Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Pengadilan agama, Senin 23 November 2023.
Hari dan tanggal yang sungguh cantik, binaran sang baskara yang memuai di udara pun tampak tersengih, mereka tersenyum lebar bersama mentarinya, di bawah gedung pengadilan agama Navian terkulai lemah, tak ada yang bisa dia lakukan lagi selain menyetujui permintaan Vianna.
Beberapa hari yang lalu sebelum keputusan berakhir, Navian sempat menemui Vianna di sebuah restoran ternama di pusat kota kediamannya, bersama kedua orangtuanya dan juga mertuanya.
Kecuali Tiara, gadis cantik itu tidak ikut serta, ah tidak, setiap acara keluarga gadis itu tak pernah hadir, alasannya selalu sama, sibuk dengan semua pekerjaan yang dia jalani, tetapi hal itu hanyalah kebohongan Tiara untuk menghindari angkara murka Viara dan Vianna, walau Ridzwan-sang ayah selalu berada di pihaknya, tetapi kekerasan selalu menyertainya kala Ridzwan kehilangan fokusnya.
"Keputusanku sudah bulat," tekad Vianna, wajah sinis terburai di hadapan Navian dan kedua mertuanya. "Navian tidak bisa membahagiakanku, bahkan dia membentakku hanya karena anak yang baru lahir," sambung Vianna dengan angkuh, seolah apa yang dia keluhkan itu adalah sebuah kebenaran.
Navian melempar tatapan sinisnya ke arah kanan. "Bagaimana aku tidak marah ketika Ansel dibiarkan haus dan kelaparan sampai bayi kita kehabisan suaranya, salahkah aku?" tuntut Navian, menurutnya dia tidak melakukan kesalahan apapun, semua yang dia lakukan demi kebaikan semua orang terutama Ansel-bayinya.
"Salah Navian," timpal Viara dengan penuh kepercayaan. "Bagaimanapun masalahnya, harusnya kamu tidak membentak anak saya sampai dia menangis pulang ke rumah, lagian itu salah Tiara yang lambat, kenapa dia tidak bisa bekerja dengan cepat," tambah Viara dengan wajah angkuhnya yang memuakkan.
"Kalian ini benar-benar tidak tahu diri," ketus Meriza geram dengan tingkah laku besannya.
"Maksudnya apa?!" Sorot mata Viara menajam. "Yang saya katakan benar," kukuh Viara.
"Ansel itu anak Navian dan Vianna, kenapa jadi Tiara yang harus mengurusnya, harusnya Vianna, jelas ini salah, bagaimana Ansel bisa mengenal Vianna sebagai ibunya, sedangkan Vianna tidak ingin menyentuhnya, sementara Tiara yang hanya sebagai tantenya setiap saat memberinya makan dan minum bahkan mengganti pakaian dan popoknya," ujar Meriza kesal.
"Anak saya seorang model papan atas, dia tidak pantas mengurus seorang bayi, tubuh dia jadi jelek karena siapa, hah?! Karena anak Anda, dan Anda—" keras Viara berdiri dari posisi duduknya dengan rahang yang mengeras.
Namun, sang suami-Ridzwan segera menarik sang istri dengan kasar sampai Viara terjatuh dan mendelik ke arahnya, dahinya mengerut bersamaan dengan hidungnya yang menekuk.
"Apa sih Pa," ketus Viara menajamkan pandangannya pada Ridzwan.
Ridzwan diam, menghela napasnya panjang tanpa menjawab ataupun menoleh ke arah Viara, dia berusaha untuk menampilkan wajah tenang di hadapan besannya. "Maafkan saya Pak Marwan dan Bu Meriza, maafkan saya karena tidak bisa mendidik putri saya sehingga dia melakukan kesalahan fatal ini, termasuk perlakuan istri saya, mohon maafkan saya," urai Ridzwan, nada suaranya lirih, wajahnya tertunduk.
Mendengar hal itu Vianna dan Viara mengeram, cepat-cepat Vianna menimpali perkataan ayahnya. "Apa-apaan sih Pa, Navian yang salah, kenapa Papa yang minta ma-"
"Diam Vianna!" bentak Ridzwan menoleh kasar pada sang putri. "Ini kesalahan kamu, secara tidak langsung kamu membunuh putra yang kamu lahirkan sendiri, jelas-jelas ini kesalahan kamu, sudah cukup! Kamu selalu mengandalkan Tiara, Tiara anak Papa juga dan dia memiliki kesibukannya sendiri dan kamu malah menyuruhnya mengurus anakmu sendiri."
