NovelToon NovelToon
MY ALTER EGO

MY ALTER EGO

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Judul: My alter ego

Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.

Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Skakmat Sang CEO

Langkah kakinya tidak melambat sedikit pun saat menyusuri aspal dermaga yang retak-retak.

Setiap bunyi ketukan hak sepatunya menjadi penanda berakhirnya kekuasaan para penguasa bayangan di tempat kumuh ini.

Ia baru saja menaklukkan pembunuh bayaran terlatih hanya dengan bermodalkan gertakan digital dan sebuah tablet.

Tidak ada satu pun pria di dermaga itu yang berani menatap matanya saat ia berjalan pergi.

Mereka semua sadar bahwa wanita yang mereka hadapi bukanlah manusia biasa, melainkan predator tanpa belas kasihan.

Sebuah taksi kosong yang kebetulan melintas segera dicegatnya dengan satu lambaian tangan tegas.

Hira membuka pintu penumpang, meluncur masuk ke dalam jok kulit usang kendaraan tersebut.

"Gedung Pusat Gemilang, sekarang juga."

Sopir taksi itu mengangguk cepat, menginjak pedal gas tanpa berani menatap wajah penumpangnya melalui kaca spion.

Hira menyandarkan punggungnya ke jok, mengeluarkan tablet digital dari dalam tasnya.

Ia harus merapikan kembali skrip enkripsinya sebelum berhadapan langsung dengan Teran Honigan.

{Waktu yang kumiliki tidak banyak sebelum Teran menyadari ada yang tidak beres dengan durasi kepergianku.}

Jari lentiknya bergerak lincah di atas layar, mengetikkan serangkaian kode kompleks untuk mengunci permanen data di dalam flash drive baja.

Ia tidak akan membiarkan senjata utamanya diretas kembali oleh teknisi IT rendahan milik perusahaan.

Hira menyambungkan kembali sistem pelacakan denyut jantung ke dalam protokol enkripsi utama.

Sebuah senyum puas terukir di bibirnya saat melihat barisan teks hijau tersebut.

Tidak akan ada yang bisa memaksa atau membunuhnya untuk mendapatkan data ini.

Bahkan polisi sekalipun tidak akan bisa menembus dinding pertahanan biometrik yang baru saja ia bangun.

{Teran pikir dia sedang mengendalikan seorang pion bodoh yang bisa dikorbankan kapan saja.}

Hira menatap layar tabletnya yang kini menampilkan rute perjalanan taksi menuju pusat kota.

{Dia lupa bahwa pion yang berhasil mencapai ujung papan catur akan berubah menjadi seorang ratu.}

Jalanan kota mulai dipadati oleh kendaraan lain yang berlomba pulang setelah jam kerja berakhir.

Hira mengabaikan kemacetan lalu lintas, fokusnya hanya tertuju pada strategi eksekusi akhir.

Ia harus memastikan pergantian kekuasaan malam ini terjadi tanpa memicu kepanikan massal di lantai bursa.

Perusahaan ini adalah tambang emas yang terlalu berharga untuk dihancurkan begitu saja.

||||

Gedung pencakar langit raksasa itu berdiri menjulang di pusat kota.

Hira melangkah keluar dari taksi, berjalan memasuki lobi utama dengan postur yang memancarkan dominasi mutlak.

Beberapa karyawan yang berpapasan segera menundukkan kepala, enggan mencari masalah dengan sang Eksekutif Independen.

Keheningan menyelimuti langkah kakinya, membuktikan betapa efektifnya teror yang telah ia tebar sepanjang hari ini.

Hira melangkah lurus menuju lift perak khusus, menempelkan kartu aksesnya tanpa keraguan sedikit pun.

Pintu baja itu bergeser terbuka, membawanya melesat naik menuju lantai puncak tempat singgasana Teran Honigan berada.

{Dia pasti sedang duduk manis, menunggu anjing suruhannya kembali membawa hasil buruan.}

Ting.

Pintu lift terbuka lebar di koridor melingkar yang sunyi senyap.

Hira melangkah keluar, berjalan menuju sepasang pintu kayu jati raksasa di ujung lorong.

Leo tidak terlihat berjaga di depan pintu tersebut, sebuah kejanggalan kecil yang segera dicatat oleh insting waspada Hira.

Biasanya asisten setia itu tidak pernah meninggalkan posnya saat bos besarnya sedang berada di dalam ruangan.

Hira menekan gagang pintu, mendorongnya terbuka tanpa mengetuk sama sekali.

Ruangan direktur utama itu tampak lengang dan sunyi.

Teran duduk di balik meja kerja marmer hitamnya, memegang sebuah pena mahal dengan ekspresi wajah yang sangat kaku.

"Kau menghabiskan waktu dua jam lebih lama dari yang kuperkirakan, Hira."

Pria itu meletakkan penanya, menatap tajam ke arah Hira yang melangkah masuk perlahan.

