Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Dari Rasa Penasaran Kai
Alena tertegun langkahnya perlahan berhenti sejenak saat memastikan kembali apa yang sedang ditulis anaknya itu di dalam kotak kosong itu.
"Kai, kenapa kamu tulis nama itu Nak?"
Kai yang tersadar segera menutupi tulisan itu dengan tangannya. "Maaf Ma... Kai juga tidak tahu, kenapa tangan Kai menulis nama itu."
Deg!
Dunia Alena seolah runtuh mendengar jawaban polos itu, sebenarnya Kai merasakan hanya saja anak itu tidak tahu cara mengungkapkan seperti apa.
"Nak, hapus lagi ya jangan nama itu," pinta Alena.
"Memangnya kenapa Ma?" tanya anak itu polos.
Alena terdiam sejenak sebelum akhirnya mulai berbicara kembali. "Nak, jangan menulis nama seseorang hanya karena perasaan. Kalau suatu hari ternyata Mama salah dan Kai juga salah, Kai yang akan kecewa."
"Tapi Om itu baik, bahkan dia selalu menatap Kai sampai lama," sahut anak itu dengan cepat.
"Sayang, baik bukan berarti dia mau namanya disalah gunakan," ucap Alena.
"Kai gak tahu kenapa, tapi setiap lihat Om Kael rasanya berbeda."
Alena memejamkan matanya cukup lama entah dengan cara apa agar anaknya itu mau mengerti biasanya Kai tidak seperti ini, tapi malem ini entah kenapa anak itu begitu keras.
"Memangnya kenapa kamu ingin sekali menulis nama itu di dalam kotak itu, bahkan kita saja baru ketemu di festival kemarin," kata Alena sedikit kenaikan intonasinya.
"Karena Kai merasa dia berbeda dari orang kebanyakan," sahut Kai seolah tiada keraguan.
Alena menghela napas sejenak, ia mulai mendekat lalu mengelus rambut anaknya pelan. "Nak, kamu masih terlalu kecil untuk bisa menyimpulkan sesuatu."
"Kalau memang dia bukan ayahku, kenapa Mama selalu menghindar, dan kenapa Mama melarangku bertemu dengannya, dan orang kaya raya seperti Om Kael mana mungkin dia mau panas-panasan, hanya sekedar ingin melihat Kai yang hanya anak pesisir."
Alena membeku seketika untuk pertama kalinya sejak Kai lahir, wanita itu benar-benar tidak mampu membantah ucapan anaknya.
Karena semua yang dikatakan Kai memang benar. Kenapa Kael selalu muncul di tempat yang sama? Kenapa pria itu terus memperhatikan Kai?
Dan yang paling menyakitkan, kenapa dirinya selalu berusaha menghindari setiap kali Kael datang?
"Kai..." suara Alena terdengar lirih.
Namun anak itu lebih dulu menggeleng. "Kalau Mama belum mau cerita, gak apa-apa."
Kai berusaha tersenyum meski matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. "Tapi Kai yakin, Om Kael bukan orang asing."
Kalimat itu membuat Alena kehilangan kata-kata, bagaimana tidak bahkan anak sekecil Kai sudah mulai bisa merasakan.
Sementara Kai perlahan menghapus nama Kael dari kotak tugasnya.
"Mama jangan sedih ya."
Ucapannya terdengar dewasa untuk anak seusianya. "Besok Kai cari jawaban sendiri."
Lihat saja sekeras apapun hati Kai ia masih mementingkan perasaaan ibunya, dan bagi Alena hal itu justru terasa lebih menyayat.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya.
Alena berangkat bekerja dengan perasaan yang jauh lebih berat dibanding biasanya. Ucapan Kai semalam terus terngiang di kepalanya.
"Besok Kai cari jawaban sendiri."
Entah kenapa kalimat itu membuatnya tidak tenang. Dan firasat buruknya terbukti.
Menjelang siang, saat rumah makan sedang tidak terlalu ramai, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan bangunan sederhana itu.
Senna yang sedang menghitung uang kas langsung menegang. Anne menghentikan pekerjaannya. Sedangkan Alena membeku di tempat.
Karena pria yang turun dari mobil itu adalah Kael dan kali ini pria itu tidak datang sebagai pengunjung melainkan ia datang dengan tujuan yang jelas.
"Aku ingin bicara."
Suara pria itu terdengar tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Alena semakin waspada.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Ada." Jawab Kael tegas. "Tentang Kai."
Nama itu langsung membuat suasana berubah. Alena mengepalkan kedua tangannya.
"Aku sudah bilang menjauh dari anakku."
"Aku sudah mencoba," sahut Kael tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku sudah mencoba berdiri jauh."
"Aku sudah mencoba hanya melihatnya."
"Aku sudah mencoba menahan diri."
Nada suaranya mulai berubah. "Tapi aku tidak bisa."
Alena menatap pria itu tidak percaya. Sedangkan Kael melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku."
"Aku tahu aku pernah menolak keberadaan anak itu."
"Aku tahu aku tidak pantas disebut ayah."
Ucapan itu berhenti sejenak mata Kael mulai memerah dan rahangnya mengeras
"Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa Kai adalah anakku."
"Anak yang dulu tidak kau inginkan!" bentak Alena. "Anak yang dulu kau suruh aku gugurkan!"
Wajah Kael langsung menegang. Namun kali ini ia tidak membela diri. Karena semua itu memang benar.
"Itu kesalahan terbesarku," jawabnya pelan.
"Tapi aku tidak akan mengulanginya lagi."
Alena tertawa pahit. "Kau pikir semuanya bisa diperbaiki begitu saja?"
"Tidak," sahut Kael. "Tapi aku akan tetap berusaha."
"Kau tidak berhak!" sahut Alena dengan nada tinggi.
"Aku berhak sebagai ayah biologisnya!"
Suara Kael akhirnya meninggi juga pria itu menunjukkan emosi yang sudah tertahan beberapa Minggu ini.
"Aku kehilangan delapan tahun hidupnya, Alena!"
"Aku tidak tahu kapan dia belajar berjalan!"
"Aku tidak tahu kapan dia mulai sekolah!"
"Aku tidak tahu apa makanan favoritnya!"
"Aku bahkan tidak tahu siapa yang mengobatinya saat dia demam pertama kali."
"Demi Tuhan, aku bahkan tidak tahu suara tangisnya saat kecil!"
Suasana mendadak hening semua orang yang ada di tempat ini terdiam tanpa suara bahkan tidak ada yang menyadari bahwa beberapa meter di belakang mereka seorang anak kecil berdiri membeku.
Kai.
Awalnya ia hanya ingin mengantar kotak bekal yang tertinggal tapi langkahnya berhenti saat mendengar namanya disebut.
Dan kini, tubuh kecil itu terasa dingin. Karena untuk kali ini ia mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Anakku.
Ayah biologis.
Delapan tahun.
Kata-kata itu berputar di kepalanya. Sementara Alena dan Kael masih terjebak dalam perdebatan mereka. Tidak ada yang menyadari bahwa dunia seorang anak kecil baru saja runtuh dalam diam.
Dan yang paling menyakitkan... yang tertangkap oleh Kai bukan penyesalan Kael.
Melainkan satu kalimat Alena.
"Anak yang dulu kau suruh aku gugurkan!"
Deg.
Jantung Kai seolah berhenti berdetak. Di kepalanya hanya tersisa satu kalimat. Ayahnya tidak menginginkan dirinya lahir.
Bersambung ....