"Aku tidak menginginkan anak itu, Pa! Navian yang menginginkannya, jadi kenapa aku harus ikut mengurusnya, gak level!"
"Ya sudah, sekarang mau bagaimana? Biar Ansel saya yang mengurusnya, jika kamu Vianna dan Anda besan tidak menginginkannya biar saya dan putra saya mengurus Ansel dengan baik," ucap Meriza penuh tekad.
"Aku mau cerai! Tidak ada negosiasi," timpal Vianna penuh keyakinan.
"Kembalikan semua kartu kredit yang aku berikan serta mobil, karena itu semua adalah fasilitas yang aku berikan hanya pada istriku, dan kamu memutuskan untuk keluar dari posisi itu," tegas Navian.
Walaupun tidak dikembalikan, bukan masalah untuk Navian, karena semuanya telah dia nonaktifkan kecuali mobil yang selalu dikendarai oleh wanita itu, pria berumur 25 tahun itu harus memintanya secara gamblang di hadapan semuanya.
"Oke!" hardik Vianna geram, "aku akan memberikan semuanya lagi padamu, tetapi tidak dengan perhiasan yang sudah kamu berikan dan Villa yang ada di kota sebelah, itu hadiah untukku kan?"
"Silakan, aku tidak membutuhkannya, silakan kau ambil.
Cepat-cepat Vianna mengeluarkan semua kartu kredit yang diberikan Navian padanya dari dompetnya, tanpa ada yang tersisa, termasuk kunci mobil yang dimaksud, dengan sigap Navian mengambil ke-lima kartu ATM yang sering digunakan oleh Vianna dan kunci mobil itu dia berikan pada Meriza.
"Silakan gunakan Ma, terserah Mama mau lakukan apapun pada mobil ini," cetus Navian.
Meriza mengambil kunci mobil itu, helaan napasnya terdengar berat. Dia sungguh tidak menyukai perceraian, dia menganggap perceraian adalah malapetaka yang harus dia hindari, tetapi ternyata dia tidak bisa membuat putranya menyelamatkan pernikahannya.
"Baik Nak, Mama akan menyimpannya dengan baik." Wajah Meriza terjatuh sendu ke bawah.
Aku akan mencari istri yang cocok untuk Navian, aku tidak ingin putraku kewalahan mengurus Ansel seorang diri.
Batin Meriza bertekad.
Tak lama kemudian, Navian meraih ke-lima kartu ATM tersebut, dia tumpuk sama rata, kemudian dia patahkan di hadapan semua orang yang ada di sana, membuat semuanya terperangah dengan tindakan Navian.
"Kartu ini sudah tidak bisa digunakan karena aku sudah menonaktifkan semuanya."
Denting jarum jam besar di dekat pengadilan agama menggema dan menggetarkan jiwa Navian, membangunkan pria itu dari ingatannya, pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir dengan Vianna dan setelah itu Navian tak lagi mendengar kabar mantan istrinya.
Meriza dan Marwan yang senantiasa mendampingi Navian dari awal proses perceraiannya berdiri di samping Navian, Meriza menyerahkan akta cerai milik putra semata wayangnya itu.
"Ini Nak, pegang dan simpan dengan baik, lupakan Vianna, dia bukan istri yang baik, untuk urusan Ansel, Mama dan Papa akan selalu ada di dekatmu ya Nak, kamu fokus bekerja saja," saran Meriza mengelus lembut punggung Navian.
Navian menghela napasnya berat seraya dia mengambil alih akta cerai itu dari genggaman tangan Meriza, wajah sendu pria bermata kecil itu terurai malas. Perlahan dia melangkah ke depan menuruni undakan panjang nan lebar di depannya.
"Maaf ya Ma, Nav tidak bisa menyelamatkan pernikahan Nav sendiri." Navian sendu, kepalan tangannya membulat dan memerah.
