NovelToon NovelToon
Genggaman Cinta Tuan Esref

Genggaman Cinta Tuan Esref

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

Esref Seorang pria yang cukup misterius namun banyak ditakuti oleh beberapa orang penting.

Esref hidup dalam pandangan yang runtuh semenjak kematian ibunya, sebagai putra tunggal dari keluarga yang sangat kaya-raya, ia hidup dengan sangat bermewah-mewah, namun itu tetap tidak memberikan emosi lain di hidupnya yang kaku.

Sampai datang lah seorang gadis cantik bernama Rubby Josephine North, gadis manis yang langsung mencuri perhatian esref.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

...****************...

Mobil Rubby melambat memasuki area parkir mall yang luas dan ramai.

Sopirnya memilih tempat yang teduh, tak jauh dari pintu masuk utama.

Begitu mesin dimatikan, ia turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan sigap.

“Nona,” katanya singkat.

Rubby turun dengan senyum cerah.

Hiruk-pikuk mall langsung menyambutnya,suara mesin mobil, tawa pengunjung, dan musik samar dari dalam gedung.

Ia menghela napas kecil, merasa ringan. Di kejauhan, ia sudah melihat wajah-wajah yang dikenalnya.

“RUBBYYYY!” teriak Lisa sambil melambaikan tangan.

Lisa berdiri paling depan, energik seperti biasa, rambutnya dikuncir tinggi.

Di sampingnya ada Audrey yang anggun dengan kacamata hitam besar, Jennie yang sibuk mengecek ponsel, serta dua sahabat pria mereka,Fero yang tinggi dan santai, dan Liam dengan senyum hangat khasnya.

Rubby berjalan cepat menghampiri mereka.

Begitu jaraknya cukup dekat, Lisa langsung memeluknya erat.

“Akhirnya! Kami pikir kau dibatalkan lagi oleh keluarga super protektifmu,” canda Lisa.

Rubby tertawa kecil. “Hampir saja,” jawabnya jujur. “Paman Maxim sempat mengingatkanku tiga kali soal pengawal.”

Audrey melepas kacamata hitamnya dan menatap Rubby dari ujung kepala sampai kaki. “Kau makin cantik saja. Serius. Kalau aku tidak tahu kau sahabatku, aku sudah curiga kau putri kerajaan yang disembunyikan.”

Jennie mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Fakta. Bahkan algoritma media sosial pun pasti jatuh cinta.”

Fero tertawa pelan. “Baiklah, baiklah. Kita baru bertemu lima menit dan pujian sudah berlebihan.”

Liam melangkah mendekat dan tersenyum pada Rubby.

“Kau kelihatan baik,” katanya tulus. “Senang melihatmu.”

Rubby membalas senyum itu, sedikit lebih lama dari yang ia sadari. “Aku juga senang bertemu kalian.”

Mereka mulai berjalan menuju pintu masuk mall bersama-sama, bercanda ringan tentang rencana hari itu,makan siang, menonton film, berbelanja tanpa tujuan jelas.

Senyum Rubby mengembang saat pintu mall terbuka di hadapan mereka.

Sementara bayang-bayang, setia seperti biasa, tetap mengikuti dari belakang.

###

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam mall, hawa sejuk pendingin ruangan langsung menyelimuti.

Keramaian terasa hidup,musik lembut dari toko-toko, aroma kopi dan makanan manis bercampur, serta lalu-lalang orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

“Aku mau ke toko itu dulu,” kata Jennie sambil menunjuk etalase pakaian yang sedang diskon besar.

“Setelah itu, kita buru makanan viral!” sambung Lisa penuh semangat.

Mereka pun berpencar sebentar, namun tetap dalam jarak dekat.

Rubby berjalan di tengah, tertawa kecil mendengar komentar-komentar Lisa yang tak pernah kehabisan energi.

Audrey sibuk memilih aksesori, sementara Liam membantu Jennie membawa kantong belanja.

Di sisi lain, Fero berjalan santai di samping Rubby, tangan dimasukkan ke saku jaketnya. Sikapnya selalu seperti itu—tenang, ramah, dan nyaris tak pernah terlihat mencolok.

Bagi Rubby, Fero adalah sahabat lama.

Mereka bertemu sejak masa sekolah, tumbuh bersama dalam lingkaran sosial yang sama, saling menjaga tanpa banyak tanya.

“Sudah lama kita tidak jalan bareng begini,” ujar Fero ringan. “Kau sibuk akhir-akhir ini.”

Rubby mengangguk. “Keluarga, acara, macam-macam. Kadang aku rindu masa sekolah. Semuanya terasa lebih sederhana.”

Fero tersenyum kecil. “Iya. Tapi kau terlihat bahagia sekarang.”

Rubby menoleh padanya, membalas senyum itu.

“Karena ada kalian.”

Di balik senyum santainya, pikiran Fero bergerak cepat. Ia memang sepupu Esref,hubungan darah yang tak banyak diketahui orang.

Sejak lama, ia berada di antara dua dunia: dunia terang tempat Rubby hidup, dan dunia gelap tempat Esref berkuasa.

Dan berkali-kali, Esref memberinya tugas yang sama,halus, tanpa jejak.

