Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bualan berondong
Hari Minggu pagi yang cerah di lapangan golf eksklusif tengah kota menjadi arena pembuktian berikutnya bagi seorang Gavin Alexander Sterling. Di bawah hamparan langit biru yang bersih, Fiki Erros sudah berdiri gagah mengenakan kaus polo putih, topi golf, dan menggenggam stik mahal di tangannya. Di sampingnya, Aruna melangkah dengan perasaan cemas yang membubung tinggi. Netra almond -nya terus-menerus melirik ke arah Gavin yang berjalan santai di sebelah mereka.
Gavin pagi ini terlihat sangat tampan menawan, mengenakan pakaian golf kasual lengkap dengan sarung tangan kulitnya. Namun, jika diperhatikan dengan sangat jeli, ada satu keganjilan besar, bahu kirinya tampak sedikit lebih tebal karena balutan perban medis berlapis-lapis di balik baju polonya, dan gerakan tangan kirinya pun terlihat agak kaku.
"Gavin, kamu beneran nggak apa-apa ikut main?" bisik Aruna ketus, namun nada suaranya dipenuhi oleh rasa khawatir yang pekat saat ayahnya sedang asyik memeriksa arah angin di depan.
"Jahitan kamu itu baru berumur empat hari! Kalau sampai benang jahitannya lepas di lapangan golf, saya nggak mau, ya, repot-repot ikut mengurus kamu ke rumah sakit!"
Gavin menoleh, melempar senyum miring asimetris andalannya yang super jenaka dan menyebalkan.
"Tenang, Kak Calon Istri," bisik Gavin balik dengan suara baritonnya yang rendah. "Demi dapet restu mutlak dari calon mertua, jangankan jahitan lepas, tulang geser pun bakal gue tahan sampai akhir. Lagian, liat Kakak pakai rok golf gini bikin motivasi swing gue langsung naik dua ratus persen."
"Gavin! Jaga omongan kamu, ya!" Wajah Aruna seketika memerah padam bercampur gemas. Tangannya sudah gatal ingin mencubit pinggang pemuda itu.
"Wah, Gavin! Ayo, giliran kamu yang tee off pertama!" seru Fiki dengan suara menggelegar penuh semangat, melambaikan tangan memanggil calon menantu kesayangannya.
Gavin berjalan mendekati titik pemukulan dengan gaya penuh percaya diri layaknya pemain profesional. Ia mengambil stik golf dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya terangkat agak canggung. Fiki yang menangkap gerak-gerik aneh itu langsung mengernyitkan dahinya.
"Lho, Gavin? Bahu kiri kamu kenapa itu? Kok kaku banget kayak kanebo kering?" tanya Fiki bingung.
Aruna langsung menahan napasnya seketika. Jantungnya berdegup kencang, takut setengah mati jika rahasia baku tembak berdarah di pelabuhan bawah tanah Mahesa Group semalam runtuh di depan ayahnya. Namun, Gavin dengan otak bisnisnya yang luar biasa encer langsung merakit kebohongan instan dengan wajah yang dibuat super polos tanpa dosa.
"Oh, ini, Om. Kemarin pas di gudang logistik starup saya, ada karyawan baru yang kurang hati-hati pas lagi memindahkan palet barang berukuran besar," dusta Gavin dengan nada suara yang dibuat serendah hati mungkin.
"Refleks saya langsung pasang badan buat melindungi dokumen kontrak kerja sama di meja biar nggak rusak tertimpa. Alhasil, bahu saya agak ketiban ujung palet, Om. Tapi demi main golf sama pebisnis senior sekelas Om Fiki, cedera kecil begini sih nggak berasa sama sekali!"
Mendengar alibi super heroik yang berbalut dedikasi kerja tingkat tinggi itu, mata Fiki langsung berbinar-binar penuh kekaguman. Pria paruh baya itu langsung menepuk-nepuk punggung Gavin yang sehat dengan sangat bangga.
"Luar biasa! Ini baru laki-laki sejati! Bertanggung jawab penuh sama kerjaan dan aset perusahaan! Nggak kayak anak-anak muda zaman sekarang yang kena gores dikit langsung izin cuti seminggu!"
Aruna yang berdiri di belakang mereka hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia hampir saja mendengus keras mendengar bagaimana ayahnya dengan sangat mudah dan telan mentah-mentah termakan bualan manis sang berondong mafia.
