Katanya, jatuh cinta adalah rasa sakit yang indah. Namun apa jadinya jika yang mencintai hanya satu pihak?
Ralia adalah salah satunya, ia menjadi korban sebuah perasaan indah namun menyakitkan bagi dirinya. Dimana, Ia harus menikah dengan seseorang yang Ia cintai diam-diam, namun tak tahu apakah cinta itu terbalaskan atau tidak.
Pernikahan yang harus Ia jalani dengan Alvan, ternyata memang bukan sebuah perjodohan, bukan pula sebuah perjanjian bisnis.
Pernikahan mereka terjadi karena ibu dari Alvan menginginkan Ralia sebagai menantunya. Karena tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, maka Alvan pun bersedia menjadi suami Ralia, meskipun Ia masih mengharap cinta dari Dara, mantan kekasihnya.
Akankah cinta sesungguhnya hadir dalam pernikahan mereka, atau bahkan cinta itu akan berubah menjadi kebencian dari keduanya?
Ig @atri.auliaa304
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atri Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Alvan dan Dikta berlomba siapa yang lebih dulu sampai di pintu apartemen. Dikta masuk ke dalam ruangan yang ternyata pintunya masih terbuka. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati Ralia tengah menangis di dekat sofa. Ia menangis di tempat yang sedikit tersembunyi, mungkin karena alasan agar tidak ada orang yang melihatnya. Dikta menghampiri Ralia dan hendak membantu Ralia untuk berdiri. Namun, Alvan yang berhasil menarik perhatian Ralia, sehingga gadis itu menoleh ke arah Alvan.
"Ra... kak Karisa nyakitin kamu?" Tanya Alvan langsung meraih Ralia dan membantunya duduk di atas sofa. Namun Ralia menggeleng menanggapi pertanyaan Alvan. Meski ditutupi, Alvan melihat pipi Ralia memerah. Tangannya tidak menutupi semua bekas tamparan itu.
"Ini apa?" Lagi-lagi Ralia menggeleng menanggapi pertanyaan Alvan.
"Ternyata benar. Mereka suami-istri." Batin Dikta mengepalkan tangannya sendiri. Bukan karena marah, tapi karena Ia merasa ada sebuah tusukan tajam di dadanya. Jika ditanya sakit tidaknya, Dikta akan menjawab sakit. Siapa yang tidak sakit melihat orang yang kita anggap sebagai takdir kita, ternyata sudah berkeluarga dengan orang terdekat kita.
Dikta tak bisa menggerakkan tubuhnya, Ia mematung tanpa memalingkan pandangannya. Sudah tahu sakit, tapi masih saja ditatap. Bodoh sekali manusia yang bernama Dikta ini.
"Ta.... tolong ambilkan air es sama handuk kecil. Tolong ya! Maaf." Pinta Alvan memohon pada Dikta. Ralia benar-benar membisu. Ia tak ingin berbicara sepatah katapun. Ketika kesal dan marah, Ia memang tak pernah berbicara, Ia memilih diam seribu bahasa sampai kekesalannya mereda. Dikta menurut saja, Ia mengambil handuk kecil di lemari Alvan, dan air es dengan menggunakan wadah dari bahan kaca. Dikta memberikan apa yang diminta Alvan pada orangnya. Alvan menerima benda itu lalu membasahi handuk dan mencoba mengobati rasa linu di pipi Istrinya. Tanpa Ia duga, Ralia menghindar dan menggeleng tanda Ia tak mau diobati.
"Gapapa Mas. Aku gapapa." ucapnya penuh keyakinan. Padahal, pipinya terus berdenyut sedari tadi.
"Gapapa gimana? Itu merah Ra."
"Enggak Mas. Gapapa. Aku mau ke kamar aja." Setelah mengatakan kalimat itu, Ralia beranjak dan melenggang memasuki kamar. Yang membuat Dikta salah fokus ialah bercak merah di leher Ralia. Tubuhnya semakin melemas, ternyata Alvan tidak berbohong.
"Van. Gue balik." Ucapnya dengan suara yang tertahan. Alvan tahu jika Dikta menahan cemburu dan kemungkinannya Dikta tak bisa melawan hatinya.
"Ta... gue minta maaf."
"Gapapa. Wajar lo mukul gue. Tapi, satu hal yang harus lo inget Van. Gue gak akan nyerah. Gue pasti perhatiin Ralia daru jauh. Kalau sampai gue tahu lo nyakitin dia, gue gak akan segan buat ambil dia dari lo." Dikta berubah tegas. Alvan tak menanggapi apapun, Ia membiarkan Dikta berlalu dari hadapannya. Alvan beranjak dan menyusul Ralia ke kamar dengan perasaan bersalah.
"Ra..." panggil Alvan dengan suara pelan. Tak ada jawaban, mungkin Ralia tertidur setelah menangis. Alvan melirik ponsel Ralia yang menyala dan menampilkan nama kontak Ibunya yaitu 'Ibu Mertua'. Alvan menjawab tanpa meminta izin pemilik ponsel.
"Assalamualaikum Bu." Sapanya memulai pembicaraan.
"Waalaikumussalam. Alvan! Ralia kemana? Ibu telepon dari tadi kenapa gak ada ya?" Tanya Ibu Nidia dengan nada yang terdengar khawatir.
"Ralianya lagi tidur Bu. Alvan baru pulang. Terus HP Ralia kayaknya di mode diam jadi ga kedengaran." Jawab Alvan seraya mengelus kepala Ralia yang berbaring membelakanginya. Ralia masih enggan tidur di ranjang, Ia memilih terus tidur di sofa.
"Tidur?" Kali ini pertanyaan Nidia terdengar seperti keheranan.
