangannya gemetar saat mengambil flashdisk. Rasanya seperti memegang bukti hidup-matinya ayah.
Reza:
“Bagus. Sekarang keluar. 1 menit 20 detik lagi.”
Tapi sebelum mereka bergerak, lampu utama ruangan menyala tiba-tiba.
BLAR.
Ruangan jadi terang benderang.
Suara berat dari pintu:
“Halo. Selamat datang di kantor saya. Jam 2 pagi. Romantis juga.”
Liana dan Arka membeku.
Hendra Wijaya berdiri di pintu. Di belakangnya, 4 orang berpakaian hitam. Muka datar. Tangan siap.
---
Hendra:
“Jadi kalian yang berani masuk ke sarang singa?
Arka berdiri pelan, menutupi Liana dengan badannya.
Arka:
“Kita nggak nyolong. Kita ambil hak kita.”
Hendra tertawa pendek.
Hendra:
“Hak? Hak apa? Hak buat merusak nama baik saya? Hak buat nyebarin fitnah?”
hak untuk menghancurkan nama Wijaya group begitu Arka?
Liana keluar dari belakang Arka, matanya merah.
Liana:
“Hak buat bikin ayah saya hidup! Dia hampir mati karena lo, Hendra!”
Hendra menatap Liana lama. Lalu tersenyum sinis.
Hendra:
“Pak Dimas? Dia pengkhianat. Dia mau bocorin proyek negara.
Arka:
“Mengamankan dengan cara nyuruh orang buat Tabrak lari.
Hendra mengangkat tangan.
Hendra:
“Ambil mereka. Hidup atau mati, yang penting flashdisk itu.”
4 orang itu bergerak serentak.
Arka:
“LARI!”
---
[Koridor Lantai 12 – Pengejaran]
Liana menarik flashdisk ke saku, lalu berlari. Sepatunya berderap di lantai marmer.
Arka di belakangnya, menendang vas besar ke arah pengejar untuk menghambat.
Reza di earpiece, panik:
“Kamera koridor 12B hidup lagi! Mereka tahu kalian di sana! Turun ke tangga darurat! Sekarang!”
Liana:
“Tangga darurat ada di sebelah kiri! Gue lihat!”
Mereka berbelok tajam.
Di belakang, suara langkah berat dan teriakan “Berhenti!” semakin dekat.
Pintu tangga darurat ditendang Arka.
BAM.
Mereka masuk. Pintu besi berderak tertutup di belakang mereka.
Liana:
“Lantai 11! Panel alarmnya!”
Arka:
“Gue tahu!”
Mereka turun 2 lantai sekaligus, melompati anak tangga.
Di bawah, suara pintu besi di atas dibuka paksa.
Reza:
“Panel alarm di lantai 11, sisi timur. Tombol merah, tahan 5 detik!”
Arka mendorong pintu lantai 11, melihat panel di dinding.
Ia tekan tombol merah.
5… 4… 3… 2… 1…
Beep.
Alarm di lantai 12 mati. Lampu emergency berkedip.
Arka:
“Jalan! Mereka buta sekarang!”
---
[Lobi Lantai 11 – Kebuntuan]
Mereka keluar dari tangga darurat dan langsung masuk ke lorong kantor kosong.
Tapi di ujung lorong, dua orang penjaga sudah menunggu dengan senter.
Penjaga 1:
“Berhenti! Polisi!”
Liana:
“Kita nggak bisa balik!”
Arka menarik tangan Liana ke arah lain.
Arka:
“Lewat jendela! Sisi barat! Ada balkon kecil!”
Mereka berlari ke arah jendela kaca besar.
Arka memundurkan langkah, lalu menendang kaca dengan keras.
BRUKK!
Kaca pecah. Angin malam masuk deras.
Liana:
“Gila! Lo mau bunuh kita?!”
Arka:
“Nggak ada pilihan lain!”
Di bawah, ketinggian 11 lantai.
