"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Senyum manis di bibir Anisa terus saja terlihat, sungguh wanita yang dulunya begitu mandiri kini terlihat manja karena kehamilannya dan itu selalu membuat moodnya membaik. Tio yang saat itu juga berada disana bersama seorang detektif swasta yang sengaja dia sewa tanpa sepengetahuan Dimas untuk mengawasi Rania. Tatapannya terus tertuju pada Anisa yang terus tersenyum hangat oada dua orang yang ada di hadapannya. Senyuman yang sudah tidak pernah lagi tertuju padanya sejak enam bulan ini.
Tio ingat saat pertama kali bertemu dengan istri dari sahabatnya beberapa bulan lalu di Bandara. Saat Dimas meninggalkan gadis yang baru dia nikahi seminggu itu padanya.
Puncaknya enam bulan yang lalu, saat Dimas sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Rania di Singapura, dan lagi-lagi dia mendapati Anisa sedang menangis di dalam kamar membuatnya terpaksa harus menyadarkan gadis itu dengan kata-kata yang begitu melukai.
"Aku ketemu umi kemarin, dia berkunjung kerumah mama saat aku ada disana. Dia sampai meneteskan air matanya karena mengetahui aku hamil Nis." Ucap Nina setelah mereka selesai makan siang. Tempat mereka duduk tidak jauh dari Tio berada, seorang Tio dan detektif tetap saja bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Mendengar kalimat Nina, seketika senyum di wajah Anisa hilang berganti wajah getir menahan sesak. Meskipun pernikahan ini terlaksana, tetap saja dia tidak bisa memberikan bahagia itu pada wanita yang sudah sepenuh hati mencintainya. Waktu dirinya berkunjung kerumah Abi dan Uminya saat pernikahan Indra dan Nina, umipun pernah menanyakan hal ini padanya.
"Kebohongan tetap saja kebohongan. Meskipun aku berniat melakukan itu untuk kebaikan, tetap saja hasilnya hanya akan mengecewakan Umi." Ucap Anisa lirih.
"Bukan salah kamu, kamu sudah berusaha untuk membuat pernikahn kalian membaik, namun Dimas yang tidak menginginkan pernikahan kalian. Jangan salahkan dirimu, percayalah Allah sudah menyediakan seauatu yang lebih indah dari ini. Hanya menunggu waktu yang tepat saja." Ucap Nina sambil memberikan usapan lembut pada punggung tangan Anisa.
"Ingatlah Nis, aku siap membantu kapanpun kamu butuh. Jika ingin megugat cerai, aku akan mengerahkan semua kemampuanku untuk membuatnya berhasil. Ada banyak bukti untuk mengugatnya, aku sudah mengantongi semuanya. Wanita yang dia cintai itu lagi mendapatkan masalah dengan istri dari pimpinan management yang menaunginya" Ucap Indra.
Nina terlihat tenang karena dia sudah mengetahui ini, namun tidak dengan Anisa yamg seketika menatap pada suami dari sahabatnya ini.
"Jangan melanggar privasi orang lain hanya untuk pernikahanku yang tidak berarti ini Ndra." Ucap Anisa pelan.
"Itu sudah tugasku sebagai pengacara Nis, istri dari pimpinan meanagement yang menaungi model Rania mengugat cerai suaminya, dan nama Rania menjadi salah satu dari sekian banyak nama wanita yang keluar dari mulut klien kami. Jadi kami harus mencari tahu tentangnya dan yah kami mendapat itu. Diams dan model yamg bernama Rania itu menikah di Singapura enam bulan yang lalu tanpa sepengetahuanmu." Anisa tidak lagi terkejut dengan ucapan Indra. Karena dia sudah tahu tentang oernikahan itu suaminya dengan sang kekasih, meskipun dia tidak tahubdimana mereka mengikat janji suci itu, terseralah dia tidak lagi perduli.
Setelah makan siqng mereka yang sudah melewati waktu istirahat itu, Anisa mengantar sepasang suami istri itu kedalam mobil mereka.
"Jangan memaksakan dirimu jika sudah mulai merasa lelah, kami selalu ada untuk mendukungmu." Ucap Nina sebelum mobil yang akan di kendarai suaminya beralalu dari sana dan di angguki oleh Anisa.
Setelah kepergian Nina dan suaminya, Anisa kembali masuk kedalam perusahaan menuju ruangannya. Hari-hari yang tenang selama enam bulan ini, dia mulai bergikir untuk mempertimbangkan saran dari Indra.
Kubikel yang memisahkan kariyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing di dalam ruangan tempat laporan-laporan keunagna perusahaan berada kini kembali hening. Hanya tuts keyboard komputer yang beradu dengan jari terdengar disana.
"Nis, pak Ardi memintamu mengantar ini keruangan direktur." Gadis cantik dengan rok spannya kini berdiri di samping Anisa sambil mengulurkan setumpuk berkas.
"Kok aku Mir ? bukannya ini adalah tugasmu dan biasanya juga, kamu yang mengantar keruangan direktur ?" Tanya Anisa heran. Baru kali ini dia mendapat perintah di luar dari dari tanggung jawabnya.
"Aku ngga tau Nis, pak Ardi yang meminta ini." Lirih gadis itu merasa bersalah. Dia mengerti semua orang yang ada di ruangan ini suadah banyak pekerjaan namun seorang pak Ardi yang memimpin divisi ini saja tidak bisa menolak permintaan direktur mereka.
Anisa menatap sejenak pada gadis yang usianya masih seumuran dengannya ini. "Aku akan menanyakan pada pak Ardi terlebih dahulu." Ucap Anisa.
"Nis, kali ini saja tolong antarkan ini, pak Ardi kena marah habis-habisan dari pak direktur karena tidak menyetujui ini. Kamu tahu bagaimana pak Ardi, dia tidak suka jika pegawainya mengerjakan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya, namun ini permintaan direktur langsung.
"Baiklah." Anisa menghembuskan nafas kasar dari hidung dan mulutnya kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meraih berkas dari tangan Mira.
******
"Biasanya Mira yang mengantarnya." Tegur Laura pada Anisa.
"Ngga tau mbak, tiba-tiba saja pak Ardi memintaku." Jawab Anisa singkat. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Dimas yang mulai mengusik ketenangan hidupnya.
Laura membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Anisa masuk kedalam ruangan kemudian kembali menutup pintu ruangan dengan perpahan. Anisa bebrapa kali masuk kedalam ruangan ini saat Ayah mertuanya datang dan memintanya untuk menemuinya.
Di kursi kebesarannya Dimas meanatap tajam kearahnya,sangat jelas laki-laki itu sedang menahan kekesalannya, namun Anisa memilih untuk tidak perduli.
Dengan langkah cepat dia membawa berkas itu menuju meja kerja Dimas, mengabaikan tatapan membunuh tang belum pernah dia dapati sebelumnya.
"Kamu ingin bercerai dariku ?" Tanya Dimas dengan suara dingin.
Anisa yang baru saja membungkuk meletakkan berkas di atas meja kerja Dimas dengan tenang melihat kearah laki-laki yang kini sedang berdiri di belakang suaminya. Suami ? iya suami yang juga memiliki istri lain.
"Maaf pak Dimas, aku hanya mengantar pekerjaan keruangan ini, bukan untuk membahas urusan pribadiku." Jawab Anisa tenang. Dia melihat Tio berada di restoran yang sama saat makan siang tadi.
"Kamu tidak memikirkan bagaimana Abi dan Umi kamu ? dan meminta pengacara itu mengurus perceraian kita." Tegas Dimas.
"Jangan menyebut Abi dan Umiku dengan mulutmu !" Ucap Anisa todak kalah dingin. Sungguh dia tidak sudi laki-laki yang sudah mengabaikan amanah Abinya lalu dengan seenaknya menyebut laki-laki berharga itu dengan mulutnya. "Jangan khawatirkan Abi dan Umiku, khawatirkan saja Ayah dan Ibu. Apa yang akan terjadi pada mereka jika mendapati anak mereka sebrengsek kamu." Stelah mengatakan itu, Anisa membalik tubuhnya melangkah menuju pintu keluar.
Sebelum benar-benar keluar dari sana, Anisa kembali membalik tubuhnya menatap tajam pada dua laki-laki yang kini terdiam tanpa kata.
"Dan kamu Tio, jangan pernah lagi mengawasiku, jangan melwwati batas privasiku. Aku bukan tipe wanita yang dengan gampangnya menyeleweng dari pernikahan, meskipun pernikahan itu tidak aku inginkan." Ucap Anisa tegas dan berlalu dari sana dengan dentuman keras pintu berbahan kayu yang tertup.