NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Cklek.

Pintu kamar terbuka kasar. Bukan Leo yang muncul, melainkan Bu Anisa. Wanita itu membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun rasa iba yang tersisa untuk menantunya yang sedang hamil tua. Dengan gerakan penuh kesal, dia meletakkan piring itu di atas meja kecil dekat pintu.

Prang!

Sendok berdenting keras. Beberapa butir nasi terlempar hingga jatuh ke lantai.

“Cepat makan! Jangan sampai anak dalam kandunganmu mati dan bikin anakku dituduh macam-macam!” hardik Bu Anisa dingin, ketus tanpa nurani.

Sarah menatap celah pintu yang kini terbuka lebar. Jantungnya langsung berdetak kencang, bertalu-talu di rongga dadanya. Itu kesempatan. Satu-satunya kesempatan untuk lolos dari neraka dunia ini. Rasa sakit di kakinya belum benar-benar hilang, tetapi naluri seorang ibu mengalahkan semuanya. Nyawa di dalam rahimnya harus diselamatkan. Dia harus keluar dari rumah ini. Sekarang.

Tanpa berpikir panjang, Sarah bangkit dan berlari menerobos pintu.

“Sarah! Mau ke mana kamu?!” teriak Bu Anisa kaget.

Wanita tua itu spontan menghadang di ambang pintu, merentangkan tangan dengan angkuh. Namun dorongan tubuh Sarah yang dipenuhi kepanikan dan tekad seorang ibu membuat Bu Anisa kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Tubuh Bu Anisa terjatuh keras ke lantai lorong. Keset di bawah kakinya tergeser, membuat tubuh ringkihnya terduduk dengan pinggang membentur lantai lebih dulu.

“Ahhh!” pekiknya kesakitan, memecah keheningan pagi.

Di saat bersamaan, jilbab Sarah menyenggol meja kecil di dekat pintu. Piring makanan itu jatuh dan pecah berkeping-keping.

Prang!

Nasi bercampur pecahan kaca tajam berserakan di lantai kamar, sehancur martabat Sarah yang telah lama diinjak-injak. Bu Anisa memegangi pinggangnya sambil melotot penuh kebencian, matanya merah menyala memancarkan dendam.

“Kurang ajar kamu, Sarah! Leo! Leo!” jeritnya histeris, suaranya melengking memekakkan telinga. “Lihat istrimu! Dia mau membunuh Ibu!”

Tubuh Sarah membeku di tempat. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Derap langkah kaki terdengar cepat dan berat dari arah dapur. Beberapa detik kemudian, Leo muncul di ujung lorong dengan wajah merah padam, napasnya memburu kasar. Tatapannya langsung jatuh pada ibunya yang terduduk merintih di lantai, lalu beralih kepada Sarah yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan wajah sepucat kafan.

Tanpa bertanya apa pun, tanpa memedulikan kondisi Sarah yang tengah payah—

Plak!

Tamparan keras berkekuatan penuh mendarat telak di pipi Sarah.

Tubuh wanita hamil itu terpental ke samping seperti kapas yang diterbangkan angin. Kepalanya membentur kusen pintu kayu dengan keras sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas lantai yang sedingin es.

Pandangan Sarah seketika berkunang-kunang. Dunia di sekelilingnya berputar hebat, disusul dengingan panjang di telinganya yang menyiksa kesadaran. Sudut bibirnya terasa perih tiada tara saat cairan kental beraroma anyir darah mulai merembes keluar, menetes ke atas lantai. Refleks, kedua tangannya yang gemetar langsung memeluk perutnya yang mendadak terasa menegang hebat akibat syok yang luar biasa. Dia takut bayinya terancam.

“Leo…” suara Sarah bergetar penuh tidak percaya, menatap suaminya dari bawah dengan sisa-sisa pandangan yang kabur. “Apa yang kamu lakukan…?”

“Kamu berani dorong Ibuku?!” bentak Leo penuh amarah yang membuncah. Urat di lehernya menegang, menyembul mengerikan. Tatapannya begitu tajam, asing, dan dingin, seolah wanita di bawah kakinya itu bukan istri yang pernah dia janjikan kebahagiaan, melainkan musuh yang harus dihancurkan. “Kurang ajar sekali kamu! Sudah numpang hidup di rumah ini, sekarang mau jadi pembunuh?!”

Bu Anisa langsung menangis meraung dari lantai, memanfaatkan momen dengan sangat cerdik. “Pinggang Ibu sakit, Leo…” rintihnya dramatis sambil memegangi tubuhnya, menyuntikkan racun baru ke dalam hati putranya. “Dia sengaja mendorong Ibu. Dia memang ingin Ibu mati!”

Fitnah keji itu mengalir seperti bensin yang membakar habis sisa-sisa akal sehat Leo. Sarah menggeleng cepat dengan air mata yang luruh bagai air bah, membasahi luka di pipinya.

“Bukan… bukan begitu…” suaranya pecah, hancur berkeping-keping. “Aku cuma ingin keluar…”

Sarah merangkak mundur perlahan di atas lantai dingin, menggunakan sikunya karena kakinya kembali lemas. Dia menjauh dari Leo yang kini berdiri menjulang seperti monster asing di hadapannya. Dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, di dalam rumah mewah yang semula dia kira akan menjadi tempat bernaung, Sarah benar-benar merasa bahwa dirinya bisa mati malam ini.

