Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08 - Gagal Modus, Malah Luluh
Sepertinya mulai saat ini, Arion dan Sheril mulai melukis kenangan di kafe tempat pertama kali Sheril dan Arion saling berbicara.
Sheril tidak berniat mengajak Arion mengerjakan tugas kelompok biologi mereka di rumahnya, begitu juga dengan Arion yang masih ragu untuk mengajak Sheril ke rumahnya.
Alasan utama Sheril tidak berniat mengajak Arion ke rumahnya karena Ia tidak siap untuk di interogasi habis-habisan oleh Dewi.
Akhirnya mereka berdua sepakat mengerjakan tugas di kafe itu. Tentu saja mereka mengerjakannya di kursi kesukaan Sheril, berhubung hari Jum'at ini merupakan jadwal Sheril pergi ke kafe. Bedanya Ia kemari untuk mengerjakan tugas kelompok, bukan mengetik kalimat-kalimat imajinasinya.
Awalnya Sheril mengusulkan untuk di kerjakan pada saat akhir pekan, tapi Arion memberitahu bahwa setiap akhir pekan Ia sudah mempunyai jadwal yang telah di susun.
Memang pertamanya Sheril tidak percaya, siapa sih orang di dunia ini yang tidak memiliki waktu luang di akhir pekan kecuali Rio?
Tapi Sheril tahu jika Arion belum pernah bercanda dengannya membuat Sheril harus percaya dengan alasan itu.
Sebenarnya Sheril ingin bertanya lebih lanjut apa yang Arion lakukan pada saat akhir pekan sampai tidak bisa pergi. Namun Sheril teringat jika orang barat menjunjung tinggi privasi, rasanya tak sopan jika Sheril menanyakan hal yang bersifat pribadi itu kepada Arion.
Andai saja Arion sudah fasih berbahasa Indonesia, Sheril yakin Ia akan lebih sering bertukar pikiran dengan Arion. Pikiran orang barat memang lebih terbuka, dan mulai hari ini Sheril suka ketika Ia dan Arion mendiskusikan sesuatu tentang apapun itu.
Sheril meletakkan buku paket di atas meja. Baru satu bab yang Ia selesaikan bersama Arion tapi Sheril merasa jika otaknya sudah mengebul. Padahal Ia hanya di suruh membuat contoh dan kesimpulan dari setiap bab.
Di liriknya gelas minuman Sheril dan Arion yang sama-sama sudah kosong. Sheril berdiri dari duduknya dan pergi untuk memesan makanan serta minuman lagi.
Setelah menunggu bermenit-menit pesanan jadi, Sheril kembali ke meja dengan nampan makanan di tangannya.
"Nih, lo harus banget cobain ini. Nasi goreng di kafe ini rasanya hampir sama kayak bikinan nyokap gue, habisin ya." Sheril menyodorkan sepiring nasi goreng.
Alis Arion terangkat, menatap aneh makanan yang belum pernah ia santap sekalipun.
"Lo belum sah tinggal di Indonesia kalau belum makan nasi goreng. 'sah' itu persamaan kata 'resmi'." lanjut Sheril.
"Kata siapa?" Tanya Arion tidak percaya.
Sheril mengedikkan bahunya tak acuh. "Kata gue nih barusan,"
Toh, tentang barusan Sheril hanya mengada-ada saja.
Membiarkan Arion mencoba makanan khas Indonesia, Sheril melanjutkan kembali mengerjakan tugas mereka.
Lagu Me! yang di nyanyikan oleh Taylor Swift dan Brendon Urie mengalun di kafe ini. Setiap Sheril berkunjung, kafe ini pasti menyalakan semua lagu kesukaan Sheril.
And trouble follow gonna where I go
And there's a lot of cool chicks out theres
But one of these thing is not like the other
Like a rainbow with all colors
Baby doll when it comes to a lover
I promise that you'll never find another like
Me ooh
Refleks, Sheril bernyanyi mengikuti suara mbak Taylor. Sejenak Ia melupakan kehadiran Arion di sampingnya dengan sedikit bernyanyi, menggoyangkan badannya mengikuti alunan musik sang diva.