"Sudah Nav, tidak apa-apa, ada baiknya kamu memang berakhir dengan Vianna, dia tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai istri, dia tidak memedulikan kamu kan? Sudah sekarang kita benahi kehidupan kamu menjadi lebih baik," pesan Marwan, jauh di dalam lubuk hatinya ada sebuah kemarahan yang sengaja dia benamkan agar tidak menjadi bumerang baginya, terutama Navian-sang putra.
...***...
Bentala di bagian barat pusat kota Bandung yang bahari, bahana dari kicauan burung-burung yang berkeliaran di setiap netra di langit menggema ke seluruh penjuru kota besar itu, cahayanya terjatuh pada sebuah rumah megah milik keluarga yang di pimpin oleh Ridzwan.
Keluarga yang terdiri dari Ridzwan, Viara, Vianna dan Tiara tentunya tengah berkumpul di meja bundar di sebuh ruangan khusus keluarga, atmosfer ruangan itu sungguh mencekam, terlebih saat Ridzwan berwajah serius di tengah-tengah mereka.
Viara dan Vianna terduduk di kursi di samping kiri Ridzwan dan Tiara berada di bagian lain, tepatnya berhadapan dengan kedua wanita yang tak jengah-jengahnya menyiksa Tiara, entah itu siksa fisik atau siksa batin.
Kejadian malam itu saat Tiara dalam keadaan lemah dan tak berdaya membuat Ridzwan sudah muak dengan semua itu, pria berambut tipis itu mengeras di depan semuanya, membuat Vianna mendelik malas sambil dia memerhatikan kuku-kukunya yang baru di cat warna merah padam.
"Ada sih Pa, aku sibuk nih, aku ada pertemuan dengan managerku," ketus Vianna tak menoleh sedikit pun pada Ridzwan.
"Benar tuh Pa, putri kita yang cantik ini banyak kerjaan, Vianna harus segera kembali ke pekerjaannya, jadi dia harus mempersiapkan tubuhnya dan kecantikannya. Tidak seperti anak kesayangan kamu itu, tidak berguna, numpang hidup aja di sini, membebankan biaya rumah tangga kita aja," timpal Viara dengan lenggak-lenggoknya yang membuat Ridzwan muak.
Tiara yang ada di depannya lekas menunduk, sesak kembali mengusik dadanya, gadis cantik itu masih berusaha untuk tetap bertahan di sana, memerintah butiran beningnya untuk tetap di dalam bendungannya.
"Stop! Jangan mencaci Tiara lagi, Tiara seorang guru, dia punya pekerjaan yang mulia, berhenti menghina dan menganiayanya, Tiara putri di rumah ini juga, perlakukan dia sama seperti Vianna," tegas Ridzwan, rahangnya mengeras, tatapan yang menghunus bergetar dan memerah.
Vianna memanas mendengar semua perkataan Ridzwan, hatinya mendadak sakit mendengar segala hal baik yang keluar dari mulut papa kandungnya itu, dia merasa tersakiti karena kasih sayang Ridzwan terbagi begitu besarnya pada Tiara.
"Pa!" pekik Vianna tidak terima dengan perlakuan Ridzwan padanya, dia seret kursinya ke belakang, dia berdiri tegak sembari menggebrak meja di depannya sampai meja itu bergetar hebat. "Papa ini apa-apaan sih, dia itu cuman anak angkat yang Papa bawa ke rumah ini, sampai kapanpun aku tidak terima, aku tidak mau menganggapnya sebagai adikku!" berang Vianna.
"Iya benar itu, Papa ini keterlaluan banget menyamakan Vianna dengan anak yang gak tahu asal-usulnya ini," timpal Viara penuh percaya diri.
Tiara tersentak, punggungnya semakin merunduk pilu, bendungannya mulai berdenyut. Matanya yang memerah tak lagi mampu dia tepis, secara nyata dua wanita yang selama ini dia anggap sebagai ibu dan kakaknya kembali menghina dan menyiksa batinnya.
Cepat-cepat Ridzwan menimpali perkataan istri dan anaknya. "Diam! Kalian tidak berhak menghina Tiara, kalian tidak mengetahui apapun karena kalian tidak pernah ikut serta dalam pertemuan keluarga besarku, lebih baik kalian diam! Terutama kamu Vianna, kamu sudah mempermalukan Papa di depan Marwan, Navian itu anak baik, dia memperlakukan kamu dengan baik, apa yang salah hah?!"
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe