NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi / Fantasi Wanita
Popularitas:47.9k
Nilai: 5
Nama Author: cute women

Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.

“Kenapa…?”

“Karena kau menghalangi jalanku.”

Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.

Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…

Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.

Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.

Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEBAKAN DI BALIK PUJIAN

"dibalik pujian manis tersembunyi rencana yang mematikan"

Happy reading>⁠.⁠<....

.

.

.

Setelah selesai berbicara dengan kaisar di ruang kerjanya kini Duke Wang beserta keluarga kekaisaran menuju ke aula dimana pesta di adakan.

Suasana aula semakin meriah ketika rombongan keluarga kekaisaran memasuki ruangan. Para pejabat istana serta para bangsawan segera berdiri seraya memberi hormat.

"Salam kepada yang mulia kaisar, keluarga kekaisaran serta yang mulia Duke"

Kaisar mengangguk lalu duduk di kursi kehormatan nya.duke Wang pun duduk tak jauh dari sana.

KAISAR

"Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan keberhasilan atas kemenangan Duke Wang serta para prajurit yang gagah berani mengalahkan bangsa barbar. Untuk itu, aku menganugerahkan kepadamu, Duke Wang, penghargaan tertinggi kekaisaran ini: tanah penghasilan tetap di wilayah barat dan permata langka dari tambang kekaisaran, sebagai bukti jasa dan keberanianmu yang tak tertandingi."

Tamu 1 (berbisik):

"Lihatlah, Duke Wang tampak tenang meski dipuji begitu. Pantas saja ia dikagumi di seluruh kekaisaran."

Tamu 2 (berbisik):

"Tapi aku penasaran… bagaimana rasanya mengalahkan suku barbar di medan perang sendirian seperti itu?"

Kaisar melanjutkan, suaranya bergema di seluruh aula"Semoga keberhasilan ini menjadi teladan bagi seluruh pasukan dan rakyat kita, bahwa keberanian dan kesetiaan akan selalu dihargai oleh kekaisaran."

Pelayan-pelayan membawa kotak hadiah berlapis emas dan gulungan surat resmi, diserahkan dengan hormat kepada Duke Wang. Tamu-tamu menepuk tangan, sebagian menatap kagum, sebagian lagi tampak bersyukur bisa menyaksikan momen bersejarah ini.

Duke Wang menunduk hormat, wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyiratkan kebanggaan dan kewaspadaan—mengetahui bahwa pujian sebesar ini sekaligus menegaskan posisi politiknya di kekaisaran.

Tepuk tangan belum sepenuhnya mereda ketika Kaisar kembali mengangkat tangannya.

“Atas jasamu, Duke Wang, aku menganugerahkan gelar Jenderal Pelindung Barat serta sebidang tanah di wilayah perbatasan.”

Suara kagum terdengar di seluruh aula. Namun tidak semua wajah menunjukkan kegembiraan.

Di antara para bangsawan, bisikan-bisikan mulai terdengar pelan—kemenangan ini terlalu besar, terlalu cepat, terlalu berbahaya

Namun di antara deretan pejabat tinggi, sepasang mata menatap Duke Wang dengan sorot yang sulit ditebak—bukan kekaguman, melainkan perhitungan.

Kemenangan di medan perang mungkin telah mengangkat namanya, tetapi di dalam istana, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Pangeran Kedua tersenyum tipis, namun jarinya mengetuk meja perlahan.

“Kemenangan yang mengesankan,” ucapnya pelan, cukup keras untuk didengar para bangsawan di sekitarnya.

“Terlalu mengesankan… untuk seorang duke.”

Setelah penganugerahan selesai, Kaisar memberi isyarat halus kepada kepala pelayan istana.

Tabuhan genderang kembali menggema, kali ini lebih lembut dan berirama.

Pintu samping aula perlahan terbuka, dan para penari istana melangkah masuk dengan busana sutra berlapis emas yang berkilauan di bawah cahaya lentera.

“Kini, para putri bangsawan dipersilakan untuk mempersembahkan bakat terbaik mereka di hadapan istana“

Seorang putri dari keluarga Li melangkah maju lebih dulu. Dengan anggun ia duduk di depan kecapi, jemarinya menari di atas senar, menghasilkan melodi lembut yang membuat aula terdiam.

Tepuk tangan sopan terdengar ketika ia selesai, disusul pujian halus dari para bangsawan.

Putri berikutnya mempersembahkan puisi tentang kejayaan kekaisaran, suaranya lantang dan penuh keyakinan. Aula kembali bergema oleh tepuk tangan.

Namun ketika kepala pelayan istana menyebut nama berikutnya, bisikan kecil mulai terdengar di antara para tamu.

“Nona Xiao Wei.”

