Ibrahim harus terjebak dengan wanita yang hamil berstatuskan istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
BAB 9
TERJEBAK
Ibrahim mencoba melepaskan ikatannya, ia tidak boleh mati sia-sia disini. Ibrahim meregangkan tangannya yang terikat lalu jemarinya, berusah melepaskan simpul-simpul tali yang merekat di pergelangan tangannya. Apa lagi sekarang pikirannya tertuju pada Gulla? Ia khawatir Gulla akan terluka. Suara pintu terbuka terdengar, Ibrahim menaikkan alis matanya tak lepas dari bayangan temaram yang muncul di sana dengan suara gadis yang berusaha memberontak. Suara yang akhir-akhir ini Ibrahim rindukan, suara yang sudah lama tak Ibrahim temukan. Rahangnya mengeras saat tahu jika Rendra memanggul Gulla dan melemparnya kasar ke lantai.
"Apa yang kau lakukan? Berengsek!!!" Umpat Ibrahim tatapannya sendu melihat ke arah Gulla yang meringis kesakitan dengan suara isak yang sendu.
"Dia sedang mengandung," lanjut Ibrahim. Gulla memalingkan wajah hingga matanya bertemu dengan mata Ibrahim, "Ibra," gumannya lirih. Gulla menatap sosok pria itu dengan tatapan meminta tolong.
"Apa peduliku, lagipula itu bukan anakku." Rendra menyeringai kepada Ibrahim, Ibrahim menatap tajam ke Rendra.
"Aku rasa membunuh anak itu pun tidak masalah bagiku," Rendra mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan dalam jaketnya.
"Bagaimana jika anak ini aku bunuh?" dengan seringainya Rendra berjongkok mengangkat wajah Gulla untuk berhadapan dengannya, semua pemandangan itu tidak lepas dari tatapan Ibrahim. Setiap geraman keluar dari mulutnya, ia berusaha tenang untuk tidak mengacaukan rencana yang telah ia siapkan.
"Jangan" teriak gulla.
Rendra mengalihkan tatapannya dari Gulla yang menatapnya takut ke Ibrahim yang menatapnya seakan ingin membunuh dirinya. Rendra terkekeh, ia suka ekspresi tertekan yang dikeluarkan Ibrahim. Ibrahim yang tidak bisa apa-apa dan tidak bisa melawannya.
"Istriku yang cantik, lihatlah pangeranmu tidak bisa membantumu."
"HAHAHAHA,"
"Bagaimana kalau kita mulai pertunjukan awal ini?" Ibrahim menyipitkan matanya mendengar itu.
"Kita mulai dengan membunuh anak kita sayang," ucap Rendra dengan seringai yang menakutkan tangannya bergerak untuk mengarahkan pisau ke perut gulla. Gulla yang menerima itu memejamkan mata, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali berdoa berharap ada yang menolongnya, tidak mungkin ia mengandalkan Ibrahim, Ibrahim juga tidak berdaya seperti dirinya.
Gulla merasakan tetesan darah dari mengalir mengenai pipinya, ia tidak merasakan sakit di bagian manapun. Lalu dari mana darah itu berasal. Matanya membuka, nafasnya tercekat melihat Ibrahim berada di atas tubuhnya, mata Gulla mengerjap begitu juga dengan Ibrahim yang menatapnya tajam. Ketika itu ia menyadari dari mana darah itu berasal, pundak Ibrahim terluka. Mata gulla berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Ibrahim akan menolongnya. Tanpa sadari ia menangis.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja."
"Kau tidak apa-apa," Ibrahim memastikan keadaan Gulla.
"BERENGSEK!!!" umpat Rendra ketika ia tahu Ibrahim menggantikan posisi Gulla. Ditambah melihat adegan mesra di depan matanya kemarahannya semakin menjadi-jadi. Rendra mengambil pistol di dalam sakunya. Ia harus membunuh Ibrahim, karena berani mengacaukan permainannya. Dia membenci polisi itu. Ditarik pelatuk pistolnya, Rendra mengangkat pistol itu ke arah Ibrahim, tepat saat itu suara pistol berbunyi bergema memenuhi ruangan.
****
Ibrahim menoleh ketika mendengar suara tembakan, matanya menatap jasad Rendra yang ambruk di lantai akibat tembakan tersebut. Ibrahim bernapas lega, melihat ayahnya Rakan berjalan ke arahnya, disusul dengan anak buahnya. Ibrahim sangat berterimakasih kepada ayahnya karena telah datang menyelamatkannya. Ibrahim juga tidak memusingkan kenapa ayahnya bisa menemukannya. Yang terpenting sekarang ia dan gadis yang berada di lindungannya ini selamat.
"Kita selamat," ucap Ibrahim pelan, luka tembak di bahunya membuatnya nyeri. Ia mencoba bertahan dengan rasa sakit itu. gulla melihat raut kesakitan pada wajah Ibrahim tangannya terulur bergerak menyentuh wajah Ibrahim. Ibrahim menikmati sentuhan itu, entahlah berapa lama lagi ia bertahan, darahnya sudah terkuras habis karena luka di pisau yang ditorehkan Rendra.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Gulla.
"Yang terpenting kita selamat," Ibrahim mendekatkan wajahnya bergerak mencium kening Gulla, lalu beralih mencium bibir Gulla. Ibrahim merasa sakit di kepala, tubuhnya ambruk di atas Gulla dan pandangannya memudar seketika. Sayup-sayup Ibrahim mendengar suara tangisan wanita yang berulangkali memanggil namanya.
