NovelToon NovelToon
Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Anak Genius / Pengganti / Penyesalan Suami / Pelakor jahat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Prabowo

Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Alya mengeluarkan dokumen dari tasnya dan meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang rapi. Pena yang Rizky sodorkan sudah ada di tangannya sebelum ia sempat mencarinya sendiri.

Ia membubuhkan tanda tangannya di kolom yang kosong—satu garis yang sudah ia latih sejak kecil untuk terlihat seperti milik seseorang yang tahu nilainya sendiri.

"Kamu dermawan sekali." Alya meletakkan pena dan mendorong dokumen kembali ke Rizky. Senyumnya keluar dengan cara yang ringan, tidak meminta apa pun. "Jadi istrinya kamu itu sebenarnya sangat menyenangkan."

Rizky mengambil dokumen itu tanpa mengubah ekspresinya. "Minggu depan perjanjian perceraian."

"Saya akan datang tepat waktu dan tanda tangan dengan patuh." Alya menyilangkan tangannya di atas meja, sedikit condong ke depan. "Kamu tidak perlu khawatir."

Sesuatu di wajah Rizky mengendur satu milimeter—kepuasan yang tidak ia ucapkan tapi cukup terbaca oleh orang yang sudah empat tahun belajar membaca wajah ini. "Bagus. Itu yang saya inginkan."

Ia merapikan dokumen dan memasukkannya kembali ke tas kerjanya, lalu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kartu—hitam, tanpa nama bank yang tercetak di depan, jenis yang tidak tersedia untuk semua orang. Ia mendorongnya ke arah Alya.

"Rapat sampai sore. Tidak bisa menemani makan." Nada suaranya kembali ke register kerjanya—bukan dingin, hanya efisien. "Pesan apa pun yang kamu mau."

Alya mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dompetnya dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. "Malam ini pulang makan?"

"Ada pertemuan."

"Oke." Alya berdiri, mengambil tasnya, dan memperbaiki posisi gaunnya sekali. "Nanti saya bilang Ibu Ani tidak perlu masak banyak kalau begitu."

Ia mencium sudut bibir Rizky—singkat, familiar, seperti tanda baca yang tidak memerlukan makna baru setiap kali digunakan—dan berjalan ke arah pintu.

Sepatu haknya berbunyi di lantai dengan ritme yang konsisten. Di depan pintu, ia tidak menoleh.

Pintu tertutup.

Rizky tetap duduk di belakang mejanya. Laptopnya terbuka, layarnya menampilkan email yang belum dibaca, tapi matanya tidak ke sana. Ia memandang pintu yang sudah tertutup—punggung yang menghilang di baliknya, langkah yang sudah tidak terdengar lagi—dengan ekspresi yang tidak ada namanya yang tepat di kamus mana pun.

Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya menarik laptopnya ke depan dan mulai mengetik.

Lobi Grup Aditya tidak pernah sepi di siang hari. Karyawan bergerak dengan tujuan masing-masing, beberapa mengangguk ketika Alya lewat, beberapa menatap dengan ekspresi yang mengandung campuran antara rasa hormat dan sesuatu yang lain—simpati mungkin, atau versi simpati yang sudah bercampur dengan sedikit kepuasan karena bukan mereka yang ada di posisi itu.

Alya melewati semuanya dengan kepala tegak dan senyum yang tepat.

Mobil Audinya ada di lantai dua basement, parkir di slot yang sama dengan dua jam lalu. Ia membuka pintu, masuk, menutupnya, dan mengunci dari dalam.

Di dalam kabin yang tertutup dan sunyi itu, topengnya turun.

Tidak ada yang dramatis—tidak ada isak yang panjang, tidak ada air mata yang mengalir perlahan dengan indah seperti di film. Yang ada adalah seseorang yang meletakkan kepalanya di kemudi dan menangis dengan cara yang tidak ia izinkan dilihat siapa pun—pelan, tertahan, seperti sesuatu yang sudah ditahan terlalu lama dan akhirnya menemukan jalan keluarnya di satu-satunya tempat yang tidak memiliki penonton.

Lima menit. Tidak lebih.

Ia mengangkat kepalanya, mengeluarkan tisu dari laci mobil, dan mengusap wajahnya dengan gerakan yang efisien. Di kaca spion, yang memandangnya adalah seseorang dengan mata yang sedikit merah dan maskara yang tidak bergeser—waterproof, selalu, karena Alya Putri sudah lama belajar mengantisipasi dirinya sendiri.

"Dasar." Ia berkata ke bayangan di cermin itu, nada suaranya mengandung kemarahan yang lebih banyak ditujukan ke dirinya sendiri daripada ke siapa pun. "Bahkan kalau dia cuma pura-pura—sedikit saja—saya bisa bohongin diri sendiri dengan senang hati."

Itu yang paling mengganggunya. Bukan bahwa Rizky tidak mencintainya. Itu sudah diketahui sejak hari pertama, dicantumkan dalam perjanjian dengan bahasa yang jelas. Yang mengganggunya adalah betapa mudahnya ia bisa ditipu—betapa sedikit yang ia butuhkan untuk membangun ilusi yang cukup nyaman untuk dihuni.

Satu gestur kecil. Satu pertanyaan tentang harinya. Satu malam di mana seseorang tidak langsung tertidur setelah segalanya selesai.

Alya menyalakan mesin dan keluar dari basement.

