Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi hari Luna merasa tubuhnya sangat lemas, bahkan salat subuh tadipun kakinya terasa gemetar, hari ini memang hari minggu dan tidak ada mata kuliah namun dia tetap memaksakan diri untuk pergi bekerja di salah satu toko buku setiap hari sabtu dan minggu, Luna berjalan dengan gontai, penglihatannya semakin gelap hingga akhirnya dia jatuh terbaring di jalan, samar-samar dia melihat orang-orang ramai berlari menghampirinya, namun tak lama Lunapun pingsan.
- - -
"Alhamdulillah mbak sudah sadar?"
Sayup-sayup Luna mendengar suara dan perlahan membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk lalu tatapannya berhenti pada sosok laki-laki berperawakan tinggi, gagah, dan berkulit putih sedang tersenyum terhadapnya, dilihat dari pakaiannya Luna menyimpulkan bahwa dia adalah dokter
"Saya kenapa"
Luna bertanya dengan wajah yang sedikit meringis seperti menahan sakit
"Mbak tadi pingsan, dan dibawa sama masyarakat setempat kesini, mbak ini anak Dokter Edi kan?"
Luna terdiam sebentar hingga akhirnya mengangguk lemah mengiyakan pertanyaan dokter tersebut
Ceklek
Terdengar bunyi pintu terbuka, Luna dan dokter tersebut menoleh ke arah pintu
Ayah...
Luna berbisik di hatinya melihat sosok yang baru saja masuk ke ruangannya
"Dok, anak Anda sudah sadar, begini dia..."
"Bisa tinggalkan kami sebentar"
Edi memotong perkataan dokter muda yang biasa dipanggil dokter Rey itu dengan tatapan lurus ke arah Luna yang hanya menunduk
Dokter Rey melihat Edi dan Luna secara bergantian, merasa seperti ada situasi yang tidak stabil, diapun keluar
"Permisi"
Setelah menutup pintu, dokter Rey berniat untuk langsung pergi namun langkahnya terhenti setelah mendengar suara Edi dari dalam
"Segera pergi dari sini kalau kamu sudah merasa lebih baik, saya muak harus pura-pura baik di depan semua orang yang ada disini ke kamu"
Kata Edi dengan angkuh dan segera beranjak menjauh dari Luna, langkahnya terhenti saat Luna mengeluarkan suara
"Apa Ayah gak khawatir sama Luna"
Tanya Luna dengan lirih
"Heh, udah berani kamu ngomong, dengar baik-baik, saya gak khawatir dan gak peduli apapun yang terjadi sama kamu dan apapun tentang kamu"
Kata Edi dengan sinis dan melangkahkan kakinya lebih cepat kemudian meninggalkan ruangan Luna, sesampainya di luar, terlihat dokter Rey duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan Luna
Dokter Rey menoleh begitu menyadari ada yang keluar dari ruangan Luna, sigap dia berdiri menghampiri Edi untuk menjelaskan keadaan Luna
"Dokter, mengenai anak Anda..."
"Saya masih ada pasien, tolong kamu urus dia"
Potong Edi dan langsung beranjak pergi
Dokter Rey memandang bingung punggung Edi yang semakin jauh, dia menyadari ada yang tidak beres antara hubungan Ayah anak ini yang dia ketahui bahwa Edi adalah sosok Ayah penyayang, namun sekarang terlihat jauh berbeda
- - -
Malam hari, sekitar pukul 10 malam, dokter Rey berencana ke ruangan Luna mengecek keadaaannya, namun sesampainya disana dia tidak menemukan keberadaan Luna di ranjang rumah sakit maupun di toilet, dokter Rey pun keluar lagi dan bertanya pada suster yang berjaga
"Sus pasien atas nama Lunara yang ada di kamar anggrek itu kemana ya, kok kamarnya kosong"
"Hmm yang anaknya dokter Edi itu ya dok?"
"Iya yang itu"
Suster tersebut tampak mengingat-ingat sebentar
"Ohh tadi sih saya liat dia keluar, saya tanya mau kemana dia bilang mau cari angin, tapi tadi dia ke arah lift sih"
Ke arah lift?
Dokter Rey menyerngit heran mendengar perkataan suster itu
"Baik terimakasih"
"Iya sama-sama dok"
Dokter Rey pun bergegas menuju lift, sesampainya di dalam lift, dia menekan tombol menuju lantai paling atas, dia tampak terburu-buru, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak begitu mendengar suster mengatakan Luna keluar menggunakan lift
Ting
Begitu lift terbuka, dokter Rey langsung berlari ke arah balkon mencari keberadaan Luna, matanya membulat sempurna begitu melihat...
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!