Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: BOM WAKTU LIMA MILIAR
BOM WAKTU LIMA MILIAR
Riuh rendah suara klakson motor, teriakan pedagang daging yang menawarkan dagangannya, serta bau amis darah ayam yang bercampur dengan tanah becek di bawah kakinya seolah mendadak lenyap dari indra penciuman Amira. Seluruh dunianya serasa berhenti berputar tepat setelah pria berjaket ojek itu melangkah pergi, melebur dengan cepat di antara kerumunan ibu-ibu pemburu sayur subuh.
Tangan Amira yang mencengkeram kantong plastik hitam berisi bayam bergetar begitu hebat. Di dalam sana, di balik dedaunan hijau yang basah, sebuah amplop cokelat tebal terasa seberat sebongkah batu yang siap menenggelamkannya ke dasar laut.
Lima miliar rupiah. Dan nama Amira Shinta telah dicatut sebagai penjamin menggunakan tanda tangan digital yang dipalsukan.
"Neng? Neng Amira? Ini ayamnya jadi dipotong tidak?" Suara melengking Bu Siti, sang penjual ayam, memecah kepatungan Amira. Wanita paruh baya itu menatap Amira dengan dahi berkerut heran, tangannya masih memegang pisau daging besar yang mengkilap.
Amira tersentak, mencoba menarik kesadarannya yang sempat menguap. Ia menelan ludah dengan susah payah, mengabaikan mual yang tiba-tiba bergejolak di ulu hatinya karena bau menyengat di lapak tersebut. "Eh... iya, Bu Siti. Jadi. Tolong dibungkus ya."
Setelah membayar dengan sisa uang di dompetnya, Amira bergegas melangkah keluar dari area pasar. Ia tidak langsung pulang. Langkah kakinya membawa Amira menuju sebuah taman kecil yang sepi di dekat kompleks perumahannya. Di bawah pohon mahoni yang rindang, di atas bangku semen yang dingin, Amira duduk sendirian. Suasana masih sangat pagi, hanya ada satu atau dua orang tua yang sedang berjalan santai.
Dengan kewaspadaan tinggi, Amira merogoh kantong plastik hitamnya, menyelusupkan jemarinya di antara ikatan bayam, lalu menarik amplop cokelat itu keluar. Ia merobek segelnya dengan cepat.
Di dalamnya ada beberapa lembar salinan dokumen berlogo bank swasta asing ternama. Mata Amira menyapu baris demi baris teks legalitas itu dengan cepat. Otaknya yang dulu pernah digunakan untuk menghitung proyeksi margin Snack Pratama langsung bekerja dengan cepat.
Itu adalah dokumen Corporate Guarantee—jaminan perusahaan. Lista, dengan jabatannya sebagai Manajer Administrasi sekaligus Sekretaris Eksekutif, telah mengajukan pinjaman modal kerja ekspansi senilai lima miliar rupiah. Namun, karena kondisi keuangan operasional Snack Pratama belakangan ini agak goyah akibat pengeluaran pribadinya yang boros, pihak bank meminta jaminan tambahan dari komisaris perusahaan.
Di lembar paling belakang, tertera nama jelas: Amira Shinta (Komisaris Pasif). Di atas nama itu, ada sebuah tanda tangan digital yang sangat rapi, persis seperti tanda tangan yang biasa Amira gunakan pada dokumen pernikahan atau berkas lama.
Amira memejamkan mata, rahangnya mengeras. "Lista... kamu benar-benar ular yang tidak punya hati," desisnya lirih, suaranya sedingin es pagi itu.
Amira tahu betul taktik ini. Jika proyek ekspansi Jawa Timur yang dipegang Lista gagal—atau sengaja digagalkan setelah uangnya dilarikan ke rekening luar negeri—maka pihak bank tidak akan mengejar Aris terlebih dahulu. Mereka akan mengejar penjaminnya. Mereka akan menyita aset pribadi atas nama komisaris. Lista sedang merencanakan sebuah skenario di mana dia dan Aris bisa menikmati uang haram itu, sementara Amira didepak dari rumah dalam keadaan memikul utang lima miliar rupiah dan nama baik yang hancur sebagai koruptor perusahaan.
Amira melirik jam tangan murahnya. Pukul enam lewat lima belas menit. Ibu Ratna biasanya bangun pukul setengah tujuh dan akan langsung mengamuk jika meja makan masih kosong.
Amira dengan cepat memasukkan kembali berkas itu ke dalam amplop, menyembunyikannya di balik daster di bagian perutnya yang masih rata—melindungi rahasia hukum itu tepat di atas rahasia kehamilannya. Ia harus pulang. Ia harus memakai kembali topeng wanitanya yang lemah dan kusam.