Apartemen Taman Anggrek berdiri di daerah yang pernah jadi premium dua puluh tahun lalu dan sejak itu menua dengan cara yang tidak sepenuhnya anggun—cat di beberapa bagian fasad mengelupas, lift nomor dua yang selalu rusak bergantian dengan lift nomor tiga, lobby dengan sofa kulit yang sudah pudar warnanya. Tapi sewanya terjangkau untuk seseorang yang ingin tinggal dekat pusat kota tanpa bergantung pada siapa pun untuk membayarnya.

Unit 908 di lantai sembilan. Alya mengetuk dua kali.

Suara dari dalam terdengar sebelum pintu dibuka—sesuatu jatuh, kata-kata yang tidak jelas, langkah yang lebih menyeret daripada berjalan. Pintu terbuka dan di baliknya berdiri Tina Wijaya dengan rambut yang menyebar ke segala arah, kaos ukuran terlalu besar, dan mata yang masih lima puluh persen tertutup.

"Saya baru tidur jam empat pagi." Tina menyenderkan badannya ke kusen pintu. "Nulis naskah sampai otaknya mencair baru bisa berhenti. Dan kamu datang jam berapa ini?"

"Jam dua siang." Alya masuk tanpa diundang lebih lanjut. Pemandangan di dalam unit itu sudah ia antisipasi tapi tetap membuatnya berhenti sebentar di ambang pintu—cangkir-cangkir kosong di meja kopi, tumpukan kertas di sofa, tiga cokelat kosong di lantai dekat meja kerja, pakaian yang digantung di punggung kursi dan pintu lemari yang terbuka.

"Tina." Alya meletakkan tasnya di satu-satunya sudut meja yang kosong. "Kamu tidak bisa hidup seperti ini."

"Saya hidup dengan sangat baik." Tina menutup pintu dan kembali ke arah sofa, menyingkirkan tumpukan kertas dengan satu sapuan tangan, dan duduk. "Kamu ke sini mau apa?"

Alya tidak menjawab. Ia sudah mengambil kantong plastik dari dapur dan mulai mengumpulkan cangkir-cangkir kosong.

"Al—"

"Sepuluh menit."

Tina menatapnya selama beberapa detik, lalu berbaring di sofa dengan lengan menutupi matanya. "Kalau kamu mau bersih-bersih, jangan berisik."

Satu jam kemudian, permukaan meja terlihat kembali. Cangkir sudah di wastafel, lantai sudah disapu, tumpukan kertas disusun berdasarkan ukuran di pojok meja kerja—Alya tidak berani menyortirnya berdasarkan konten karena sistem pengarsipan Tina adalah sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh Tina sendiri dan bahkan itu masih diragukan.

Ia membangunkan Tina dengan menepuk kakinya. "Bangun. Makanan sudah dipesan."

Tina membuka matanya perlahan. "Kamu pesan apa?"

"Nasi padang. Dan dua lusin bir."

Tina duduk sepenuhnya dan memandang Alya dengan mata yang sekarang sudah tujuh puluh persen terbuka. Ia memeriksa wajah Alya dengan cara yang lambat tapi teliti—dari mata ke sudut bibir ke cara Alya berdiri.

"Rizky." Bukan pertanyaan.

Alya mengambil dua bantal dari lantai dan meletakkannya di sofa. "Makan dulu."

"Alya."

"Makanannya belum datang, Tin."

"Saya tidak tanya soal makanan." Tina menyilangkan kakinya di sofa dan menatapnya lurus. "Ada apa?"

Alya berdiri dengan punggung menghadap Tina, pura-pura merapikan bantal yang sudah rapi. Di luar jendela unit 908, Jakarta siang bergerak seperti biasanya—lalu lintas, suara klakson yang samar, matahari yang mulai miring ke barat.

"Minggu depan saya tanda tangan perjanjian perceraian." Suaranya keluar dengan nada yang lebih datar dari yang ia rencanakan—terlalu datar, jenis yang terdengar seperti sudah dilatih tapi belum sempurna. "Di kantor hukum jam sepuluh pagi."

Tina tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

"Dia juga mengalihkan tiga properti ke nama saya," lanjut Alya. Ia akhirnya berbalik dan duduk di sisi sofa yang lain, melepaskan sepatunya satu per satu. "Total nilainya sekitar dua ribu dua ratus miliar."

"Dan kamu menangis di mobil tadi."

Alya mengangkat pandangannya.

"Matamu." Tina menunjuk. "Waterproof tapi tetap kelihatan kalau sudah diusap."

Alya menghela napas dan bersandar ke sofa. "Pesan datang dulu, baru cerita."

Tina meraih ponselnya dari bawah bantal dan mengecek status pesanan. "Dua belas menit lagi." Ia meletakkan ponselnya dan memandang Alya dengan cara yang tidak mendesak tapi juga tidak akan pergi. "Saya tunggu."

Di luar, angin menggerakkan tirai tipis yang tidak pernah diganti Tina sejak pindah ke sini tiga tahun lalu. Di dalam, dua perempuan duduk di sofa yang sudah mulai kempes busanya, satu menunggu, satu menyusun kata-kata untuk sesuatu yang belum tahu bagaimana cara dimulai.

1
lyani
yg ada situ nggak tau malu
lyani
penulisan yg bagus dengan mempermainkan perasaan tiap pemilihan kata.
lyani
syedihhhhh
Anonim
Kapan episode baru?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!