NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Racun dan Pertaruhan Nyawa

"Napas dunia kembali padaku. Raga ini akhirnya tunduk pada jiwaku. Sekarang, berlutut-lah. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang guru membuka paksa segel sampah yang dipasang ayahmu itu."

Han-Seol menaikkan satu alisnya, menatap Seol-Ah dengan tatapan skeptis. "Benarkah? Kau yakin tidak sedang bermimpi?"

"Diam dan saksikan-lah!"

Seol-Ah memposisikan tangannya pada gagang pedang. Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh emosinya untuk memancing kilatan biru safir yang memukau seperti di danau tadi.

SRAK!

Pedang itu tidak bergeming. Seol-Ah tertegun sejenak, lalu mencoba lagi dengan sentakan yang lebih keras.

SRAK! SRAK!

Nihil. Bilah logam itu seolah-olah telah dilas menjadi satu dengan sarungnya oleh kekuatan gaib yang kejam.

Wajah Seol-Ah yang tadinya pucat porselen kini perlahan berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Ia terus menarik-narik gagang pedang itu hingga bahunya gemetar dan napasnya memburu.

"Kenapa... kenapa kau tidak mau keluar?!" gerutunya kesal, suaranya naik satu oktaf karena frustrasi. Ia bahkan mengguncang-guncangkan pedang itu seperti sedang mencabut singkong dari tanah.

"Keluarkan cahayamu! Sialan, kau mempermalukanku di depan murid bodoh ini!"

Han-Seol yang melihat pemandangan itu hanya bisa memijat keningnya, menarik napas panjang penuh kepasrahan.

"Sudah kubilang, jangan banyak bergerak dulu," ucap Han-Seol pelan sembari berdiri.

"Ledakan energi di danau tadi hanyalah 'pinjaman' dari maut karena kau hampir mati. Raga Seol-Ah ini masih selemah kerupuk yang terkena air. Dia belum siap menampung jiwamu yang meledak-ledak itu."

Seol-Ah berhenti menarik pedangnya. Ia menatap Han-Seol dengan tatapan kesal, namun matanya berkaca-kaca karena harga dirinya yang setinggi langit baru saja jatuh ke lantai.

"Ini salahmu! Karena kau membuatku kesal, energiku jadi tidak stabil!"

Seol-Ah mengomel untuk menutupi malunya, lalu kembali merangkak ke atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.

"Pergi sana! Aku ingin tidur! Jangan bicara padaku sampai pedang ini bisa dicabut!"

Han-Seol tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar tulus. "Istirahatlah, Guru. Setidaknya kau sudah membuktikan bahwa kau bukan sekadar beban. Sekarang, biarkan pelayanmu ini yang menjagamu."

Beberapa saat kemudian, mereka duduk di teras paviliun medis Seojukwon yang menghadap ke taman batu yang sunyi. Udara malam terasa menusuk, namun pikiran Seol-Ah jauh lebih dingin dari embun yang menempel di dedaunan.

"Han-Seol," ucap Seol-Ah sembari menyandarkan kepalanya pada tiang kayu yang kokoh.

"Aku tidak bisa terus-menerus terjebak dalam raga sampah yang bahkan tidak sanggup menarik sebilah pedang. Aku butuh seseorang yang bisa memaksakan aliran energinya masuk ke tubuh ini."

Han-Seol menoleh, tatapannya tajam dan penuh peringatan. "Mustahil. Kau adalah Nara, sang pembasmi yang paling dicari. Siapa yang mau membantumu? Begitu kau menunjukkan identitasmu pada penyihir lain, kau bukan akan dibantu, tapi akan langsung dieksekusi di tiang gantungan!"

Seol-Ah tidak menjawab. Ia hanya menyeringai licik—sebuah tatapan predator yang meremehkan ketakutan. Dengan gerakan yang sangat halus, ia mulai menyeduh teh di atas meja kecil di depan mereka.