Sesampainya di rumah, Amira langsung bergerak cepat di dapur. Ia memasak nasi goreng kampung sederhana dengan sisa bahan di kulkas. Bau bawang goreng yang menyeruak membuat perutnya kembali mual, namun Amira menggigit bibir bagian dalamnya kuat-kuat, memaksa rasa mual itu kembali turun. Ia tidak boleh menunjukkan tanda-tanda kehamilan atau kecurigaan apa pun hari ini.
"Amira! Lama sekali kamu di pasar? Sengaja ya mau bikin saya kelaparan?!" Suara cempreng Ibu Ratna sudah menggema dari arah tangga sebelum wanita tua itu benar-benar menginjakkan kaki di dapur.
Ibu Ratna mampir ke dapur dengan daster batiknya yang mewah, wajahnya masih tampak masam. Ia melihat ke arah meja makan dengan pandangan menghina. "Hanya nasi goreng? Benar-benar tidak ada kemajuan. Untung anakku Aris punya istri kedua yang pintar cari uang, kalau cuma mengandalkan kamu yang cuma bisa menghabiskan beras, bisa bangkrut rumah ini!"
Amira hanya menunduk, meletakkan piring-piring dengan gerakan lambat, berakting seolah-olah jiwanya sudah hancur sejak kejadian kemarin di kantor. "Maaf, Bu. Tadi di pasar antre."
Tepat saat itu, Aris turun dari lantai atas. Penampilannya sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna biru dongker, namun wajahnya tampak kusut dan kurang tidur. Di belakangnya, Lista mengekor anggun dengan blus sutra berwarna salem, membawa tas kerja Aris dan jas suaminya dengan sikap seorang istri yang berbakti.
"Pagi, Bude. Pagi, Mas Aris," sapa Lista dengan senyum manisnya yang selalu tampak segar. Ia langsung mengambil alih tempat di sebelah Aris, menyendokkan nasi goreng ke piring pria itu dengan telaten. "Mas, dimakan ya nasi gorengnya. Walaupun sederhana, yang penting Mas Aris ada tenaga buat rapat dengan pihak bank siang ini."
Mendengar kata "pihak bank", tangan Amira yang sedang menuangkan air putih ke gelas Aris sedikit bergoyang, membuat beberapa tetes air tumpah ke atas meja marmer.
Klek.
Aris meletakkan sendoknya dengan kasar, menatap air yang tumpah itu dengan pandangan muak. "Bisa kerja yang becus tidak, Mir? Menuang air saja tumpah. Pikiranmu itu ada di mana sih? Masih mau mengeluh soal kejadian kemarin?"
Amira buru-buru mengambil kain lap, membersihkan tumpahan air itu dengan kepala tetap menunduk. "Maaf, Mas. Tanganku sedikit licin."
Lista melirik Amira dari sudut matanya, sebuah kilatan kepuasan dan ejekan tersirat jelas di sana. Lista kemudian menoleh pada Aris, mengusap lengan kemeja pria itu dengan lembut. "Sudah, Mas... jangan marahi Mbak Amira lagi. Mungkin Mbak Amira lelah. Oh ya, Mas... soal pertemuan dengan pihak bank jam satu siang nanti, biar Lista saja yang pegang berkasnya ya. Mas Aris tinggal tanda tangan berkas utamanya saja nanti setelah presentasi selesai."
Aris mengangguk, menatap Lista dengan pandangan penuh rasa percaya dan kehangatan yang sudah lama hilang untuk Amira. "Iya, Lis. Untung ada kamu. Kalau urusan administrasi ini saya serahkan ke Amira, bisa berantakan semuanya."
Ibu Ratna ikut menimpali sambil mengunyah nasi gorengnya. "Betul itu, Aris! Makanya Ibu bilang, cepat-cepat urus status Lista di kantor dan di rumah ini. Biar perempuan tidak jelas ini tahu diri tempatnya di mana!"
Amira mendengarkan semua cacian itu dalam diam. Di balik kepala yang menunduk, mata Amira justru beralih menatap tas kerja hitam milik Aris yang diletakkan Lista di atas kursi kosong sebelah meja makan. Di dalam tas itulah, berkas pencairan dana lima miliar dengan tanda tangan palsunya kemungkinan besar disimpan sebelum dibawa ke bank siang nanti.
Sebuah rencana nekat mendadak terlintas di kepala Amira. Bom waktu ini akan meledak siang ini jam satu jika dana itu cair ke rekening yang dimanipulasi Lista. Amira harus bertindak, dan dia harus melakukannya sekarang, sebelum Aris melangkah keluar dari gerbang rumah ini.