"Iya. Tadi kayaknya kecapean. Alvan lihat, Ralia habis nyuci. Terus beres-beres."
"Tuh makanya jadi suami itu harus ngerti sama kerjaan istri. Tapi Ralia bener gapapa kan? Tolong coba cek takutnya dia sakit."
"Iya bu. Nanti aku lihat."
"Jangan nanti-nanti. Sekarang!"
"I-iya Bu. Ya udah. Teleponnya matiin sama Ibu. Alvan mau cek Ralia."
"Jaga Ralia ya Van. Ibu yakin kamu akan dapetin jawaban dari pertanyaan kamu kenapa Ibu nikahin kamu sama Ralia."
"Iya Bu..." setelah menanggapi nasehat Ibunya, Alvan menyimpan kembali benda pipih itu di atas meja karena panggilan sudah terputus. Alvan menatap nanar Ralia yang tengah tertidur semakin pulas. Ya... solusi terbaik setelah menangis hanyalah tertidur.
"Ini anak orang. Aku sudah keterlaluan sama dia." Batin Alvan.
Saat waktu sudah menunjukkan jam 12:30, Alvan membangunkan Ralia yang masih tertidur pulas.
"Ra... bangun. Shalat dhuhur dulu. Ra..." Alvan terus mengguncangkan tubuh Ralia sampai gadis itu bereaksi dengan menolehkan wajahnya dan sedikit menggeliat. Alvan tersenyum dan menahan tawa melihat wajah Ralia yang Ia rasa sangat lucu. Mata sembab, hidung merah, dan bekas tamparan yang membuatnya merasa sesak.
"Ra.. maafin kak Karisa ya! Dia salah faham. Kamu jangan marah." Ucap Alvan yang hanya ditanggapi anggukan oleh Ralia. Gadis itu benar-benar kecewa sampai berbicara pun Ia enggan.
"Ra... bisa bicara sebentar gak?" Tanya Alvan menahan Ralia yang hendak beranjak.
"Kamu bisa kan ngasih Mas kesempatan. Mas mau meyakinkan hati Mas kalo kamu emang pilihan yang terbaik. Mas gak mau kalau nanti Mas nyesel karena salah ngambil keputusan. Mas memang bukan suami yang baik, tapi Mas mau belajar agar Mas jadi suami yang baik menurut kamu. Mungkin dengan begini, Mas bisa dapetin ridha Ibu sama Allah. Dan makasih. Kamu udah lakuin tugas kamu sebagai istri buat Mas." Tutur Alvan seraya menggenggam kedua tangan Ralia yang kembali berkaca-kaca mendengarnya.
"Kok nangis lagi?"
"Mas ngomongnya bikin aku nangis." Ralia merengek sambil mengusap air matanya. Hal itu membuat Alvan mengulum senyum.
"Ya udah. Sekarang shalat gih! Habis itu kita jalan-jalan." Titah Alvan segera dituruti oleh Ralia. Sambil menunggu Ralia selesai melakukan sembahyang, Alvan memilih untuk bersiap terlebih dahulu. Ia mengenakan pakaian casual dengan masih terlihat modis. Alvan duduk di sofa dan meraih ponsel Ralia. Ia terheran mengapa Ralia tidak memasang kunci pengaman di ponselnya. Meski begitu, Alvan bisa leluasa membuka isi ponsel Istrinya. Ia tak macam-macam, hanya masuk ke galeri, lalu mengganti wallpaper layar depan dan layar kunci dengan foto pernikahan mereka. Awalnya Ralia memasang gambar abstrak berwarna pink sebagai layar kunci dan foto dirinya dengan angel jarak jauh sebagai layar awal.
Setelah selesai mengotak-atik ponsel Ralia, tak lupa Ia juga mengganti tampilan wallpaper nya menggunakan foto Ralia saat menjadi pengantin. Ia sengaja memilih wajah Ralia saja, selain karena untuk menegaskan bahwa Ia sudah beristri, Alvan juga ingin menunjukkan pada Dikta jika Ia bisa mencintai Ralia meski sebelumnya Ia sempat menjelek-jelekan Ralia.
Singkatnya, Ralia sudah selesai shalat, kemudian Ia mengganti pakaian dan memoleskan make up tipis agar tidak terlihat pucat. Alvan mulai terfokus kemana Ia akan pergi bersama Istrinya. Benar, ini kali pertama baginya berpergian bersama Ralia. Sebelumnya Ia merasa enggan meski sekedar mengajak makan malam di luar.
Ralia yang tak tahu Alvan akan membawanya kemana, Ia hanya menurut dan bersiap sebaik mungkin agar Alvan tidak malu membawanya ke tempat ramai. Alvan melirik Ralia yang saat ini tengah memoleskan lipstik berwarna classy membuatnya tampak begitu manis. Alvan beranjak dan menghampiri Ralia yang sudah siap.
"Sudah?" Tanya Alvan memastikan.
"Sudah." Jawab Ralia pun meyakinkan. Keduanya berangkat dan tanpa diduga, Alvan meraih tangan Ralia agar keduanya tidak terpisah. Jantung Ralia kembali berdegup keras mendapati sikap manis suaminya.
"Yaa Allah. Jika memang Mas Alvan sudah menerimaku, tolong jangan biarkan dia pergi lagi. Jadikan dia sandaranku satu-satunya. Jadikan dia suami yang menyayangiku. Aku percaya hanya Engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia. Tapi jangan Engkau kembalikan seperti sebelumnya. Begini, dan terus begini. Aku akan sangat bahagia Yaa Allah." Batinnya berdoa di dalam hati. Ralia benar-benar tak ingin Alvan berpaling lagi pada siapapun termasuk masa lalunya.
Bersambung