Meskipun suara Sheril tidak semerdu mbak Raisa Andriana atau mbak Isyana Sarasvati, bila Sheril bernyanyi dengan tulus, suaranya lumayan cukup enak untuk didengar.
I'm the only one of you
Baby that's the fun of you
And I promise that nobody's gonna love you like me
Bagian lirik ini, sebenarnya Sheril tidak sepenuhnya bernyanyi, Ia sedang menyindir lelaki yang duduk di sebelahnya.
Musik mbak Taylor Swift berakhir, di gantikan lagu Señorita yang di nyanyikan oleh Shawn Mendes dan Camila Cabello. Ah, mengingat pasangan itu Sheril berharap jika keduanya segera menjalin hubungan serius.
Toh jalan bareng udah, pergi ke acara bareng udah, gandengan udah, pelukan udah, chemistry sudah dapat. Apa lagi yang kurang? Bikin fans macam Sheril gigit jari aja.
Kalau Sheril sudah terhanyut ke dalam lagu-lagu kesukaannya yang tengah di putar, selain sedang menuangkan imajinasinya Sheril menjadi mudah teralihkan. Buktinya Ia masih bernyanyi mengikuti alunan musik.
Menurut Arion, sejak pertama kali mereka berbicara, pelafalan bahasa Inggris Sheril memang cukup baik.
Setelah lagu Señorita berakhir, Sheril baru ingat jika kali ini Ia mengunjungi kafe ini tidak seorang diri.
Sheril menoleh ke arah Arion, lelaki itu sudah menghabiskan sepiring nasi goreng seperti yang Sheril perintahkan.
"Gimana rasanya?" Tanya Sheril penasaran.
Andai saja Ia menjadi seorang youtuber pasti saat ini ia akan membuat konten yang berjudul 'REAKSI ORANG AMERIKA NYOBAIN NASI GORENG'.
Melihat raut wajah Arion yang masih bimbang, Sheril berkata, "One until Ten," ujarnya sebelum Arion memberikan jawaban.
Arion bergumam, dari pada mendeskripsikan rasa nasi goreng yang masih sangat asing di lidahnya Sheril mempermudah Arion untuk menjawab dengan mengukur rasa nilai nasi goreng di lidah Arion menggunakan angka.
"Eight?" Jawab Arion dengan nada tak yakin.
"Gue gak suka makan nasi, rasa rempah-rempahnya masih asing di lidah gue," komentar Arion.
Sheril menyunggingkan senyumnya. "Gak suka makan nasi tapi habis tuh satu piring?" Godanya.
"Lo yang suruh," Arion mencari alasan lain.
Melihat raut wajah Arion kebingungan membuat Sheril tertawa, gadis itu memang mudah sekali tertawa hanya karena hal-hal sepele.
"Biar gue yang kerjain,"
Arion mengambil alih laptop dan buku paket dari tangan Sheril, Ia memotret buku paket terlebih dahulu sebelum mengerjakannya. Ternyata oh ternyata, Arion melakukan translator agar cepat menyelesaikan tugasnya.
Sheril menumpu sikutnya di atas meja, telapak tangannya menangkup pipinya sebelah, memandangi ciptaan Tuhan yang paling indah di hadapannya saat ini.
Info penting, Arion ternyata menggunakan kacamata jika sedang berkendara, menggunakan laptop atau hal-hal lainnya. Sheril baru tahu fakta tentang kacamata Arion hari ini, sebelumnya selama di sekolah Arion tidak pernah menggunakan kacamatanya.
"Yon, gue... Boleh minta tolong?" Pinta Sheril ragu-ragu, bahkan gadis itu sampai menggigit bibir dalamnya sendiri.
Arion menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard laptop. Tumben sekali seorang Sheril meminta bantuan. Selama mengenal Sheril, setahunya gadis itu tidak pernah meminta bantuannya.
"What's happend?" Tanya Arion penasaran.