Ketika namanya disebut, Xiao Wei bangkit perlahan.

Ia mengenakan gaun sutra berwarna ungu pucat, lembut dan tampak sederhana dari kejauhan. Namun saat cahaya lentera menyentuhnya, sulaman benang perak berbentuk burung phoenix tampak tersembunyi di antara lipatan kain—hanya terlihat jika diperhatikan dengan saksama.

Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan giok putih, tanpa emas mencolok seperti putri-putri lain. Wajahnya tersenyum tipis, anggun dan tenang, seolah ia tak menyadari setiap tatapan yang kini tertuju padanya.

Langkahnya tenang saat ia berdiri. Gaun sutra ungu pucat membalut tubuhnya sederhana namun memikat.

Tatapannya jernih, wajahnya tersenyum tipis—terlalu tenang untuk seseorang yang menjadi pusat perhatian

Justru karena itulah, ia menjadi pusat perhatian.

Setiap langkahnya tenang, setiap gerakannya anggun, seolah aula megah itu hanyalah ruang tamu kecil miliknya.

Ia menunduk hormat dengan senyum lembut yang hampir tak bercela.

Namun di balik tatapan jernih itu, tersimpan ketenangan yang terlalu dalam untuk seorang gadis seusianya.

Banyak yang terpesona pada keanggunannya malam itu.

Tak seorang pun menyadari bahwa senyum manis itu telah diperhitungkan dengan cermat.

Kaisar memandangnya dengan tatapan tenang.

“Nona Xiao, bakat apa yang hendak kau persembahkan malam ini?”

Xiao Wei menunduk hormat dan anggun.

“Hamba hanya akan memainkan sebuah lagu lama, Yang Mulia.”

Kaisar mengangguk. “Tentang apa lagu itu?”

Senyum tipis terukir di bibirnya.

Xiao Wei tersenyum lembut tanpa cela

“Tentang seekor phoenix yang menemukan takdirnya.”

jemarinya mulai memetik senar guqin.

Nada-nada rendah mengalun, lembut namun penuh tekanan tersembunyi.

Lagu itu menceritakan tentang seekor phoenix yang tak puas hidup di bayang-bayang. Tentang api yang membakar sarang lama demi membangun yang baru

Nada terakhir bergetar panjang sebelum akhirnya menghilang. Aula yang semula hening perlahan dipenuhi tepuk tangan.

Xiao Wei bangkit dan menunduk anggun, senyumnya lembut seolah ia tak memiliki maksud apa pun selain mempersembahkan hiburan.

Lalu…

Tanpa sengaja, tatapannya terarah pada Xiao Mei.Xiao Mei membalas tatapan itu dengan

senyum polos yang sama lembutnya.

Seolah ia tidak memahami makna tersembunyi di balik lagu tentang phoenix yang membakar sarangnya sendiri.

Seolah ia tidak menyadari bahwa malam ini, seseorang telah menyatakan perang secara diam-diam.

Namun di balik senyum tenangnya, mata Xiao Mei memantulkan kilau tipis—bukan kebingungan, melainkan perhitungan.

Tepuk tangan menggema di seluruh aula.

Beberapa bangsawan saling berbisik kagum, bahkan Kaisar tampak mengangguk puas.

Xiao Wei bangkit perlahan dan menunduk dalam.

“Hamba sungguh tidak pantas menerima pujian sebesar ini,” ucapnya lembut. “Bila dibandingkan dengan adik Xiao Mei, bakat hamba hanyalah setetes embun di pagi hari.

“Justru adik Xiao Mei-lah yang sejak kecil selalu menjadi kebanggaan keluarga kami.”lanjutnya lembut, “bakat hamba sungguh tak berarti apa-apa.”

Beberapa bangsawan yang pernah menghadiri pesta ulang tahun Ibu Suri saling bertukar pandang.

“Ah… yang memainkan tarian pedang itu?” bisik salah satu dari mereka.

“Benar. Yang membuat aula terdiam malam itu.”

Namun tidak sedikit yang tampak kebingungan.

“Tarian pedang? Aku tidak pernah mendengarnya.”

“Aku juga tidak hadir malam itu.”

Sekarang aula terbelah.

Setengah penasaran.

Setengah sudah punya ekspektasi.

“Oh? Jadi Nona Xiao Mei pernah mempersembahkan sesuatu di hadapan Ibu Suri?”

Xiao Mei tersenyum lembut.

“Hamba hanya mempersembahkan hiburan sederhana untuk menyenangkan Ibu Suri saat itu, Yang Mulia. Tidak layak disebut sebagai bakat istimewa.”

Kaisar mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kami ingin menyaksikan bakatmu malam ini, Nona Xiao Mei.”

Xiao Mei menunduk hormat.