"Banyak hal tidak terduga terjadi saat kau mencoba menyapu kotoran orang lain, Teran."

Hira menarik kursi kulit di seberang meja, duduk menyilangkan kakinya dengan sangat elegan.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan flash drive baja, meletakkannya tepat di tengah-tengah meja marmer tersebut.

"Semua dokumen fiktif yang kau minta sudah kuotorisasi dengan ID Eksekutif Independen."

Mata Teran menyipit, menatap flash drive baja itu lekat-lekat.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengambil benda logam tersebut dengan gerakan perlahan.

"Kau mengeksekusinya di luar gedung ini."

"Sistem jaringan lokalmu terus-menerus menolak sinkronisasi karena perlindungan firewall khusus, jadi aku harus menggunakan jaringan satelit eksternal."

Teran mendengus pelan, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak memiliki kehangatan.

"Alasan yang sangat masuk akal, Nyonya Lione."

Pria itu membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah laptop tipis, menyambungkan flash drive baja tersebut ke salah satu port yang tersedia.

Layar laptop itu seketika menampilkan barisan kode panjang yang bergerak cepat.

Hira menopang dagunya dengan satu tangan, mengamati setiap gerakan pria di hadapannya dengan sangat teliti.

{Lihat saja, singa arogan ini akan segera menyadari bahwa kandangnya sudah kukunci dari luar.}

Teran mengetikkan beberapa baris kata sandi dengan cepat untuk mengakses direktori utama.

Gerakan tangan pria itu tiba-tiba terhenti di atas keyboard.

Rahang Teran mengeras seketika, otot-otot di lehernya menonjol keluar menahan amarah yang meledak.

"Apa yang sudah kau lakukan pada dataku?!"

Pria itu memutar layar laptopnya dengan kasar hingga menghadap ke arah Hira.

"Aku hanya memberikan sedikit sentuhan perlindungan tambahan, Teran."

Hira tersenyum sangat manis, membalas tatapan membunuh pria itu tanpa berkedip.

"Kau memblokir aksesku ke dalam server pribadiku sendiri!"

Teran berdiri dari kursinya, menggebrak meja marmer itu dengan kedua tangannya.

"Kau pikir aku bodoh, Teran?"

Hira ikut berdiri, menumpukan kedua tangannya di atas meja, menantang postur intimidasi pria tersebut.

"Kau merekrutku, memberiku kekuasaan absolut, menyuruhku mengotorisasi semua kontrak fiktif ini, hanya untuk menjadikanku kambing hitam saat kejaksaan agung datang."

Wajah Teran memucat sesaat, namun arogansinya dengan cepat kembali mengambil alih keadaan.

"Kau hanyalah staf rendahan yang kuberi mahkota, berani-beraninya kau menggigit tangan yang memberimu makan!"

"Tanganmu tidak pernah berniat memberiku makan, Teran."

Hira melangkah maju, memutari meja marmer hitam itu perlahan.

"Tanganmu sedang memasangkan tali tambang di leherku, bersiap menendang kursi di bawah kakiku."

Teran memutar tubuhnya, mengikuti pergerakan Hira dengan tatapan waspada.

"Buka enkripsi itu sekarang juga, atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu ke ruang interogasi basemen."

Hira tertawa pelan, suaranya menggema sangat merdu di ruangan luas tersebut.

"Kau bisa memanggil seluruh petugas keamanan di gedung ini, tapi mereka tidak akan bisa menembus enkripsi biometrik yang terhubung langsung dengan detak jantungku."

Hira mengangkat pergelangan tangannya, memperlihatkan smartwatch yang melingkar sempurna di sana.

"Jika kau menyakitiku, atau jika jantungku berhenti berdetak, seluruh bukti pencucian uangmu akan terkirim otomatis ke empat puluh lima kantor redaksi berita nasional."

Langkah Teran terhenti, tubuh pria itu menegang kaku layaknya patung.

"Kau tidak akan berani melakukannya."

"Oh, aku sudah melakukannya, Teran."

Hira berhenti tepat di samping kursi kebesaran CEO tersebut, menyentuh sandaran kulitnya dengan ujung jari.

"Bahkan, aku sudah bertemu dengan anjing-anjing penjaga milik para politisi yang menampung uang kotormu di dermaga utara satu jam yang lalu."

Mata hitam Teran terbelalak maksimal, sebuah keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Kau menemui mereka?"

"Mereka datang untuk mengambil buku besar itu dariku, tapi aku memberikan mereka penawaran yang jauh lebih menarik."

Hira mendudukkan dirinya di kursi kebesaran milik Teran, menyilangkan kakinya dengan penuh kemenangan.

"Aku mengatakan pada mereka bahwa aku akan mengambil alih posisi CEO, dan menjaga jalur uang mereka tetap aman, jauh lebih bersih daripada caramu."

"Mereka tidak akan pernah setuju bekerja sama dengan orang luar!"