Sheril terdiam, kepalanya sedang sibuk berpikir, menimbang-nimbang apakah Ia harus meminta bantuan kepada Arion atau lebih baik tidak sama sekali.
"Sheril," panggil Arion karena Sheril masih melamun dan tak kunjung memberikannya jawaban.
Tertarik ke dunia nyata, Sheril mengerjapkan kedua mata. Ia tersenyum simpul menatap Arion yang kini tengah memandanginya juga.
"Gue... Tolong ajarin gue bahasa Inggris sampai gue fasih, kalau lo bisa bahasa lainnya juga gue mau belajar dari lo," pinta Sheril, nada bicaranya terdengar ragu, tidak yakin jika Arion akan dengan senang hati melakukan hal itu untuknya.
Meskipun Arion sudah beberapa kali mengatakan Ia sibuk setiap hari, tetap saja Sheril mengkuatkan tekad meminta tolong kepada Arion. Sebab Sheril merasa jika hanya Arion lah satu-satunya harapan yang Ia punya saat ini.
Dahi Arion bergelombang, tidak menyangka jika Sheril akan meminta bantuannya mengenai hal ini.
Sheril kembali berbicara, "Kalau elo emang gak punya waktu gak pa-pa kok, gak usah lo lakuin, lagian juga gue gak maksa, gue juga gak bakal marah sama lo."
Bukan, bukan itu yang ada di benak Arion sekarang. Ini bukan masalah Ia bisa atau tidak mengajarkan Sheril.
"Kenapa? Lo ada masalah apa?"
Jika ada penobatan makhluk ciptaan Tuhan terpeka, maka Arion adalah pemenangnya untuk hari ini.
"Gue udah memperkirakan apa yang bakal terjadi nanti, ya meski ga selalu tepat tapi ngeliat situasi sekarang, gue gak mau ambil risiko. Setelah lulus SMA gue harus punya kelebihan yang cukup supaya gue punya peluang lebih untuk kuliah atau kerja. Kalau soal kuliah, gue masih bingung mau ambil jurusan apa meski orang-orang nyaranin gue ke jurusan psikologi. Kalau kerja, udah ada yang gue pikirin."
Sheril terdiam, mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja. "Fasih berbahasa Inggris itu bakal di cari, apa lagi kalau fasih bahasa lain juga selain bahasa Inggris pasti bakal lebih di prioritaskan,"
Arion masih terdiam, otaknya sedang mencerna perkataan Sheril.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan Sheril. Ia sudah memperkirakan bahwa cepat atau lambat kedua orangtuanya akan bercerai, jika kedua orangtuanya tak kunjung bercerai maka Sheril akan meminta langsung kepada ibunya agar segera menjatuhkan talak. Sheril tidak ingin Dewi tersiksa lebih lama lagi.
Seandainya Dewi dan Rio bercerai kemudian Dewi menikah dengan Anton. Meskipun Sheril membenci Rio-ayah kandungnya, bukan berarti Ia menyukai Anton. Sheril telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa Ia tidak akan menerima uang Anton sepeserpun.
Darah lebih kental daripada air!
Tanpa sadar Arion menatap Sheril iba. Tak ada senyuman di wajah gadis itu sekarang, yang ada hanyalah raut wajah kecemasan, gelisah dan sedih yang berusaha ditutupi. Rupanya Arion terlalu pintar membaca mimik wajah, dan Sheril terlalu bodoh menyembunyikan mimik wajahnya dari Arion.
Tangan Arion terulur, mengusap puncak kepala Sheril dengan lembut.
"I don't know what happened to you. But, trust me. Everything will be fine."
Untuk kesekian kalinya hati Sheril kembali luluh dengan pesona seorang Arion yang terlalu kuat.
Ah, Sheril baru teringat satu hal. Harusnya kerja kelompok hari ini Ia yang berusaha meluluhkan hati dingin Arion dengan seribu jurus modus, tapi kenapa hatinya yang telah luluh terlebih dahulu tanpa Arion bersusah payah?
Ah, dasar hati. Lemah! Lemah! Lemah! Adek gak kuat bang!
udh nunggu lama bgt 😭