Namun, di bawah meja, jemarinya bergerak cepat memasukkan serbuk hitam dari balik lipatan bajunya ke dalam porselen kecil itu.

"Minumlah. Punggungmu habis dicambuk dan kau terjaga semalaman. Ini akan menenangkan sarafmu," ucap Seol-Ah datar sembari menyodorkan cangkir itu.

Tanpa curiga, Han-Seol meraih cangkir itu dan meneguknya hingga habis dalam sekali telan. Namun, hanya dalam hitungan detik, wajah Han-Seol berubah drastis. Ia meremas tenggorokannya, pembuluh darah di lehernya menonjol, dan wajahnya memerah padam.

"Ugh... d-dadaku... terasa terbakar..."

Han-Seol terengah, matanya menatap Seol-Ah dengan keterkejutan yang luar biasa. "Apa... apa yang kau masukkan ke dalam teh itu?"

"Itu racun dari tanaman Gwiseol-cho," jawab Seol-Ah tanpa dosa, wajahnya sedatar air di bejana. Ia tetap duduk tenang, bahkan saat Han-Seol mulai terjatuh dari kursinya.

"K-kau... kau gila?! Kau benar-benar ingin membunuhku?!"

Han-Seol mencoba berdiri, namun tubuhnya merosot kembali ke lantai kayu. Napasnya mulai terdengar serak dan pendek.

"Tenanglah, Muridku," bisik Seol-Ah sembari berlutut di samping Han-Seol yang sedang meregang nyawa.

"Racun ini sangat istimewa. Ia hanya akan membunuh manusia biasa, tapi bagi seorang penyihir yang memiliki aliran energi aktif, racun ini hanyalah kotoran yang mudah dibuang."

"Apa maksudmu?!" tanya Han-Seol dengan suara tercekat.

"Ini adalah satu-satunya cara," Seol-Ah menatap pintu paviliun medis di mana para penyihir elit berkumpul. "Ayahmu menyegel energimu dengan sangat kuat. Tidak ada penyihir yang berani membukanya karena mereka takut pada Han-Gyeol. Tapi, jika kau sekarat karena racun langka ini, mereka tidak punya pilihan. Mereka harus membuka segelmu untuk memasukkan energi penyembuh ke dalam nadimu, atau melihat putra keluarga Han mati di depan mata mereka."

Seol-Ah mendekatkan wajahnya ke telinga Han-Seol. "Berteriaklah sesuka hati, Han-Seol. Panggil mereka. Biarkan mereka menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk menyelamatkanmu. Dan saat mereka membuka gerbang energimu... itulah saatnya kau bangkit."

Han-Seol terbatuk, darah hitam mulai merembes dari sudut bibirnya. Ia menatap Seol-Ah dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci dan kagum atas kegilaan gurunya ini.

"Kau benar-benar... iblis..." gumam Han-Seol sebelum akhirnya ia mengerang keras, memecah kesunyian malam Seojukwon.

"Aku bukan iblis, Han-Seol," sahut Seol-Ah sembari berdiri kembali, menatap bayangan para tabib yang mulai berlarian menuju ke arah mereka. "Aku adalah gurumu. Dan seorang guru akan melakukan apa pun agar muridnya bisa menggenggam dunia."

Seol-Ah (Nara) seketika mengubah ekspresinya. Ia berteriak dengan suara panik yang menyayat, memecah kesunyian malam di Seojukwon.

"TOLONG! TUAN MUDA HAN-SEOL KERACUNAN! SIAPA PUN, TOLONG DIA!"

Ia melirik Han-Seol yang kini merosot di tanah, darah hitam mulai keluar dari hidungnya. "Bertahanlah, Seol," bisiknya sangat pelan. "Jika mereka tidak membuka segelmu sekarang, maka kita berdua akan mati bersama."

Langkah kaki berderap cepat. Penyihir Do-Kwang dan Master Baek Si-On tiba dengan wajah pucat pasi.