Kemarahan Leo tampaknya telah mencapai puncak tertinggi, melindas seluruh rasa kemanusiaan yang tersisa di dadanya.

"Jadi kamu mau pergi dari rumah ini? Baiklah, aku tidak akan mempertahankan perempuan yang tidak menghormati ibuku. Ini kan yang kamu mau! Sekarang keluar kamu dari rumah saya!" usir Leo dengan nada final, telunjuknya menunjuk lurus ke arah pintu utama.

Kata-kata itu bagai petir yang menyambar langsung ke lubuk hati Sarah. Diusir dalam keadaan hamil tua, di sepertiga malam yang buta, tanpa sepeser uang pun di tangan.

Bu Anisa yang masih duduk di lantai langsung menimpali, wajahnya seketika berubah, memancarkan senyum kemenangan tersembunyi yang amat puas atas kehancuran menantunya.

“Usir saja dia, Leo! Perempuan pembawa sial seperti dia cuma bikin rumah ini hancur!” seru Bu Anisa, memprovokasi tanpa henti. Wanita tua itu kemudian menatap perut besar Sarah dengan pandangan merendahkan, lalu meludahkan kalimat paling menyakitkan yang mengoyak jantung Sarah, “Dia juga tidak memberikan kamu anak laki-laki. Jadi buat apa dipertahankan! Gak guna dia jadi istri!”

Hati Sarah hancur, sehancur-hancurnya hingga tak ada lagi bagian yang utuh. Anak yang bahkan belum lahir ke dunia, yang kehamilannya dia jaga setengah mati dengan air mata dan darah, sudah dicap tidak berguna hanya karena jenis kelaminnya.

Dalam kehancuran yang tak bertepi itu, Sarah menatap suaminya lekat-lekat. Di sela pandangannya yang mengabur oleh air mata, dia mencari sedikit saja keraguan di mata lelaki itu. Sedikit saja rasa iba, atau secuil kenangan manis masa lalu yang mungkin bisa mengetuk nurani Leo. Namun, yang dia temukan hanyalah dinding es yang tebal dan kebencian yang mutlak. Leo benar-benar telah membuangnya.

...******...

Pagi yang baru merayap tidak membawa kehangatan bagi Sarah. Udara dingin kompleks perumahan padat penduduk itu terasa menusuk, sekaku kedua tungkai kakinya yang masih didera kram hebat akibat siksaan semalam. Dengan jemari yang terus mendekap perut besarnya, Sarah terpaksa menyeret langkahnya di atas aspal kasar yang mulai menghangat. Setiap seretan kakinya meninggalkan rasa nyeri yang menjalar hingga ke pinggang, memicu ringisan samar dari bibirnya yang masih berlumur sisa darah kering.

Dunia terasa begitu luas, namun tidak ada satu jengkal pun tempat yang ramah baginya. Pakaian daster usangnya yang kusut serta jilbab yang berantakan membuatnya tampak seperti wanita yang kehilangan arah. Rasa asing dan ketakutan merayap cepat, melingkari dadanya yang kian sesak.

Langkah Sarah mendadak terhenti di sebuah tikungan gang yang sempit.

Di ujung jalan, tepat di bawah rindangnya pohon mangga milik warga, tampak sekelompok ibu-ibu kompleks sedang berkerumun. Mereka mengelilingi gerobak kayu milik Abang sayur, riuh rendah oleh tawa dan obrolan pagi yang renyah. Suara denting timbangan dan tawar-menawar harga sayuran terdengar begitu kontras dengan sunyinya badai di dalam dada Sarah.

Jantung Sarah berdesir hebat. Kepanikan seketika menyergap kesadarannya.

Dia tahu benar bagaimana hukum sosial di kompleks ini bekerja. Jika dia melintas sekarang dengan kondisi bibir pecah, wajah sembab, dan baju yang berantakan dalam keadaan hamil tua, dia akan menjadi santapan empuk bagi pandangan menghakimi. Bisik-bisik miring akan langsung menjalar dari mulut ke mulut, melahirkan gunjingan baru yang tak akan mampu dia tanggung sisa energinya. Mereka tidak akan menolongnya; mereka hanya akan menikmati tontonan kemalangannya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Sarah mundur beberapa langkah. Dia memilih bersembunyi di balik dinding rumah kosong yang ditumbuhi semak liar, menekan tubuhnya rapat-rapat ke tembok yang berlumut.

Dari balik persembunyiannya, Sarah memejamkan mata erat-erat. Air matanya kembali luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang masih terasa panas bekas tamparan Leo. Dia meremas kain dasternya, menahan napas setiap kali mendengar gelak tawa dari arah gerobak sayur itu. Di dalam keheningan persembunyiannya, Sarah berbisik lirih penuh harap, memohon agar para ibu-ibu itu segera bubar dan membiarkannya melanjutkan pelarian tanpa harus mengemis belas kasihan yang semu.

Sarah meraba kantongnya, dia baru teringat kalau handphonenya tinggal di kamar.

Apakah Sarah harus kembali ke rumah mertuanya?

.

1
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gue cuma bisa tutup mata🤣
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gemes nya/Smile//Smile//Smile/
Renarenn
Lah, temen sesat rupanya
Renarenn
Akhirnya karma is real🤭🤭🤭
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!