Saat ia terbangun pertama kali ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu kezaman kuno. Yang lebih membuat dirinya terkejut ia tidak hanya terlempar kezaman biasa, tapi zaman Ajaib yang membuat dia sangat takjub.
"Mereka bukanlah manusia biasa, tapi manusia serigala?"
Saat ia masih belum terbiasa untuk hidup dizaman ini cobaan malah datang silih berganti. Abella tidak hanya harus membatu kakaknya yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya, tapi dia juga harus menghadapi kegilaan pangeran dari bangsa jin. Belum lagi para siluman dan Iblis yang selalu memburunya.
Gadis yang dulu dianggap lemah entah sejak kapan menjadi keinginan semua orang.
Mampukah ia menjalani hidup barunya?
Simak terus cerita author ya, semoga membantu pembaca terhibur 🙏😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintahnya dukun suku
Sinar bulan purnama adalah suatu yang sakral bagi kaum serigala. orang-orang akan melakukan pemujaan atas berkah dan kedamaian kaum mereka.
Sama seperti saat ini, semua orang mengelilingi api unggun untuk merayakan doa bersama untuk tuhan. Dengan di pimpin oleh dukun suku semua orang mengucapkan kalimat pujian dan sanjungan untuk tuhan yang memberikan keselamatan.
Sebagai putri suku tentu saja Abella turut hadir. Hanya saja dia cuma menyimak, ia tidak mengerti dengan semua ritual yang dilakukan dukun suku.
"Malam yang indah, setelah dua malam sebelumnya kita menghadapi ujian. Malam ini semua pujian terlah kita panjatkan pada sang pencipta kehidupan." Dukun suku mulai berpidato.
"Malam ini beberapa dari suku kita harus pergi ke puncak bukit untuk meletakkan persembahan. Seperti tahun sebelumnya, hanya yang terkuat yang akan menerima perintah mulia ini." ucap dukun suku melanjutkan.
Meletakkan persembahan diatas bukit yang tinggi dibutuhkan kekuatan yang besar untuk sampai kesana. Selain Medan yang cukup suli masalah lainnya adalah takutnya musuh datang menyerang.
Jadi bertahun-tahun sudah dilakukan, dan tahun ini tetap sama saja. Hanya saja ada satu kalimat dari Dukun suku yang membuat semua orang terkejut.
"Tahun ini adalah tahun yang cukup sulit kita lewati, apalagi tuan muda Oscar sedang sakit. Karena itu malam ini kita juga harusnya memberikan persembahan kusus untuk kesembuhan tuan muda Oscar,"
Tuan Dario mengangguk setuju. Dengan meminta pada para Dewi mungkin ada keajaiban untuk membuat putranya kembali terbangun dari tidur panjangnya.
"Aku setuju. Kalau begitu biar aku ikut bersama para pemuda yang lain." ujarnya bersemangat. Tapi gelengan dukun suku membuatnya terdiam
"Tuan Dario, apa anda lupa? Yang mengantarkan persembahan haruslah para pemuda dan gadis yang masih suci, mereka yang belum memiliki pasanganlah yang bisa melakukannya."
Sudah menjadi adat suku dari nenek moyang mereka seperti itu, tempat yang suci harus dilakukan oleh orang yang suci. jika melanggar hukum alam yang akan menanti, mereka sangat percaya dengan berkah dari dewa.
"Tapi siapa yang akan melakukannya?"
Tuan Dario tahu persembahan untuk anggota keluarganya tak mungkin dilakukan oleh orang lain. sekarang ia hanya berpikir satu orang, putrinya. Tapi mengingat Abella adalah gadis yang lemah tanpa diberkahi kekuatan apapun, ia tidak berani melepaskannya untuk berpetualang di hutan liar.
"Nona Abella yang akan melakukannya..." dukun suku mengangguk mantap,
"Tapi putriku tak bisa pergi jauh tanpa pengawasan, dia bisa terluka atau ditangkap musuh."
Gadis yang tak memiliki kekuatan spiritual berkelana di alam liar yang penuh bahaya, semua orang berpikir sama seperti tuan Dario.
"Tapi kita tidak punya pilihan, pergi atau tidak sama sekali."
***
Sunyi terasa menakutkan, gemercik suara air menambah kesan yang menenangkan. Abella berpegang erat, ia tak ingin jatuh dari atas panggung tunangannya.
"Tuan Dallen, pelan lah sedikit. Apa kau ingin melemparkan?" Abella tidak tahu Serigala ini akan membawanya begitu ringan dan berlari kencang di balik pohon-pohon ini.
Ia merasa takut akan jatuh, apalagi ia tidak memiliki pengalaman apapun menaiki seokor serigala.
Berlahan ia mengangkat tangannya untuk sekedar mengelus bulu halus milik serigala Dallen. Ia pikir serigala memiliki bulu yang sedikit kasar, tapi siapa sangka saat menyentuhnya ia merasa itu sangat lembut.
"Bulu tubuhmu sangat halus sekali, aku sedikit iri." gumamnya lirih.
Sepertinya serigala Dallen tak senang bulunya disentuh sembarangan, ia mengeram jengkel memperlihatkan taringnya yang tajam. Seakan pria itu ingin mengoyak tubuhnya jika berani melakukannya lagi.
Tapi Abella tak takut, ia terkekeh kecil. Lalu ia mengoda pria itu, "kamu pemarah sekali."
"Apa kau tau? Aku mulai berpikir, pria sepertimu yang pemarah dan mudah kesal tidak cocok dengan ku yang lemah lembut ini." Abella sedikit menyombongkan dirinya.
"Tuan Dallen, bagaimana setelah kita pulang nanti kita bicara dengan ayah untuk membatalkan rencana pernikahan ini." ujarnya lagi.
Tapi tak ada jawaban. Hanya suara Geraman kecil dari Tuan Dallen yang menjawab disela-sela kesunyian hutan dimalam itu.
Abella mulai merasa bosan. Rasa dingin juga mulai menyerang tubuhnya, jika saja ia tak memakai jubah besar ayahnya mungkin sekarang ia sudah mengigil kedinginan.
Dua serigala lain yang ikut bersama mereka telah berlari lebih dulu tanpa menunggu mereka, sedang taun Dallen yang membawa dirinya tentu saja tak biasa berlari lebih cepat, jadi mereka tertinggal cukup jauh.
Disela-sela kesunyian yang terdengar hanya suara hewan, ia sayup-sayup juga mendengar lolongan serigala yang mengantarkan perjalanan mereka.
"aku tidak percaya hari ini benar-benar berpetualang bersama serigala-serigala ini. hidup terkadang benar-benar lucu"
****