Kisah rumah tangga pasangan baru. Mereka berpindah ke Ibukota karena sang suami Davin putra Adiguna akan memimpin perusahaan disana. Serta dipicu dengan alasan utama untuk pindah yaitu mengindari adik Davin yang masih menaruh hati pada istrinya yang cantik Abelia Amvan Wijaya.
Bagaimana lika-liku perjalanan kehidupan rumah tangga pasangan ini di tempat yang baru? Davin seorang mantan playboy yang diragukan keinsafannya, sedangkan sang istri Abelia, sangat pencemburu tingkat tinggi?
Sekedar saran! Untuk tahu kisah mereka sebelum menikah, bisa baca ISTRI UNTUK PAPA SEASON 2 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Einaz Ajjah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersyukur
Davin masuk keruang dokter yang di arahkan perawat. Dokter kandungan sepertinya sudah menunggu kedatangannya.
"Silahkan Pak," sapa dokter perempuan yang menangani Abel.
"Bagaimana istri saya dokter?" tanya Davin panik.
"Pak, istri bapak sedang hamil masuk ke usia kandungan enam Minggu." tutur dokter.
Davin terkejut senang bercampur cemas atas kehamilan istrinya.
"Tapi kandungan istri bapak lemah dan rentan, syukur bakal janinnya masih bertahan. Kita sudah beri penguat untuk janinnya, kita juga beri tindakan untuk mengurangi pendarahannya. Kita observasi sampai dua minggu perkembangan janinnya. Selama dua Minggu pasien harus bedrest, tidak boleh banyak melakukan aktivitas fisik. Hindari istri stress, buat dia rileks dengan kehamilannya jangan beri tahu pasien yang tidak baiknya." Penuturan Dokter.
"Baik dokter," ucap Davin yang perasaan campur aduk.
Dokter menjelaskan lagi informasi kepada Davin tentang kondisi Abel. memberikan lagi larangan yang ajuran yang harus dilakukan.
Setelah beberapa menit mendengar arahan dokter, Davin diijinkan menemui istrinya.
Davin segera ke ruang perawatan istrinya usai mendengar penuturan dari dokter. Ia bersyukur, istrinya masih diberi kesempatan oleh Sang Maha Kuasa untuk mempertahankan anak yang ada di kandungnya.
Rasa senang bercampur haru menyelimuti Davin atas kehamilan istrinya. Meskipun kabar bahagia itu di dapatnya dengan keadaan yang tidak baik seperti saat ini. Tapi kali ini ia harus menjaga Abel dengan ektra. Mengingat kondisi Abel yang masih sangat rentan akan keguguran. Hal itu yang di ungkapkan dokter.
Ceklek
Davin melihat istrinya yang masih memejamkan mata. Entah kenapa ia mendadak terharu melihat Abel yang sekarang sedang mengandung anaknya. Ia mengengam tangan Abel. Davin mencium kening Abel hingga membuat Abel terkejut dan membuka mata. Dilihatnya suaminya yang merebahkan kepalanya di ceruk lehernya.
"Bang Davin," sapa Abel lirih.
Davin langsung mendongak mendengar Abel terbangun dan memanggil namanya.
"Sayang ...." Davin langsung memeluk Abel. Menciumi pipinya. "Apa masih sakit Sayang." Davin memegangi kedua pipi Abel.
"Alhamdulillah nggak Bang masih nyeri-nyeri sedikit," ucap Abel.
Abel sedikit menegakkan brankarnya agar mudah untuk duduk. Ia juga mengenggam tangan suaminya.
"Sayang maafkan Abang, Abang nggak seharusnya ninggalin kamu dengan keadaan seperti tadi." Davin terus mencium tangan Abel.
"Bang Davin. Abel juga salah," kata Abel menetes air mata.
"Nggak Sayang. Abang yang salah. Bagaimana kalau tadi terjadi apa-apa sama kamu Sayang, maafkan Abang Sayang." Davin membelai lembut kepala dan menghapus air mata istrinya.
"Bang Davin, maafkan Abel juga. Apa yang Abel pikirkan hingga nggak tahu kalau kehamilan Abel udah masuk enam minggu," ucap Abel sambil mengengam erat tangan Davin.
Davin refleks memegang perut istrinya yang masih rata dan mengelus-gelus merasa terharu.
