Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.
Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.
Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.
Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?
Sequel Novel Elara & Leo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Anne Margaretha
Manhattan di bulan November mulai berhias salju tipis yang turun malu-malu di atas aspal jalanan Fifth Avenue. Namun, di dalam Mansion Vance, suasananya jauh lebih menggigit daripada udara di luar. Setelah insiden "anatomi" yang memalukan di ruang keluarga, Liam Vance telah bertransformasi menjadi bayangan yang membisu. Ia bergerak di dalam rumah seperti robot yang diprogram ulang: makan secukupnya, bicara hanya jika ditanya, dan menatap piringnya seolah-olah ada jawaban misteri alam semesta di dalam potongan daging wagyu-nya.
Anne Margaretha, dengan kecerdasan strategisnya, tahu bahwa ini adalah momen untuk memberikan serangan terakhir. Liam sedang berada di titik terendahnya; harga dirinya sedang goyah, dan benteng esnya kini tak lebih dari tumpukan salju yang siap longsor. Jika sebelumnya Anne hanya bertahan, kini ia memutuskan untuk membalikkan keadaan dengan keanggunan yang mematikan.
Makan malam di kediaman Vance malam itu terasa lebih hening dari pemakaman. Cahaya lampu kristal di atas meja makan kayu mahoni yang panjang memantul pada peralatan makan perak, menciptakan kilauan yang dingin. Liam duduk di ujung meja, berusaha keras menciptakan aura "tidak tersentuh", mengabaikan Liana yang terus berceloteh dan Anne yang duduk tepat di hadapannya.
Saat pelayan baru saja menuangkan anggur merah ke gelas Leo, Anne meletakkan sendok peraknya dengan dentingan kecil yang disengaja. Ia membersihkan sudut bibirnya dengan serbet sutra, lalu mengangkat pandangannya tepat ke arah Liam.
"Aku jadi berpikir, setelah mendengar kriteria Liam yang sangat... tinggi dan spesifik tempo hari," Anne memulai, suaranya tenang namun memiliki nada provokatif yang halus.
Liam tidak mendongak, namun gerakan tangannya yang memegang pisau sedikit tertahan.
"Sepertinya kita memiliki perbedaan kriteria yang cukup signifikan dalam mencari pasangan, Liam," lanjut Anne dengan senyum tipis yang mematikan.
Leo Vance, yang selalu menikmati dinamika kekuasaan—bahkan di meja makannya sendiri—mengangkat alis, tertarik. "Oh? Apa maksudmu, Anne? Sepertinya ini akan menarik."
Liam akhirnya mengangkat pandangannya, matanya berkilat sinis. "Oh ya? Jadi sekarang kau juga punya standar? Apa kau akan mencari pria yang suka mengumpulkan bunga atau semacamnya?" desisnya tajam.
"Tentu saja aku punya standar," jawab Anne, menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Liam dengan tatapan yang seolah bisa menelanjangi semua kebohongan pria itu. "Aku mencari pria yang tidak hanya jujur dengan perasaannya, tapi juga memiliki keberanian untuk mengakui perasaannya tanpa perlu bersembunyi di balik topeng kasar."
Anne menjeda sejenak, membiarkan suasana menegang hingga Liana pun berhenti mengunyah.
"Dan soal pengalaman... aku rasa aku mencari pria yang sedikit lebih berpengalaman di bidang romansa. Bukan yang hanya bisa bicara besar soal selera wanita, tapi justru lari terbirit-birit saat diberi tantangan ciuman sederhana di tepi kolam."
KLANG!
Pisau di tangan Liam terlepas dan menghantam piring porselennya dengan suara yang memekakkan telinga. Wajah Liam yang tadinya pucat dingin langsung berubah warna menjadi merah padam sempurna dalam hitungan detik. Ia tersedak anggurnya sendiri, batuk-batuk kecil sambil mencoba menutupi mulutnya dengan serbet.
Liana tidak bisa menahannya lagi. Ia menyemburkan tawa yang sejak tadi ditahannya hingga bahunya berguncang hebat. Leo Vance menatap Anne dengan seringai bangga yang tak bisa disembunyikan—ia menyukai keberanian gadis ini. Sementara Elara, sang ibu yang bijak, hanya tersenyum tipis di balik gelasnya, menyembunyikan kepuasan melihat putra sulungnya yang angkuh akhirnya bertemu lawan yang sepadan.
"Maksudmu... kau... itu..." Liam tergagap, lidahnya seolah kelu. Harga dirinya hancur berkeping-keping di depan seluruh keluarganya. Ia merasa seperti baru saja ditelanjangi di tengah Times Square. Tanpa sanggup membalas, ia bangkit dari kursi, menjatuhkan serbetnya, dan meninggalkan meja makan dengan langkah seribu tanpa sepatah kata pun.
Keheningan Liam selama beberapa hari berikutnya jauh lebih menyiksa bagi Anne. Liam benar-benar menghilang dari radar. Ia tidak lagi mencoba memprovokasi, tidak lagi menatap tajam; ia hanya... sunyi. Anne mulai merasa bersalah. Apakah aku sudah keterlaluan? pikirnya saat berjalan di koridor kampus yang mulai sepi karena jam kuliah sore sudah berakhir.