*****
Gulla memegang jemari Ibrahim, dua hari setelah kejadian penyekapan itu. Ibrahim tak kunjung membuka mata, Gulla bersyukur Rakan dan polisi datang tepat waktu saat itu. meski terbunuhnya Rendra agak mempersulit kasus yang ditangani Ibrahim. Kasus yang selama ini membuat Rendra ingin membunuh Gulla, karena Gulla tidak sengaja mendengar kasus penggelapan dana dan bisnis gelap Rendra bersama salah satu anggota parlemen yang tidak bisa Gulla sebutkan namanya. Ia takut nyawanya dan Ibrahim terancam jika mereka membawa pria itu ke dalam kasus ini.
Gulla sama sekali tidak menyesal atas kematian pria itu, ia bahkan sangat bersyukur tidak terjebak dalam dunia Rendra lagi. Tangan gulla bergerak mengelus perut ratanya. Ia masih ingat perkataan Ibrahim terakhir kali, betapa Ibrahim bahagia bisa menyelamatkanya dan bodohnya ia tidak bisa melindungi Ibrahim. Padahal Ibrahim bukan siapa-siapa, Ibrahim hanyalah sosok yang sekedar hadir dalam hidupnya, tapi pria itu rela mengorbankan nyawanya untuk dirinya yang bahkan tidak memiliki ikatan apapun dengan Ibrahim.
Gulla menangis, airmatanya sudah tak dapat di tampung lagi. Kenapa harus Ibrahim yang terluka? Kenapa tidak dia saja yang terluka?
Gulla menyentuh pipi Ibrahim mengusapnya dengan lembut. berharap dengan sentuhannya akan membuat mata hitam Ibrahim terbuka menatapnya seperti kemarin-kemarin. Gulla menghela napas, apa semua kejadian ini karena dirinya. Semenjak ia hadir di hidup Ibrahim, kehadirannya membuat kesialan di hidup Ibrahim. Gulla merenungkan semuanya dari awal ia bertemu dengan Ibrahim hingga saat ini, ia selalu membuat Ibrahim menderita dan terluka. Apakah sebaiknya aku harus pergi dari kehidupan Ibrahim? Tapi apakah ia sanggup pergi dari kehidupan Ibrahim di saat perasaan itu mulai tumbuh. Perasaan yang tidak pernah Gulla sadari. Namun jika ia pergi, ia tidak tahu arah mana yang ia tuju.
Gulla mendesah pasrah, apa sebaiknya ia berbicara pada Bunda Savira Ibu Ibrahim tentang kepergiannya. Siapa tau beliau bisa membantu dirinya. Gulla berdiri mencium kening Ibrahim, kakinya beranjak meninggalkan kamar rawat Ibrahim menemui bunda Savira.
"Semoga tuhan memberkatimu,"
*****
"Kenapa harus pergi?" ucap Savira. Ia tidak terima dengan keputusan Gulla, jujur ia senang dengan kehadiran Gulla karena ia ingin sekali punya anak perempuan
"Aku bukan siapa-siapa di keluarga kalian, aku merasa sungkan."
"Kamu sudah bunda anggap anak sendiri, bagaimana jika baim bangun dan mencari kamu, apa yang harus bunda lakukan?"
"Lalu dimana kamu akan tinggal?" gulla menggeleng ia bingung harus menjawab apa, savira menggenggam tangan Gulla.
"Bunda punya rumah sederhana peninggalan ayah bunda dan toko bunga, kamu bisa menggunakan itu,"tawar Savira.
"Tapi bunda, aku akan merepotkan bunda. Aku sudah cukup senang bunda mau menampung aku dan anakku." Ucap Gulla sambil mengelus perutnya.
Savira meraih tangan Gulla lalu menggenggamnya erat. "Jangan menolak sayang, saya sudah menganggap kamu seperti anak bunda sendiri. Bunda malah seneng bisa bantu kamu Gulla."
"Tapi bunda,,," Gulla berusaha menolak, ia merasa sungkan diberi perhatian lebih oleh Savira.
"Pokoknya terima pemberian bunda."
"Terima kasih," ucap Gulla pada akhirnya.
"Gulla, tak bisakah kau di sini saja. Bunda khawatir jika baim mencarimu, apa alasan kau meninggalkannya. Padahal kau tahu anak bunda sangat mencintaimu, kamu wanita pertama di hidupnya. Bunda takut jika nanti Ibrahim akan membencimu karena telah meninggalkannya."
Gulla menghembuskan napas mendengar itu, jujur ia juga mencintai Ibrahim. Tapi ia takut kehadirannya hanya membuat kesialan untuk Ibrahim. Lagi pula Gulla tidak pantas untuk Ibrahim yang sempurna. Ibrahim yang memiliki segalanya, dan dia amat berbeda dengan Ibrahim. Mulai dari keyakinan hingga kehidupan, Gulla hanyalah gadis kotor yang hamil, bahkan ia tidak tahu siapa ayah anak ini. Ibrahim tidak pantas mendapat gadis seperti dirinya. Ibrahim bisa mendapatkan gadis yang lebih baik lagi darinya.
Gulla membatin, berusaha menguatkan tekadnya, ia tidak ingin Ibrahim terluka bersamanya. Lebih baik pergi dari pada tinggal tapi orang yang kamu cintai menderita. Ibrahim bisa mendapatkan gadis lain, ucap batin Gulla. Gulla mempercayai itu.
"Ini sudah menjadi keputusan Gulla," dan Ibrahim akan bahagia tanpa ada Gulla disisinya. Walaupun perasaan cinta ini sudah tumbuh, tapi gulla mempercayai jika ini adalah sebuah kebaikan untuknya dan untuk ibrahim.
ijin promo, mampir juga yukkkk
di " Cinta berawal dari kapal pesiar mr.police "
terimakasih... salam hangat 🤗