"Alhamdulillah Sayang calon anak kita dan istri Abang yang cantik ini baik-baik saja, Abang kuatir banget sama kamu." Davin sekarang yang tidak tahan mengeluarkan air mata haru.
"Alhamdulillah Bang, Allah masih mempercayai Abel untuk menintipkan buah cinta kita di rahim Abel," ucap Abel bahagia.
"Tapi banyak PR dari dokter Sayang, kandungan kamu masih sangat rawan." Davin mencubit hidung Abel.
"Ya Bang, Abel janji akan jaga dengan baik anak kita," ucap Abel memegangi tangan suaminya yang di perutnya.
"Kata dokter kamu harus bedrest total Sayang sampai kandungan kamu aman. Jangan sampai kamu turun dari tempat tidur tanpa sepengetahuan Abang."
"I-ya iya, Abel akan lakuin apa saja untuk anak kita Bang," ucap Abel.
"Makasih Sayang, kamu juga nggak boleh stres, nggak boleh berpikir yang bukan-bukan tentang siapapun. Kamu harus fokus sama anak kita. Kamu harus selalu happy untuk anak kita." Davin menuturkan kata sesuai arahan dokter. Ia kemudian mencium lagi kening Abel.
Abel tersenyum bahagia sekarang, mungkin kabar bahagia ini terkuak di saat yang tidak tepat. Tapi bagi Abel sekarang tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan calon bayi yang ada di kandungannya.
"Abang harus beri tahu orang tua kita tentang keadaan kamu sekarang Sayang." Davin mengambil ponsel dari saku celananya.
"Bang Davin jangan!" Abel meraih tangan Davin. "Jangan beri tahu Papa tentang keadaan Abel sekarang. Papa pasti kuatir sekali kalau tahu kondisi Abel. Lebih baik kita beritahu Papa nanti kalo kita sudah di rumah."
"Tapi Sayang ...," ucap Davin.
"Jangan Bang, Papa pasti heboh sendiri kalau tahu Abel di rumah sakit," pinta Abel lagi.
"Ya udah, sesuai keinginan kamu," ujar Davin mengalah.
Davin mengenggam lagi tangan Abel.
"Kamu cepat sembuh ya Sayang, biar nanti kita bisa bagi kabar bahagia ini pada kelurga kita." Davin mengecup kening Abel. Abel mengangguk senang.
Suasana kembali tenang, Davin naik ke atas brankar menemani istrinya. Abel menyandarkan kepalanya di bahu suaminya merasa lebih baik sekarang.
"Oh ya Sayang, sama dokter juga di suruh puasa olahraga malam Sayang," ujar Davin.
Abel mendongak dari sandaran nyamannya, "Oh ya. Berapa lama Bang?"
Davin hanya menunjukkan dua jarinya.
"Dua minggu?" tanya Abel lagi mengira.
"Dua bulan Sayang. Dua bulan. Pasti kaku banget Sayang nggagur selama itu," ucap Davin.
Abel terkekeh mendengar ucapan suaminya. "Abang mesum sih."
"Sekarang kamu makan, Abang suapin. Supaya cepat sembuh," ujar Davin.
"Perut Abel kayak nggak enak gitu Bang kalo di isi makanan." Abel menolak karena perutnya seperti bergejolak ketika di masukin makanan.
"Dikit-dikit Sayang." Davin memaksa.
"Ya udah. Tapi jangan banyak-banyak." Abel mengalah untuk makan.
Davin meraih nampan di meja yang berisi makanan. Ia mulai menyuapi Abel yang sekarang pemilih sekali pada makanan. Meskipun ia hanya bisa makan buah dan sayur saja tapi Davin bersyukur setidaknya perut Abel terisi. Orang hamil memang unik Abel yang tidak bisa makan tanpa nasi, sekarang malah mual melihat nasi.
Keduanya sudah tak sabar menunggu kabar baik dari dokter untuk bisa kembali ke rumah. Setelah pendarahannya berhenti Abel diijinkan untuk pulang. Rasanya tak sabar ingin berbagi kebahagian dengan keluarga besarnya
.
.
.
.
.
.
Next......
😍😍😍😍 baik -baik ya Bel
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘
rupanya ngayal, sampe suudzon 🙋duluan
"kau, aku dan kenangan kita" dan "sebening kasih"
kesel deh gue ..😠
mnding sm tipe cowo yg dingin,Krn biasanya cowo yg dingin pasti bakalan lgsg marah klo d deketin cewe selain istrinya