Di sebelah, balkon kecil selebar 50 cm, menghubungkan ke gedung sebelah yang masih dalam renovasi.
Reza:
“Rio! Siapin mobil di belakang gedung sebelah! Mereka mau lewat balkon!”
Di earpiece, suara Rio terdengar tegang:
“Siap! Gue udah di posisi! Cepat!”
Hendra muncul di ujung lorong, wajahnya merah karena marah.
Hendra:
“Kalian nggak akan keluar dari sini hidup-hidup!”
Arka mendorong Liana pelan.
Arka:
“Masuk dulu. Gue tahan mereka 10 detik.”
Liana:
“Gue nggak ninggalin lo!”
Arka:
“Lia! Kalau lo nggak keluar, semua sia-sia.
“LIANA, LARI DULUAN!” teriak Arka sambil menangkis pukulan yang kedua.
Liana nggak sempat jawab. Ia menggenggam flashdisk, berbalik, dan lari sekencang-kencangnya ke arah pintu samping.
---
Di luar, jalan samping gelap dan sepi.
Lampu mobil berkedip dua kali.
Rio sudah stand by di dalam mobil, mesin menyala.
“Cepat! Masuk!”
Liana membuka pintu belakang dan masuk. Pintu belum tertutup sempurna, ia sudah berteriak:
“Arka belum! Dia masih di dalam!”
Rio mengumpat pelan, matanya nggak lepas dari pintu gudang.
Dari kejauhan terdengar suara langkah cepat.
Arka muncul, napas ngos-ngosan. Di belakangnya, dua orang lagi mengejar.
“MASUK!” teriak Rio.
Arka melompat masuk begitu pintu terbuka.
BRUK! Pintu dibanting.
“Gas, Rio! Sekarang!”
Rio langsung injak pedal dalam-dalam. Ban mobil meraung, meninggalkan jejak di aspal basah.
Mobil melesat keluar gang sebelum anak buah Hendra sempat mendekat.
Di kaca spion, dua bayangan itu hanya bisa berdiri, mengumpat, dan kehilangan jejak.
---
Di dalam mobil, hening selama tiga detik.
Hanya suara napas berat dan mesin yang meraung.
Arka bersandar, memegangi sisi pinggangnya.
“Kau nggak apa-apa?” tanyanya ke Liana.
Liana mengangguk cepat, masih gemetar. Ia mengangkat tangan.
“Aku dapat. Flashdisknya ada di gue.”
Rio melirik lewat kaca spion, senyum tipis muncul.
“Bagus. Sekarang kita kabur sejauh mungkin sebelum mereka kirim tim kedua.”
Arka menghela napas lega, lalu menatap Liana.
“Kau dengar itu? Gue suruh lari duluan.”
Liana menatap balik, matanya berkaca-kaca tapi tegas.
“Gue nggak bakal ninggalin lo, Arka. Nggak kali ini.”
Rio tertawa kecil di depan.
“Udah, udah. Mesra-mesraan nanti aja. Kita belum aman.”
Mobil melaju kencang menembus malam.
Di belakang, gudang itu semakin mengecil—bersama semua ancaman yang tertinggal di sana.
---
Sampai Di apartemen mereka berempat berkumpul bersama untuk memulai bongkar kebusukan yang ada di wijaya group,
Arka tidak bisa membela Perusahan Wijaya, karena dulu kakeknya memilih paman hendra untuk memimpin perusahan Sebagai CEO, sedangkan ayahnya,memimpin perusahan cabang, waktu itu Arka masih kecil, akhirnya Ayah Arka memulai lagi bisnis dari nol, walaupun namanya tetap wijaya, tapi didalamnya beda-beda, perusahan cabang akhirnya diserahkan kepada arka yang memimpin ya, sampai sekarang. Bapanya Arka tidak terlalu ikut campur Urusan Adiknya.
Bersambung....
Jangan Lupa like dan komen ya kk, Soalnya baru pemula kak🙏🙏🤗