"Yaudah, kalau gitu kamu pelan-pelan saja swing-nya, Vin," ujar Fiki dengan nada yang luar biasa ramah.Gavin mengambil posisi, mengunci pandangan tajamnya pada bola putih di depannya. Ia menarik stiknya ke belakang hanya menggunakan kekuatan satu setengah tangan, lalu melakukan swing dengan memutar pinggangnya secara maksimal demi meminimalkan tarikan otot pada bahu kirinya yang terluka.
Plakkk!
Suara hantaman stik bergema nyaring. Bola golf melesat tinggi, lurus membelah angin, dan mendarat mulus di area fairway yang cukup jauh dari titik awal.
"Hahaha! Good shot, Gavin! Satu tangan saja pukulannya bisa sebagus ini!" puji Fiki sembari bertepuk tangan heboh, benar-benar terpesona dengan bakat pemuda 19 tahun itu.
Namun, tepat setelah bola mendarat, Gavin mendadak mematung dengan posisi stik masih menggantung di atas. Wajah tampannya yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sedikit meringis menahan sesuatu yang menyiksa. Di bawah pandangan Fiki yang masih fokus melihat sisa laju bola, Aruna bisa melihat Gavin diam-diam menggigit bibir bawahnya erat-erat, sementara tangan kanannya meraba bahu kiri dengan sangat pelan.
Aruna buru-buru berlari mendekat, berpura-pura membawakan handuk kecil padahal sepasang mata almond-nya langsung melotot tajam menatap Gavin dari jarak dekat.
"Tuh, kan! Benang jahitannya ketarik, ya?! Rasain! Makanya jangan sok jagoan di depan Papa!" bisik Aruna gemas penuh penekanan.
Namun, berbeda dengan ucapannya, tangan kanan Aruna dengan sangat lembut mengusap punggung Gavin untuk membantu menstabilkan posisi tubuh pemuda itu yang agak goyah.Gavin melirik Aruna dengan sudut matanya yang agak berair menahan nyeri hebat, namun senyum miringnya sama sekali tidak hilang.
"Aman, Kak... perbannya tebal kok," bisik Gavin lirih di dekat telinga Aruna.
"Tapi nanti pas sudah di dalam mobil, tolong ditiupin ya lukanya biar cepat sembuh..."Aruna hanya bisa menarik napas dalam-dalam demi meredakan gejolak di dadanya.
Ia menyadari satu hal, meskipun berondong di sebelahnya ini bisa memimpin pertempuran berdarah yang mengerikan di pelabuhan, di hadapannya Gavin akan selalu menjadi bocah menggemaskan yang tahu persis cara meruntuhkan dinding gengsinya.
Setelah puas bermain beberapa hole, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di paviliun terbuka. Aruna bergerak telaten menyerahkan sebotol air mineral dingin pada Gavin. Namun, baru saja Gavin selesai meneguk air mineral tersebut, suara deru keras dari sebuah golf cart yang dikemudikan secara ugal-ugalan tiba-tiba memecah ketenangan lapangan.
Ckiiiiit!
Kendaraan kecil itu berhenti mendadak hingga bannya mencicit keras di atas rumput hijau yang rapi. Sosok Reyhan dan Evan melompat turun dari kursi kemudi dengan wajah berkerut masai, masih mengenakan celana pendek kasual dan kaus oblong longgar.
Sepasang mata mereka langsung melotot tajam saat mendapati pemandangan ajaib di depannya.Gavin sedang berdiri dekat sekali dengan Aruna dengan gestur intim, sementara Fiki Erros tersenyum sumringah duduk di sebelah mereka seolah sedang bersama menantu idaman.
"Wah, wah, wah... pantesan aja!" seru Evan lantang sambil berkacak pinggang, melangkah lebar-lebar menghampiri paviliun mereka dengan ekspresi tidak terima.
"Gue teleponin dari subuh kagak diangkat-angkat. Di grup chat bilangnya ada urusan darurat startup sampai batalin janji main PS di rumah gue. Ternyata urusan darurat lo itu... Main golf sama bokap gue, Vin?!"
Fiki langsung mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap keponakannya yang datang tanpa sopan santun itu dengan pandangan terganggu. sementara itu, mata Evan dan Reyhan bergantian menatap tajam ke arah Gavin dan Aruna yang mendadak salah tingkah di tempat mereka.
***