Menjauhkan Rubby dari pria-pria yang mencoba mendekatinya.

Bukan dengan ancaman.

Bukan dengan kekerasan.

Melainkan dengan cara yang tampak alami.

Seorang pria yang terlalu agresif akan “kehilangan minat” karena rumor kecil.

Yang terlalu dekat akan “mendapat kesempatan kerja” di luar kota.

Yang paling berbahaya,akan dibuat terlihat tidak layak di mata Rubby.

Semua dilakukan tanpa Rubby pernah tahu.

“FERO!” teriak Lisa dari kejauhan. “Kau harus coba ini!”

Mereka berkumpul di depan sebuah gerai makanan yang sedang viral di media sosial.

Antrean panjang mengular, dipenuhi anak muda yang sibuk merekam layar ponsel.

“Katanya rasanya biasa saja,” gumam Audrey skeptis.

Fero terkekeh. “Kalau viral, berarti setidaknya layak dicoba.”

Rubby tertawa kecil sambil mengeluarkan ponselnya. “Kalau tidak enak, kita tetap bisa bilang ‘pengalaman’

Mereka memesan berbagai makanan,minuman warna-warni, camilan manis, dan hidangan aneh yang lebih menarik secara visual daripada rasa.

Tawa pecah saat Lisa hampir menjatuhkan minumannya, dan Liam sigap menahan.

Semuanya tampak normal. Hangat. Aman.

Namun di sela keramaian itu, Fero sempat melirik sekilas ke arah pantulan kaca toko

Ia tahu,entah disadari atau tidak,ada mata lain yang mengawasi.

Dan ia juga tahu, laporan tentang hari ini akan sampai ke Esref dengan detail yang nyaris sempurna.

" Terkadang aku terfikir Esref sangat terobsesi dengan hal-hal tertentu, semoga Esref bisa memperlakukan Rubby dengan baik, Rubby gadis yang baik ." pikirnya sesaat.

Kafe itu terletak di sudut lantai atas mall, dengan dinding kaca besar yang menghadap ke keramaian atrium.

Interiornya hangat,lampu kuning temaram, meja kayu, dan aroma kopi yang menenangkan.

Tak heran tempat itu ramai; namanya sedang sering muncul di media sosial.

Mereka mengambil satu meja panjang dekat jendela.

Rubby membuka menu, matanya langsung tertuju pada satu pilihan. “Aku pesan red velvet cake,” katanya ringan.

“Sudah lama ingin coba yang ini.”

“Pilihan aman,” komentar Audrey sambil tersenyum.

“Aku mau tiramisu.”

Lisa langsung menunjuk menu tanpa ragu.

“Aku cheesecake caramel. Kalau gagal diet, sekalian saja.”

Jennie mengangguk setuju. “Aku ikut cheesecake. Hidup terlalu singkat untuk menolak gula.”

Sementara itu, tanpa perlu diskusi panjang, Fero dan Liam saling pandang singkat lalu hampir bersamaan berkata, “Americano.”

“Tanpa gula,” tambah Fero

.

“Double shot,” sambung Liam.

Lisa mendengus. “Kalian berdua benar-benar stereotip.”

Fero terkekeh pelan. “Kami konsisten.”

Tak lama kemudian, pesanan datang. Cake red velvet Rubby tampak cantik di piring putih,lapisan merah lembut dengan krim keju di atasnya.

Rubby mengambil garpu kecil, memotong perlahan, lalu mencicipi.

Matanya berbinar. “Ini enak,” katanya jujur.

“Tidak terlalu manis.”

Fero memperhatikannya sekilas, senyum tipis terbit tanpa sadar.

Ia mengenal ekspresi itu sejak lama—ekspresi Rubby saat benar-benar menikmati sesuatu.

Momen-momen kecil seperti itu selalu ia catat, bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain.

Liam mengangkat cangkir kopinya. “Untuk hari yang jarang bisa kita nikmati bersama.”

“Setuju,” kata Rubby sambil mengangkat garpunya, tertawa kecil.

Mereka mengobrol tentang hal-hal ringan—pekerjaan, gosip kecil, rencana liburan yang entah kapan terwujud.

Tawa sesekali pecah, menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

Di sela obrolan, ponsel Fero bergetar pelan di sakunya. Ia melirik cepat,satu notifikasi singkat, tanpa nama.

Target aman. Interaksi normal. Tidak ada ancaman.

Fero mematikan layar tanpa ekspresi.

Ia kembali menyesap kopinya, wajahnya tetap santai, seolah tak ada apa pun di balik ketenangan itu.

Rubby kembali memotong cake-nya, sama sekali tak menyadari bahwa bahkan di dalam kafe yang hangat dan penuh tawa itu, setiap detail tentang dirinya sedang dicatat, dianalisis, dan dikirimkan—menu favoritnya, kebiasaan kecilnya, hingga senyum yang muncul saat ia bahagia.

Dan jauh di tempat lain, Esref akan membaca laporan itu dengan tenang, menyimpannya seperti potongan kecil dari dunia Rubby yang perlahan ia kumpulkan.

satu momen manis pada satu waktu.

...****************...

1
Anime aikō-kā
.
Wayan Sucani
Diawal sudah tegang... dingin... berkuasa
Nanda Sa
oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!