"Mereka sudah setuju, Teran."

Hira mengambil tablet digital dari dalam tasnya, melemparkannya ke atas meja marmer.

Layar benda itu menyala, menampilkan sebuah pesan masuk yang baru saja diterima.

Teran menatap barisan kalimat tersebut dengan napas yang memburu.

Kekuasaan mutlak yang selama ini ia genggam hancur berkeping-keping dalam satu hari.

Politisi yang selama ini melindunginya telah membuangnya begitu saja demi keamanan mereka sendiri.

{Monster besar ini akhirnya menyadari bahwa dia sudah kehilangan taringnya.}

"Sekarang, mari kita bicara tentang sertifikat saham lima belas persen yang kau janjikan padaku tadi sore."

Hira menopang dagunya, menatap Teran dengan seringai predator yang mematikan.

"Kurasa angka itu terlalu kecil untuk seseorang yang kini memegang kendali atas hidup dan matimu."

Teran mengepalkan tangannya kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih menahan amarah yang tak tersalurkan.

"Apa yang kau inginkan, Hira?"

"Aku ingin seluruh saham pribadimu, lima puluh satu persen kepemilikan mutlak atas PT. Gemilang Solusi Bersama."

Hira memberikan perintah tanpa ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.

"Kau gila, aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaan ini padamu!"

"Kalau begitu bersiaplah memakai baju tahanan besok pagi, karena aku akan mencabut enkripsinya dan menyerahkan flash drive ini kepada kejaksaan agung dengan namamu sebagai tersangka utama."

Teran memejamkan matanya rapat-rapat, seluruh tubuhnya bergetar hebat menerima kekalahan telak ini.

"Leo akan menyiapkan dokumen pengalihan sahamnya malam ini juga."

"Keputusan yang sangat cerdas, Mantan CEO."

Hira bersandar di kursi barunya, meresapi setiap detik dominasi yang kini berada di genggamannya.

Namun, sebuah bunyi ketukan pelan dari arah pintu raksasa itu menghentikan euforia kemenangan Hira.

Pintu kayu jati tersebut terbuka perlahan, menampilkan sosok Leo yang berdiri dengan wajah luar biasa pucat.

"Maaf mengganggu, Pak Teran, Bu Hira."

Asisten berkacamata itu menelan ludah dengan susah payah, tangannya mencengkeram sebuah map merah dengan sangat erat.

"Tim audit dari kejaksaan agung baru saja memasuki lobi utama gedung kita dengan surat penyitaan resmi."

Hira menegakkan punggungnya seketika, matanya menajam memotong jarak menuju Leo.

"Audit dijadwalkan awal bulan depan, kenapa mereka datang malam ini?"

Teran tertawa keras, tawa yang penuh dengan keputusasaan sekaligus kelicikan balas dendam.

"Karena aku sudah menekan tombol laporan pelanggaran secara anonim saat kau belum kembali tadi, Hira."

Pria itu menatap Hira dengan kilat mata yang sangat mengerikan.

"Kau mungkin memegang data itu, tapi kejaksaan akan menyita seluruh aset perusahaan ini sebelum kau bisa memindahkannya."

Teran menyandarkan tubuhnya ke meja, menikmati keterkejutan yang baru saja ia ciptakan.

"Jika aku harus hancur, aku pastikan kau ikut hancur bersamaku ke dasar neraka."

1
Kustri
hah! sdh tamat
koq gk rela ya😊
tp mush"nya sdh takluk smua sih
yoweslah...👍
JihanSan: makasih k udh baca. masih banyak kurangnya. kalo berkenan, baca novel baruku juga ya. hehehe
total 1 replies
Kustri
hai... hai... siapa dia?
lawan ato kawan nih... apa jgn" malah menjemput jodoh🤭
Kustri
qu hampir lupa alur'a
baca dl part sblm'a
Kustri
ayo UP lg💪
lg seru nih
Kustri
koq msh siang
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
Kustri
dilanjut bsk ra, sdh saat'a pulang
Kustri
cepet bgt hira dpt smua info penyelewengan🤔🤔🤔
kodammu luar biasa!
Kustri
💪💪💪thor
Kustri
👏👏👏
🤝
Kustri
vote u hira💪
Kustri
dgn senang hati kutrima tantanganmu presdir💪
Kustri
klo teran cenayang pasti bisa merasakan alter ego'a hira🤣
Kustri
☕dl hira.... semangat💪
Kustri
ketemu jodoh🤣
Kustri
hlaaa... istri'a sdg berduka bukan'a ditemeni ini malah nyari hiburan sendiri, dasar suami durhaka🤣👊👊👊
Kustri
siapa yg kirim foto yaa🤔🤔🤔
Kustri
tunggu... tunggu berarti hira & suami 1 bos gitu thor🤔
ampe qu ulang baca part 1 hlo
JihanSan: betul cekali teman
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!