"Apa yang terjadi?!" Do-Kwang langsung memeriksa tubuh Han-Seol yang mulai mendingin.

"Dia menelan racun Gwiseol-cho," ucap Seol-Ah tegas.

"Apa?! Itu racun yang membekukan darah!"

Master Baek panik sembari meraba nadi Han-Seol yang kian melemah. "Nadinya tidak berdenyut... racunnya sudah sampai ke jantung!"

"Cepat buka pintu energinya!" seru Seol-Ah, matanya menatap tajam Do-Kwang. "Hanya energi sihir yang bisa mendorong racun itu keluar. Jika Anda tidak menghancurkan segel di tubuhnya sekarang, dia akan mati dalam hitungan menit!"

Do-Kwang dan Master Baek tertegun. Namun, reaksi Do-Kwang di luar dugaan. Alih-alih membuka segel, ia justru melihat botol kecil di tangan Seol-Ah. Amarahnya meledak.

"Kau... kau yang memberinya racun ini?!"

Do-Kwang merenggut kerah baju Seol-Ah. "Pengawal! Seret gadis ini ke ruang penyiksaan bawah tanah! Introgasi dia sampai dia memberikan penawarnya!"

Di Ruang Penyiksaan Bawah Tanah

Ruangan itu lembap, gelap, dan berbau karat besi. Seol-Ah digantung dengan kedua tangan terikat ke atas. Tubuhnya yang mungil tampak rapuh, namun matanya tetap menatap datar ke arah Do-Kwang yang berdiri di hadapannya dengan cambuk energi yang berpendar biru.

CTAK! CTAK!

Percikan listrik dari cambuk itu menyinari wajah Seol-Ah yang pucat.

"Katakan! Di mana kau menyembunyikan penawarnya?!" raung Do-Kwang.

Seol-Ah tetap bungkam. Rasa sakit di raganya tidak sebanding dengan tekad bajanya.

Do-Kwang, yang merasa otoritasnya ditantang, melayangkan cambuknya ke punggung Seol-Ah.

SRAKK!

Rasa perih yang luar biasa menyambar sarafnya. Seol-Ah mendongak, napasnya tersengal, namun ia justru menyeringai—sebuah seringai predator yang meremehkan.

"Aku tidak takut mati," ucap Seol-Ah dengan suara rendah yang menggetarkan. "Justru Anda yang harus takut. Apa Anda begitu pengecut hingga membiarkan keponakan Anda sendiri mati hanya karena Anda takut pada bayang-bayang Han-Gyeol?"

Do-Kwang tertegun, tangannya yang memegang cambuk bergetar. Kalimat itu menghujam tepat ke titik terlemahnya.

"Segel itu... Han-Gyeol memasangnya untuk melindunginya!" balas Do-Kwang gusar.

"Melindungi?" Seol-Ah tertawa pedih. "Dia mengunci putranya di dalam penjara tanpa pintu. Sekarang, pilihannya ada di tangan Anda, Tuan Do-Kwang. Menjadi pahlawan yang menyelamatkan nyawa Han-Seol, atau menjadi algojo yang membiarkannya membusuk karena ketakutan Anda sendiri."

Do-Kwang murka. Ia kembali melayangkan cambukan berkali-kali hingga baju Seol-Ah robek dan darah merah segar mulai membasahi lantai.

"Cari penawarnya di seluruh pasar gelap!" perintah Do-Kwang pada pengawalnya, suaranya bergetar. "Aku tidak akan membuka segel itu! Han-Gyeol akan membunuhku jika aku melakukannya!"

Seol-Ah terkulai lemas, kepalanya tertunduk. Namun di balik rambutnya yang acak-acakan, ia berbisik lirih.

 'Ternyata mereka lebih takut pada ayahmu daripada mencintaimu, Han-Seol... maafkan aku, rencana ini gagal.'

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!