Namun, saat ia berbelok menuju loker fakultas seni, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan kuat dan efisien, Anne tersentak dan diseret ke sebuah sudut tersembunyi, di balik tumpukan loker besi yang dingin dan berdebu.
Punggung Anne menyentuh dinding loker. Di depannya, Liam berdiri dengan napas memburu. Jarak mereka begitu dekat hingga Anne bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu. Mata biru Liam yang biasanya sedingin es kini berkilat dengan emosi yang campur aduk: ada sisa-sisa amarah, rasa malu yang membara, namun juga ada gairah mentah yang tak terbantahkan.
"Kau pikir kau sangat hebat, hah?" desis Liam, suaranya parau. "Kau pikir kau bisa mempermalukan ku di depan orang tuaku dan menganggap ku pengecut?"
Anne hendak menjawab, namun kata-katanya tertelan saat Liam tiba-tiba menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Telapak tangan Liam terasa kasar namun hangat di pipi Anne. Mata mereka terkunci sejenak. Keheningan koridor kampus seolah menekankan detak jantung mereka yang saling berkejaran.
Lalu, perlahan-lahan, seolah sedang melakukan sesuatu yang paling terlarang di dunia, Liam menunduk.
Bibir Liam menyentuh bibir Anne.
Itu bukan ciuman agresif seperti di film-film aksi. Itu adalah sentuhan yang sangat hati-hati, nyaris seperti sentuhan bulu yang lembut dan ragu-ragu. Liam menciumnya dengan kecanggungan seorang pemula yang takut melakukan kesalahan, namun di dalamnya terdapat ketulusan yang begitu besar hingga membuat Anne terpaku. Liam tidak menuntut, tidak mencoba mendominasi; ia hanya mencoba membuktikan sesuatu, mencoba melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya.
Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik yang terasa abadi bagi keduanya. Aroma kayu cendana dari parfum Liam menyatu dengan vanila dari Anne di sudut sempit itu.
Begitu Liam menarik diri, ia tampak lebih terkejut daripada Anne. Matanya melebar, napasnya semakin tidak beraturan, dan wajahnya langsung memerah sempurna hingga ke telinga. Ia menatap Anne dengan pandangan panik, seolah baru saja melakukan kejahatan besar atau melanggar hukum suci yang ia buat sendiri.
Tanpa menunggu sepatah kata pun dari Anne, tanpa melihat reaksi gadis itu, Liam langsung berbalik dan lari. Benar-benar lari. Kali ini langkahnya jauh lebih cepat dan lebih kacau daripada saat ia kabur di kolam renang.
Liam Vance tidak terlihat di kampus selama dua hari penuh. Ia bahkan tidak menampakkan batang hidungnya di meja makan mansion. Pintu kamarnya terkunci rapat dari dalam. Liana yang cemas mencoba menggedor pintunya berulang kali.
"Liam! Keluar kau! Kau tidak mati di dalam sana, kan?" teriak Liana.
"Pergi, Liana! Aku sakit! Jangan ganggu aku!" hanya itu jawaban dari dalam, suara Liam terdengar teredam oleh bantal, penuh dengan keputusasaan.
Di lantai bawah, Leo dan Elara saling bertatapan dengan cemas yang bercampur geli. Mereka tahu putra sulung mereka tidak sedang terserang flu atau penyakit fisik lainnya. Liam sedang menderita serangan harga diri yang runtuh. Ia sedang kewalahan menghadapi sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sebuah pengakuan bahwa ia telah kalah dalam permainannya sendiri.
Di sisi lain, Anne Margaretha yang mendengar kabar "sakit"-nya Liam dari Liana hanya bisa tersenyum simpul di kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap pemandangan kota New York dari jendela asramanya, sembari menyentuh bibirnya sendiri.
"Dia benar-benar pemula," pikir Anne sambil tertawa kecil sendirian. "Tidak seperti di novel-novel atau drama yang kubayangkan. Dia bahkan tidak tahu di mana harus meletakkan tangannya atau bagaimana menarikku mendekat dengan benar."
Namun, justru kecanggungan itulah yang membuat Anne jatuh lebih dalam. Di balik semua topeng "Singa Manhattan" yang dingin dan brengsek itu, ternyata hanya ada seorang pria dengan hati yang rapuh, yang telah lama mematikan perasaannya karena luka, dan kini sedang belajar untuk merasa kembali. Ciuman canggung itu adalah pengakuan paling jujur yang pernah Liam berikan. Itu adalah bendera putih yang dikibarkan di tengah badai salju.
Anne memegang dadanya, merasakan kehangatan yang menjalar. Ia tahu, setelah ciuman di balik loker itu, tidak ada lagi jalan bagi Liam untuk kembali ke mode "Tidak Tersentuh". Musim dingin Liam telah menemukan sinar matahari pertamanya, dan meski ia mencoba bersembunyi di balik selimut kamarnya, musim semi tetap akan datang. Dan Anne Margaretha, gadis dari Belanda dengan tekad sekuat baja, akan memastikan bahwa es itu benar-benar mencair sampai ke dasarnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