“Hamba akan mempersembahkan tarian pedang sederhana, Yang Mulia. Mohon izin untuk mempersiapkan diri.”

Setelah Xiao Mei meminta izin bersiap:

Xiao Mei menunduk hormat sebelum berbalik meninggalkan aula.

Seorang pelayan istana segera mendekat.

“Nona, izinkan hamba menuntun Anda ke ruang persiapan.”

Xiao Mei sempat memperhatikan wajah pelayan itu sekilas. Ia tidak mengenalnya, namun seragamnya resmi.

Sementara di Aula

Xiao Wei menyesap tehnya perlahan.

“Semoga Kakak tidak gugup,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar beberapa bangsawan di sekitarnya.

Di Lorong Istana

Pelayan itu membawa Xiao Mei melewati lorong yang lebih sepi dari biasanya.

“Bukankah ruang persiapan berada di sisi timur?” tanya Xiao Mei lembut.

“Benar, Nona. Namun ruangan itu sedang digunakan. Yang ini lebih tenang.”

Begitu pintu tertutup, suara kunci terdengar samar dari luar.

Xiao Mei berbalik perlahan.

Aroma asing memenuhi ruangan—manis, namun menusuk halus di kepala.

Ia mencoba melangkah menuju pintu, namun pandangannya mulai berkunang.

Di lorong belakang aula, pelayan itu menunduk dalam.

“Semuanya telah sesuai rencana, Nona.”

Xiao Wei tersenyum tipis, jemarinya menyentuh bagian belakang lehernya perlahan.

“Bagus. Pastikan tidak ada yang mencurigai apa pun.”

Di dalam aula, seorang pelayan lain tanpa sengaja menumpahkan minuman ke jubah Pangeran Kedua.

“Ampun, Yang Mulia!”

Pangeran Kedua mengernyit.

“Tunjukkan tempat untuk membersihkannya.”

Dan pelayan yang sudah disogok mengarahkannya ke ruangan yang sama.

Aroma manis itu semakin pekat.

Kesadaran menjadi kabur, batas antara kewarasan dan dorongan naluri perlahan memudar.

Tak ada yang sepenuhnya sadar ketika pintu tertutup dari dalam.

Di aula, waktu terus berjalan.

Bisikan mulai terdengar ketika Xiao Mei tak kunjung kembali.

Pintu ruang ganti akhirnya terbuka dengan paksa.

Beberapa pelayan menjerit.

Wajah-wajah bangsawan berubah pucat

Sosok perempuan itu terbaring di lantai, rambutnya terurai berantakan.

Aroma dupa masih menggantung di udara.

Di sampingnya, seorang pria berpakaian bangsawan tampak setengah sadar.

“Ini… ini tidak mungkin…” bisik seseorang.

Aula yang megah itu seketika berubah menjadi lautan kegemparan.

Tengah kekacauan itu, sebuah senyum tipis sempat terukir di bibir seseorang—sebelum segera menghilang.

...-----------------------------------------...

BERSAMBUNG............

Sebelum itu ga kerasa udah mau bulan puasaaaaa

di bulan puasa nanti aku akan usahain untuk upload terussss

Maaf yaa kalau aku jarang update doain aku disini sinyalnya bagus terus 😳🤓

Jangan lupa like and komen nyaaaa !!!!

Jangan lupa juga vote dan jadikan favorit yaaa!!!!

bye love you all 💋♥️♥️😍

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apaa yaa ceritana kaya bertumpuk-tumpuk, ga runtut, padahal bacana pelan 🤧
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmmm
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
ini ceritana jaman kerajaan cina apa barat sih 🤔
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Rencana jahatmu ga akan berhasil
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mantuul 😊
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mayan lah
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apa ga dikasih bekel gitu itu setelah transmigrasi
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Lanjuutt
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Okeh nyimak
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Cakeepp
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mampir
Retno Palupi
kata kata nya d ulang apa babnya diulang? jd tambah pusing
evi carolin
terlalu banyak bermonolog dalam hati n pikiran ,ga ada strategi sama sekali
Retno Palupi
permainan blm selesai kok terus, kata katanya banyak yg diulang
Retno Palupi
ini bab nya d ulang g sih
Retno Palupi
MC nya terlalu banyak mikir tp g ada solusi
Meeraa Biyyu
MC mleyot
Andira
👍
Dede Bleher
kunyit emng bisa menyembuhkan jerawat dan luka.
kucingku aja yg pulang dengan kepala bocor aku borehin dengan kunyit.
tp terlambat krna Bakterien sudah masuk ke jantung.
luka emng kering.
itu mpuuus ampe jejeritan nahan pediih dr borehan kunyit
Dedek Azha
terlalu berbelit"....
mana prajurin bayanganx strategix jgk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!